
Seminggu telah berlalu, Jova sudah keluar dari rumah sakit. Dia tinggal bersama orang tuanya, agar lebih terawat. Namun dia belum kembali bekerja. Perusahaan masih di ambil alih oleh ayahnya.
Setiap sore Alexander datang ke rumah Jova, untuk sekedar melihat kondisi Jova dan membawakan makanan sehat untuk Jova dan keluarganya. Tentu saja ibu Jova senang dengan perhatian yang di tunjukkan Alexander.
"Ibu merestui kalau kau menjalin hubungan dengannya", ucapan Ibunya yang menjadi semangatnya.
Hari ini Jova memutuskan untuk mulai masuk ke kampus. Satu bulan lagi dia akan ujian akhir semester tujuh. Jova menuju ke mobilnya yang terparkir 3 minggu lamanya di teras rumah Jova. Bayu yang membawa pulang mobil Jova bersama Indira saat mereka tau Jova koma di rumah sakit.
Dan untuk kali pertama dia akan mengemudikan mobilnya lagi. Saat akan membuka pintu, sebuah mobil sport mewah berhenti di depan rumah Jova.
"Apa yang dia lakukan sepagi ini?", gumam Jova menyilangkan tangan di dadanya, saat melihat mobil Alexander.
"Kau sudah siap?", tanya Alexander setelah turun dari mobilnya.
"Iya, kenapa?", tanya Jova santai
"Berangkat bersamaku saja, jangan mengemudikan mobilmu sendiri"
Jova terdiam sesaat, dia teringat akan ucapannya untuk membuat panas dingin Julie. Dengan senyum mengembang Jova berkata,
"Ayo!"
Jova langsung membuka pintu penumpang mobil Alexander dan duduk dengan senyum merekah. Dia memasang sit belt sendiri. Alexander sedikit heran, kenapa senyum Jova terlihat misterius.
"Kau merencanakan sesuatu?", tanya Alexander saat sudah melajukan mobilnya di jalan raya.
"Rencana apa?", Jova mengerutkan keningnya.
"Pagi ini senyummu misterius", ucap alexander tanpa melihat Jova.
"Oh, hehe tidak", Jova mengelak. "Aku hanya bahagia karena, aku masuk kuliah lagi".
"Yakin hanya itu?", Alexander tidak begitu saja percaya dengan ucapan Jova.
"Iyyaaa pak dosen ku yang tampan", ucap Jova dengan senyum yang di paksakan.
Alexander hanya menyebikkan bibirnya.
Mereka sudah sampai di parkiran kampus. Mobil Alexander tak pernah luput dari tatapan mahasiswa yang sedang berada di sekitar parkiran dan halaman kampus.
Jova keluar dari pintu penumpang, dan Alexander keluar dari pintu kemudi. Sontak membuat di sekitar semakin terheran.
Yang tau Jova sakit 3 minggu merasa heran, di hari pertama masuk kuliah, justru berangkat bersama dosen paling tampan di kampus itu.
Yang tidak tau Jova tidak kuliah 3 minggu, merasa iri pada Jova.
Dan Julie salah satu dari orang - orang yang kaget dengan kehadiran dua anak manusia itu.
Jova sengaja berjalan di samping Alexander. Berusaha agar terlihat sangat dekat dengan Alexander. Dia tau Julie sedang mengawasinya.
"Kau nanti pulang harus bersama ku lagi. Tunggu aku selesai memberi materi kuliah di kelas semester 5", ucap Alexander tanpa menoleh Jova di samping kirinya.
"Siap pak Alex!", jawab Jova tersenyum manis.
Alexander masuk ke ruangannya, Jova berjalan terus sampai di kelasnya.
Tidak lama kemudian Alexander datang. Sontak kehadiran Alexander di dalam kelas itu membuat beberapa mahasiswa di dalam sana melihat ekspresi Jova. Namun ekspresi Jova tampak datar.
__ADS_1
Jam kuliah Jova berakhir, dia berniat menunggu Alexander di kantin. Dia menuruni anak tangga. Saat di anak tangga terakhir, dia mengalami kejadian yang pernah ia alami sebelum dia kecelakaan.
Tangannya di tarik kuat oleh Julie ke arah toilet wanita. Ada beberapa mahasiswi di sana yang langsung pergi begitu melihat Julie menarik paksa Jova.
"Bu Julie ini kenapa sih?", ucap Jova yang yang tangannya belum di lepas oleh Julie.
"Kau tidak mendengar peringatan ku!", tegas Julie melempar tangan Jova.
"Aauhh!", pekik Jova karena tubuhnya belum pulih sepenuhnya.
Tapi Jova bukanlah perempuan yang berfisik lemah, dia tidak akan menunjukkan kelemahan pada lawan.
"Aku tau kau baru saja kecelakaan bersamanya, apa itu kau jadikan alat untuk bisa dekat dengannya!"
"Tch!!", kesal Jova. "Asal ibu tau ya, sebelum saya kecelakaan dengan beliau pun kami sudah dekat. Saya pernah tinggal di apartemennya selama satu minggu atas permintaannya", ucap Jova santai.
Julie tergelak mengejek.
"Jadi kau melempar tubuhmu untuk mendapatkan dosen Alex?", tanya Julie sinis. "Memalukan!", ucap Julie mengejek.
PLAAKK!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Julie. Julie reflek memegang pipinya yang di tampar Jova
"Jaga bicaramu ibu Julie yang terhormat!"
"Apa kau lupa siapa aku!", tanya Julie mengeratkan giginya.
"Justru karena saya ingat anda siapa, untuk itu menampar anda adalah pilihan yang tepat!", kesal Jova.
"Saya pun bisa membuat anda dipecat dari kampus ini, dengan bukti pergelangan tangan saya ini!", Jova tersenyum sinis mengangkat pergelangan tangannya yang merah. "Anda tau kan saya satu - satunya mahasiswi yang dekat dengan pak Alex. Apa anda tidak pernah mendengat kabar yang baru - baru ini beredar?, Kalau pak Alex memiliki hubungan baik dengan pemilik kampus ini? Saya bisa dengan mudah mengatakan apa yang anda lakukan kepada saya. Anda tentu tidak lupa ada beberapa mahasiswi yang melihat anda menarik saya"
Julie merasa kalah telak kali ini. Karena dia pun sebenarnya kesulitan mendekati Alexander. julie mengepalkan kedua tangannya.
"Kalau anda menganggap saya saingan anda, saya pun menganggap anda saingan saya. Anda tidak perlu susah payah mengancam saya untuk mendapatkan pak Alex. Lakukan saja apa yang ingin anda lakukan. Saya pun akan melakukan hal sama. kita bermain secara FAIR PLAY!", ucap Jova tegas dengan menekan kata fair play.
"Sudah berani banyak bicara kamu ya!. Saya pastikan, saya akan buat kamu mengakui kekalahan!", ucap Julie mengeratkan giginya.
"Hah!", Jova tersenyum sinis. "Memangnya perhatian seperti apa yang pernah di tunjukkan pak Alex kepada anda? Sampai anda bisa percaya diri seperti ini?, hem?", Jova mengangkat kedua alisnya.
Julie tampak berapi - api menghadapi Jova. Karena memang dia benar - benar sudah kalah telak. Bahkan dia tidak bisa pernah berjalan beriringan dengan Alexander.
"Kenapa anda hanya diam?", tanya Jova tersenyum sinis. "Anda tau? selama saya koma, pak Alex selalu menjaga saya setiap malam. Dan sejak saya keluar dari rumah sakit, setiap sore dia datang ke rumah saya. Dan anda tau, bukan hanya sekali dua kali pak Alex mencium kening saya", Jova tersenyum merasa menang kali ini.
"Dasar murahan!", teriak Julie.
"Bukan saya yang menginginkan semua itu. Jadi bagaimana bisa anda mengatai saya murahan?", Jova menatap sinis Julie yang mengeratkan giginya. "Anda perlu tau! pak Alex bukanlah laki - laki bajingan yang mudah tergiur dengan godaan wanita!", Jova beranjak meninggalkan Julie yang menurutnya membuang waktu berharganya.
Baru satu langkah, Julie sudah menarik lagi tangan Jova.
"Saya akan buat kamu menyesal sudah memilih bersaing denganku!", ancam Julie.
"Terserah!", tegas Jova dengan senyum sinis nya.
Jova berjalan cepat ke arah kantin kampus.
"Gara - gara berdebat dengan orang itu, lapar ku jadi dua kali lipat!", gumam Jova pelan sambil terus berjalan ke arah kantin.
__ADS_1
Jova memesan makan siangnya, setelah dapat dia mengedarkan pandangan ke meja kantin. untuk memilih tempat duduk. Sampai dia menemukan gelagat seseorang yang tidak asing baginya.
"Indira!", sapa Jova yang langsung duduk di kursi sebelah Indira.
"Lah, kok udah masuk?"
"Rindu!"
"Rindu?", Indira mengerutkan keningnya. "Maksudmu rindu pak Alex? bukankah dia setiap hari mampir ke rumahmu?"
"Iya!", ucap Jova tersenyum.
"Lalu kenapa rindu?"
"Wajar kali rindu laki - laki tampan"
"Ciyeee, yang lagi kasmaran", goda Indira.
"Aku harus sering - sering bersamanya. Biar dia tidak di patok dosen cantik tapi centil itu", ucap Jova.
"Hahahahhaa.. cemburu nih ceritanya"
"Namanya juga berjuang!", ucap Jova menyendok makanan ke mulutnya.
"Iya iya pejuang cinta!"
"Eh, Bayu kemana?"
"Entahlah, sudah 3 hari aku tidak bertemu dengannya", Indira mengangkat kedua pundaknya.
"Oh ya?"
"Iya"
"Apa dia ...", Jova tampak berfikir.
Kemana ya Bayu? Dia kan lagi patah hati? hehe
Tunggu kelanjutannya ya reader.
Selamat membaca.
Jangan lupa tinggalkan Like atau dukungan kalian dalam bentuk apapun.
Terima kasih,
Salam Lovallena.
__ADS_1