I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Devan?


__ADS_3

Laki - laki penuh pesona itu berjalan mendekati Jova yang duduk di sofa, mengulurkan tangan kanannya pada Jova. Seperti terhipnotis, Jova menyambut uluran tangan itu.


"Namaku Devander Gibran!"


"What!" hati Jova bergetar mendengar nama yang asing dengan wajah yang sangat mirip dengan Alexander.


"Keluargaku memanggil ku Devander, tapi aku lebih suka di panggil Devan," melepas uluran tangannya. "Terserah kau memanggilku apa"


Jova memijat keningnya yang mendadak berdenyut.


Kenyataan macam apa lagi ini, batin Jova.


Devan tau kalau Jova bingung dengan perkenalannya. Dia kembali berjalan mendekati jendela, mendudukkan dirinya di sofa melihat pemandangan luar jendela. Meneguk sedikit minuman di gelasnya.



"Alexander adalah saudara ku, kami terlahir kembar. Kami lahir saat perusahaan Papa dalam kejayaan luar biasa. Media mengabarkan Nyonya Haidar mengandung seorang anak laki - laki calon pewaris kerajaan bisnis Papa. Karena hasil USG pun menyatakan hal yang sama."


Devan menghentikan ceritanya, menoleh pada Jova yang tampak bingung, tapi seperti ingin terus mendengar ceritanya.


"Tidak di sangka, setelah Mama melahirkan satu anak laki - laki, 10 menit kemudian Mama kembali mengalami kontraksi. Dan lahirlah satu anak laki - laki lagi," Devan tersenyum kecil.


"Dengan cepat Papa meminta dokter dan perawat yang bertugas untuk tidak mengatakan pada media tentang bayi kembar yang lahir. Mama melahirkan di rumah sakit milik keluarga, sehingga dengan mudah Papa membungkam mulut mereka.


Keluarga segera berkumpul sesaat setelah keadaan Mama normal. Karena tidak mungkin kelahiran kembar kami di ungkap ke media. Mengingat saat itu banyak sekali ancaman, yang di khawatirkan akan berimbas pada saat kami dewasa. Sehingga Opa Felix Gibran memutuskan untuk memisahkan kami. Mengingat Papa adalah anak tunggal Opa, tapi Papa menolak meneruskan perusahaan Opa di England.


Sehingga 9 jam setelah kami lahir, aku di pisahkan dari ruang rawat Mama dan Alexander. Satu minggu kemudian, aku di bawa Oma dan Opa ke apartemen nomor 25B. Dan Alexander di bawa ke rumah utama.


Pemberitaan gencar tentang pewaris tunggal Group G yang namanya di rahasiakan. Bahkan sampai dewasa dia hanya di kenal sebagai Alexander G. Tanpa pernah di sebutkan siapa G nya.


Aku di rawat di apartemen ini sampai usia ku 5 bulan, lalu aku di bawa ke England. Aku tumbuh dengan julukan pewaris FG corp. Perusahaan milik Opa di England.


Kami tumbuh dengan julukan masing - masing. Sampai akhirnya saat Alexander berusia 9 tahun, Alexander pun di asing kan ke villa di pantai X. Karena ancaman dari pihak lawan. Kau pernah di ajak ke sana kan?" Devan melirik Jova yang mengangguk.


"Di sanalah dia menghabiskan masa remajanya. Setahun kemudian, asisten paling setia Papa, Randy Leonard mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya saat menjalankan tugas dari Papa. Istrinya terkena serangan jantung saat mendapat kabar itu. Dan ikut meninggalkan Rakha Leonard sebatang kara. Sejak saat itulah Rakha Leonard di angkat oleh Papa sebagai anaknya secara diam - diam dan ikut di rawat bersama Alexander di villa dengan orang tua asuh." Devan berhenti bercerita.


"Di sanalah, mereka berdua menghabiskan masa remaja mereka. Sampai mereka berusia 17 tahun barulah mereka menyusul ku ke England, untuk melanjutkan menempuh pendidikan perguruan tinggi. Dan di antara kami bertiga, Alexander lah yang lebih dahulu menyelesaikan S3 nya. Dua tahun lebih cepat dari aku dan Rakha. Kemudian Alexander mendirikan perusahaan sendiri di sana. Dengan dukungan Papa dan Opa. Dia mendulang sukses di usia muda."


Jova berjalan mendekati Devan, berdiri di


dekat jendela. Menatap dalam wajah Devan, mencoba mencari kebohongan cerita Devan. Tapi dia tidak menemukan.


"Lalu dimana Alexander sekarang?"


"Apa kau yakin ingin tau dimana Alexander sekarang berada?" Devan menatap intens wajah Jova.


Jova mengangguk pelan. Dengan segera devan mengambil ponselnya mendial satu nomor.


"Siapkan private jet sekarang!" ucap Devan melalui panggilan seluler.


"Siap, Tuan!" jawab Rakha di sebrang.

__ADS_1


Devan langsung mematikan ponselnya dan mengambil kunci mobilnya.


Private jet? memangnya dimana Alexander? batin Jova.


"Ayo!" ajak Devan pada Jova.


Jova reflek mengikuti langkah Devan. Saat melewati pintu 25B, Jova menatap pintu itu dengan seksama.


Brarti semua pintu di lantai ini milik keluarga Gibran, ucap Jova dalam hati.


Mereka memasuki lift bersama, berjalan beriringan sampai di parkiran mobil. Devan membuka pintu untuk Jova. Jova masuk dengan penuh pertanyaan dimana sebenarnya Alexander.


Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Bandara. Sesekali Jova melirik Devan yang menurutnya sangat mirip dengan Alexander.


"Sebenarnya dimana Alexander? ponselnya tidak aktif dari kemarin pagi"


"Nanti kau akan tau!"


Kenapa firasat ku jadi tidak enak seperti ini, batin Jova.


Mobil Devan sudah sampai di Bandara. Mereka segera di sambut orang - orang berpakaian hitam. Jova sudah hafal seragam itu. Mereka di arahkan menuju pesawat pribadi berlogo G.


Jova dan Devan menaiki tangga pesawat. Mereka duduk dan memasang seat belt masing - masing.


Pikiran Jova berkelana kemana - kemana. Di mana Alexander. Apa yang terjadi dengannya. Jova tidak tenang selama di dalam pesawat. Devan menyadari itu.


"Kenapa kamu? apa yang kau pikirkan?"


"Emm tidak. Aku hanya belum ijin Ayahku"


"Hah? kenapa?"


"Yang penting kau mau menemui Alexander. Aku akan melancarkan semua urusan yang kau tinggalkan!"


"Oh"


Jova menatap luar jendela, lalu menatap layar ponselnya yang menunjukkan foto Alexander. Beberapa kali dia menghembuskan nafas kasarnya.


Sampai pesawat mendarat di Bandara Changi Singapura. Tentu Jova hafal Bandara itu.


"Singapura?" tanya Jova pada Devan sebelum turun dari pesawat pribadi.


"Iya, setelah mengantarmu pulang dia langsung kembali ke Singapura!"


"Apa!" Jova kaget. "Kenapa?"


"Nanti kau akan tau!"


Jova semakin di buat bingung dengan penjelasan Devan yang tidak sepenuhnya.


"Jawablah dengan jelas Devan! jangan buat aku penuh pertanyaan seperti ini!" ucap tegas Jova.

__ADS_1


Mereka menuruni tangga dan berjalan menuju mobil yang sudah di siapkan untuk mereka.


"Kenapa? bukankah tadi kau marah padanya?" tanya Devan berjalan sedikit di depan Jova.


"Tch!!" kesal Jova.


Devan membuka pintu mobil untuk Jova. Jova masuk dengan menahan kesal pada Devan. Tapi Devan tak merasa bersalah sedikitpun.


Devan melajukan mobilnya meninggalkan Bandara. Devan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jova semakin di buat penasaran.


"Lalu saat acara pesta waktu itu, kau atau Alexander yang muncul?" tanya Jova.


"Itu aku!"


"Lalu yang menjemput ku?" Jova mengerutkan keningnya.


"Tentu saja aku!" menatap lembut mata Jova. "Kau ingat aku meminta fotomu? itu untuk aku kirim pada Alexander," ucap Devan menatap Jova.


"Pantas saja aku tidak merasakan chemistry seperti sebelumnya," Jova menunduk.


"Aku bahkan canggung berakting sebagai Alexander di depanmu untuk pertama kali"


Jova menunduk.


"Apa selama di Singapura, kau pernah mencari Alexander ke kamarnya tapi tidak menemukannya?" tanya Devan tanpa menoleh Jova.


"Pernah, dia bilang sedang lari pagi di luar hotel"


"Hah!" Devan tersenyum sinis. "Dia memang pandai menjaga perasaan orang yang di sayang!"


"Apa maksudmu?" Jova mengerutkan keningnya menatap tajam Devan di kursi sampingnya.


"Sebentar lagi kau akan tau kemana dia sebenarnya pergi!"


"Jangan main teka - teki seperti ini, bisa tidak!" tegas Jova.


Devan hanya melirik Jova dengan senyum sinisnya.


Sampai mobil Devan terparkir di parkiran VIP saat hari sudah petang.




Dimana ya Alexander Gibran sebenarnya?



Terima kasih buat teman - teman yang sudah meninggalkan Like dan Komentar.


Juga yang sudah memberi dukungannya.

__ADS_1



Salam Lovallena.


__ADS_2