
Menjelang malam semua keluarga inti Jova dan Alexander sudah siap dengan baju keluarga yang mereka siapkan untuk pesta. Jova sudah siap dengan dress nya, begitu juga Alexander.
Suasana Ballroom sudah ramai dengan beberapa tamu yang hadir. Lampu kelap - kelip menyala dengan indahnya. Tatanan bunga menambah kesan mewah pesta pernikahan sang pewaris.
Sesuai keinginan Mama Adelia, pesta sang putra di gelar begitu mewah. Tamu undangan mereka mencapai 2500 tamu undangan. Bagaimana tidak, Papa dan Ayah sama - sama memiliki teman dan client yang banyak, terutama Papa yang bisnisnya bertebaran di seluruh Indonesia.
Pesta di laksanakan mulai pukul tujuh malam, dan kini semua kelurga inti dan tamu yang sudah hadir berdiri berbaris menyambut Alexander dan Jova yang berjalan di red karpet menuju pelaminan.
Jova memegang erat lengan Alexander. Alex yang tidak pernah tersenyum di hadapan banyak orang, kini senyum kecil terbit di sepanjang mereka berjalan menuju pelaminan.
Jova, Alexander dan kedua orang tua mereka berdiri di atas pelaminan, menerima ucapan selamat dari tamu undangan yang hadir. Tampak kebahagiaan menyelimuti mereka. Tentu mereka akan lelah dengan pesta yang sedang berlangsung.
Di tempat lain, dengan kebaikan langka seorang Rakha Leonard malam ini, Indira sudah tampil cantik dan duduk manis di samping kemudi mobil Rakha. Ya! Rakha mengantarkan Indira untuk berdandan ke salon, khusus untuk acara pesta bosnya.
Rakha turun dari mobilnya, begitu juga Indira yang turun sendiri. Rakha berjalan cepat menuju pesta. Beberapa orang yang berpapasan dengan Rakha tentu akan menyapanya. Dan mereka yang tidak mengenal dan hanya sekedar tau, tentu hanya melihat bangga pada seorang Rakha. Terutama tamu undangan yang belum menikah. Indira berjalan memasuki ballroom dengan pelan, sedikit jauh di belakang Rakha.
"Sayang, sepertinya Rakha dan Indira datang bersamaan!" ucap Jova pada Alex setelah melihat Rakha dan Indira masuk hampir bersamaan.
"Memangnya kenapa?" tanya Alex melirik Jova di sampingnya.
"Ish!" Jova memukul pelan lengan Alex, "itu berarti bagus. Tidak sia - sia kita membuka jalan mereka untuk bersama"
"Owh!"
"Kok owh doang sih?" Jova mengerutkan keningnya.
"Memangnya aku harus bilang apa?" Alex mendekatkan kepalanya ke kepala Jova.
"Bilang awal yang baik atau apa kek! kamu gak ingin Rakha itu tobat?"
"Aku tidak peduli, terserah dia!"
"Sayang, kamu kok gitu sih!"
"Biarkan saja, yang penting kan kita sudah menikah" Alexander tersenyum jail pada Jova.
"Tapi itu juga atas bantuan mereka kita bisa menikah," ucap Jova, "kalau bukan karena bujukan Rakha, Indira dan Devan belum tentu aku tau kamu berobat di Singapura!"
"Hehe, iya iya. Maaf!"
"Kita harus berterima kasih pada mereka. Terutama Devan, dia sampai babak belur berantem dengan Bayu!"
"Oh, ya?"
"Iya, memangnya Devan tidak cerita sama kamu?"
"Tidak!"
"Wah! aku kira dia akan ngomel sama kamu!"
"Tidak akan berani!"
"Kenapa?" tanya Jova yang penasaran.
"Dulu waktu London, gara - gara dia suka gonta ganti teman kencan. aku yang babak belur gara - gara mirip dengannya!"
"Kok bisa?"
"Banyak wanita yang tidak terima di putus Devan. Dan saat melihat ku, mereka melampiaskan padaku, karena mengira aku Devan"
"Hah?" pekik Jova, "Haha kasian sekali kamu Sayang!"
Alexander hanya menyebikkan bibirnya, sambil melihat Rakha yang berjalan ke arahnya dan Indira sedikit jauh di belakangnya.
"Selamat ya, Bro! akhirnya kau nikah juga!" ucap Rakha menjabat tangan Alexander. "Aku pikir kau akan jomblo seumur hidup, mengingat kau tidak selalu menolak wanita yang mendekatimu!"
"Tch! kau ini!" Alex memukul lengan Rakha.
"Haha! kalau seandainya aku tidak menyaksikan sendiri saat pertama kali kau bertemu dengan Cantika, aku pasti menyakini kalau kau pecinta sesama jenis!"
__ADS_1
"Heh! berani kau mengatai aku!"
"Haha! peace!" Rakha mengangkat dua jarinya dan berpindah ke hadapan Jova.
"Selamat ya Jova! kau sudah menemukan orang yang tepat!"
"Terima kasih!" ucap Jova "kau juga segeralah menikah!"
"Tentu saja!" jawab cepat Rakha, "aku akan menikah kalau aku sudah menemukan yang tepat untukku!"
"Indira cocok dengan mu!" ucap Jova menunjuk Indira yang berdiri di antrian bawah pelaminan dengan menggerakkan sedikit dagunya.
Rakha reflek ikut melihat arah yang di tunjuk Jova.
"Tch!" kembali melihat Jova.
"Cantik kan?" tanya Jova.
"Biasa saja!" Rakha menyebikkan bibirnya, "sudahlah, aku turun!"
Rakha turun meninggalkan pelaminan pernikahan Jia dan Alex. Jova tersenyum melihat tingkah Rakha, yang masih saja jual mahal pada Indira.
Indira berganti mengucapkan selamat pada Alex dan Jova. Alex hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya. Dan Jova menerbitkan senyum bahagianya.
"Bagaiman perkembangan usahamu?"
"Baguslah pokoknya!"
"Serius?"
"He'em!"
"Selamat ya!"
"Iya!" ucap Indira cepat, "ya sudah aku turun ya!"
"Ok!"
Indira turun meninggalkan Jova dan Alexander yang masih harus menerima banyak ucapan selamat dari orang - orang yang mengantri.
"Tidak suka keramaian?" gumam Indira, "brarti dia pasti di tempat sepi!"
Indira berjalan keluar ballroom, menuju taman yang tadi. Benar saja, Indira melihat Rakha duduk sendiri di sana. Memandang lurus ke depan, dengan sebatang rokok di tangan kanannya.
Indira berjalan mendekat, tanpa aba - aba, Indira mencium pipi Rakha dari belakang. Membuat Rakha seketika menoleh melihat siapa yang berani mencium pipinya tanpa permisi. Terlihat Indira menyunggingkan senyum manisnya, membuat Rakha hanya menarik nafas kasar.
"Sepertinya kau benar - benar kurang kerjaan!" ucap Rakha.
"Hehe, iya!" jawab Indira. "Sebenarnya, kerjaan ku cuma satu!" Indira berjalan ke depan Rakha, "mengejar mu!" ucap Indira yang yang langsung duduk di pangkuan Rakha dan mengalungkan tangannya di leher Rakha.
Rakha hanya melihat gerak - gerik Indira tanpa memeluk balik Indira ataupun menolak kecerobohan Indira yang dengan berani duduk di pangkuannya tanpa permisi.
"Apa kau sama sekali tidak tertarik denganku?" tanya Indira, tapi Rakha diam saja. "Aku bahkan sampai membuat diriku tidak tau malu begini!"
"Bukan urusanku!" cuek Rakha.
"Tch!" memukul pelan lengan Rakha. "Tega sekali! padahal dengan wanita manapun yang mendekatimu kamu welcome!"
"Kau pikir aku keset!"
"Hah!" pekik Indira yang tidak menyangka dengan jawaban Rakha, "Hahaha setampan ini, masak keset!"
"Sebenarnya apa yang kau lihat dari ku?"
"Aku tidak tau! aku hanya menyukaimu, yang akhir - akhir ini entah bagaimana bisa berubah menjadi cinta!"
"Cinta?" Rakha mengerutkan keningnya, "Cih!" Rakha membuang mukanya ke arah lain.
"Kau belum pernah mengenal cinta yang tulus!"
"Setau ku, jika ada perempuan yang mendekati ku duluan, pasti karena uang!"
"Tapi aku tidak butuh uangmu!"
"Cih!"
__ADS_1
"Kalau karena uang, aku tidak akan mendekatimu yang hanya seorang Asisten!" tegas Indira, "banyak rekan bisnis Papa ku yang mendekati ku. Tapi sama sekali tidak yang bisa menarik hatiku!"
"Apa kau pikir aku percaya!" tanya Rakha menatap mata Indira.
"Kalaupun kau tidak percaya, aku akan menganggap mu percaya! haha"
"Tapi aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu!" ucap Rakha dingin.
"Aku yakin aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku!" jawab Indira tersenyum manis.
"Caranya?"
"Kita kan sangat jarang bertemu, mana bisa aku membuatmu jatuh cinta!"
"Lalu?" tanya Rakha sinis.
"Ijinkan aku tinggal di apartemen mu satu bulan saja!"
"Tidak!" jawab Rakha cepat, "kau pasti merepotkan" Rakha membuang mukanya.
"Boleh!"
"Tidak!"
"Kenapa kau suka sekali bilang tidak?"
"Memangnya kenapa?"
"Kali ini bilang boleh! OK!"
Rakha menatap tajam Indira yang justru menatap Rakha dengan senyumnya.
"Tetap tidak!" ucap Rakha dingin, "menyerah lah, aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu!"
"Tch! satu bulan saja!" Indira mengangkat jari telunjuknya di depan mata Rakha, "aku janji! jika dalan satu bulan kau tidak jatuh cinta padaku, aku akan pergi jauh dari hidupmu!"
Rakha hanya diam saja menatap Indira yang masih duduk di pangkuannya.
"Dan aku akan pura - pura tidak mengenalmu, jika kita tidak sengaja bertemu!" tambah Indira mencoba menawar.
"Okeh! dengan satu syarat!" ucap Rakha.
"Baiklah, katakan!"
"Kau juga harus membersihkan apartemenku! aku tidak suka apartemen ku kotor. Karena selama kau tinggal di apartemen aku tidak akan memanggil Cleaning Service sama sekali!"
"Setuju!" Indira memberikan jari kelingkingnya tanda setuju dengan perjanjian yang mereka buat.
Rakha menatap ragu jari kelingking Indira. Lalu menyambutnya dengan jari kelingkingnya.
"Baiklah, besok aku membawa barang - barang ku ke apartemen mu!" ucap Indira girang.
"Jangan! minggu depan saja!"
"Kenapa?"
"Seminggu ini pekerjaanku sangat banyak, karena Tuan Alexander harus libur satu minggu"
"Aku bisa membantumu kalau kau mau!"
"Tidak! kau pasti merepotkan!" ucap Rakha, "ingat! jangan temui aku sebelum hari sabtu depan!"
"Baiklah! mulai sabtu minggu depan!"
Rakha menyebikkan bibirnya menatap Indira yang terlihat sangat bahagia.
Tinggalkan Like dan Komentarnya ya ..
Terima kasih yang sudah memberi dukungan pada novel receh ini.
__ADS_1
Salam Lovallena.