I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Singapura 11


__ADS_3

"Sabtu besok aku pasti akan datang!"


"Apa jaminannya?" Indira mengangkat sebelah alisnya.


"Kau bisa minta pada Nona Jova untuk memohon pada Tuan Alexander agar memotong gaji ku sesuai keinginanmu!" ucap Rakha pasrah.


"Baik! deal!" ucap Indira tegas, "Aku akan meminta Jova agar Tuan Alexander memotong gaji Tuan Rakha sebesar 80% selama satu tahun!" Indira menebar senyum sejuta watt nya.


Rakha menganga mendengar ucapan Indira, matanya terbuka lebar menatap tajam pada Indira yang sama sekali tidak takut.


"Kau ingin membunuhku pelan - pelan!"


"Sayang sekali saya membunuh laki - laki setampan Tuan Rakha. Saya hanya ingin Tuan menepati janji!"


"Iya! iya! aku janji akan datang ke Cafe mu sabtu besok jam 4 sore sesuai persyaratan yang kau ajukan! sekarang keluarlah!" ucap Rakha menahan kesal.


"Ganteng - ganteng galak banget! hehe" ucap Indira, "saya akan menunggumu Tuan!" Indira tersenyum puas.


"Cepat keluar!"


"Baik! saya akan keluar!" Indira mengulurkan tangan.


"Tidak perlu berjabat tangan!"


"Ini sebagai tanda kesepakatan kita Tuan!"


"Hemhh!" Rakha menyambut tangan Indira dengan menghembuskan nafas kasarnya.


"Bye bye, Tuan!" Indira keluar dari ruangan dengan senyum penuh kepuasan.


Rakha menggebrak meja kerjanya pelan. Bingung harus berbuat apa.


"Sepertinya sudah tidak ada cara lain untuk menghindari gadis itu!" gumamnya, "dia benar - benar mengandalkan sahabatnya!"


# # # # # #


"Jova, terima kasih ya sudah bersedia menjaga Alexander. Kami harus kembali ke Indonesia" ucap Papa Alexander pada Jova, saat hari menjelang sore.


"Iya Pa, Sama - sama. Alexander pernah melakukan hal yang sama saat Jova koma"


Papa dan Mama tersenyum senang, mereka berdiri dari duduknya. Mama menghampiri Jova dan mencium pipi kanan dan kiri Jova. Jova merasa sangat terkejut.


"Kapan - kapan Mama akan ajak kamu belanja di tempat - tempat favorit Mama di sini" ucap Mama memegang kedua pundak Jova.


"Iya, Ma"


"Ya sudah, Mama pulang dulu ya sayang. Kabari kalau ada perkembangan kondisi Alexander"


"Iya, Ma. Mama tidak usah khawatir. Jova akan menjaga Alexander dengan baik" ucap Jova dengan senyum manisnya, yang di balas anggukkan oleh Mama.


Papa, Mama dan Devan sudah keluar dari ruang rawat Alexander. Jova masih tertegun dengan apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Seharian mereka berbincang seolah sudah lama akrab. Bahkan Mama Alexander seolah menganggap Jova anaknya sendiri.


Jova berjalan ke tempat tidur Alexander. Jova mencium kening Alexander. Mengusap lembut rambut Alexander. Lalu membaringkan dirinya di samping Alexander.


"Sayang, aku tidak menyangka orang seperti Tuan Haidar dan Nyonya Haidar sama sekali tidak memandang rendah gadis sepertiku. Aku pikir cinta kita akan terhalang oleh orang tua mu. Mengingat derajat keluarga mu di atas rata - rata umumnya," ucap Jova sambil membelai lembut pipi Alexander, "kapan kamu akan bangun? aku tak sabar melihat matamu ini terbuka" meraba mata Alexander.

__ADS_1


Jova turun dari tempat tidur, dia mengambil baju ganti dan mandi di kamar mandi yang ada di ruangan itu. Cukup lama dia di dalam kamar mandi. Setelah mandi dia mengusap rambutnya yang basah dengan handuk sambil berjalan keluar kamar mandi.


Mata Jova membulat sempurna saat melihat mata Alexander yang terbuka. Tubuh Jova bergetar, menatap tak percaya pada sepasang mata itu. Dia menjatuhkan handuk di tangannya. Berjalan pelan mendekati tempat tidur Alexander. Menatap tak percaya pada mata laki - laki tampan itu.


"Sayang, kau bangun?" air mata Jova menetes begitu saja.


Senyuman bercampur air mata tergambar di wajahnya. Jova memeluk tubuh Alexander, menyandarkan kepalanya di dada bidang itu. Tapi Alexander tak sedikitpun merespon. Matanya hanya berkedip beberapa kali, melihat sekitarnya. Tangan dan anggota tubuh lainnya tak sedikitpun bergerak.


Jova mengangkat kepalanya, menatap lembut wajah Alexander. Jova mencium setiap inchi wajah Alexander.


"Sayang, kau pasti masih bingung," ucap Jova, "aku akan memanggil dokter"


Jova menekan tombol di dinding untuk memanggil dokter atau perawat. Lalu kembali menatap wajah Alexander dengan senyum manisnya sampai Dokter datang bersama seorang Perawat.


"Permisi, Nona!"


"Silahkan, Dok!"


Jova mundur, sedikit menjauh dari tempat tidur Alexander. Jova masih merasa tidak percaya mata Alexander terbuka. Jova rasanya ingin terus dan terus menatap mata Alexander.


"Nona, Tuan Alexander belum sepenuhnya menyadari apa yang terjadi padanya selama koma," ucap Dokter setelah memeriksa, "Nona boleh mengajak Tuan Alexander bicara, tapi jangan terlalu banyak, di khawatirkan beliau akan semakin bingung. Semua akan kembali normal seiring berjalannya waktu"


"Baik, Dok! terima kasih!"


"Sama - sama, saya permisi, Nona!"


"Iya, Dok!"


Jova kembali memeluk Alexander, menatap lembut wajah Alexander. Jova berdiri di samping tempat tidur Alexander.


"Sayang, jangan buru - buru bicara. Kau mau bangun saja aku sudah bahagia" ucap Jova dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


Cukup lama momen saling tatap itu berlangsung. Sampai akhirnya Alexander membuka bibirnya.


"Mi.. num!"


Jova segera mengambilkan air minum di atas nakas untuk Alexander.


"Pelan - pelan" ucap Jova membantu Alexander untuk minum.


Setelah minum Alexander meminta untuk setengah duduk dengan menggunakan kode tangannya. Jova membuat tempat tidur Alexander menjadi setengah duduk.


Jova mengajak bicara Alexander, sedikit bercerita apa saja yang dia lakukan selama menunggu Alexander sadar dari komanya. Lama - lama Alexander mulai tersenyum tipis. Jova merasa semakin lega.


"Sayang, boleh aku minta nomor telpon Papa dan Mama mu?" tanya Jova, "tadi mereka dari sini, dan memintaku untuk menghubungi mereka kalau kau sadar. Tapi aku lupa tidak minta nomor ponselnya"


"Hemm" jawab Alexander dengan sedikit senyum di bibirnya.


Alexander membuka laci nakas, yang mana terdapat ponsel dan beberapa barang miliknya. Jova mengambil ponsel Alexander.


"Sandinya berapa, Sayang?"


"Sama seperti sandi apartemen"


"Oh" Jova tersenyum.

__ADS_1


Alhamdulillah, dia mulai berbicara, batin Jova


Jova mencari nomor kontak, dengan mengetik nama Mama, dan muncullah nomor bertulis Mama dengan emoticon love merah di belakangnya. Jova tersenyum samar melihat itu.


Jova segera mendial nomor ponsel Mama menggunakan ponsel Alexander.


Mama merasa bahagia mendapat kabar itu, mereka batal kembali ke Indonesia. Mobil yang dalam perjalanan ke Bandara Changi, pada akhirnya memilih untuk putar balik.


"Sayang, aku sampai lupa, belum menyisir rambutku" ucap Jova berjalan mencari sisirnya, dan menyisir rambutnya yang masih sedikit basah.


Setelah menyisir Jova kembali mendekati Alexander yang sedari tadi mengikuti gerak gerik Jova. Jova mengusap tangan Alexander yang berbaring dengan setengah duduk. Alexander meraih tangan Jova dan menggenggamnya erat. Jova merasa sangat senang.


"Katakan padaku kalau kau adalah Cantika!" ucap Alexander menatap Jova lembut.


Senyum di bibir Jova seketika menghilang, Jova menoleh kanan kiri dan tidak ada siapapun selain dirinya.


"Siapa Cantika?" tanya Jova bingung.


"Katakan padaku kalau kau adalah Cantika" Alexander mengulangi kalimatnya.


Jova merasa kesal, dia menarik cepat tangannya yang di genggam Alexander.


"Tidak mungkin kau tidak ingat aku kan? sedari tadi aku bicara padamu, aku yang menjagamu selama kau koma. Tapi kenapa yang kau ingat orang lain! siapa Cantika!" tanya Jova kesal, "apa gadis di masa lalu mu yang di ceritakan Devan?"


Jova berapi - api menunggu jawaban Alexander. Tapi Alexander hanya menatap Jova dengan senyum kecil di bibirnya. Jova mengeratkan giginya, menatap tajam pada Alexander.


"Cepat katakan, siapa Cantika!" Jova kesal bukan kepalang, "apa selama kau koma yang ada di ingatanmu hanya gadis itu? sampai kau menganggap aku Cantika mu itu!"


Alexander duduk, menyilangkan kakinya, lalu membuka laci nakas nomor dua. Mengeluarkan sebuah foto anak perempuan berusia sekitar 7 tahun berbaju pink. Dan sebuah album foto berwarna biru langit. Lalu menyodorkan itu pada Jova.


"Apa semudah itu kau melupakan nama Alexander!" ucap Alexander pelan.


Jova mengambil barang yang di sodorkan Alexander. Melihat selembar foto di atas album foto itu yang diketahuinya dengan jelas, itu foto siapa.


"Alexander?" gumam Jova pelan.


Jova ingat, saat pertama kali Alexander memintanya untuk memanggil Alexander tanpa kata Tuan dan Pak, Jova merasa ada yang aneh.


Jova memiringkan wajahnya, seketika ingatan Jova tertuju pada peristiwa sekitar 15 tahun yang lalu.




Maaf, baru up. Hari ini Author sedikit sibuk. hehe


Selamat membaca part ini ya, flashback nya di next episode.


Jangan lupa tinggalkan Like dan Dukungan lainnya ya teman - teman reader.



Terima kasih banyak.


__ADS_1


Salam Lovallena.


__ADS_2