
Jova naik ke lantai dua apartemen Alex. Berjalan ke arah pintu kamar Alex.
Tok Tok Tok
Jova mengetuk pintu pelan, tapi tidak ada jawaban.
Tokk Tokk Tokk!
Jova mengetuk lebih keras. Beberapa saat tidak ada jawaban juga. Jova mengangkat tangannya bersiap untuk mengetuk dengan sekuat tenaga.
Tapi tangannya menggantung di udara, karena Alex membuka pintu sedikit. Alex mengamati tangan kanan kiri Jova.
Dia tidak membawa senjata kan? batin Alex.
Setelah memastikan tangan Jova kosong, Alex membuka pintu lebar.
"Ada apa?" tanya Alex ketus.
"Saya lapar!" jawab Jova memanyunkan bibirnya.
"Perut mu yang lapar kenapa mengetuk pintuku?"
"Belikan makan lah! kan tuan yang membuat saya harus membersihkan apartemen malam - malam begini!"
"Kau kan bisa pesan, kau juga sudah aku beri kartu untuk belanja!" ucap Alex menyandarkan dirinya di daun pintu.
"Tch!! tapi saya ingin makan bebek goreng di pinggir jalan tuan," ucap Jova memelas.
"Pergilah! kau kan punya mobil. Kenapa menggangguku malam - malam begini. Aku mau tidur!" Alex akan menutup pintu tapi di tahan Jova.
"Antar saya dong tuan! Saya mana berani jam segini keluar sendiri!"
"Aku tidak percaya kau tidak pernah keluar malam!" ucap Alex sedikit tersenyum mengejek.
"Saya memang sering keluar malam. Tapi selalu di temani adik laki - laki saya, tidak sendirian."
"Tch! ya sudah kau tunggu di bawah!" ucap Alex setelah dia merasakan perutnya juga lapar.
"Ok tuan!" Jova tersenyum sumringah.
5 menit menunggu di bawah, akhirnya Jova melihat Alex turun dengan memakai jaket.
"Pakai mobilmu saja! mana kuncinya!" ucap Alex setelah sampai di ruang tengah.
"Tunggu, tuan!" Jova masuk ke kamar dan mengambil kunci mobil.
"Ini!" Jova memberikan kunci mobilnya pada Alex.
Alex berjalan ke arah pintu di ikuti Jovanka di belakangnya.
"Tuan, kau tidak mau memberi tau ku sandi apartemen mu?" ucap Jova setelah mereka berada di dalam lift.
"Nanti kalau sudah di apartemen aku akan memberi tau mu!"
Jova hanya manggut - manggut saja.
__ADS_1
Lift terbuka, mereka keluar menuju parkiran. Alex membuka kunci otomatis mobil Jova. Mereka masuk bersama - sama. Jova di kursi penumpang depan, dan Alex di kursi kemudi.
Alex mengemudikan mobil Jova keluar parkiran dengan kecepatan sedang. Jova melempar pandangannya ke arah jendela setelah melihat Alex mengemudikan mobilnya. Dia berusaha menyembunyikan senyum bahagianya.
Untuk pertama kalinya ada laki - laki yang mengemudikan mobilku. Dan itu adalah si dosen tampan ini. Teman - teman di kampus dan bahkan dosen centil itu pasti akan iri kalau melihat ini, ucap Jova dalam hati.
Jova senyum - senyum sendiri memandang jendela. Jantungnya seolah berdetak kencang.
"Apa kau sudah gila senyum - senyum sendiri," ucap Alex setelah melirik Jova.
Jova menoleh pada Alex saat Alex kembali fokus pada jalan di depannya. Jova semakin tidak kuat menahan rasa malu dan salah tingkahnya ketika melihat Alex fokus mengemudikan mobilnya.
"Iya! saya memang sudah gila!" ucap Jova malas berdebat dengan Alex. Alex hanya menoleh sekilas.
Sepertinya saya sudah tergila - gila dengan anda tuan batu! batin Jovanka.
Sepertinya aku benar - benar gila. Apa yang baru saja aku pikirkan, batin Jova lagi. Dia mengangkat sudut bibirnya malas.
Setelah beberapa menit, mereka sampai di warung bebek goreng yang di maksud Jova. Alex memarkirkan mobil Jova. Setelah itu mereka turun dan masuk ke warung makan bebek goreng pinggir jalan. Mereka duduk bersebelahan sambil menunggu pesanan.
Mereka makan sangat lahap setelah pesanan mereka datang. 20 menit berlalu mereka menyelesaikan makan malam mereka. Jova melihat Alex meminum es jeruk yang dia pesan hingga tandas.
Sungguh kali ini mata Jova susah sekali menghindari pemandangan yang sangat mengagumkan menurutnya.
"Aku tidak menyangka, tuan bisa makan di pinggir jalan seperti ini," ucap Jova melirik Alex di sampingnya.
"Aku sering makan di pinggir jalan," ucap Alex melihat Jova di sampingnya.
"Hihihihi" Jova tersenyum.
"Dari tadi kau senyum - senyum tidak jelas. Apa baru kali ini kau jalan dengan laki - laki tampan seperti ku?" ucap Alex percaya diri.
"Otakmu sangat mudah di baca bodoh!" ucap Alex menjentikkan jarinya di kening Jova.
"Aduuh!" pekik Jova. "Tuan jangan mengarang berlebihan!" ucap Jova menutupi salah tingkahnya.
Kenapa begitu mudah dia membaca pikiran ku, batin Jova.
Alex berdiri, Jova ikut berdiri. Alex mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu. Dan di berikan kepada sang penjual.
"Tuan, ini uangnya kebanyakan," ucap penjual mengembalikan lembaran uang.
"Ambil saja!" Alex berlalu pergi.
Jova tidak heran dengan itu, karena dia sering menguntit Alex sebelumnya. Hanya saja sekarang dia bisa melihat tanpa menguntit.
"Tapi tuan... Mbak, ini uangnya kebanyakan", penjual mencoba mengembalikan kepada Jova.
"Ambil saja pak!" Jova tersenyum lalu berlalu mengikuti Alex dan masuk ke dalam mobilnya.
Penjual merasa bahagia bukan kepalang dapat rejeki nomplok seperti ini.
Alex melajukan mobil Jova dengan kecepatan sedang. Jova sekali - kali mencuri pandang Alex yang tampak sangat tampan menurutnya.
"Kenapa? kau ingin melanjutkan tentang ceritamu tadi pagi?" tanya Alex yang sadar kalau Jova curi - curi pandang padanya.
__ADS_1
"Maksudnya?" Jova mengerutkan keningnya.
"Tadi pagi saat di lift!"
Jova langsung salah tingkah, tidak tau harus bicara apa. Jova menampar jendela dengan pandangan matanya.
Apa dia tau aku sedang curi - curi pandang padanya? batin Jova.
"Cepat ceritalah! tadi pagi kau banyak bicara, kenapa sekarang diam?"
"Kenyataan tuan, banyak mahasiswi yang suka curi - curi pandang pada anda"
"Dan kau salah satunya?"
"Apa!" Jova menatap Alex. "Tentu saja tidak!" Jova mengelak.
"Kau pikir aku tidak tau kalau kau dari tadi mencuri - curi pandang padaku!" Melirik Jova sekilas. "Jovanka Lovata Barraq, jangan kau pikir aku ini orang bodoh yang bisa kau tipu dengan kata TIDAK yang kau ucapkan," ucap Alex tanpa melihat Jova dan menekan kata tidak.
"Hah?? tuan tau nama lengkap saya?" Jova kaget.
"Dari semua mahasiswa ku, kau yang paling sering kena hukuman. Bagaimana aku tidak hafal namamu?"
"Oh!" Jova kecewa. Dia sempat berfikir kalau dosennya sengaja menghafal namanya.
Jova melihat jalanan di depannya. Kepalanya melihat kanan kiri.
"Tuan ini kan bukan jalan ke apartemen?" tanya Jova setelah sadar jalan yang dia lewati bukan ke apartemen.
Alex hanya melirik Jova sedikit.
"Tuan, jangan macam - macam! tuan mau menculik saya?"
"Haha, untuk apa aku menculik mu!"
"Tapi tuan mau membawa saya kemana?"
"Besok jadwal kuliah mu jam setengah 11 kan?"
"Iya! Tentu saja tuan tau!"
Alex mengangkat sebelah sudut bibirnya.
Selang beberapa lama Jova sudah merasakan hawa pantai. Alex memarkirkan mobil Jova di tepi pantai.
"Wow!! tuan membawa saya ke pantai malam - malam begini?" Jova girang bukan kepalang. "Ya ampun, aku bahkan belum pernah ke pantai malam - malam seperti ini. Pernah sekali, waktu aku kecil."
Jova segera turun dari mobil saat Alex mematikan mesin mobil. Dia berlari menuju pasir pantai dengan telanjang kaki.
Alex berjalan dengan santai mengikuti arah lari Jova. Alex tersenyum tipis melihat Jova yang terlihat sangat bahagia bermain di pinggir pantai saat malam.
Hanya terlihat kelap kelip lampu kapal di tengah laut. Dan lampu - lampu pantai yang tidak terlalu terang.
Alex berjalan mendekati Jova yang sedang duduk di pasir pantai meluruskan kakinya. Bajunya sudah basah karena ombak pantai.
"Apa kau tidak kedinginan, malam - malam bermain ombak seperti itu?" tanya Alex di belakang Jova.
__ADS_1
"Tidak! aku sangat senang! dari dulu aku penasaran. Seperti apa rasanya bermain di tepi pantai saat malam. Tapi ayah dan ibu selalu melarang ku ke pantai saat malam."
Alex senang melihat senyum Jova yang tidak ada habisnya saat ini.