
Mata Rakha yang menyapu seluruh ruangan itu, pada akhirnya berhenti pada seorang gadis cantik yang tengah berjalan memasuki pintu Ballroom menuju podium. Senyum Rakha tersungging begitu saja.
"Apa yang lucu Kak Rakha?" tanya Fellicya yang menyadari senyum Rakha, "kenapa kamu tersenyum?"
"Ah! tidak!" jawab Rakha menggeleng kecil. "Makanlah! sepertinya acara siap di mulai!" ucap Rakha.
"Iya!" jawab Fellicya.
Indira berjalan di atas karpet merah yang mengantarnya menuju podium tempat Jova tengah berdiri bersama Alexander. Indira sengaja tak menoleh ke arah manapun selain menyunggingkan senyum pada Jova yang sudah melihatnya dari jarak cukup jauh. Indira hanya takut jika secara tidak sengaja tatapannya menemukan siluet seorang Rakha. Laki - laki yang harus dia lupakan saat ini.
"Happy Birthday Girl!" ucap Indira dengan senyum yang terlihat sangat renyah, sambil cipika cipiki.
"Terima kasih, Ndi!" ucap Jova. "Aku pikir kamu akan datang bersama Bayu!"
"Bayu bilang dia akan datang terlambat!" jawab Indira.
"Oh! semoga saja kali ini dia benar - benar datang!" ucap Jova.
"Pasti!" sahut Indira.
"Eh! acara siap di mulai! yuk!" ucap Jova.
Indira turun dari podium bersamaan dengan MC yang menaiki podium. MC memandu kepada seluruh tamu undangan berdiri dan menyanyikan lagu Happy Birthday to You.
Indira berdiri di barisan paling depan, karena dia baru saja turun dari podium. Rakha dan Fellicya berjalan mendekati podium. Semua tamu mengitari podium. Jova berdiri di samping kue raksasa dengan hiasan bunga dan bentuk hati.
Jova tampak sangat bahagia dengan meriahnya pesta malam ini. Sebelum menyanyikan lagu ulang tahun. MC menyerahkan mic di tangannya pada Alexander.
"Assallammuallaikum wr. wb." sapa Alex.
"Wa'alaikum sallam wr. wb!" dahut serentak meteka yang sudah berdiri.
"Selamat malam! salam sejahtera, dan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang menyempatkan hadir pada pesta ulang tahun yang sederhana ini.
Selain untuk merayakan ulang tahun istri saya yang ke 23 tahun, sebenarnya acara ini sebagai kejutan untuk para keluarga dan sahabat yang sudah menunggu kabar bahagia dari kami."
Alexander menjeda sambutannya, dan mengeluarkan hasil scan USG Jova dari saku jasnya. Dan mengangkatnya menghadap depan.
"Dengan penuh syukur, kami di beri kepercayaan oleh Allah, untuk memiliki keturunan lebih cepat dari yang kami bayangkan!" ucap Alexander bangga dengan senyum mengembang.
Seluruh tamu undangan tampak membuka mulutnya terkejut, dengan senyum bahagia yang menyertai. Sontak saja suara tepuk tangan bergemuruh di dalam Ballroom itu. Sangat jelas terlihat di wajah mereka turut bahagia atas anugrah yang Jova dan Alex dapatkan.
Karena tamu yang di undang hanyalah keluarga dan sahabat dekat. Tentu saja kabar kehamilan Jova adalah kabar paling bahagia yang mereka dengar. Papa, Mama, Ayah, Ibu tampak sangat terkejut mendengar kabar akan memiliki cucu pertama mereka.
"Saya mohon, agar selain memberi do'a terbaik untuk istri saya, para keluarga dan sahabat berkenan memberi do'a terbaik untuk calon putra pertama kami.
Demikian sambutan singkat yang ingin saya sampaikan. Terima kasih.
Wassalamu'alaikum wr. wb!" tutup Alexander.
"Wa"alaikum salam wr. wb.!" jawab seluruh tamu undangan secara serentak.
MC mengarahkan pada seluruh tamu undangan untuk menyanyikan lagu happy birthday. Suara para tamu undangan menggema merdu di dalam Ballroom.
Sepanjang menyanyikan lagu Selamat ulang tahun di nyanyikan, Rakha berulang kali melihat Indira yang berdiri sedikit jauh di depannya. Mencoba mencari celah untuk bisa mendekati Indira, tapi Fellicya terus menempel padanya.
__ADS_1
Setelah acara tiup lilin dan potong kue, semua kembali ke kursi mereka, dan beberapa tamu lainnya mengambil hidangan yang sudah di siapkan.
Para keluarga menghampiri Jova untuk mengucapkan selamat sambil mengusap perut Jova.
"Fellicya, aku ambil dessert sebentar!" ucap Rakha.
"Oh, iya Kak!" jawab Fellicya, "aku juga mau ambil minum dulu!" lanjutnya yang di angguki oleh Rakha.
Setelah mengucapkan selamat pada Jova, Indira menghampiri meja hidangan dan berdiri di samping meja tempat salad di letakkan. Indira memilih rasa topping yanga kan di ambil.
"Hai!" sapa seseorang di sampingnya.
Indira segera menoleh nya dan langsung mengambil salad dengan topping coklat.
"Selamat malam, Tuan!" ucap Indira mengangguk sopan menghadap laki - laki itu.
"Ndi?" panggil Rakha lembut dengan suara sedikit berat.
"Saya permisi, Tuan!" pamit Indira dan berlalu dari hadapan Rakha.
Hati Rakha tercubit dengan perlakuan Indira yang baru kali ini dia temui setelah lebih dari satu minggu berpisah. Seolah ada yang retak dari hatinya. Rakha menatap punggung Indira yang menjauhinya.
Indira berjalan tanpa menoleh pada Rakha sedikitpun. Indira sengaja duduk meja yang jauh dari tempat Rakha sekarang berdiri. Indira duduk sambil memakan salad yang dia ambil di atas meja, sambil memainkan ponselnya.
# # # # # #
Brukk!!
"Eh!" pekik Fellicya saat seseorang menabraknya.
Fellicya langsung mengangkat kepalanya menatap orang yang menabraknya.
"Maaf, Nona! aku datang terlambat jadi ingin buru - buru menemui sang punya hajat!"
"Oh, iya tidak apa - apa" jawab Fellicya yang mendadak gugup, menatap mata orang itu.
"Perkenalkan!" ucapnya mengulurkan tangan, "Bayu!" lanjutnya.
"Fellicya!" ucap Fellicya menyambut uluran tangan Bayu.
"Aku menemui Jova dulu!" pamit Bayu melepas jabatan tangan mereka.
"Oh, iya silahkan!" jawab Fellicya gugup.
Bayu berjalan ke arah podium, Fellicya menatap kepergian Bayu dengan sedikit senyum samar di bibirnya.
Bayu berjalan mendekati Jova dan Alexander.
"Happy Birthday Princess!" ucap Bayu mengulurkan tangannya.
"Thanks Bay, kamu benar - benar datang!" ucap Jova.
"Sama - sama!" ucap Bayu, "maaf terlambat!"
"Yang penting kamu mau datang!" ucap Jova.
"Haha! iya! aku turun dulu nyari Indira!" pamit Bayu.
__ADS_1
"Ok, Bay!" jawab Jova.
# # # # # #
Dua hari setelah acara pesta meriah itu usai, Fellicya kembali ke Singapura, bersama orang tuanya.
"Eyang!" panggil Fellicya pada Eyang yang sedang duduk santai di taman belakang.
"Kau sudah pulang!" tanya Eyang.
"Iya, Eyang!" jawab Fellicya sambil duduk di samping Eyang, "Eyang tau! Jova hamil!" ucap Fellicya dengan sangat bangga dan gembira. "Fellicya tidak menyangka Jova akan hamil secepat ini, dan Eyang tau? Kak Alexander terlihat sangat bahagia. Bukan hanya Kak Alexander yang bahagia, Papa Haidar, Mama Adelia, Mom dan Dad juga sangat bahagia!" celoteh Fellicya dengan antusias.
Fellicya berhenti berceloteh saat menyadari ekspresi acuh yang di tunjukkan Eyang. Fellicya tau kenapa Eyang seperti itu.
"Eyang!" panggil Fellicya lembut, "apa Eyang tidak bahagia akan memiliki cicit?"
Eyang hanya membuang nafasnya kasar, seolah tidak menggubris celotehan Fellicya.
"Eyang! apa Eyang tidak melihat betapa bahagianya Kak Alexander semenjak bertemu Jova?" tanya Fellicya menahan gemas pada sifat Eyangnya itu.
"Busuknya gadis itu belum terlihat oleh Alexander!"
"Eyang!" pekik Fellicya menahan kesal. "Eyang! Jova itu gadis yang baik. Jangan memandang Jova dari segi harta Eyang," ucap Fellicya, "tidak semua orang kaya punya hati dan attitude yang baik!" lanjut Fellicya.
"Anak kecil sepertimu tau apa!" ketus Eyang.
"Sebaiknya Eyang memberi restu pada Kak Alexander dan Jova! Eyang tidak mau kan kehilangan cinta dari cucu - cucu Eyang!" ucap Fellicya yang mulai malas meladeni keteguhan hati Eyang.
"Aku akan merestui pernikahan mereka, kalau gadis miskin itu bisa memberiku cicit kembar sepasang!" ucap Eyang tegas.
"Eyang!" pekik Fellicya, lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Terserah Eyang sajalah! Fellicya capek menjelaskan hal seperti ini pada Eyang!" ucap Fellicya yang pasrah.
"Sebaiknya kamu masuk sana! jangan ikut campur urusan Eyang!" ucap Eyang.
"Baiklah!" jawab Fellicya sambil berdiri dari duduknya. "Semoga suatu saat Eyang tidak menyesal karena sudah mempersulit restu Eyang!" ucap Fellicya, kemudian berlalu dari taman belakang.
Kalau gadis miskin itu bisa hamil anak kembar sepasang, barulah aku akan datang ke Indonesia dan menghadap mereka secara langsung untuk memberi restuku! ucap Eyang dalam hati.
Kisah Rakha dan Indira lebih lengkapnya akan di munculkan di novel ***30 HARI MENGEJAR BADAI***.
Di sini hanya di kasih clue, biar penasaran, hehe.
Maaf Author jarang Up. Selain sibuk urusan rumah, juga sedang mempersiapkan judul yang tepat untuk kisah Devander Gibran yang tinggal di luar negeri. Karena kisahnya pasti tidak jauh dari free life.
Terima kasih yang sudah meninggalkan Like dan Komentarnya.
Salam Lovallena.
__ADS_1