I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Flashback


__ADS_3

"Saya berangkat tante" ucap Alexander setelah menyelesaikan sarapannya.


"Iya nak" jawab ibu Jova.


"Dokter akan memeriksa mu sebentar lagi" ucap Alexander pada Jova.


""Iya" jawab Jova pelan.


Alexander keluar dari ruang rawat Jova.


# # # # # #


"Bu, apa benar setiap malam Alexander di sini?" tanya Jova pelan.


"Iya Jova, awalnya ibu kecewa dan menahan kesal pada Alexander karena sudah membuat putri ibu satu - satunya koma. Tapi lama - lama ibu merasa dia tulus menjagamu. Dia juga yang memilih ruang rawat VVIP ini dan menanggung semua biaya selama kau di rawat" jelas ibu.


Jova hanya mendengar semua yang di ceritakan ibunya.


"Apa kau marah pada Alexander atas kejadian ini Jova?"


"Tidak ibu, sebenarnya akulah yang salah" jawab Jova mengalihkan pandangannya.


"Apa maksudmu Jova?" tanya ibu heran.


"Akulah yang membuat Alexander pada akhirnya marah" ucap Jova pelan.


"Ibu masih tidak mengerti" ibu Jova tampak bingung.


Tok Tok Tok


Ibu berjalan membuka pintu saat mendengar pintu di ketuk.


"Selamat siang tante" sapa Indira.


"Siang ndi, Bayu. Masuklah"


"Jovaa!" Indira mendekat ke tempat tidur Jova dan memeluknya sebentar. "Akhirnya kau bangun Jova!"


Jova hanya tersenyum dan membalas pelukan Indira.


"Apa masih ada yang sakit Jov?" tanya Bayu.


"Tidak Bay, aku hanya ingin segera pulang" jawab Jova.


"Baguslah" Bayu mendekat ke tempat tidur Jova. "Maafkan aku ya Jov, ini semua di luar prediksi ku"


"Jangan bicarakan hal itu. Aku yang berterima kasih padamu Bay" Jova tersenyum tulus.


Sebenarnya apa maksud dari pembicaraan mereka?. Ucap ibu Jova dalam hati.


Alexander masuk tanpa mengetuk pintu. Bayu langsung membuang pandangannya ke arah lain setelah tau Alexander yang masuk.


Alexander langsung duduk di sofa, dan hanya mengangguk pada ibu Jova yang juga duduk di sofa.


Tak lama dari itu ayah Jova datang bersama Tristan. Ayah Jova tampak bahagia.


"Jova, akhirnya kau sadar nak" ucap ayah Jova mengusap puncak kepala Jova.


"Iya ayah"

__ADS_1


"Kak, hampir sebulan telinga ku sepi tanpa mulut cerewet mu itu!" goda Tristan yang berdiri di samping tempat tidur Jova.


"Kau ini!" kesal Jova memukul lengan Tristan.


Tristan, ayah, ibu dan Indira tersenyum dengan ulat Tristan.


Alexander keluar dari ruang rawat Jova, bermaksud menjauh sementara. Karena dia tidak suka berkumpul dengan banyak orang.


"Pak Alex!" panggil seseorang ketus dari belakang.


Alexander menoleh, dan menatap diam seseorang yang sedang berjalan ke arahnya.


"Aku akan membiarkan Jova bersamamu dan aku tidak akan mengganggu hubungan kalian. Tapi ingat! jika kau membuat Jova menangis atau bersedih di hadapan ku, maka tangan ku sendiri yang akan menghabisi mu!" ucap Bayu geram.


Alexander hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya dengan tatapan teduh. Tanpa bicara sepatah katapun. Dan Bayu langsung meninggalkan Alexander tanpa pamit.


Bayu berjalan ke arah toilet rumah sakit. Dia masuk dan memastikan semua toilet kosong. Dia memukul dinding toilet menyampaikan amarahnya. Dia mengingat kembali percakapan dua minggu lalu bersama Jova dan Indira di kantin kampus.


Flashback On . . .


"Aku akan berpura - pura mengejar mu. Dan kau berpura - pura membuka pintu hatimu untukku. Dan kita tunjukkan kebersamaan kita di depannya. Kita akan tau seperti apa responnya" ucap Bayu menjelaskan maksud dari sandiwara yang di rancang Bayu.


"Apa kau yakin itu akan berhasil?" tanya Indira.


"Setidaknya kita akan tau perasaannya melalui gerak gerik tubuhnya" jelas Bayu.


"Maksudnya?" tanya Jova.


"Hemmh" Bayu membuang nafas kasar. "Dasar anak perawan!" Bayu menyentil dahi Jova.


"Aauhh!" pekik Jova memegangi dahinya.


"Oh, begitu" ucap Jova dan Indira bersamaan.


"Bagaimana kalau ternyata dia cuek? Sia - sia dong sandiwara kita?" ucap Jova.


"Kalau dia cuek, ya sudah kita lanjut serius saja tidak usah sandiwara. Dari pada sia - sia" ucap Bayu dengan senyum jahilnya.


Sebuah toyoran mendarat mulus di kepalanya yang berasal dari Indira.


"Mimpi saja yang di tinggikan!" ucap Indira sewot.


"Hehehe bercanda" ucap Bayu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Aku tidak pernah bercanda menyukaimu Jova. Ucap Bayu dalam hati.


"Kalau begitu kapan kita mulai melancarkan aksi kita?" tanya Jova.


"Kau tadi di antar kan?" tanya Bayu.


"Iya!"


"Nanti kau pulang bersama ku. Kita mampir di cafe Indira cukup lama. Kita lihat, apa dia menunggumu atau tidak!"


"Okelah, nanti dia akan menjemput ku di kantor"


"Sebelum dia datang, aku akan datang lebih dulu dan memarkir mobil ku di depan gedung perkantoran itu. Dan kau ndi, kau harus berjaga agak jauh dari kantor Jova, pantau terus sampai kau melihat mobil pak Alex yang dipakai tadi lewat. Jadi jarak ku dan jarak dosen itu tidak akan jauh. Biar dia lihat kalau kami pergi bersama" jelas Bayu pada Indira.


"Okelah. Semoga rencana kalian berhasil" ucap Indira.


"Rencana seorang Bayu Devries tidak akan gagal!" ucap Bayu percaya diri menaik turunkan alisnya beberapa kali.

__ADS_1


"Tch!!" kesal Jova dan Indira bersamaan.


Aku akan melakukan apapun asal kau bahagia Jov. Batin Bayu.


Flashback Off . . .


"Sekarang aku sudah tau jawabannya Jova. Kalian saling menyukai. Hanya saja kalian masih sama - sama malu mengakui" gumam Bayu sedih. "Aku yang mengenalmu bertahun - tahun Jova. Dan kau mengenalnya belum setahun. Tapi kenapa kau sudah jatuh cinta padanya!" ucap Bayu meninju dinding lagi.


# # # # # #


Jam menunjukkan pukul 8 malam, Alexander kembali ke rumah sakit. Masih ada ayah, ibu dan Tristan di dalam ruang rawat inap.


"Om dan tante pulang saja. Biar saya yang menjaga Jova" ucap Alexander.


"Apa kamu tidak apa - apa, menjaga Jova sampai sejauh ini? kau juga harus memperhatikan kesehatanmu" ucap ayah.


"Om tidak perlu khawatir" ucap Alexander santai.


"Baiklah kalau begitu kami pulang dulu. Terima kasih ya sudah menjaga Jova untuk kami!" ucap ayah lagi.


Alexander hanya mengangguk. Semua sudah keluar, meninggalkan Jova dan Alexander. Sesaat tercipta kecanggungan di antara mereka.


"Biasanya kau banyak bicara, kenapa kau sekarang jadi pendiam?" ucap Alexander melirik Jova. "Apa dua minggu koma membuatmu lupa cara mengomel" Alexander mencoba memecah keheningan.


"Heemm.. aku kira tidak melihat mu dua minggu, kau sudah waras. Ternyata kau masih saja gila!" gerutu Jova memutar kedua bola matanya malas.


Alexander tersenyum kecil melihat tingkah Jova. Lalu berjalan mendekati Jova.


"Maafkan aku, karena kecerobohan ku, kau jadi seperti ini"


"Jangan di pikirkan, aku juga salah" ucap Jova. Aku juga salah sudah membuat sandiwara hanya untuk mengetahui perasaanmu. Sekarang aku sudah tau perasaan mu. Aku akan fokus mengejar mu. Aku tau kau tidak akan mengungkapkan perasaanmu. Tapi aku akan membuatmu mengakui perasaanmu. Ucap Jova dalam hati dengan menahan senyumnya.


"Setelah kau keluar dari rumah sakit ini, aku akan membawamu ke Singapura" ucap Alexander santai.


"Untuk apa ke Singapura?" tanya Jova bingung.


"Menghilangkan bekas lukamu!" ucap Alexander cuek kembali duduk di sofa.


"Memangnya harus ke Singapura?"


"Jangan banyak bertanya" ucap Alexander membaringkan tubuhnya di sofa. Lalu memejamkan matanya.


Jova melihat Alexander yang menutup mata, ikut memejamkan matanya. Hingga benar - benar tertidur.


Alexander bangun lagi, memastikan Jova benar - benar tidur dengan lelap. Lalu dia benar - benar tidur di sofa.




Semoga mimpi indah Jova dan Alexander.


Dan reader juga.. bukan hanya mimpi yang indah. Tapi kehidupan kita juga benar - benar Indah. Aamiin.



Terima kasih,


__ADS_1


Salam Lovallena.


__ADS_2