
"Sayang?" bisik Alexander pada Jova yang masih tertidur pulas. "Sayang?" bisik nya lagi, tapi Jova tidak juga merespon. Akhirnya Alexander memilih untuk mencium kening Jova dan menutupi rapat tubuh polos Jova dengan selimut tebalnya, lalu keluar dari kamarnya.
Alexander menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapi dan siap berangkat ke kantornya.
"Alexander? untuk apa kamu ke kantor sepagi ini? belum juga jam 6!" tanya Mama saat Alex sudah sampai di anak tangga terakhir.
"Alexander baru saja cuti panjang Ma, jadi Alexander berangkat lebih awal, pasti akan banyak pekerjaan yang menunggu."
"Iya juga sih!" ucap Mama, "dimana istrimu?" lanjut Mama.
"Istri ku masih tidur Ma, sepertinya dia kelelahan" jawab Alex.
"Memangnya apa saja yang kau lakukan?, sampai istri mu kelelahan?" tanya Mama dengan senyum menggoda putranya.
"Hemm.. Rahasia!" jawab Alex cuek, sambil berjalan ke arah meja makan.
"Haha!" Mama tergelak melihat Alexander yang berbanding terbalik dengan kembarannya.
"Ingat Ma! jangan mengganggu istriku dan jangan biarkan satu pelayan pun masuk ke kamar Alexander." ucap Alexander.
"Kenapa?" tanya Mama mengikuti Alexander ke arah meja makan.
"Pokoknya jangan!" ucap Alex duduk di salah satu kursi meja makan.
"Hemm.. Mama tau!" ucap Mama dengan senyum simpul yang bertujuan menggoda putranya itu.
"Apa?" tanya Alex sambil mengoles roti tawar dengan selai coklat.
"Haha! apa iya Mama harus katakan?" tanya Mama duduk di samping Alexander.
"Tch! biarkan saja sampai dia bangun sendiri. Mama cukup hubungi Alexander kalau Jova sudah keluar dari kamar," ucap Alexander di sela mengunyah roti selai nya.
"Baiklah anak Mama yang tampan!" ucap Mama mengusap belakang kepala Alexander.
"Apa Mama marah, menantu Mama bangun terlambat saat pertama kali menginap di rumah Mama?" tanya Alex melirik Mama di samping kirinya.
"Tidak!" sahut Mama cepat, "kenapa Mama harus marah? Mama juga suka bangun terlambat!"
"Mama mertua yang baik!" ucap Alex mencium singkat pipi kanan Mamanya.
"Alexander berangkat dulu!" ucap Alex setelah menghabiskan roti dan segelas jus jeruk, "bye bye Ma!" ucap Alex mencium singkat pipi kiri Mama nya.
"Iya! hati - hati anak Mama!" jawab Mama.
"Siap!" ucap Alex sambil berjalan menuju pintu utama.
Mama menatap punggung Alexander sambil menggelengkan kepalanya pelan dengan sedikit senyum simpul di bibirnya.
Jam setengah 7 pagi, Jova menggeliat di balik selimut tebal. Jova membuka matanya pelan, melihat kanan kiri yang tak memperlihatkan Alexander.
"Sayang!" panggil Jova mengedarkan pandangannya di kamar dan pintu balkon, tapi tidak ada sahutan. Jova melirik jam dinding di kamar Alex.
"Oh My God!" Jova terlonjak kaget melihat jam yang sudah menunjukkan jam setengah tujuh lebih. Jova bangkit dari tempat tidurnya, berjalan ke arah walk in closet. Lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi dengan kecepatan super. Setelah selesai Jova kembali mengambil baju yang semalam dia pakai, karena tak membawa baju ganti.
"Kemana dia? apa dia sudah berangkat kerja?" gumamnya sambil menyisir rambutnya dengan buru - buru. "Kenapa aku tidak di bangunkan sih, kan malu bangun kesiangan di rumah mertua. Pertama kali pula." Jova merasa khawatir sendiri.
__ADS_1
Setelah rambutnya rapi, Jova keluar dari kamar dan menuruni tangga. Pandangan matanya beredar kemana - mana, mencoba mencari keberadaan suaminya. Namun nihil, hanya ada beberapa pelayan yang membersihkan rumah dan beberapa lainnya terlihat menyajikan menu sarapan di meja makan. Jova berjalan ke arah ruang tengah, sampai akhirnya terlihat Papa dan Mama mertuanya keluar dari kamar utama.
"Selamat pagi Pa, Ma," sapa Jova dengan sedikit takut.
"Pagi Sayang!" jawab Mama, Papa hanya menyungging senyumnya, "Kamu sudah bangun?"
"Iya, Jova minta Maaf," ucap Jova menunduk.
"Maaf?" tanya Mama, "maaf kenapa?"
"Karena bangun kesiangan," ucap Jova ragu.
"Hahaha!" Papa dan Mama tergelak melihat tingkah menantunya.
"Kenapa minta maaf? itu sudah biasa," ucap Papa.
"Iya, jangan sungkan! Mama juga sering bangun terlambat." ucap Mama dengan senyum manisnya.
"Papa dan Mama tidak marah?" tanya Jova sedikit mengangkat alisnya.
"Tidak!" jawab Mama dan Papa bersamaan dengan sedikit menggelengkan kepala.
"Sekarang ayo kita sarapan!" ucap Mama merangkul pundak Jova.
Jova mengangguk dengan senyum kikuknya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari Alexander.
"Alexander kemana Ma?" tanya Jova.
"Sudah berangkat ke kantor sejak pagi tadi!" jawab Mama sambil duduk di kursi meja makan.
"Makan yang banyak Jova, jangan sungkan - sungkan." ucap Papa.
"Iya, Pa." jawab Jova dengan senyum manisnya.
Mereka makan dengan sangat tenang, hingga makanan di piring mereka bersih.
"Rencana kamu hari ini apa Jova?" tanya Mama.
"Jova mau ke kampus Ma." jawab Jova.
"Nanti supir yang akan mengantarmu!" ucap Papa.
"Iya, Pa" jawab Jova.
# # # # # #
"Pak, ke apartemen dulu ya!" ucap Jova pada supir di depannya, Jova duduk di kursi belakang.
"Baik, Nona muda!" jawab supir itu.
Setelah sampai Jova langsung masuk ke apartemennya. Mengambil beberapa baju dari almarinya dan memasukkannya ke koper. Setelah itu dia membawa kopernya ke apartemen Alexander. Jova berganti baju dan mengambil perlengkapan untuk kuliah. Barulah Jova kembali ke mobil yang sudah menunggunya di depan Lobby.
"Kita ke kampus Pak!" ucap Jova pada supir yang membukakan pintu untuknya.
"Iya, Nona!" jawab sopir itu.
__ADS_1
Mobil yang membawa Jova masuk ke halaman parkir mobil kampus, supir membukakan pintu belakang untuk Jova. Jova keluar dari pintu mobil dan berjalan menuju koridor kampus. Banyak mata yang melihat kedatangan Jova. Dimana dia yang kini berstatus Nyonya Alexander tentu saja membuat banyak orang iri. Apalagi kampus itu di kuasai Group G. Jova tidak perduli menjadi pusat perhatian. Dia hanya akan tersenyum pada Mahasiswa yang menyapanya, dan cuek pada Mahasiswa yang hanya meliriknya.
"Wow! sekarang pakai supir dan mobil mewah ya!" ucap seseorang yang berdiri di tiang koridor yang di lewati Jova.
Jova menoleh ke sumber suara, lalu membalikkan badannya dan membuang nafas kasar setelah lagi - lagi melihat Julie yang menatapnya dengan sinis.
"Ada apa lagi Bu Julie?" tanya Jova.
"Tidak ada!" jawab Julie dengan senyum sinis. "Aku hanya menyapamu," ucapnya, "apa salah, saya menyapa Nyonya Alexander, pemilik Kampus ini?" dengan nada sedikit mengejek.
"Anda sudah tau siapa suami saya!" ucap Jova, "kalau anda masih punya hati sebaiknya berhenti mengganggu saya!"
"Oh, kamu merasa terganggu?" tanya Julie.
"Tentu saja!" jawab Jova, "anda selalu bicara dengan nada yang tidak enak di telinga saya!"
"Haha! sorry, Nyonya!" ucap Julie dengan nada mengejek.
Jova tidak menggubrisnya, dia langsung membalikkan badannya hendak beranjak dari hadapan Julie.
"Aku hanya mengingatkanmu! Carissa belum berniat untuk merelakan Alexander denganmu!" ucap Julie membuat langkah Jova berhenti, dan kembali membalikkan badannya menghadap Julie.
"Memangnya kenapa kalau dia belum rela?" tanya Jova tak kalah sinis. "Apapun yang di lakukan Carissa tidak akan membuat seorang Jovanka takut!" ucap Jova tegas.
Beberapa Mahasiswa di sekitar mulai melihat ke arah Jova dan Julie yang terlihat bersitegang.
"Carissa tidak perduli kau takut atau tidak!" ucap Julie, "karena bisa saja dia akan bertindak nekat tanpa aba - aba!'
"Hah!" Jova membuang nafasnya kasar, "sebenarnya apa hubungan anda dengan Carissa? sampai kau tau sejauh itu?" tanya Jova menyilangkan tangan di dadanya.
"Kami hanya berteman," jawab Julie menyandarkan lengannya di dinding.
"Ingat! Jika Carissa adalah Carissa si kepala batu! maka Jovanka adalah Jovanka si kepala batu!" ucap Jova dengan mengeratkan giginya. "Kita lihat saja batu mana yang akan pecah duluan! kau tau kan batu yang kau bela itu sudah retak?" tanya Jova dengan sinisnya. "Dia sudah kalah telak! akulah Nyonya Alexander! apa yang bisa kau jadikan patokan untuk mendukung temanmu itu! ha?" lanjut Jova. "Berapa besar uang di berikan Carissa kepadamu, sampai kau berani mencari masalah denganku di kampus!"
Ekspresi Julie seketika berubah, dia berdiri tegak dengan mengepalkan tangannya.
"Apa?" tanya Jova menantang, "kau ingin memukul ku? silahkan kalau kau sudah bosan jadi Dosen!" ucap Jova dengan menyungging senyum sinis.
Setelah sesaat menatap Julie yang sudah tidak berkutik, Jova membalikkan badannya berjalan meninggalkan Julie yang masih terbakar rasa kesal. Julie menghentakkan sebelah kakinya, melihat punggung Jova yang semakin jauh.
Satu episode per hari ya, hehe.
Author lagi mencari inspirasi untuk kisah Rakha dan Indira di Novel khusus mereka supaya alurnya pas sama momen - momen di Novel ini.
Terima kasih yang sudah meninggalkan Like, Komentar dan Dukungan lainnya.
Salam Lovallena.
__ADS_1