I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
150 juta???


__ADS_3

"Apa kau tidak bisa membaca?"


"Surat Perjanjian?"


"Karena kau sudah menabrak mobil ku, kau harus bertanggung jawab!" ucap Alex dengan santainya.


"Tapi kan itu karena bapak rem mendadak!" Jova tidak terima.


"Apa aku menyuruhmu untuk mengikuti ku?"


"Emm Tidak!" Jova cemberut.


"Apa ada orang yang menyuruhmu untuk mengikuti ku?"


"Tidak"


"Apa mungkin kemudi mobil mu yang ingin mengikuti ku?"


"Tidak"


"Brarti kau kan yang ingin mengikuti ku?" Alex bertanya dengan secepat mungkin.


"Iya"


"Kau juga kan yang mengemudikan mobil mu?"


"Iya"


"Brarti kau siap ganti rugi kan?"


"Iya"


"Apa kau sehat?"


"Iya"


"Apa kau menyukai ku?"


"Iya, eh!" Jova menutup mulutnya yang keceplosan. Aaa, dia menjebak ku lagi kan, batin Jova. "Maksud saya tidak pak." Alex menahan senyum di bibirnya.


"Dari tadi kau hanya iya tidak iya tidak. Apa kau dengar yang aku bicarakan?"


"Iya pak, saya dengar"


"Kau harus ganti rugi 150 juta,"


"Busett!" pekik Jova


"Kenapa?"


"Itu separuh harga mobil saya pak, mobil saya juga lecet, siapa yang bayarin?"


"Siapa suruh kau menabrakkan mobil mu?"


"Hemm," Jova membuang nafas kasar dan melasnya.


"Pak, saya itu sekarang harus berhemat. Perusahaan saya itu sedang stuck. Dan itu satu - satunya sumber pencaharian keluarga saya. Apa bapak tidak kasihan pada saya, Ayah Ibu saya, adik saya juga masih sekolah," Jova memasang wajah melas.


"Tidak!" jawab Alex cepat melipatkan tangan di dada dan bersandar di kursi


Jova tersentak kaget melihat Alex yang seolah tak berdosa itu.


Ya Tuhan, ini orang terang - terangan banget ya, batin Jova.


"Apa!" tanya Alex pada Jova yang mematung melihat dirinya. "Kalau kau tidak mau membayar 150 juta, kau harus menjadi pelayan di apartemen ku selama satu minggu. Bagaimana?"


"Satu minggu saja?"


"Iya!, tapi ingat selama satu minggu kau harus menuruti perintah ku saat di apartemen," ucap Alex dengan tatapan tajam pada Jova.


"Tapi bapak tidak macam - macam kan?"


"macam - macam? apa maksudmu?"


"Tidak menyiksa saya, tidak menjahili saya dan tidak ...." Jova menggantung kalimatnya karena malu.


"Tidak apa?"


"Tidaakk ..."


"Tidak?" Alex mengerutkan dahinya.


"Ti..."


"Tidak apa!" Alex menggebrak meja karena kesal Jova hanya tidak tidak terus.


"Tidak berniat mengambil keperawanan saya!" ucap Jova reflek karena kaget dengan gebrakan meja Alex.


Alex menganga dengan kalimat yang muncul dari bibir Jovanka. Karena sungguh di luar nalarnya.


"Hahahaha," Alex tertawa lantang setelah keheranan.

__ADS_1


Yaa ampun, dia tertawa! manis sekali, batin Jova


"Hey! Kau lihat tubuhmu yang mungil itu," Alex menunjuk tubuh Jova yang berada di depannya dengan sedikit mengangkat dagunya. "Pasti ini mu juga kecil," Alex mengangkat kedua tangannya di depan kepalanya dan mempraktekan meremas sesuatu.


"Eh busett!" Jova reflek menutupi dadanya dengan kedua lengannya.


"Hahahah" Alex semakin tertawa melihat tingkah Jovanka.


"Apa kau tau, di luaran sana banyak wanita yang menggoda ku. Yang body nya lebih ..." Alex menggambarkan dengan gerakan tangannya membentuk lekuk gitar. "Ininya lebih wow!" menggerakkan kedua tangannya seperti meremas sesuatu di depan wajahnya. "Pasti rasanya juga lebih ..." menggerakkan jempolnya di bibir.


Jova melihat gerakan tangan Alex dengan mata yang semakin lama semakin terbuka lebar. Mulutnya terbuka lebar. Sesekali mulutnya tertutup menelan ludahnya dengan sangat susah.


"Dasar dosen mesum!" umpat Jova berteriak.


"Hey! mulutmu!" ucap Alex setengah berteriak. "Untung ini ruang VIP, suara mu tidak terdengar dari luar. Kalau ini ruangan biasa, aku pasti menggantung mu di atas!" menunjuk lampu hias di atas meja mereka.


Jova mengikuti arah yang di tunjuk Alex. Lalu membuka matanya lebar.


"Turunkan tanganmu itu! apa kata waiters kalau mereka masuk dan melihatmu seperti itu," ucap Alex.


Jova menyebikkan bibirnya. Menurunkan tangan dari dadanya, dan memperbaiki posisinya.


Ternyata sebenarnya dia suka bicara. Brarti selama ini dia menutupi dengan sikap dinginnya. batin Jova. Kemudian Jova tersenyum simpul.


"Sekarang apa pilihanmu?" tanya Alex kembali dingin. "Berikan aku 150 juta sekarang, atau kau tanda tangan disini!" Alex menunjuk berkas di meja.


"Saya baca dulu boleh kan pak?"


"Hemm."


Jova mengambil berkas itu dan mulai membaca.



SURAT PERJANJIAN



Pihak 1 \= Alexander



Pihak 2 \= Jovanka Lovata Barraq



Pasal 1 : Pihak 2 wajib mengikuti aturan yang di buat pihak 1, di antaranya :


b. Selama satu minggu pihak 2 tinggal di apartemen pihak 1.


c. Selama satu minggu pihak 2 tidak boleh membantah perkataan pihak 1.


d. Pihak 2 tetap diperbolehkan bekerja dan kuliah.


e. Kesepakatan berlaku sejak surat ini di tanda tangani kedua belah pihak. Dan berakhir satu minggu kemudian di jam yang sama.



Pasal 2 : Pihak 1 berhak merubah isi dari surat perjanjian.



Pasal 3 : Hanya pihak 1 yang berhak membatalkan surat perjanjian.



Pihak 1 Pihak 2



(Alexander) (Jovanka LB)



"Kenapa saya harus tinggal di apartemen bapak?"


"Itu artinya selama satu minggu kau jadi pelayan di apartemen ku," ucap Alex santai.


"What! tega sekali bapak!"


Alex menarik berkas di tangan Jova dan meletakkan di meja depannya.


"Kalau begitu berikan aku 150 juta SEKARANG!" dengan menekan kata sekarang.


"Tapi pak, saya kan juga harus bekerja!" Jova berusaha mencari celah.


"kau tidak baca pasal 1 bagian d?"


"Iya sih!" ucap Jova memanyunkan bibirnya.


"Hitungan ke - 5 kau tidak memberi keputusan brarti kau memilih membayar 150 juta sekarang juga!" ucap Alex tegas. "Satu!" Alex mengetuk meja dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


"Pak!"


"Dua!"


"Dengarkan saya dulu dong pak!"


"Tiga!" Alex mengetuk meja beberapa kali.


"Ngitungnya jangan cepet - cepet dong pak!" ucap Jova sedikit berteriak. Bagaimana ini? si batu ini tidak mau mendengar ku sama sekali, batin Jova.


"Empat!"


Pinjam siapa uang sebanyak itu! ucap Jova dalam hati.


"Liii ..." Alex menggantung kalimatnya, dan tangannya menengadah ke arah Jova sambil menggerakkan jari - jarinya.


"Baiklah saya akan tanda tangan!"


"Bagus!" Alex menyodorkan berkas di depannya ke arah Jova.


Jova menatap lembaran itu, bibirnya mengerucut. Lalu melihat Alex yang menatap dirinya dengan mengangkat satu alisnya.


Sial! cita - cita ku kan jadi pengusaha sukses. Kok malah jadi pembantu sih, batin Jova. Jova masih menatap nanar berkas di depannya.


"Cepat! waktuku tidak banyak!"


"Iya iya!" Jova menanda tangani surat perjanjian itu dengan kesal.


Pintar sekali dia membodohi ku!. Awas saja kalau kau macam - macam padaku. Akan aku patahkan kakimu! batin Jova.


Setelah menanda tangani berkas itu Jova menyerahkan pada Alex. Lalu menyandarkan kepalanya di kursi. Memikirkan dirinya akan tinggal di apartemen bersama dosen batu. Dan hanya berdua.


Di sisi lain dia senang karena bisa melihat dosen tampan yang menguasai keingintauan nya belakangan ini. Jadi dia tidak perlu menguntit.


Setelah Alex juga menanda tangani surat perjanjian itu, dia menyimpan di meja itu. Lalu mendial satu nomor.


"Ambil kembali berkas yang tadi!"


" . . . . . "


Alex mematikan panggilannya dan memasukkan kembali ponselnya. Mengalihkan pandangannya pada Jova di depannya.


"Eghmm!" Alex berdehem. "Ingat mulai malam ini kau tinggal di apartemen ku. Jadi setelah kau pulang kerja nanti, kemasi bajumu untuk satu minggu, dan bawa ke apartemen ku. Kau tempati kamar tamu di bawah, kau bersihkan sendiri kamar itu!" ucap Alex pada Jova.


Jova hanya mengangguk. Lalu mengerucutkan bibirnya. Alex tersenyum dalam hati.


Alex berdiri berjalan ke arah pintu membelakangi Jovanka.


"Kau pulang sendiri, aku ada urusan!" ucap Alex tersenyum jahil.


"Apa!" Jova berdiri seketika. "Anda yang membawa saya jauh - jauh kesini, sekarang mau meninggalkan saya disini?" Jova berapi - api. "Saya kan bukan Jelangkung, yang harus pulang sendiri!"


Alex menghentikan langkahnya, berbalik melihat Jovanka. Mengerutkan dahinya.


"Aku juga tidak mengatai mu jelangkung," ucap Alex dengan santainya. Lalu kembali berjalan ke arah pintu.


Alex mendengar Jova menghentakkan kaki nya kesal. Alex semakin tersenyum. Dia sudah memegang handle pintu. Lalu kembali melihat Jovanka.


"Kau mau tidur di situ?"


"Hah? Tidak!" Jova melangkah cepat mendekati Alex yang sudah membuka pintu.


Waiters yang menunggu di depan ruang VIP mengangguk hormat saat melihat Alex keluar dari pintu di ikuti Jovanka di belakangnya.


Jovanka heran, kenapa waiters di sana sampai menunduk hormat pada Alex.


Alex keluar menuju parkiran mobilnya. Jovanka masih mengikuti di belakangnya. Tentu saja dengan muka cemberut berharap di antar kembali ke kampus atau minimal di depan kantor nya. Tanpa Alex perlu putar balik.


"Masuk!" ucap Alex pada Jova di belakangnya saat sudah membuka pintu kemudi mobil.


Jovanka tersenyum girang. Dia bergegas ke arah pintu penumpang bagian depan. Dia membuka pintu mobil sport Alex dengan senyum lebar.


Alex mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran. Melajukan mobilnya membelah kemacetan ibu kota karena saat ini masih jam makan siang.




Hi readers, Kira - kira Alex membawa Jova kemana lagi ya, hihihi



Oh ya, sampai disini sudah ada rahasia yang mulai sedikit terlihat yaa.


Semoga saja para reader sudah paham. Dan jangan lupa baca terus kelanjutannya.



Terima kasih,


__ADS_1


Salam Lovallena.


__ADS_2