
"Ah, apa yang aku pikirkan," Jova membuang pikiran aneh di otaknya, lalu mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat dia mengawasi Alex menuju suatu tempat.
10 menit kemudian dia sampai di deretan ruko 2 lantai.
"Mbak, ice cappucino 1," ucap Jova pada kasir salah satu Cafe. Setelah dia membayar dia menunggu pesanannya di kursi dekat dinding kaca yang menghadap halaman depan cafe. Cafe itu di desain dengan konsep modern, di dominasi oleh warna brown.
"Jova!" sapa gadis yang keluar dari dalam ruangan di cafe itu.
"Hai, ndi"
"Lama sekali kamu tidak kesini", tanya Indira menepuk pelan bahu Jova lalu duduk di depannya.
"Iya, sorry. Dari tadi siang aku ingin minum kopi dingin khas cafe mu. Jadi pulang kerja aku mampir saja kesini," ucap Jova tersenyum menerima pesanannya dari waiters.
"Kata Bayu, tadi siang kamu gak jadi masuk di jam kuliah dosen tampan mu itu."
"Iya!" jawab Jova setelah meminum setengah gelas pesanannya.
"Kenapa?"
"Kemarin dia mengatai ku tidak niat kuliah, jadi sekalian saja aku tidak kuliah."
"Apa kau tidak takut itu akan menimbulkan masalah dengan nilai - nilai mu?, kita kan sudah semester 7 akhir. Sebentar lagi semester 8 lalu skripsi. Sayang kalau kau harus membuat masalah menjelang tahun terakhir kuliah seperti ini," nasehat Indira pada Jovanka.
"Benar juga sih," Jova menimbang - nimbang ucapan Indira. "Lagian kenapa sih, dosen batu itu muncul menjelang tahun terakhir aku kuliah!" ucap Jova kesal.
"Dosen batu?" Indira mengerutkan alisnya. "Bukannya kau menyebutnya dosen gila?"
"Ibuku bilang kalau dia gila, tidak mungkin dia jadi dosen. Karena dia sangat dingin dan tidak bisa tersenyum seperti batu, jadi ku sebut saja dosen batu," Jova bercerita dengan senyum lucu di bibirnya.
Indira tersenyum melihat ekspresi Jova ketika menceritakan dosen itu. Dia melihat sesuatu yang belum pernah dia lihat selama bersahabat dengannya selama 9 tahun. Di awali saat duduk di bangku kelas VIl SMP.
"Jova, Sabtu besok apa kau ada rencana?"
"Tidak, kenapa?"
"Bagaimana kalau kita Jogging saja di taman kota? Kalau hari sabtu kan sedikit sepi. Jadi kita bisa santai."
"Boleh, aku sampai di sana jam setengah enam pagi ya? jangan telat!"
"Ok Ok paling juga aku duluan yang sampai," ucap Indira menaikkan sebelah alisnya.
"Haha! Iya iya akau tau aku pemalas!"
Mereka melanjutkan obrolan hingga waktu menunjukkan jam 6 sore.
"Ndi, aku pulang dulu ya?"
"Ok, hati - hati."
Jova pergi meninggalkan IDR cafe milik Indira.
Indira Omara Clovis
# # # # # #
Menjelang gelap seorang CEO tampan baru saja keluar dari gedung megahnya. Dia di antar oleh asistennya menuju apartemennya.
Saat di lampu merah yang masih dekat dengan Perusahaannya, mobilnya berhenti tepat di samping mobil lainnya. Dia menyandarkan kepalanya menghadap depan, karena dia selalu duduk di depan. Agar tidak terlihat kalau di dalam mobil itu adalah seorang boss dan asistennya. Kaca mobilnya yang tidak di tutup sepenuhnya, membuatnya menangkap suara seorang gadis di telinganya.
"Aku benci CEO di dalam gedung Group G itu! kalau orang lain bilang tampan, maka aku akan mengatai mu jelek!. Gara - gara otakmu itu aku jadi kesulitan menaikkan omset!" ucap gadis itu dengan nada tinggi. Dan dapat di dengar orang - orang yang berada di sekitar mobilnya karena kaca mobilnya tidak di tutup.
__ADS_1
CEO itu langsung menoleh ke arah kirinya, begitu merasa gedung yang di maksud gadis itu adalah gedung milik keluarganya.
Dia masih menatap gadis itu yang masih terus bicara. Gadis itu tidak menyadari kalau seseorang di dalam mobil sebelahnya menatap nya dengan intens. Karena kaca mobil yang gelap itu tertutup sebagian, menutupi wajah orang yang berada di dalam.
"Hahah berani sekali gadis itu!" ucap Rakha. "Sepertinya dia tidak mengenalmu boss."
"Diam!"
"Tapi dia cantik juga boss, apa kau tidak mencoba untuk menaklukkan gadis yang membencimu?" Rakha tersenyum menggoda dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Apa kau sudah bosan hidup kha?"
Seketika Rakha terdiam mendengar kalimat mematikan dari bossnya. Dia kembali melajukan mobilnya karena lampu sudah menunjukkan warna hijau.
Tiinn tiinn tiinn tiinn
Suara klakson mobil - mobil di belakang gadis itu. Gadis yang baru tersadar kalau lampu lalu lintas sudah berubah warna segera melajukan mobilnya.
CEO itu masih memperhatikan gadis itu melalui kaca spion. Sesaat kemudian dia menyunggingkan senyum samar. Rakha sadar boss nya menyimpan senyum samar nya. Rakha pun mengulum bibirnya menahan senyum, tanpa berani berkata apapun.
# # # # # #
"Iya, Bu, sebentar," teriak Jovanka setelah mendengar panggilan makan malam dari Ibunya di bawah. Di kamar Jovanka sedang menyisir rambutnya yang masih sedikit basah. Dia turun setelahnya.
"Selamat malam, Ayah, Ibu," sapa Jova
"Malam sayang, ayo makan!" jawab Ibu
"Kenapa kau tidak pernah menyapaku sih kak?" tanya Tristan
"Kau yang harusnya menyapa ku, aku kan lebih tua dari mu,"
"Walaupun lebih tua kakak, tidak ada salahnya menyapa adiknya kan? malam adik ku sayang atau malam adikku tampan," ucap Tristan tidak mau kalah.
"Eh Busset!" seru Tristan
"Jangan banyak bicara, cepat makan!" perintah Jova pada adiknya.
Makan malam selesai, kali ini Jova memilih langsung naik ke atas setelah pamit pada Ayah dan Ibunya.
"Kenapa aku jadi teringat kebiasaan dosen batu itu ya. Hemm," Jova sudah berbaring d atas tempat tidur nya menghadap langit - langit kamarnya. "Aku tidak menyangka kalau dia sangat dermawan di balik semua kedinginan sikapnya. Huh!" desah Jova.
Beberapa saat kemudian dia tertidur tanpa mengganti bajunya.
# # # # # #
Alex sedang berada di meja kerja di apartemennya. Dia menatap tumpukan lembaran hukuman yang diberikannya kepada Jova. Dia mengambil satu lembar kertas teratas. Dia kembali teringat Jova merangkul pundak laki - laki di sampingnya.
Tanpa dia sadari tangannya meremas kertas itu hingga tak berbentuk. Kemudian melemparkannya ke dinding ruang kerjanya. Dan tangannya kembali terkepal.
Cari informasi lengkap tentang gadis ini! namanya Jovanka Lovata Barraq. Mahasiswi semester 7 bisnis, di kampus ku. Isi pesan Alex pada seseorang.
Baik boss. Pesan yang diterima Alex sesaat kemudian.
Setelah itu, dia keluar ruang kerja menuju kamarnya dan langsung membaringkan tubuhnya. Sesaat kemudian dia terlelap tanpa mengganti baju tidurnya.
# # # # # #
Jam setengah enam pagi mobil Jova sudah berada di parkiran taman kota. dia berada di sampingnya melakukan pemanasan. Tidak lama kemudian Indira datang menghampirinya.
"Kau sudah siap?" tanya Indira.
__ADS_1
"Tentu saja!"
"Yuk!"
"Ayuk!"
Mereka mulai berlari - lari kecil memutari taman kota. Taman kota tampak sepi karena hari sabtu. Akan sangat ramai jika hari minggu. Di sana hanya ada beberapa orang yang sedang Jogging, dan beberapa pedagang kaki lima. Juga tampak beberapa orang tua yang sedang mengikuti langkah anak balitanya yang bermain - main.
Setelah 6 kali putaran mereka beristirahat di salah satu kursi taman yang tidak jauh dari parkiran mobil mereka. Mereka minum air putih yang mereka bawa dari rumah.
Jova meluruskan kakinya, matanya mengarah pada sepasang muda - mudi yang sedang duduk berdua di kursi depan yang agak jauh darinya. Mereka tampak bercanda sangat bahagia. Sang laki - laki tampak menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah kekasihnya.
Kapan aku di cintai orang seperti gadis itu, batinnya.
Saat sedang asyik melihat keromantisan sepasang muda - mudi, matanya membulat sempurna dan mulutnya spontan terbuka lebar ketika melihat sosok yang sangat dia kenal.
Kenapa dia terlihat semakin tampan dengan baju olah raga seperti ini. Tubuhnya benar - benar menggiurkan mata kaum hawa. Batin Jova hingga lupa berkedip.
Indira menyadari Jova sedang melamun. Dia mengikuti arah pandang Jova. Dia kaget lalu tersenyum.
"Wow itu manusia atau malaikat. Benar - benar menggoda. Tampan, putih, kekar uuwwuuuh!" ucap Indira tanpa berkedip sekalipun.
Jova yang mendengar ucapan Indira segera menoleh pada Indira di sampingnya. Kemudian dia tau kalau Indira juga menatap Alex yang sedang berlari - lari kecil.
"Hey!! apa yang kau lihat!" Jova mengagetkan Indira.
"Hehe aku sedang menikmati pemandangan indah, pangeran mu itu," ucap Indira menunjukkan gigi putih putihnya dengan senyum menggoda Jova.
"Pangeran ku? maksudmu dosen batu itu?" sambil matanya memutari jalanan taman mencari keberadaan Alex. Tapi yang di cari tidak ada.
"Lah, hilang kemana dia?" Jova berdiri dan memutar - mutar badannya mencari sosok Alex.
"Tuh kan, di cari!" goda Indira.
"Apa sih!" jawab Jova sok tidak perduli. "Lah itu dia!" ucap Jova saat menemukan Alex duduk di trotoar pinggir taman di samping pedagang kaki lima.
"Ikut aku, kau akan tau sesuatu di luar pikiranku selama ini!" Jova menarik tangan Indira.
Dia berada di jarak cukup aman. Dia dapat melihat Alex yang sedang membayar minumannya yang dia pesan menggunakan amplop putih.
"Apa itu isinya uang?" tanya Indira.
Jova hanya mengangkat kedua bahunya.
"Wiih ternyata dia dermawan juga ya?" tanya Indira lagi.
"Itu yang ingin aku tunjukkan padamu."
"Ayo pulang!" ucap Jova setelah melihat Alex pergi menuju mobilnya.
"Ayo!"
Jova dan Indira kembali ke mobil masing - masing untuk pulang.
Jangan lupa tinggalkan Like ya teman - teman.
Terima kasih atas segala bentuk dukungannya.
__ADS_1
Salam Lovallena