I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Morning Kiss


__ADS_3

Sore hari Alexander masuk ke ruang kerjanya bersamaan Jova yang keluar dari kamarnya.


"Alexander?" panggil Jova saat melihat Alexander akan masuk ke ruang kerja.


Alexander yang sudah mendorong handle pintu menoleh pada Jova dengan raut muka seolah bilang "apa?"


"Kau mau aku masak kan apa untuk makan malam?"


""Terserah kau saja"


"Nasi goreng bagaimana?"


"Ya!" jawab Alexander cuek lalu masuk ke ruang kerja.


"Cuek amat batu karang" gumam Jova pelan, menyebikkan bibirnya.


Jova berjalan ke arah dapur dan mulai memasak nasi goreng andalannya.


40 menit berlalu, Jova sudah menyelesaikan masakannya dan memindah dari wajan ke mangkuk besar. Kemudian menghidangkan di meja makan. Dia sudah meletakan dua set alat makan di meja makan.


Tok Tok Tok


Jova mengetuk pintu ruang kerja Alexander.


"Masuk!" suara dari dalam.


Jova membuka pintu pelan, terlihat Alexander yang sibuk dengan laptop di depannya. Tampak jari jemarinya menekan tombol keyboard dengan cepat.


Oh Tuhan, Pemandangan macam apa ini. Kirimkan nafas untukku Tuhan, nafasku hampir terkuras habis. Rasanya aku mau pingsan saja. Ucap Jova dalam hati, matanya sama sekali tidak berkedip.


"Apa kau juga semakin bodoh saat berada di ruang kerjamu?" tanya Alexander yang menyadari Jova hanya menatapnya.


"Eh, em, tidak. Aku hanya mau tanya, apa kau mau makan sekarang atau nanti. Mumpung nasi gorengnya masih panas" ucap Jova yang matanya masih fokus pada kegiatan Alexander.


"Sekarang saja" jawab Alexander tanpa menoleh pada Jova.


"Baiklah" ucap Jova.


Sebelum keluar Jova mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kerja Alexander yang terlihat sangat rapi.


Banyak juga piala, piagam dan medalinya, batin Jova melihat almari khusus memajang prestasi yang pernah di raih Alexander.


Jova berjalan ke meja makan. Menunggu Alexander dengan memainkan ponselnya.


5 menit berlalu Alexander keluar dari ruang kerjanya. Menuju ke meja makan, terlihat Jova sedang asyik dengan ponselnya.


"Hai, duduklah" sapa Jova melihat Alexander berdiri di samping meja makan.


Alexander duduk, Jova mengambil nasi goreng untuk Alexander dan untuknya.


"Ayo makan" ucap Jova mengambil sendok dan garpu nya.


Alexander tidak menjawab, dia langsung menyendok nasi goreng dan mengunyahnya.


Sampai mereka selesai makan Alexander tidak bicara apapun. Dia berjalan naik ke kamarnya.


Kenapa dia? dari tadi diam saja. Batin Jova.


Jova membereskan meja makan dan mencuci piring bekas mereka.


Setelah selesai dia masuk ke kamarnya. Dia asyik bermain ponselnya. Hingga jam menunjukkan pukul 8 malam. Jova masuk ke kamar mandi dan mengganti bajunya dengan baju tidur warna hijau Army dengan motif bunga sakura. Lalu berbaring di ranjang dan mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


Alexander sedang duduk di kursi balkon kamarnya. Di sela - sela jari tangan kirinya ada sebatang rokok yang tinggal separuh. Tangan kanannya memegang ponselnya.


Tampak jari jempolnya menggeser ke kanan berulang kali, lalu balik menggeser ke arah kiri.


"Apartemen ini akan kembali sepi" gumam Alexander pelan.


"Aku selalu bertanya, siapa dirimu sebenarnya. Sampai detik ini aku belum mendapatkan jawaban" Ibu jarinya meraba foto Jova bersama dirinya yang ada di ponselnya. Foto yang di ambil saat dia berakting bersama Jova di ragunan. Lebih tepatnya dia sengaja menggoda Jova di ragunan saat itu.


Sudut bibirnya terangkat, saat mengingat hal konyol yang dia lakukan pada Jova. Ada banyak foto mereka berdua di ponsel Alexander.


Salah satunya Alexander sengaja memeluk erat Jova dari belakang, dan meletakkan pipinya di atas kepala Jova dengan menutup mata. Dan meminta di foto kan pengunjung lain.


Ada juga foto yang dia ambil secara selfi. Dia melingkarkan tangan kirinya di pundak Jova dan mencium pipi kanan Jova. Tangan kanannya mengambil gambar.


Dan masih banyak lagi foto lainnya, dan semua hasil foto yang di ambil Alexander melalui ponselnya terlihat pipi Jova merah merona. Alexander tersenyum lucu melihat raut wajah Jova.


Setelah puas melihat dan menggeser bolak balik foto sambil menghabiskan rokoknya, Alexander masuk ke kamarnya. Menuju walk in closet untuk ke kamar mandi lalu mengganti bajunya dengan baju tidur warna hijau army polos.


Keesokan paginya Jova keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Dia membawa ponsel dan sejumlah uang di tangannya. Dia duduk di sofa ruang tengah menunggu pesanan sarapannya datang sambil memainkan ponselnya.


Tok Tok Tok


Jova berdiri membuka pintu, menerima pesanannya dan membayarnya. Lalu membawa sarapannya ke meja makan. Dia menata rapi di sana dan menunggu Alexander turun.


Sampai jam 7 Alexander tidak terlihat turun. Jova naik ke atas mengetuk pintu Alexander.


Tok Tok Tok


Tidak ada jawaban.


Tokk Tokk Tokk


"Kemana dia? tidak biasanya dia bangun kesiangan seperti ini" gumam Jova


Tokk Tokk Tokk Tokk Tokk


"Apa aku masuk saja? kuliah jam setengah 9, dan dia belum bangun juga. Ini sudah jam 7 lebih. Tch!!!" Jova kebingungan di depan pintu. "Aku masuk saja lah!" ucap Jova.


Cekleekk


Terlihat Alexander masih bergelung di bawah selimut. Tertidur dengan pulas nya.


"Apa dia semalam dia tidur?" gumam Jova pelan.


"Alexander?" panggil Jova.


Alexander tidak bergeming.


"Alexander?" Jova mendekat ke ranjang.


Alexander tetap diam tak bergerak.


"Alexander?" Jova menggoyang lengan Alexander pelan.


Alexander masih bernafas teratur.


"Alexander!" panggil Jova dengan nada lebih tinggi dan menggoyang lengan Alexander.


"Alex ... , Aaahhh!!", tangan Jova di tarik kuat oleh Alexander. Jova reflek terjatuh di atas tubuh Alexander.


Alexander mendekap erat Jova di pelukannya tanpa membuka matanya. Wajah Jova tepat berada di samping wajah Alexander.

__ADS_1


"Hey!! lepas!" teriak Jova kesal. "Heeyy!!!"


Alexander seolah tak perduli dengan teriakan Jova. Dia semakin erat memeluk Jova.


"Alexander, aku sudah rapi! kau akan menghukum ku kalau aku terlambat ke kampus!"


Alexander melepas pelukannya pada Jova. Tapi matanya masih tertutup.


"Kau tidak ke kampus?" tanya Jova duduk di samping ranjang Alexander.


"Tidak!" jawab Alexander tanpa membuka mata.


"Kenapa?"


"Aku malas!"


"Sejak kapan kau jadi dosen pemalas?"


"Sejak hari ini!"


"Hah??" Jova mengerutkan keningnya, "kalau kau jadi pemalas kau tidak akan menghukum ku lagi?" tanya Jova menatap serius Alexander yang tak juga membuka matanya.


Alexander membuka matanya perlahan menangkap wajah Jova yang menatapnya. Lalu tersenyum tipis.


Yaa ampun, muka bantal mu tampan sekali sih. Ucap Jova dalam hati.


"Kau suka aku menghukum mu?" tanya Alexander.


"Tentu saja tidak. Tangan ku keriting menuruti hukuman dari mu" Jova memanyunkan bibirnya.


Alexander gemas sendiri melihat wajah Jova, dia bangun dan dengan cepat mencium sekilas pipi Jova.


"Heeey!! berani nya kau!" Jova memukul keras lengan Alexander. Yang di pukul malah tersenyum.


"Kau mau apa membangunkan ku?" tanya Alexander yang masih duduk di belakang Jova di atas ranjang.


"Aku menunggumu di bawah untuk sarapan, tapi kau tidak muncul juga. Jadi aku naik, tidak biasa nya kau bangun siang"


"Ya sudah, minggir aku mau mandi"


"Tch!!" Jova berdiri dengan kesal, "nyium orang sembarangan, sekarang ngusir orang seenaknya" Jova menyilangkan tangan di dada. "Aku tunggu di bawah!" ucap Jova berjalan keluar.


"Hemm" jawab Alexander tersenyum jail, lalu masuk ke walk in closet.


Jova berjalan menuruni anak tangga dengan senyum mengembang.


"Mimpi apa aku semalam, dapat morning kiss dari dosen tampanku itu. Aku sebenarnya suka di cium tanpa aba - aba seperti itu. Aaah, andai saja kau kekasihku!" Jova senyum - senyum sendiri sepanjang menuruni tangga.




Jangan lupa like, komen, dan dukungannya ya kawan!



Terima kasih,



Salam Lovallena.

__ADS_1


__ADS_2