
Jova dan Alexander berada di dalam mobil perjalanan ke kampusnya. Jova yang biasanya cerewet, mendadak diam.
"Bibirmu sariawan?" tanya Alexander memecahkan keheningan.
"Hah?" Jova menoleh dengan bingung. "Tidak, kenapa?"
"Biasanya kau cerewet, kenapa sekarang kau diam saja?" ucap Alexander tanpa menoleh Jova.
Jova memutar bola matanya, merasa jengah dengan ucapan Alexander.
"Tch!!" Jova menyebikkan bibirnya. "Kau itu tidak punya kata - kata yang lebih romantis untuk menghiburku apa?" tanya Jova kesal.
"Memangnya kau kenapa minta di hibur?" melirik Jova di sampingnya.
"Perusahaan ayahku sedang kacau" ucap Jova diam sesaat. "Client yang di percayai ayah bertahun - tahun ternyata berkhianat. Demi bisa lolos seleksi kerja sama dengan Group G"
Jova membuang pandangannya ke jendela. Alexander menatap Jova dengan tatapan yang sulit di artikan, sebelum akhirnya fokus kembali pada jalanan di depannya.
Sampai di parkiran kampus mereka tidak bicara sepatah katapun. Lagi - lagi mereka menjadi pusat perhatian. Tapi kali ini Jova biasa saja, dia tidak menunjukkan sikap bangga turun dari mobil seorang Alexander. Itu karena mood Jova sedang hancur.
# # # # # #
Jam kuliah berakhir, Jova masuk ke toilet perempuan untuk buang air kecil. Saat keluar dia di kaget kan dengan Julie yang sudah menyilangkan tangan di dadanya dengan tatapan membunuhnya.
"Kenapa masih menemui ku?" tanya Jova santai. "Bukankah kita sepakat bersaing secara sehat"
"Tapi kau selalu mencuri start!" ucap Julie mengeratkan giginya.
"Mencuri start?" tanya Jova bingung.
"Kau selalu datang bersamanya!"
"Haha, kalau memang punya kesempatan untuk di antar jemput pak Alex kenapa menolak?" Jova menjeda ucapannya. "Saya yakin semua mahasiswi atau bahkan semua perempuan di muka bumi ini tidak akan ada yang melewatkan kesempatan seperti ini. Iya kan bu Julie?" tanya Jova dengan senyum sinisnya.
PLAAKK!
Persatuan lima jari tangan kanan Julie mendarat di pipi kiri Jova untuk kedua kalinya.
"Apa pantas seorang Dosen melakukan kekerasan fisik pada mahasiswinya!" ucap dingin seseorang di ambang pintu utama toilet perempuan.
Sontak Jova dan Julie menoleh ke sumber suara. Julie tersentak kaget, tubuhnya gemetaran manakala mendapati Alexander berdiri dengan tatapan membunuhnya.
Jova menyimpan senyum sinis nya. Dia merasa menang kali ini.
"Pak.. pak.. pak Alex, sa.. saya bisa jelaskan", ucap Julie terbata - bata dengan rasa takut yang tiba - tiba menjalar ke seluruh tubuhnya hanya dengan melihat tatapan Alexander.
"Ayo kita pulang!" ucap Alexander dingin pada Jova.
Lah! kok pulang sih? apa dia tidak ingin membelaku di hadapan perempuan ini? Yaa Tuhan, apa dia tidak peka dengan panasnya pipiku.
Gerutu Jova dalam hati dengan memanyunkan bibirnya menahan kesal.
Sebelum Jova keluar dari toilet, dia melirik Julie dengan tersenyum sinis. Julie melihat Jova dengan tatapan yang campur aduk.
Jova melangkah mengikuti langkah Alexander menuju parkiran khusus dosen. Jova masuk ke dalam mobil dengan wajah masamnya.
"Kau ini kenapa?" tanya Alexander santai melirik Jova di sampingnya.
"Tidak apa - apa" jawab Jova cuek tanpa menoleh Alexander.
Alexander yang tau Jova sedang menahan kesal langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan parkiran kampus.
Flashback On . . .
Alexander berjalan di koridor kampus, matanya melihat ke segala arah mencari Jova. Sampai telinganya mendengar dua mahasiswi yang sedang berbisik saat keluar dari toilet perempuan.
__ADS_1
"Sepertinya Jova dalam masalah"
"Iya, bu Julie tampaknya sangat marah"
"Sebaiknya kita pergi, dari pada kena masalah seperti Jova"
Saat hendak berbalik dari toilet mereka kaget dengan keberadaan Alexander si belakang mereka yang menatap datar mereka.
"Maaf pak" ucap mereka berdua yang langsung menunduk.
Alexander tidak menjawab, Dia langsung berjalan ke toilet.
"Untung ada pak Alex, setidaknya Jova pasti selamat" bisik kedua mahasiswi itu sambil melangkah pergi.
Saat Alexander hendak masuk, dia terlebih dahulu mendengan percakapan mereka. Setelah cukup tau inti dari permasalahan dia mencoba membuka pintu.
Baru saja melangkahkan kakinya ke ambang pintu setelah mendengar Jova berbicara, tiba - tiba,
PLAAKK!
Sebuah tamparan dari Julie untuk Jova terlihat jelas oleh matanya.
Flashback Off . . .
"Kau mau pulang atau jalan - jalan?" tanya Alexander.
"Apa?" Jova menoleh pada Alexander.
"Kau tuli?" tanya Alexander tak berdosa.
"Maksudku kalau aku mau jalan - jalan apa kau akan benar - benar mengajak ku jalan - jalan?" tanya Jova antusias.
"Why not?" melirik Jova yang raut mukanya berubah.
"Apa kau tidak keberatan?"
Jova menganga tak percaya dengan ucapan Alexander. Dia menghentakkan kakinya di bawah.
"Turunkan aku!" ucap Jova marah.
"Kau ingin mengulangi koma mu lagi?" ucap Alexander dengan santainya.
"Hemh!" Jova menghembuskan nafasnya kasar. Menyilangkan tangannya di dada, menyandarkan punggungnya kasar.
Alexander tersenyum lucu dengan tingkah Jova. Dia melirik Jova yang memanyunkan bibirnya.
Jova menahan kesalnya, hingga dia tidak tau kalau mobil sudah berhenti.
"Ayo turun" ucap Alexander lembut membuka pintu penumpang.
Jova tersentak dengan ucapan lembut Alexander yang membuka pintu Jova. Dia melihat kanan - kiri yang merupakan tempat parkir VIP khusus mobil.
"Dimana ini?" tanya Jova.
"Turunlah" ucap Alexander. "Ayo!"
Apa dia kesurupan? kenapa berubah jadi lembut begitu. Ucap Jova dalam hati, lalu turun dari mobil.
"Ini mall waktu itu?" tanya Jova.
"Iya" Alexander tersenyum. "Ayo!" menggenggam tangan Jova.
Jova tersentak kaget melihat tangannya yang di genggam Alexander.
"Bersikaplah yang manis kepadaku hari ini"
__ADS_1
"Hah, kenapa?" tanya Jova bingung.
Alexander hanya tersenyum manis pada Jova.
Apaan sih maunya dia, batin Jova.
Mereka berjalan memasuki mall dengan bergandengan tangan seolah sepasang kekasih. Dan itu berhasil menjadikan mereka pusat perhatian.
Alexander membawa Jova masuk ke dalam toko branded. Jova membelalakkan matanya melihat semua barang yang terpajang.
"Untuk apa kita kemari?" tanya Jova penasaran.
"Bukankah perempuan suka belanja?"
"Tentu saja. Memangnya kenapa?"
"Belanja lah!"
"Apa!" Jova menatap Alexander serius.
"Pilih apa yang kau inginkan, aku menunggumu di sini" ucap Alexander menunjuk kursi tunggu.
"Kau yakin?" ucap Jova yang tak begitu saja bahagia di suruh belanja. Mengingat itu toko barang branded.
"Iya sayang! beli apa yang kau inginkan" ucap Alexander yang sengaja memanggil sayang.
"Ok!" wajah Jova tampak merah merona.
Jova berkeliling melihat tas, baju dan pernak pernik yang harganya fantastis.
"Pa? itu bukannya Alexander?" tanya seorang wanita pada suaminya yang berdiri di dekat etalase tidak jauh dari Alexander.
"Iya!" jawab seorang laki - laki yang menajamkan penglihatannya. "Apa yang dia lakukan di sini?"
Wanita di sampingnya hanya mengangkat kedua pundaknya.
"Kita samperin yuk!" ajak si wanita.
"Jangan, ini tempat umum, dia pasti tidak suka"
"Hemm, papa benar" si wanita memanyunkan bibirnya. "Tapi mama penasaran, dia hanya duduk sambil bermain ponsel. Tidak mungkin kan dia datang kesini untuk nongkrong. Ini kan bukan Cafe" Mengerenyitkan dahinya menatap sang suami.
"Iya, papa juga penasaran. Kita tunggu dulu, setidaknya sampai dia berdiri" ucap si pria berusia sekitar 55 tahun.
"Iya mama setuju! kalau begitu kita harus bersembunyi. Dia akan tau kalau kita mengawasi dia dari sini" si wanita berusia sekitar 52 tahun, tapi masih terlihat cantik.
Wanita itu membalikkan badannya mencoba mencari tempat aman untuk bersembunyi bersama suaminya.
Brrukk!
Wanita itu menabrak Jova yang sedang melihat pernak - pernik di etalase.
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar kalian ya.
Dan mohon dukungan untuk novel pertamaku ini ya.
Terima kasih,
__ADS_1
Salam Lovallena.