I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Singapura 7


__ADS_3

Jova berjalan bergandengan dengan Alexander memasuki lorong untuk masuk ke toko Louis Vuitt*n di lantai dasar mall itu. Jova membelalakkan matanya melihat barang - barang mewah yang berjajar.


Tapi nyalinya benar - benar menciut saat tau harga barang - barang yang di pajang itu.


"Tas yang kamu belikan waktu itu saja belum aku pakai. Rencananya mau aku pakai saat menghadiri ulang tahun Group G besok. Sekarang beli untuk apa?"


Alexander menarik nafasnya dalam dan heran. Setahunya, seorang wanita akan sangat suka jika di ajak belanja. Itu yang dia tau dari mamanya yang hobi belanja.


"Untuk koleksi barang branded mu lah sayang"


"Aku tidak suka koleksi barang mewah. Mahal!"


"Sudahlah sayang, belilah!. Pilih yang kamu mau, untuk kamu dan ibu mu. Nanti ayah mu dan Tristan belikan sepatu saja"


"Hemm. Lalu untuk mama mu? aku tidak tau selera mama mu?"


"Tidak usah. Tidak perlu membelikan mama ku"


"Kenapa?"


"Semua tas keluaran terbaru dia punya. Sandal dan sepatu pun tak pernah luput"


"Oh ya?", Jova menganga tak percaya.


"Hemm. Sekarang beli lah untukmu. Terserah kamu mau beli berapa?"


"Emm. Okelah"


Jova memilih satu tas untuknya dan satu tas untuk ibunya. Meskipun Alexander membebaskan pilihan, tetap saja Jova memilih dengan memperhatikan harga. Jova membeli dua tas dengan total 520 juta.


"Tristan dan Ayah?", tanya Alexander.


"di toko lain saja"


"Hemm Ok"


"Oh ya, boleh tidak sekalian aku beli baju untuk acara besok?"


"Tentu saja, kenapa tidak? beli apapun yang kamu inginkan", jawab Alexander yakin.


"Aku hanya butuh gaun untuk besok"


Setelah melakukan pembayaran, Alexander mengajak Jova untuk masuk ke salah satu butik mewah.


"Itu bukannya tuan Alexander?", tanya salah seorang SPG.


"Iya, baru kali ini dia mengajak perempuan ke sini. Biasanya dia akan datang bersama tuan besar dan nyonya besar", ucap lainnya.


"Kalau tidak, dia akan datang dengan sahabatnya sejak kecil yang tak kalah tampan dari tuan Alexander itu"


"Kau benar, sudah lama juga dia tidak muncul disini"


"Eh, jangan gosip. Lanjutkan pekerjaan kalian!", ucap SPG lain yang baru datang membubarkan mereka.


Jova bingung dengan banyaknya pilihan. Dia suka tapi setelah melihat harga dia ragu. Beberapa kali Alexander melihat Jova seperti itu, membuatnya yakin Jova ragu memilih karena harga.


"Tolong semua baju yang baru saja di sentuh nona itu kau ambil!", ucap Alexander pelan pada SPG yang mengikuti Jova.


"Siap tuan", ucap SPG sopan.


SPG itu mengikuti Jova, baju apapun yang baru saja di sentuh Jova langsung di ambil si SPG. Lama - lama Jova merasa aneh.


"Mbak, kenapa mengikuti saya? dan mengambil semua baju yang baru saja saya lihat?", tanya Jova saat sengaja membalikkan badan.


"Tuan Alexander yang menyuruh saya untuk mengikuti nona, dan mengambil baju - baju yang baru saja nona lihat"


"What!", pekik Jova. Apa dia semakin gila?, batin Jova. "Mbak sebaiknya itu di kembalikan saja, saya hanya butuh dua ini saja"

__ADS_1


"Tapi nona, bagaimana kalau tuan Alexander marah? Saya bisa di pecat", ucap SPG itu melas.


"Tuan Alexander?, kau mengenalnya?", tanya Jova penasaran.


"Semua pegawai di sini pasti mengenalnya nona. Beliau sering datang bersama orang tuanya"


"Oh ya!", Jova tersentak kaget.


"Mbak tau siapa nama orang tuanya?"


"Saya tahu"


"Siapa?"


"Maaf nona, saya tidak punya hak untuk hal itu"


"Emm ya sudah. Saya sudah selesai"


"Baik nona"


SPG itu berjalan ke arah kasir. Jova menghampiri Alexander yang duduk di kursi tunggu"


"Sayang, kenapa kamu menyuruh SPG itu mengambil semua baju yang bahkan hanya aku lihat?", Jova duduk di samping Alexander.


"Aku tau kamu bingung, jadi sekalian saja yang kamu lihat di ambil", ucap Alexander tersenyum kecil.


"Itu namanya pemborosan sayang"


"Hehe, ayo kita ke kasir", Alexander menggandeng tangan Jova.


Jova membelalakkan matanya saat mengetahui total belanjaan bajunya. Dia merasa bersalah, harusnya dia pilih satu dan langsung memberikan pada SPG nya.


"Sayang 150 juta hanya untuk 6 baju?, apa itu tidak gila", bisik Jova.


"Kenapa gila?"


"Untukmu tidak ada yang mahal", ucap Alexander cuek.


"Dasar orang kaya!", Jova menyilangkan tangannya.


Saat hendak mengambil semua paper bag belanjaannya, Jova kembali di kaget kan dengan kemunculan dua pria berbaju hitam. Mereka mengambil semua paper bag di depan Jova, setelah menunduk sopan pada Jova dan Alexander.


Jova reflek mengangguk, tapi Alexander cuek saja. Alexander langsung menggandeng tangan Jova menuju toko branded merek Gucc* untuk membeli sepatu di ikuti dua orang pria yang membawa belanjaan Jova.


Kali ini Alexander mengikuti pergerakan Jova. Karena Jova ingin membeli untuk ayahnya dan Tristan. Dan Jova tidak tau yang cocok untuk mereka.


Setelah menemukan yang pas untuk mereka, Alexander menarik tangan Jova menuju sandal dan sepatu wanita.


"Kau juga harus memilih sandal dan sepatu untuk acara mu besok!", ucap Alexander.


"Masak iya aku harus pakai sandal dan sepatu bersamaan. Coba bayangkan seperti apa jadinya", ucap Jova tersenyum jail.


"Haha, maksud ku kau harus memilih sandal dan sepatu sebanyak yang kamu mau"


Jova mengangkat kedua alisnya. Belajar dari cara belanja Jova sebelumnya, kali ini Jova langsung mengambil satu high heels yang langsung di tunjukkan pada Alexander.


"Kenapa cuma satu?", tanya Alexander.


"Satu saja sudah cukup"


Alexander melirik Jova, kemudian berbisik pada SPG.


"Ayo!", Alexander mengajak Jova ke kasir.


Jova bingung, dia hanya memilih 3 sepatu untuknya, ayah dan Tristan. Tapi kenapa ada 7 paper bag. Dia semakin heran, setelah tau total belanjaannya mencapai hampir 150 juta.


"Sayang, perasaan tadi hanya 3 sepatu. Kalau di jumlahkan tidak sampai 60 juta. Kenapa bisa sampai 140 juta lebih?"

__ADS_1


"Semua keluaran terbaru yang ukurannya sama dengan kaki mu aku beli"


"Apa!!", Jova terlonjak kaget.


"Kenapa?"


"Aku rasa setelah belanja, tujuan kita harus ke psikiater"


"Untuk apa?"


"Memeriksakan otak mu itu sayang!"


"Memangnya otak ku kenapa?"


"Sepertinya sedikit geser"


"Hahahaa ada - ada saja sayang ku ini"


Dua pengawal yang mengikuti Jova dan Alexander mengambil paper bag Jova.


"Sayang, katakan pada ku sekarang. Dari mana datangnya mereka?"


"Aku mengantongi mereka kemana - mana. Jadi saat butuh aku keluarkan dari kantong ku", ucap Alexander dengan senyum jahilnya membuat Jova menganga tak percaya.


"Aku rasa kamu benar - benar gila sayang", ucap Jova menyenggol lengan Alexander.


"Hahah", Alexander tertawa sambil mentoel hidung Jova. "Sekarang kita ke toko perhiasan"


"Untuk apa?"


"Besok kau harus tampil sempurna"


"Oh"


Alexander masuk ke toko perhiasan. Tanpa meminta Jova memilih. Alexander langsung meminta pada SPG untuk mengeluarkan produk terbaru mereka.


Alexander memilih satu set perhiasan seharga 4 M. Lagi - lagi Jova di buat pusing dengan ulah Alexander. Belum sempat Jova protes Alexander sudah membungkam mulut Jova dengan ancaman.


"Jangan protes! kalau kau protes, aku akan membeli semua keluaran terbaru ini untukmu!", menunjuk 3 set perhiasan keluaran terbaru.


Jova yang sudah membuka mulutnya untuk protes, kembali menutupnya dan menelan salivanya dengan sangat susah. Membuat sang SPG menahan senyumnya.


"Sudah sayang, aku lelah, aku juga lapar", ucap Jova setelah Alexander melakukan pembayaran.


"Ya sudah kita cari restauran yang kau mau"


"Iya!". Ini adalah cara yang tepat, supaya kau berhenti mengajakku belanja. Ucap Jova dalam hati.


Mereka masuk ke restoran mewah, mereka duduk berdampingan. Waiters datang membawa menu makanan.




Alexander dan Jova sudah bersiap pulang. Tunggu part selanjutnya teman - teman reader.



Jangan lupa like dan komentarnya.


Juga Vote dan Favoritkan novel ini ya.


Mumpung hari senin nih, teman - teman dapet 1 vote.



Terima kasih untuk teman - teman yang sudah memberikan dukungan dalam bentuk apapun.

__ADS_1


__ADS_2