
Jam 4 sore Alexander sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, dan bersiap untuk pulang.
"Sayang, kamu aku antar pulang atau mau ke mana?"
"Aku pulang ke apartemen saja!"
"Ok!" Alex berdiri memakai jasnya dan mengambil kunci mobilnya diikuti Jova yang berdiri dan mengambil tasnya.
Jova dan Alex berjalan keluar memasuki lift dengan bergandengan tangan. Banyak karyawan di lobby karena memang jam untuk pulang kerja.
"Hemm.. romantis sekali ya mereka" bisik - bisik karyawan Alex.
"Mereka cocok" bisik lainnya.
Dan masih banyak lagi, bisik - bisik yang berseliweran di sana.
Mobil Alex sudah siap di depan gedung menjulang tinggi itu. Dua orang security sudah bersiap membuka dua pintu kemudi dan penumpang.
"Pindahkan mobil Nona ke parkiran mobil ku!" ucap Alex pada salah seorang security yang membuka pintu mobil untuknya.
"Baik, Tuan muda"
Jova dan Alexander masuk ke mobil bersamaan. Dua security menutup pintu mobil pelan.
Enak sekali ya jadi boss, pintu mobil saja security dengan senang hati membukanya! batin Jova.
Alexander mengemudikan mobilnya memecah kemacetan ibukota di jam pulang kerja. Di tengah perjalanan Alex menghentikan mobilnya di deretan pedagang kaki lima.
"Mau apa, Sayang?" tanya Jova.
"Kamu tunggu disini!"
Alexander turun dari mobilnya, berjalan ke arah pedagang kaki lima dan membeli beberapa makanan yang merek jajakan. Alex membayar dengan harga berlipat - lipat dari seharusnya.
"Kau masih sama ternyata" gumam Jova yang melihat Alexander dari dalam mobil dengan menyunggingkan senyumnya.
Setelah selesai dengan urusannya, Alexander kembali ke mobilnya.
"Sayang, berikan ini pada peminta - minta di lampu merah nanti"
"Iya, Sayang!" ucap Jova, "apa kau setiap hari melakukan ini"
"Tidak juga"
"Aku dulu pernah mengikuti mu! hehe" Jova tersenyum malu.
"Aku tau!" jawab Alexander santai.
"Hah!" pekik Jova, "kamu tau?" Jova menganga menatap Alexander.
"Tentu saja!" melirik Jova sekilas.
"Bagaimana bisa kamu tau?"
"Sayang, kau lupa siapa aku?" tanya Alex tanpa menoleh pada Jova.
Jova tampak menelan ludahnya, merasa malu pernah melakukan itu.
"Iya, aku tau siapa kamu"
"Kau ingat? kau sering bertanya, dari mana datangnya orang - orang berpakaian hitam yang selalu muncul mendadak"
"Iya!"
"Kemanapun aku pergi pasti di awasi pengawal dari jarak jauh. Dan mereka mengirim fotomu yang menguntit ku," ucap Alexander, "Dan sejak kita pulang dari Singapura pertama kali, aku memberimu pengawal saat kau tidak bersamaku!"
"Oh, ya!" tanya Jova kaget.
"Hemm" jawab Alexander menatap lembut pada Jova.
Jova tersenyum membuang pandangan matanya ke jendela, menutupi rasa malunya.
Tak terasa mereka sudah sampai di parkiran apartemennya. Alexander membuka pintu penumpang untuk Jova. Jova turun, mereka bergandengan tangan memasuki lobby apartemen. Masuk ke dalam lift bersama, Jova menekan angka 10.
__ADS_1
"Sayang, aku mandi di apartemen ku dulu ya" ucap Jova.
"Iya, Sayang"
Jova keluar setelah pintu lift terbuka. Alexander melanjutkan sampai lantai 25.
Setelah mandi Jova mengganti bajunya, lalu menyisir rambutnya asal, memakai cream wajah dan body lotion. Setelahnya memakai long cardi. Tak lupa Jova mengambil satu set piyama yang sama seperti yang dimiliki Alex waktu itu. Juga satu setel baju untuk kuliah besok. Lalu membawanya ke apartemen Alexander.
Jova langsung masuk ke apartemen Alexander, di bawah tampak sepi. Jova langsung naik ke lantai dua tempat kamar Alexander. Kamar Alex terlihat sepi, Jova masuk ke walk in closet, dan barulah mendengar suara guyuran shower.
Jova keluar dan memutuskan menunggu Alexander di kamar Alex dengan memainkan ponselnya. Tak berapa lama Alexander keluar dari walk in closet dengan baju santainya. Fokusnya teralihkan dengan Jova yang sudah duduk di sofa dengan senyum manisnya.
"Cepat sekali kamu sudah di sini?" tanya Alexander,
Jova hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Alexander. Alex melihat piyama di atas ranjangnya.
"Punyamu?"
"Iya!"
"Bagaimana bisa kita punya sama!" ucap Alexander dengan senyumnya mengingat kejadian waktu itu.
"Namanya juga jodoh! haha"
Alexander ikut tergelak, ketidak sengajaan yang luar biasa menurutnya.
"Sayang, makan bebek goreng di tempat waktu itu yuk!" ajak Jova.
"Dimana?"
"Pinggir jalan!"
"Ok!" jawab Alex duduk di samping Jova. "Kamu sudah lapar?" tanya Alex, meletakkan tangannya di sandaran kursi belakang kepala Jova.
"Apa itu?"
"Ini pilihan souvenir pernikahan! kamu mau yang mana untuk tamu undangan kita?"
"Ambil yang paling kamu suka!" jawab Alex menatap yakin pada Jova.
"Aku suka yang ini, soalnya kayu jati asli. Kamu setuju?"
"Setuju!" jawab Alex santai.
"Besok aku akan mendatangi tokonya bersama Indira!"
"Iya, Sayang!" ucap Alex mengusap lembut kepala Jova.
"Kita jalan sekarang yuk!" ajak Jova.
"Ayo!" Alexander berdiri di ikuti Jova yang berdiri dan kembali memakai long cardi nya.
Alex menggandeng tangan Jova keluar, menuju parkiran. Alexander mengemudikan mobilnya membelah keramaian Ibukota menjelang malam. Untuk sekedar makan malam di warung bebek goreng langganan Jova.
Setelah menyelesaikan makan malamnya di pinggir jalan. Alex dan Jova segera kembali ke apartemen Alex. Mereka mengganti baju mereka dengan piyama yang sama. Lalu berbaring di atas tempat tidur.
"Selamat malam, Sayang" bisik Alex mengecup kening Jova.
"Malam juga, Sayang!" ucap Jova dengan senyum manisnya.
# # # # # #
Pagi hari Jova menggeliat di dalam dekapan erat sang calon suami. Jova mencium sekilas bibir Alex. Lali bangun dan berjalan ke arah walk in closet.
Selesai mandi dan mengganti bajunya, Jova mendial nomor resto di bawah untuk memesan sarapan. Alexander masih tertidur pulas di tempat tidurnya.
"Sayang" panggil Jova di dekat telinga Alex.
__ADS_1
Alex hanya menggeliat.
"Sayang" panggil lagi.
"Hemm?" jawab Alex tanpa membuka matanya.
"Ayo bangun, kamu harus bekerja dan aku ke kampus"
"Hemm?"
"Kok hemm lagi sih!" kesal Jova.
"Ayo, Sayang!"
"Kiss me, please!"
"Tak butuh waktu lama untuk berfikir. Jova langsung mencium semua yang ada di wajah Alex. Seketika Alex menggeliat dan bangun dari tidurnya.
"Selamat pagi Pangeran tampan ku!" ucap Jova.
"Kau sudah cantik?"
"Tentu!" jawab Jova, "kamu sih tidak bangun - bangun"
"Maaf, Sayang!"
"Ayo mandi! aku sudah pesankan sarapan untuk kita"
"Baiklah Tuan Putri"
Alex turun dan berjalan menuju walk in closet. Mandi dan segera mengganti bajunya.
Setelah beraktifitas pagi di apartemen, mereka segera berangkat, menggunakan mobil Alex. Karena Jova juga harus mengambil mobilnya yang di tinggal di kantor Alex.
# # # # # #
Jova sudah berada di kampus bersama Indira. Mereka baru saja menyelesaikan kuliah mereka masing - masing. Kini keduanya duduk di kursi dekat parkiran. Karena di sanalah mereka berjanji untuk bertemu.
"Kenapa pernikahanmu di percepat Jov?"
"Ndi! jangan sampai pertanyaan mu berikutnya mengatakan aku sedang hamil!" ancam Jova.
"Hah!" pekik Indira, "kau bisa membaca isi otakku?"
"Karena semua mengatakan itu!"
"Hehe, lalu yang sebenarnya kenapa?"
"Kemunculan Carissa di kantor, membuatku ingin segera terikat dengan Alexander!"
"Oh! begitu!" ucap Indira, "baguslah! ayo berangkat!"
"Iya!"
Jova mengemudikan mobilnya menuju mall yang sudah di janjikan, untuk melihat souvenir yang Jova inginkan secara langsung. Juga memesan undangan.
Mereka tampak ngobrol dengan girang. Tanpa memprediksi kejadian yang akan terjadi di Mall.
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentarnya ya.. Juga dukungan dalam bentuk lainnya.
Author istirahat dulu.
Terima kasih,
Salam Lovallena.
__ADS_1