I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
100 Juta Bagai Debu


__ADS_3

"Belum lagi masalah investor yang perlahan mengkhianati ku. Dia menarik sahamnya sedikit demi sedikit dengan berbagai alasan" lanjut Jova.


Aku tau semua yang terjadi padamu. Hanya saja ternyata mendengar langsung dari mu ada rasa tersendiri. Aku akan selalu ada di belakangmu. Suatu hari kau akan tau. Ucap Alexander dalam hati.


"Eh, kenapa aku jadi curhat ya?" ucap Jova tersadar. "Kau mengajakku ke sini untuk melihat acara ini?" tanya Jova pada Alexander. "Acara ini pantas untukmu, karena kau kalangan atas. Kalau aku lebih baik pakai produk ku sendiri, hihihi"


"Aku hanya ingin tau seluk beluk dunia bisnis untuk memperdalam ilmu ku" jawab Alexander. "Kau tidak ingin belanja mumpung di sini?"


"Belanja? sudah lama aku tidak belanja di mall ini. Mahaall!" ucap Jova ngegas.


"Kau kan punya kartu dari ku, kenapa tidak kau pakai?" tanya Alexander membalikkan badan membelakangi pagar.


"Itu bukannya kartu untuk belanja bahan dapur?" tanya Jova pelan melihat Alexander.


"Iihh!" Alexander menjentikkan jari di dahi Jova gemas. "Kalau ku berikan padamu itu artinya kau bisa menggunakan kartu itu sepuas mu"


"Apa kau yakin?" Jova menatap Alexander dengan mata berbinar.


"Kau matre juga! dengar bisa belanja sepuas mu, mata duitan mu muncul begitu saja!" Alexander menoyor pelan dahi Jova.


"Hehehhe, aku tidak matre, hanya saja kalau ada kesempatan kenapa tidak!" ucap Jova tersenyum girang, "aku gadis normal yang hobi belanja. Tapi aku tidak akan meminta kalau tidak di beri" lanjut Jova.


"Kalau di beri kau tidak akan nolak?"


"Ya iyalah!, kita kan tidak boleh menolak rejeki" Jova menaikkan kedua alisnya beberapa kali dengan senyum semanis mungkin.


Alexander hanya menyebikkan bibirnya dan melirik Jova heran.


"Ya sudah, belanja lah!"


"Ok tuan!" ucap Jova semangat.


Jovanka berjalan - jalan memilih beberapa baju untuknya dan keluarganya, sepatu, tas. dan sebagainya.


Alexander mengawasi Jova dari jarak jauh. Dia mengambil ponselnya di saku celananya. Dia mengotak atik ponselnya sebentar. Lalu dia memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya, dan kembali mengawasi Jova.


"Dia bilang, di kartu yang di berikan pada ku bahkan cukup untuk membeli mobil ku. Itu artinya ada ratusan juta. Hihihi aku akan memanfaatkan ini. Aku ingin tau seperti apa kalau kau marah uang mu aku habiskan!" Jova tersenyum jahil.


Jova memilih tas branded dengan harga 50 juta, yang menurutnya sangat mahal, karena dia belum pernah membeli tas dengan harga semahal itu. Dia juga membeli sepatu dari brand ternama dengan harga 17 juta.

__ADS_1


"Heheheh, maafkan aku ya dosen ku yang tampan" gumam Jova pelan.


Setelah hampir dua jam dia berpindah - pindah toko dan membayar semua belanjaannya, Jova keluar menghampiri Alexander yang duduk di kursi tunggu. Di tangannya ada beberapa paper bag ukuran besar. Alexander melihat Jova yang berjalan mendekatinya.


"Sudah?" tanya Alexander.


"Sudah!" jawab Jova girang


"Ayo!" ajak Alexander berdiri dari duduknya.


Jova menatap Alexander bingung, dia masih diam berdiri di tempat melihat punggung Alexander yang sudah berjalan cepat.


Menyadari Jova tidak ikut berjalan, Alexander menoleh pada Jova. Jova berjalan mendekati Alexander yang menatapnya seolah berkata "cepat!"


"Apa kau tidak tanya berapa uangmu yang aku habiskan untuk beli semua ini?" tanya Jova setelah sejajar dengan Alexander


"Kenapa?"


"Ha?" Jova tampak bingung sendiri. "Uang mu yang aku pakai untuk membeli semua ini hampir 100 juta. Apa kau tidak ingin memarahiku?" tanya Jova penasaran dengan raut wajah datar yang di tunjukkan Alexander.


Alexander hanya tersenyum tipis. Dia mengambil 3 paper bag di tangan kiri Jova. Menyisakan 4 paper bag di tangan kanan Jova. Lalu berjalan meninggalkan Jova.


Alexander menoleh pada Jova yang berjalan di sampingnya. Lalu tersenyum tipis dan kembali berjalan.


"Dasar bodoh!" ucap Alexander, "aku kan sudah bilang, saldo di kartumu bahkan bisa untuk membeli mobilmu. Dan tadi aku menambah saldonya dua kali lipat dan kau hanya menggunakan 100 juta" Alexander tersenyum sinis, menertawai ekspresi lucu Jova.


"What!" Jova mengerutkan keningnya, "jadi maksudmu 100 juta itu seperti debu bagimu?" tanya Jova penuh rasa penasaran.


Alexander menarik nafas dalam dan membuangnya kasar. Kembali melirik Jova di sampingnya. Mengangkat kedua alisnya tanpa bicara sedikitpun.


Alexander terus berjalan tanpa perduli pada Jova yang masih di penuhi rasa penasaran.


Sekaya apa dia sebenarnya, uang 100 juta tidak ada harganya. Padahal aku tadi berniat mengerjainya, malah aku yang di buat pusing. Ucap Jova dalam hati mendongak ke arah wajah Alexander di sampingnya.


"Apa tidak ada lagi yang ingin kau beli?" tanya Alexander pada Jova yang terlihat seperti orang bodoh karena keheranan dengan sikap Alexander yang tidak sesuai prediksinya.


"Tidak" ucap Jova yakin. "Aku bahkan belum pernah menghabiskan uang 100 juta dalam sekali jalan"


Alexander tersenyum lucu dengan Jova yang sangat aneh menurutnya. Alexander berhenti di salah satu resto di mall itu di ikuti Jova di belakangnya. Mereka duduk di kursi pengunjung di ikuti waiters yang membawa buku menu.

__ADS_1


Setelah memilih pesanan makanan masing - masing Jova menatap penuh tanda tanya pada Alexander di depannya.


"Kenapa ekspresi wajahmu seperti itu?" tanya Alexander pada Jova.


"Tidak" ucap Jova menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tadi berniat mengerjai mu dengan menggunakan uangmu sampai hampir 100 juta. Tapi malah aku yang jadi bingung dengan ekspresi mu yang datar itu. Kalau 100 juta tidak ada apa - apa nya bagi mu, kenapa kau minta ganti rugi 150 juta pada mobilmu yang aku tabrak?"


"Tch!! sudahlah, jangan di pikirkan. Kau bisa menggunakan kartu itu sesukamu!" ucap Alexander yang sebenarnya bingung harus beralasan apa.


Pesanan mereka datang saat Jova belum sempat menanggapi ucapan terakhir Alexander.


"Makanlah dan jangan banyak bicara" ucap Alexander. Dia tau Jova ingin membahas masalah yang tidak ingin dia bahas.


Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap benci pada mereka berdua. Sepasang mata itu sudah mengikuti mereka sejak Jova menghampiri Alexander di kursi tunggu.


"Beraninya kau!" gumam kesal pemilik sepasang mata yang mengawasi Jova dan Alexander dari jarak aman.


Setelah selesai makan siang, mereka keluar dari mall itu, berjalan menuju parkiran. Alexander mengemudikan mobilnya meninggalkan Mall mewah itu.


Jova tampak diam memandang luar jendela mobil. Alexander melirik Jova yang biasanya banyak bicara sekarang diam saja.


"Kenapa kau diam saja?" tanya Alexander yang sudah fokus pada jalanan di depannya.


"Tidak apa - apa" jawab Jova pelan. Sebenarnya aku penasaran, siapa kau sebenarnya. Tidak mungkin kau hanya seorang dosen. Ucap Jova dalam hati melihat Alexander.




Selamat membaca part ini ya reader.


Semoga tidak bosan dengan jalan ceritanya.


Dan jangan lupa berikan dukungan kalian pada novel ini ya. Dengan cara tinggalkan LIKE dan Komentar kalian di setiap partnya.



Terima kasih,


__ADS_1


Salam Lovallena


__ADS_2