I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Sabtu Malam


__ADS_3

Pesawat pribadi yang membawa Alexander dan Jova mendarat sempurna di Bandara Soetta pada Sabtu malam. Jova memeluk erat lengan Alexander menuruni tangga pesawat.


"Kita pulang ke apartemen dulu, baru besok pagi ke rumah Ayah, lalu ke rumah Papa," ucap Alexander saat mengemudikan mobilnya menuju apartemen.


"Iya, Sayang" jawab Jova.


Setelah sampai di apartemen milik Alexander, Jova langsung menjatuhkan dirinya di ranjang Alexander. Ingatannya kembali saat dia pingsan dan terbangun di kamar itu, kamar tanpa foto sama sekali. Jova mengedarkan pandangannya ke dinding di kamar itu, Jova langsung terduduk.


"Sayang?"


"Hemm?" jawab Alex yang baru keluar dari walk ini closed.


"Siapa yang memajang foto pernikahan kita di sini?" tanya Jova berdiri mendekati dinding, "bukankah kita baru datang?"


"Mungkin pelayan dari rumah Papa"


"Oh!" Jova memandangi foto pernikahan mereka yang di cetak dengan ukuran yang cukup besar.


Alexander mendekati Jova, memeluk Jova dari belakang, mengecup lembut leher Jova.


"Apa mereka sering kesini?" tanya Jova melirik Alex yang bertengger di pundaknya.


"Seminggu sekali, dua atau tiga orang pelayan akan datang kesini untuk membersihkan 4 apartemen di lantai ini. Hanya ada 4 pelayan yang di percaya untuk membersihkan apartemen di sini," jelas Alexander.


"Memangnya di rumah Papa ada berapa pelayan?"


"Aku tidak tau," jawab Alex singkat, "yang aku hafal hanya empat orang itu. Karena paling sering kesini, secara bergantian."


"Oh!" Jova mengangguk, "kalau begini kan tau ini kamar siapa. Saat pertama kali aku bangun di kamar ini, tidak ada satu foto pun yang bisa aku jadikan patokan ini kamar siapa," lanjut Jova memegang erat tangan Alexander yang melingkar di perutnya.


Alexander tersenyum lucu saat mengingat pertama kali dia membawa Jova ke apartemennya.


"Sayang! aku ingin bercerita!" ucap Alex.


"Apa?"


"Tapi janji jangan marah!"


"Hemm apa dulu?" tanya Jova, "kau punya selingkuhan!" tanya Jova tegas.


Alexander menggigit kecil pundak Jova, merasa gemas dengan tuduhan Jova.


"Aakh!" pekik Jova.


"Dengarkan aku dulu! belum juga cerita sudah di katai punya selingkuhan!"


"Hehe, karena hanya itu yang akan membuat aku marah," Jova memutar tubuhnya memeluk erat Alexander yang melihatnya dengan senyum manisnya.


"Sebenarnya waktu itu aku yang membuka bajumu!"


"Apa!" pekik Jova menjauhkan tubuhnya dari Alexander yang terkekeh melihat Jova kesal. Jova menatap tajam mata Alexander.


"Hahaha!" tawa Alexander mendudukkan diri di tepi ranjang.


"Jangan bercanda!" ucap Jova


"Haha!" Alexander masih tertawa, "aku tidak bercanda Sayang," jawab Alex santai.


"Tapi waktu itu kau bilang Office Girl yang melepas baju ku!" Jova semakin kesal, karena Alexander masih saja terkekeh.

__ADS_1


"Jadi waktu itu aku menghubungi Cleaning Service apartemen ini untuk meminta Office Girl kesini. Tapi waktu itu yang sedang bertugas semuanya adalah Office Boy. Jadi dari pada laki - laki lain yang melihat tubuh mu lebih baik aku kan?" jelas Alexander dengan senyum yang sulit di artikan.


"Kurang ajar kamu!" kesal Jova mengepalkan tangannya, "dasar Dosen mesum! iihh" Jova mendekati Alexander yang justru tertawa.


Alexander yang masih duduk di tepi ranjang, menarik pinggang Jova dengan kedua tangannya, dan mendekapnya. Jika Alexander duduk di tepi ranjang, maka tinggi mereka sama.


"Terlambat kalau sekarang kamu marah Sayang!" ucap Alexander mengecup bibir Jova yang mengerucut, "aku sudah menikmati semua ini!" lanjut Alex menunjuk Jova dari ujung kepala ke ujung kaki lalu kembali tergelak.


"Brarti kau sudah membohongiku!" ucap Jova memanyunkan bibirnya lagi.


"Tapi aku benar kan? dari pada Office Boy yang melihat tubuhmu lebih baik aku kan?" ucap Alex, "lagi pula aku melihat sebagian, lainnya aku buka sambil menutupi mu dengan selimut terlebih dahulu." jelas Alex.


"Sama saja! kau tau sudah tau sebelum waktunya!" ucap Jova kesal, "untung sekarang kau jadi suamiku, kalau bukan aku pasti malu mendapati kenyataan seperti ini!"


"Haha!" Alex kembali tergelak, "karena itulah, waktu itu semalaman aku memikirkan kesalahanku padamu. Dan rasa ingin memilikimu semakin besar, tapi aku bingung bagaimana cara mengakuinya. Di tambah saat itu keadaan dan posisiku belum stabil," jelas Alex serius. "Saat kau mengikuti mobilku, terlintas dalam pikiranku untuk menjebak mu, agar aku bisa membawa mu ke apartemen ini. Dengan kau sering bersama ku aku harap kau akan jatuh cinta padaku." jelas Alex dengan senyum tulusnya.


Jova yang sedari tadi manyun, berubah menjadi menahan senyum malu - malunya. Alexander menarik pinggang Jova, menempelkan kepalanya di dada Jova. Jova memeluk dan mengusap sayang kepala Alexander, juga mengecup singkat dahi Alex.


"Padahal waktu itu aku sudah suka padamu!" ucap Jova.


Keduanya tergelak bersama dan saling mengeratkan pelukan mereka. Alexander berdiri dan mengangkat tubuh Jova pelan.


"Dan sekarang saatnya kita bercinta di apartemen iki untuk pertama kalinya!" ucap Alex meletakkan pelan tubuh Jova di ranjangnya.


Jova tersenyum malu bercampur senang. Ini adalah impian yang dia tunggu, bercinta di kamar mewah Alexander. Percintaan yang panjang dan hangat mereka ciptakan di ruangan yang dingin itu. Sungguh malam itu seolah hanya ada mereka berdua di muka bumi ini.


# # # # # #


Di gedung apartemen lain, Rakha dan Indira masih bermain kartu di sofa dekat jendela ruang tengah. 10 kali permainan Indira hanya memenangkan dirinya 2 kali.


"Sekali lagi!" ucap Indira.


"Kalau aku menang, bagaimana?" tanya Indira dengan mengangkat kedua alisnya.


"Kau pasti kalah!"


"Dari mana kamu tau!" tegas Indira.


"Baiklah, kita bermain satu kali lagi!" ucap Rakha, "kau pasti kalah!"


"Kalau aku menang?"


"Kau boleh minta apa saja dariku!"


"Deal!" ucap Indira yakin tanpa berfikir panjang.


Permainan ke sebelas pun di mulai dengan Rakha sebagai pembagi kartu. Indira membuka kartu nya dengan ekspresi yang sulit di artikan. Rakha tersenyum melihat ekspresi Indira.


"Yes!" pekik Indira meninju udara, karena dia berhasil memenangkan permainan akhir itu.


Rakha memukul sofa di sampingnya karena ternyata dia kalah.


"Sesuai perjanjian!" ucap Indira menatap mata Rakha.


"Huh!" Rakha membuang nafasnya kasar, "baiklah, kau minta apa dari ku!" ucap Rakha pasrah.


Indira mengetukkan jari telunjuknya di dagu, memikirkan permintaan yang menguntungkan perjuangannya meraih Rakha.


"Cepat!" ucap Rakha, "makan malam dengan seorang Rakha Leonard?" ucap Rakha bangga yang tidak di respon Indira. "Hemm.. shopping?" dengan cepat Indira menggeleng.

__ADS_1


"Cium aku!" menunjuk pipinya dengan jari telunjuknya.


"Apa!" pekik Rakha membulatkan matanya menatap Indira.


"Ayo!"


"Kau gila! tidak!"


"Kau ingkar janji!" ucap Indira, "tadi kau bilang aku boleh minta apapun!"


Rakha menarik nafas panjang dan membuangnya cepat. Rakha menatap wajah Indira yang menerbitkan senyumnya tanpa menoleh Rakha.


"Baiklah!" ucap Rakha dengan nada terpaksa.


Saat Rakha mendekati pipi Indira, tiba - tiba Indira menoleh Rakha dan menjatuhkan dirinya di sofa. Rakha yang tidak ada persiapan sebelumnya jatuh di atas tubuh Indira. Yang seharusnya mencium pipi justru mencium bibir Indira.


Rakha terkesiap menjauhkan bibirnya dari bibir Indira. Rakha masih di atas tubuh Indira, jarak wajah mereka sangat dekat. Tatapan mata mereka bertemu. Indira menerbitkan senyum kecilnya dan Rakha masih tertegun dengan apa yang baru saja terjadi.


Rakha segera mengangkat tubuhnya dan kembali menyempurnakan duduknya. Indira pelan - pelan kembali ke posisi semula dan melihat Rakha yang hanya diam.


"Kenapa?" tanya Indira, "kau menyesal mencium ku?" menatap intens wajah Rakha dengan senyumnya.


"Kau sengaja menjebak ku kan?" tanya Rakha dingin tanpa menoleh pada Indira.


Indira hanya mengangkat dua pundaknya dengan senyum misteriusnya.


"Aku mau tidur!" ucapnya kemudian, "selamat malam Rakha!" Indira berdiri dan berlari kecil ke kamarnya dengan senyum yang terus mengembang.


Indira menutup pintu dan menguncinya. Kemudian melompat ke atas tempat tidurnya. Dan menjatuhkan kepalanya di atas bantal, memasukkan tubuhnya ke dalam selimut tebalnya.


"Apa yang baru saja aku lakukan?" gumam Indira, "hahaha" Indira tertawa senang. "Ah! aku akan mimpi indah malam ini!"


Indira masih senyum - senyum mengingat hal konyol yang baru saja dia lakukan. Sampai tak terasa matanya terpejam.


Rakha masih tertegun di sofa ruang tengah, dia menyentuh bibirnya beberapa kali dan mengusapnya.


Aku sering berciuman dengan banyak wanita, tapi kenapa kali ini rasanya berbeda? padahal hanya kecupan singkat. Ucap Rakha dalam hati.


Rakha menggelengkan kepalanya beberapa kali, lalu beranjak dari duduknya dan menaiki tangga untuk tidur. Rakha tidak pernah mengganti bajunya saat tidur, dia hanya melepas baju atau kaos yang sedang dia kenakan.




Semoga suka sama part ini ya.


Setiap hari Author berusaha untuk membuat cerita yang asyik dan tidak mengada - ada atau mustahil.



Tinggalkan Like dan Komentarnya untuk menambah semangat Author.



Terima kasih yang sudah memberikan hadiah dan vote nya untuk novel receh ini.



Salam Lovallena.

__ADS_1


__ADS_2