
"Sayang, jangan pernah memikirkan apa yang di katakan Eyang tadi!" ucap Alexander, setelah melajukan mobilnya, "kau harus ingat, apapun yang terjadi, aku akan tetap menikahi mu!" Alexander mencium tangan kanan Jova dan menggenggamnya erat.
"Apa Eyang termasuk orang yang pilih - pilih menantu?"
Alexander menoleh sebentar pada Jova, lalu kembali fokus pada jalan di depannya.
"Dari cerita Papa, Eyang memang orang yang pilih - pilih menantu," ucapnya ragu, "saat Papa memperkenalkan diri pada Eyang, Papa bilang kalau dia sedang merintis bisnisnya. Dan itu membuat Eyang sedikit mengejek Papa. Tapi almarhum Eyang kung, Papanya Mama tidak seperti itu. Beliau orang yang tidak memandang derajat seseorang berdasarkan harta. Demi meyakinkan Eyang, Almarhum Eyang kung menyuruh orang kepercayaannya untuk menelusuri latar belakang Papa. Sampai akhirnya Eyang tau, kalau Papa sebenarnya anak Opa Felix Gibran, pengusaha terkenal di England. Sejak saat itu Eyang begitu baik pada Papa"
"Lalu apa Eyang juga menelusuri latar belakang ku? sampai - sampai baru pertama kali bertemu beliau sudah seperti itu padaku" tanya Jova dengan menahan rasa sedihnya.
"Mungkin" ucap Alexander ragu, sambil membuang nafas beratnya.
Jova menghembuskan nafasnya panjang. Membuang pandangannya ke jendela di sampingnya.
"Percayalah padaku sayang! tidak ada es batu yang tidak bisa mencair!" ucap Alexander, "suatu hari Eyang pasti menerima mu. Kalau pun Eyang tidak menerima mu, Papa dan Mama akan dengan senang hati menerima mu. Lagi pula kita akan tinggal di Indonesia. Aku akan berusaha menjauhkan hari - hari mu dari orang - orang yang tidak menyukaimu. Termasuk Eyang" ucap Alexander yakin.
"Tapi aku juga ingin mendapat restu darinya, dan menjalin hubungan baik dengan semua keluargamu"
"Paman ku, Uncle Adelard dan istrinya adalah orang yang baik. Mereka sama seperti Papa dan Mama, tidak pernah pilih - pilih menantu ataupun teman"
"Maksudmu orang tua Fellicya?"
"Iya! Uncle Adelard adalah adik Mama. Fellicya anak pertamanya"
"Oh"
Mobil yang di kendarai Alexander sudah sampai di parkiran hotel Marina Bay Sands. Mereka bergandengan tangan memasuki lobby hotel. Kali ini Alexander hanya memesan satu kamar Sands Suite.
"Ayo, sayang!" Alexander menggandeng tangan Jova setelah memesan kamar.
"Kenapa sekarang hanya memesan satu kamar?"
"Apa kau yakin tidak tau alasannya kenapa dulu aku memesan dua kamar?"
"Hehe, iya tau!" Jova menyandarkan kepalanya di lengan Alexander.
Mereka memasuki lift dengan posisi yang tidak berubah. Mereka benar - benar seperti sepasang anak manusia yang tidak akan mau dipisahkan. Alexander membuka pintu kamar yang pernah di tempati Jova.
"Kenapa kamu memesan kamar ini?" setelah mereka masuk ke kamar.
"Karena kamar ini tempat pertama kali kita berciuman" ucap Alexander sambil mengunci pintu.
"Lalu?" tanya Jova.
"Lalu ... "
Alexander mendekati Jova yang berdiri di samping ranjang, melingkarkan tangannya di pinggang ramping Jova. Menarik tubuh Jova hingga menempel sempurna di tubuhnya. Spontan Jova meletakkan kedua tangannya di dada bidang Alexander. Jantung Jova berdetak lebih kencang, mendadak nafasnya memburu.
__ADS_1
"Lalu kita akan kembali yang pernah kita lakukan di kamar ini" ucapnya dengan senyum manisnya, membuat wajah Jova bersemu merah.
Alexander mencium lama kening Jova terlebih dahulu, Jova memejamkan matanya, meresapi ciuman Alexander di keningnya. Lalu Alexander mencium kedua mata Jova yang tertutup. Pindah mengecup hidung Jova. Barulah Alexander mengecup singkat bibir Jova.
Melihat Jova yang tampak pasrah, dan tidak menolak, Alexander kembali mencium lembut bibir Jova. Jova melingkarkan tangannya di leher Alexander.
Mereka menikm*ti ciuman yang penuh dengan cinta di dalamnya. Alexander ******* habis bibir Jova yang menjadi candunya. Mereka saling balas ******* bibir lawannya. Ciuman yang hangat dan cukup lama.
Beberapa kali mereka mengubah posisi kepala mereka. Kemudian Alexander melepas paguta*n nya dengan lembut. Tangan kirinya menyingkirkan rambut yang menutupi leher Jova bagian kanan, lalu mengecupnya dengan sangat lembut. Jova merasakan hawa panas menjalar di dalam tubuhnya. Untuk kali pertama Alexander mengecup lehernya.
Beberapa kali Alexander mengecup leher kanan Jova, lalu berpindah ke leher kiri. Meninggalkan satu tanda kepemilikan di leher kiri itu. Jova mengeratkan tangannya yang melingkar di leher Alexander. Alexander pun melakukan hal yang sama.
Setelah puas bermain - main di leher Jova, Alexander mengangkat kepalanya dan kembali mencium bibir Jova. Alexander melepas ciuman hangat mereka. Nafas keduanya sama - sama memburu.
"Sayang, kau tidak ingin mencobanya?" bisik Jova pada Alexander.
Alexander tersenyum tipis, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Jova.
"Kau ingin mencobanya?" tanya Alexander lembut.
"Hemm" Jova mengangguk.
"Kau yakin?"
"Tentu saja"
"Dengarkan aku sayang," ucap Alexander mengeratkan pelukannya, "kau tau dengan jelas kan, berhubungan intim di luar nikah itu merugikan pihak perempuan?"
"Lalu kenapa kau malah memintanya dariku?"
"Aku pernah membaca sebuah artikel yang menjelaskan tentang hubungan suami istri. Dimana dalam artikel itu menyebutkan bahwa hasrat rasa ingin pada seorang wanita sebenarnya jauh lebih besar dari laki - laki. Dan kau memancingku dengan ciuman lembut seperti itu. Dan benar saja, sangat susah bagiku menahannya" jelas Jova dengan senyum malu - malunya.
"Kau membaca buku tentang hal seperti itu?"
"Memangnya kenapa? aku sudah 22 tahun. Bahkan usia ku sudah boleh untuk menikah"
"Hemm aku tau," ucapnya, "hanya saja aku tidak menyangka kau akan sampai memiliki rasa ingin saat kita belum menikah"
"Hehe, mungkin ini yang namanya khilaf. Kalau kau serigala, pasti tak butuh waktu lama untuk kau berfikir! iya kan?"
Alexander mengangguk kemudian tersenyum, membelai lembut rambut Jova. Menatap mata Jova dengan penuh cinta.
"Besok pagi kita akan kembali ke Indonesia. Dan malamnya aku akan meminta Mama dan Papa untuk melamar mu" mencium lengan kanan Jova yang melingkar di lehernya.
"Oh ya?"
"Tentu saja sayang! kau pikir aku juga tidak ingin?"
__ADS_1
"Hehe"
Jova memasukkan kedua tangannya ke lengan Alexander, menyandarkan kepalanya di dada bidang Alexander. Memeluk erat tubuh kekar itu. Menyalurkan cinta dan kasih sayang yang ia miliki seutuhnya hanya untuk Alexander.
Alexander mengusap lembut kepala Jova. Mencium puncak kepala Jova dengan sayang.
"Kau tidak ingin tidur?"
"Iya sayang! tapi kau juga harus tidur!"
"Hemm, ayo!"
Alexander membawa Jova ke ranjang. Jova meletakan kepalanya di lengan Alexander, memeluk tubuh Alexander yang di balas kecupan di kening Jova. Jova mulai memejamkan matanya.
Setelah terdengar nafas teratur Jova. Alexander meletakkan kepala Jova di bantal. Dan meletakkan bantal untuk di peluk Jova. Alexander turun dari ranjang, mengambil ponselnya lalu mendial satu nomor.
"Siapkan pesawat besok pagi. Aku akan pulang ke Indonesia!"
"Siap, Tuan Muda" jawab Rakha di sebrang.
Alexander mengakhiri panggilannya. Dia duduk di sofa melihat ke arah ranjang. Menatap lembut wajah cantik Jova yang sedang terlelap.
"Akhirnya aku menemukanmu sayang!" gumam Alexander menyunggingkan senyumnya.
Menjelang sore, Jova terbangun dari tidurnya. Dia berada di posisi seperti saat dia akan tidur. Jova tersenyum memandang wajah tampan Alexander yang sedang tertidur.
"Aku ingin menikm*ti wajah tampan mu ini sendirian!" gumam Jova meraba wajah Alexander.
Tak di sangka Alexander memeluk Jova dan menariknya ke dalam pelukannya erat. Matanya masih tertutup rapat.
"Aakhhh!" pekik Jova.
"Kau bilang ingin menikm*ti wajah tampan ku sendirian, nikmatilah sayang. Ini semua untukmu!" ucap Alexander dengan mata yang masih tertutup.
"Oh, ternyata Tuan tampan ini tidak tidur!" ucap Jova di atas wajah Alexander.
Alexander membuka matanya perlahan, menatap lembut wajah Jova di atasnya.
Terima kasih yang sudah meninggalkan Like dan Komentarnya.
Juga Hadiah dan Love nya.
Semoga kita semua di beri kesehatan di tengah pandemi seperti ini.
__ADS_1
Salam Lovallena.