
Hingga larut malam Jova masih berkutat di meja kerja yang menyatu dengan kamar di apartemennya. Apartemen Jova tidak terlalu besar. Hanya ada satu kamar tidur, satu ruang pakaian dan barang - barang Jovanka, dua kamar mandi satu di kamar, satu lagi di ruang tamu yang menyatu dengan pantry. Dan hanya satu lantai.
Jam 12 malam dia baru menyelesaikan semua tugas dan hukumannya.
"Akhirnya, aku bisa tidur!" seru Jova yang langsung menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur.
Tidak butuh waktu lama bagi Jova untuk terlelap. Dia bahkan tidak mengganti bajunya.
# # # # # #
Keesokan harinya di sebuah kamar yang di dominasi benda - benda perempuan. Sepasang mata mengerjap - ngerjap baru bangun dari tidurnya.
"Aahh! telat lagi!" setelah melihat jam dinding.
Jovanka langsung bergegas ke kamar mandi, keluar dengan buru - buru. Setelah memakai baju rapi dia menyisir rambutnya serapi mungkin. Dia memoles wajahnya dengan make up tipis. Dia segera berlari keluar apartemennya menuju lift.
Sampai di lobby bawah, dia melirik kanan kiri.
Kenapa mereka menatap ku seperti itu, gumam Jova dalam hati.
Semua mata yang sedang berada di lobby melihatnya dengan menahan senyum. Tak terkecuali sepasang mata pria tampan yang menatapnya datar.
Betapa terkejutnya dia saat melewati dinding kaca yang memantulkan dirinya. Baju dan rambutnya yang rapi disertai tas dan kunci mobil juga map lembaran hukuman di tangannya. Tapi sepasang sendal tidur hello kitty menempel di kakinya.
"Aduuhh! kenapa aku bodoh begini sih," gumam Jova pelan.
Dia berbalik arah salah tingkah. Map di tangannya di gunakan untuk menutupi wajahnya yang bersemu merah menahan malu.
"Kenapa kau jadi bodoh Jova!" gumamnya lagi tanpa memperhatikan jalan di depannya.
Bruukkk
Jova menabrak seseorang di depannya. Jova bersiap memarahi orang di depannya, dia menurunkan map nya.
"Apa ka ..." Kalimatnya menggantung begitu sadar orang yang di tabrak nya adalah Alex. Matanya terbuka lebar, Jova menelan saliva nya dengan sangat susah.
"Kau memang bodoh", ucap Alex pelan. "Sekarang kau tau kan seberapa kebodohanmu?" ucap Alex dengan penuh penekanan.
"Bunuh saja saya pak," Jova reflek mengatakan itu. Dan dia segera menutup mulutnya begitu menyadari apa yang dia ucapkan.
"Kau tau kan, kau tidak boleh telat mengumpulkan hukuman mu?" Alex langsung berlalu meninggalkan Jova yang masih mematung.
"Bagaimana bisa dia ada disini?" Jova berjalan menuju lift. "Lift ini lama sekali sih!" keluh Jova. Apartemen Jova di lantai 10, karena dia terburu - buru jadi merasa lift berjalan lebih lambat dari biasanya.
Setelah lift sampai di lantai 10, dia berlari ke apartemennya. Memasukkan kode pintu dan dengan cepat mengganti sepatu. Lalu kembali turun menggunakan lift.
Sampai di lobby dia sudah tidak melihat Alex di sana.
Selamat dia sudah pergi, batinnya.
Dia menuju parkiran mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan apartemennya dengan kecepatan cukup tinggi. Karena memang jam macet, sudah pasti dia tidak akan mampu mengejar waktu.
Sesampainya dia di kampus dia langsung menuju ruangan Alex.
Tok tok tok
"Masuk!" suara berat dari dalam ruangan.
Jova membuka pintu dan melihat Alex tengah memeriksa hasil tugas mahasiswa.
__ADS_1
"Saya tidak terlambat kan pak?"
"Lihat jam mu!"
"Hanya dua menit pak", jawab Jova setelah melihat jam di pergelangan tangan kirinya.
"Kau pikir dua menit itu bukan waktu?"
"Pak, masukkan saya ke laut saja pak," ucap Jova kesal.
"Kali ini aku akan memaafkan mu. Tapi ingat, besok atau kapanpun kalau kau telat, kau akan menerima hukumannya!"
"Baik, pak," ucap Jova pelan dan sedikit lega karena tidak di hukum.
"Ada yang perlu kau tanyakan lagi?", tanya Alex melihat Jova yang tak kunjung pergi.
"Em, apa bapak juga tinggal di apartemen tadi?" tanya Jova takut - takut.
"Apa itu pertanyaan penting?" jawab Alex sinis.
Jova menelan ludahnya dengan sangat susah.
"Saya permisi, pak!" pamit Jova menyadari ekspresi Alex tidak bersahabat.
# # # # # #
Alex memeriksa setiap lembaran hukuman yang berisi tulisan tangan Jovanka. Semakin lama tulisan di lembaran itu semakin terlihat jelek. Alex tersenyum samar melihat tulisan yang semakin antah berantah itu.
Di lembar terakhir matanya membulat sempurna. Mulutnya sedikit terbuka, Otaknya tampak berfikir. Dia mencoba mengartikan sketsa yang di gambar menggunakan bolpoin berwarna merah.
"Apa ini artinya dia mengatai aku anjing!" gumamnya pelan, menahan kesal yang tidak terukur.
"Berani sekali dia mengatai ku anjing!" Alex mengeratkan giginya, matanya tidak lepas dari sketsa itu.
Dia segera mengemasi perlengkapan mengajarnya. Dia berjalan menuju ruang kelas Jova. Dia masuk dengan raut wajah yang sulit di artikan oleh mahasiswa di dalam kelas.
Selama jam kuliah berlangsung sesekali mata Alex melihat Jova dengan tatapan tajam. Jova bingung kenapa dia di tatap seperti itu.
Sampai jam kuliah berakhir Alex tidak kunjung keluar dari kelas, dia duduk di kursi dosen. Beberapa mahasiswa sudah keluar satu persatu. Saat Jova melewati meja Alex.
"Jovanka berhenti!" ucap Alex tanpa melihat Jovanka.
Beberapa mahasiswa yang belum keluar dari kelas melihat ke arah Jovanka dan sang dosen bergantian.
Jovanka segera berhenti, dan berjalan mendekati meja Alex.
"Ada apa pak Alex?" tanya Jova tanpa curiga. Karena dia merasa tidak melakukan kesalahan.
"Ikut saya ke ruangan saya sekarang juga!" ucap Alex pelan tapi penuh penekanan.
Melihat ekspresi Alex yang sulit di tebak dan bahkan berbicara tanpa menoleh padanya sedikit pun, membuat nyalinya menciut.
"Ba.. baik, pak!" ucap Jova terbata - bata karena menahan takut.
Alex berjalan keluar dan di ikuti oleh Jovanka. Beberapa mahasiswa bertanya - tanya.
"Kesalahan apa yang di lakukan Jovanka?", tanya salah seorang mahasiswa yang masih di dalam kelas.
"Entahlah, perasaan tadi baik - baik saja," jawab mahasiswa lainnya.
__ADS_1
"Jovanka juga tidak terlambat," ucap yang lainnya. Mereka saling mengangkat pundak masing - masing.
# # # # # #
Kini Alex dan Jovanka duduk berhadapan di ruangan Alex.
"Ambil kertas itu!" perintah Alex menunjuk gumpalan kertas di lantai dengan sedikit menggerakkan kepalanya.
Jova berdiri dan mengambil kertas itu.
"Apa ini pak?"
"Buka!"
Jova membuka kertas, dan matanya membulat sempurna, mulutnya terbuka lebar. Dia bingung harus melihat ke arah mana sekarang. Dia salah tingkah di tingkatan tertinggi.
Bumi, bisakah aku menembus mu sekali ini saja, batin Jova.
"Kenapa kau diam saja?" Alex berdiri menghampiri Jova yang masih berdiri mematung.
Menyadari Alex berjalan ke arahnya dia berjalan mundur. Tapi Alex tidak berhenti begitu saja melihat Jova mundur. Sampai punggung Jova menatap dinding, Alex masih berjalan pelan ke arah Jova.
Jova sudah bingung tidak karuan. Dia bingung memikirkan alasan yang tepat. Seingatnya kertas itu sudah dia singkirkan. Bagaimana bisa ada pada dosen itu.
Tapi terlambat, Alex sudah ada di depannya. Jarak mereka sangat dekat. Hingga hembusan nafas Alex terasa di kepala Jova yang lebih pendek dari Alex.
Oh jantung, kenapa kau berdetak begitu cepat, otak ku sampai tidak bisa berfikir, batin Jova.
"Apa itu artinya kau mengatai ku anjing?" ucap Alex pelan dengan nada berat.
"Bu.. Ti.. sa.." Jova mendadak kesulitan bicara.
Suara ku kenapa kau selalu menghilang di saat seperti ini, batin Jova.
"Bu Tisa maksudmu?" tanya Alex mengangkat satu alisnya.
Jova menggeleng cepat.
"Lalu?" Alex mendekatkan wajahnya pada Jova. Membuat Jova semakin bergetar.
"Saya ... " Jova tidak dapat melanjutkan kalimatnya.
"Saya?" tanya Alex lagi.
"JOVANKA!!" bentak Alex karena melihat Jova diam saja.
Jovanka terlonjak kaget mendengar suara menggelegar Alex. Alex yang menyadari tubuh Jovanka bergetar memilih membalikkan badannya, berjalan menuju kursi.
"Manusia apa Gorila sih!" gumam Jovanka pelan.
Belum juga sampai di kursi telinga Alex terbakar lagi mendengar umpatan Jovanka.
Menyadari Alex mendengar umpatannya dia menutup mulutnya rapat.
Alex berbalik menghampiri Jovanka lagi.
"Setelah mengatai ku anjing, sekarang kau mengatai ku gorila?" tanya Alex pelan dengan mengeratkan giginya. "Setelah ini apalagi yang ingin kau sebutkan untukku?"
"Tidak pak, saya hanya reflek," ucap Jovanka. Akhirnya keluar juga suara ku, batinnya. "Sa.. sa.. " ucap Jova terbata - bata. Lah, kok ilang lagi sih?
__ADS_1
"Hukum saya pak!" ucap Jova cepat. Kok malah kalimat itu sih yang muncul, batin Jova.
"Hukum?" tanya Alex pelan.