I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Singapura 8


__ADS_3

Tanpa perlu izin rakha naik ke lantai 15 gedung perkantoran depan kampus Jova. Karena semua orang tau siapa dia, semua orang menunduk begitu melihat Rakha datang. Begitu juga saat lift terbuka dan menunjukkan seorang Rakha Leonard.


"Di mana tuan Saddam?"


"Mari saya antar, tuan," ucap seorang karyawan di lantai 15.


Rakha mengikuti langkah karyawan itu sampai di depan sebuah ruangan bertulis PRESDIR.


"Silahkan, tuan"


"Hemm"


Mira yang berada di depan ruangan segera menyambut kehadiran Rakha dengan senyum sopan nya. Dia mengetuk ruangan Presdir terlebih dahulu sebelum mengizinkan Rakha masuk.


Rakha masuk setelah Saddam mengizinkan. Saddam terlihat sedikit menahan kesal. Tapi bagaimanapun yang datang adalah asisten kepercayaan Group G, pemilik gedung yang dia tempati.


"Selamat sore, Tuan Saddam?"


"Sore. Ada apa Tuan Rakha menemui saya. Tidak biasanya Tuan menemui saya"


"Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan"


"Silahkan, Tuan."


Banyak hal yang di sampaikan Rakha pada Ayah Jova dalam pertemuan sore itu. Hingga menjelang malam mereka berdua masih mengobrol di ruang kerja Ayah Jova.



"Kau tau tempat ini kan?" tanya Devan pada Jova berjalan beriringan di koridor.



"Tau, ini rumah sakit tempat aku menghilangkan bekas luka"



Jova mengikuti langkah lebar seorang Devan dengan sedikit berlari. Sampai Devan berhenti di dekat dinding kaca yang mana ada dua orang berpakaian hitam di dekat pintu, dan spontan menghadap dinding kaca itu. Jova reflek mengikuti pergerakan Devan.



*Aku sudah membawa gadis yang kau tunggu bertahun - tahun kesini brother! bukalah matamu*, ucap Devan dalam hati.



Mata Jova membulat penuh, manakala laki - laki yang sangat mirip dengan laki - laki di sebelahnya terbaring dengan di penuhi alat medis di tubuhnya.



Tubuh Jova bergetar, hati Jova seperti di remas. Seperti tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Tak sedikit pun ada pergerakan pada tubuh laki - laki itu. Jova menyentuh dinding kaca itu, air mata Jova meluncur begitu saja, dengan isakan lirih. Devan merangkul pundak Jova, berusaha memberi kekuatan.



"Jika selama di sini kau pernah mencari Alexander tapi tidak ada, di rumah sakit inilah dia berada"



Jova mendongak menatap mata Devan di sampingnya, dengan tatapan tak percaya. Ingatan Jova langsung tertuju saat pagi - pagi sekali Jova mencari Alexander.



"Alexander mengidap tumor otak jinak sejak beberapa bulan yang lalu. Sebelum dia membawamu ke sini, dia sudah mengajukan pengunduran dirinya di kampusmu. Dia berniat untuk menjalani pengobatan di sini sampai dia sembuh, barulah dia akan kembali mencari mu. Tapi di luar dugaan, kau datang ke apartemennya di saat dia akan bersiap untuk berangkat. Sehingga yang seharusnya dia datang untuk operasi senin lalu. Barulah dia operasi senin kemarin"



"Apa?" Jova menatap mata Devan, mencari kebenaran.



"Selama kalian di sini, selain mengobati bekas luka mu, dia juga menjalani terapi dan berbagai macam obat jalan. Dia memilih tidak tinggal satu kamar dengan mu, karena dia tidak mau kau tau kalau dia dalam tahap pengobatan."



Jova menoleh pada Alexander yang berada di dalam ruangan itu, dengan tatapan bersalah.



"Entah, dia belum sadar sejak operasi kemarin"



Tiba - tiba pandangan Jova gelap. Sebelum dia jatuh, Devan sudah bersiap menangkap tubuh Jova. Seorang pengawal memanggil dokter.

__ADS_1



"Jova!" Devan menepuk pelan pipi Jova yang tidak sadarkan diri.



"Jova!"



Devan segera mengangkat tubuh Jova, bersamaan seorang perawat datang membawa brankar. Devan meletakkan Jova di brankar dan di bawa ke ruang rawat VVIP. Kamar rawat yang di pakai Alexander sebelum menjalani operasi.



\# \# \# \# \# \#



3 jam berlalu, Jova mengerjap kan matanya, menatap atap ruangannya. Lalu melihat sekitarnya yang asing baginya, terlihat Devan tengah berbaring di sofa dengan mata tertutup.



Jova bangun dari pingsannya, duduk di tepi ranjang. Mengambil air minum di atas nakas dan meneguknya.



Jova berjalan ke arah pintu dengan sangat hati - hati agar Devan tidak terbangun. Dia juga membuka pintu dengan sangat pelan.



Hari sudah malam, Jova berjalan menyusuri lorong, mencari ruangan di mana Alexander di rawat. Sampai dia bertemu seorang perawat. Lalu dia berjalan mengikuti arahan perawat itu.



Jova terus berjalan, sampai akhirnya bertemu dengan dua orang Pengawal yang menunduk hormat pada Jova. Tentu mereka tau siapa Jova.



"Apa aku boleh masuk?" tanya Jova pada Pengawal itu.



"Boleh, Nona. Tapi tidak boleh lebih dari lima menit" jawab seorang Pengawal.




Tanpa basa - basi Jova langsung masuk, menghampiri tempat tidur Alexander.



Jova berdiri di sisi kanan Alexander. Menggenggam tangan kanan Alexander, menatap lembut wajah Alexander yang matanya tertutup. Air mata Jova menetes begitu saja.



"Maafkan aku Alexander, aku tidak menyadari semua ini," terdengar sedikit isakan Jova. "Bangunlah sayang, aku di sini untukmu. Maafkan aku yang sempat tak menghiraukan mu karena kesalahpahaman kita. Bangunlah sayang"



Jova menunduk mencium punggung tangan Alexander, lalu mencium lembut dan dalam kening Alexander.



Ada hal aneh yang terbaca di monitor dekat tempat tidur Alexander. Perawat yang berjaga menyadari itu. Spontan meminta Jova untuk keluar dan tirai dinding di tutup rapat oleh sang Perawat.



"Ada apa ini?" tanya Jova pada Dokter yang akan masuk ke ruangan itu. Tapi dokter itu tidak menjawab.



Bersamaan Devan datang, yang terbangun dan mencari Jova. Devan tau, satu - satunya yang di tuju Jova pasti ruangan di mana Alexander berada.



"Ada apa Jova?"



Jova menggeleng tidak tau, dia masih sedikit menangis. Devan membawa Jova untuk duduk. Menyandarkan kepala Jova di pundaknya dan mengusap pundak Jova.

__ADS_1



20 menit kemudian, pintu ruangan itu terbuka, terlihat brankar Alexander keluar dengan di bawa dua orang perawat. Jova dan Devan sontak berdiri mengikuti arah Perawat dan Dokter itu membawa brankar Alexander.



Mereka sampai di depan ruangan, di mana tadi Jova sempat di rawat saat pingsan. Jova, Devan dan dua Pengawal menunggu di depan ruangan. Jova tampak panik, tapi dia sudah tidak menangis. Devan dengan sabar menenangkan Jova.



20 menit berlalu, Dokter keluar dari ruang rawat itu. Sontak Jova dan Devan berdiri mendekati dokter.



"Detak jantung Tuan Alexander sudah normal. Hanya saja dia belum bisa membuka matanya. Tuan dan Nona harus bersabar dan banyak berdo'a"



"Apa kami boleh masuk Dok?" tanya Jova.



"Boleh, silahkan. Tapi tolong jangan membuat kegaduhan"



"Baik, Dok!"



Dokter dan dua orang Perawat itu berlalu. Jova dan Devan masuk ke dalam ruang rawat Alexander. Jova berjalan mendekati tempat tidur Alexander. Mencium lembut kening Alexander. Devan memperhatikan itu. Setelah itu Jova duduk di sofa bersama Devan.



"Kenapa Tuan Haidar dan istrinya tidak datang ke sini?" tanya Jova lirih.



"Mereka sudah di sini sejak hari minggu, dan baru tadi siang mereka kembali ke Indonesia karena suatu hal"



"Oh, kalian benar - benar mirip. Bagai pinang di belah dua. Aku sampai tidak bisa membedakan"



Devan tersenyum kecil menanggapi ucapan Jova.



"Kami memang sangat mirip, hanya sifat dan watak kami saja yang berbeda"



"Oh ya?" Jova mengerutkan keningnya. "Bedanya?"



"Setelah lama kau mengenal ku. Nanti juga kau akan tau perbedaan kami," Devan tersenyum kecil.



"Kau ini suka sekali bermain teka - teki dengan ku!" Jova memukul pelan lengan Devan, yang membuat Devan terkekeh.



"Lalu siapa yang selama ini di juluki Putra Gibran?"



"Kami berdua lah," Devan menjeda bicaranya. "Kami masuk ke kantor bergantian. Kalau Alexander sambil mengajar di kampusnya, aku sambil mengurus pekerjaan ku di England"



"Kenapa begitu? kenapa tidak langsung Alexander yang menangani perusaan Tuan Haidar?"



Selamat membaca.


Jangan lupa berikan dukungan kalian pada novel ini ya teman - teman.

__ADS_1


Salam Lovallena.


__ADS_2