
Sore hari menjelang malam Jovanka melajukan mobilnya menuju cafe sahabatnya. Dia memarkirkan mobilnya di parkiran depan cafe.
"Mbak, nasi goreng spesial 2 porsi, sama ice cappucino 1 cup dan hot cappucino 1 cup bawa pulang" ucap Jova pada kasir di depannya.
"Nasi goreng spesial 2 porsi, Ice cappucino 1, hot cappucino 1 cup totalnya Rp. 94.000 ,- " ucap kasir pada Jovanka.
Setelah membayar Jovanka duduk di kursi pengunjung. Indira yang melihat Jovanka duduk di cafenya segera menghampiri Jova.
"Jova! kau sendirian?" duduk di depan Jovanka.
"Eh, iyalah. Memang aku pernah datang kesini dengan orang lain?" tanya Jova melihat Indira di depannya.
"Sekarang kan kau tinggal dengan dosen super tampan dan tajir itu. Siapa tau kau mengajaknya kemari" ucap Indira dengan senyum menggoda Jova.
"Ah, mimpi kali!" ucap Jova memanyunkan bibirnya. "Ini dia aku belikan nasi goreng spesial ala cafe mu untuk makan malam"
"Semoga dia suka, biar dia sering ke sini, hehe"
"Sebegitu nya kau mengidolakan seorang Alexander"
"Bukan hanya aku dodol!" Indira menyentil dahi jova.
"Iya! Iya! aku tau itu"
Mereka mengobrol banyak hal, sampai waiters datang membawa pesanan Jovanka.
"Ndi, aku pulang ya?"
"Iya, thanks ya udah mampir"
"Iya, sama - sama" Jova berjalan keluar cafe menuju mobilnya.
# # # # # #
"Antar aku pulang!"
"Siap tuan muda!", jawab Rakha.
Rakha berjalan membuka pintu ruangan CEO dan mempersilahkan CEO nya keluar lebih dulu. Mereka berjalan beriringan menuruni lift. Tentu saja kantor sudah sepi. Hanya menyisakan security di depan lobby.
Rakha membawa mobil CEO nya ke depan lobby dan melajukan nya setelah CEO tampan itu naik ke mobilnya. Rakha membelah kemacetan jalan raya saat menjelang malam menuju apartemen sang CEO.
# # # # # #
Jovanka sampai di apartemen Alexander, dia meletakkan makanan yang dia bawa di meja makan dapur. Lalu masuk ke kamarnya untuk mandi dan mengganti bajunya.
Jova keluar kamar bersamaan dengan Alexander yang masuk ke apartemen.
"Hai!" sapa Jovanka. "Mandilah aku akan menyiapkan makan malam yang sudah aku beli untuk kita"
"Kenapa kau beli?" Alexander berjalan ke arah tangga.
"Aku lagi malas memasak" Jova tersenyum kikuk.
Alexander menaikkan sebelah bibirnya sambil menaiki tangga ke kamarnya.
Setelah 20 menit Alexander turun lagi sudah dengan baju rumahannya dan harum parfumnya yang menggiurkan hidung Jova.
Mereka duduk berdua di meja makan, Jova meyiapkan nasi goreng yang dia beli ke piring nya dan piring Alexander.
"Ayo makan! ini aku beli di cafe Indira. Rasanya dijamin yummy" Jova menaikkan kedua alisnya beberapa kali.
__ADS_1
Alexander tidak bergeming. Dia makan tanpa bersuara. Hanya suara sendok garpu yang bertabrakan dengan piringnya saja. Sampai makanan habis tidak ada suara di antara mereka.
"Kau suka tidak nasi gorengnya?" tanya Jova setelah meminum air di gelasnya.
"Biasa saja"
"Yaa ampun! terang - terangan amat sih"
"Lalu aku harus komentar apa?" tanyanya pada Jova di sampingnya.
"Bilang enak, suka, mantap, besok belikan lagi, atau kau tidak salah pilih menu makan malam atau apalah! mengecewakan!" ucap Jova kesal.
"Cerewet!" Alexander menutup mulut Jova dengan tangan kanannya.
"Eehhmm!" Jova memberontak, menarik tangan Alexander yang menutupi mulutnya. "Eehhmm!"
"Hahahaha" Alexander tertawa. "Mangkanya jangan cerewet!" ucap Alexander melepaskan tangannya dan berlalu pergi meninggalkan Jova di meja makan.
"Huuhh!!" Jova membuang nafas kasarnya. "Padahal aku menguasai ilmu bela diri, tapi kenapa aku tidak bisa melawan dosen batu itu! Apa karena dia setengah batu, jadi manusia sepertiku kesulitan melawannya" gumam Jova kesal.
Kemudian dia berdiri membereskan sisa makan malam mereka. Setelah mencuci piring dia masuk ke kamarnya, bermain dengan ponselnya hingga terlelap tanpa mengganti bajunya.
"Jova!"
Tok Tok Tok
"Jova!" Alexander menambah intonasi suaranya.
Tok tok tok Tok Tok
Ketukan pintu semakin keras, Jova mengerjap mendengar namanya di panggil beberapa kali.
"Jova!" Teriak Alexander di depan pintu kamar Jovanka.
"Kau mengantuk?" tanya Alexander dengan rasa tak berdosa nya.
"Tentu saja! ini kan tengah malam! Apa kau bodoh!" ucap Jova kesal.
"Berani sekali kau mengatai ku bodoh!" Alexander menatap tajam Jova.
Seketika nyali Jova menciut melihat tatapan mata Alexander.
"Emm.. Sorry" ucap Jova tersenyum. Mencoba merubah mimik wajah Alexander.
"Aku tidak bisa tidur!"
"Lalu?" tanya Jova bingung.
"Keluar! temani aku bermain game!"
"What!!!" pekik Jova. "Aku rasa kau benar - benar gila!" kesal Jova menutup pintunya. Tapi tangan kekar Alexander berhasil menahan pintu kamar Jova.
"Kalau kau menolak, brarti kau melanggar aturan perjanjian. Dan kau harus membayar 150 juta sekarang juga!" ancam Alexander tersenyum sinis.
Dan kini Alexander dan Jova duduk berdua di sofa ruang tengah.
"Aku tidak bisa bermain itu!" Jova menolak bermain PUBG di ponsel Alexander.
"Aku akan mengajarimu!"
"Tapi aku tidak tertarik untuk mempelajarinya!"
__ADS_1
"Mulai malam ini kau harus tertarik!"
"Aturan macam apa itu!"
"Ingat! kau harus menuruti perintahku selama 7 hari" Alexander menyentil dahi Jova.
"Heemmh!!!" Jova bersungut - sungut menghadapi Alexander malam ini.
Jova yang memang tidak tertarik dan tidak niat untuk belajar membuat Alexander kesal bukan kepalang. Karena Jova jadi begitu sulit di ajari.
"Otak mu ini isinya apa sih!" tangan kiri Alexander menunjuk - nunjuk kepala Jova yang bersandar di bahu kanannya karena menahan kantuk.
"Otak ku waktunya tidur dan kau malah menggangguku dengan game tidak jelas seperti ini!" Jova menggoyangkan kasar ponsel Alexander yang dia pegang dengan kedua tangannya.
"Bukan game nya yang tidak jelas, tapi kau terlalu bodoh!"
"Tch!!!" kesal Jova.
Jari - jari Jova masih mencoba memainkan game PUBG di ponsel Alexander. Terdengar suara teman - teman satu team nya kesal dengan akun Alexander yang harus tertembak berulang kali.
"Sudahlah, aku menyerah!" Jova mengembalikan ponsel Alexander. "Kau main saja sendiri, aku akan menemanimu di sini. Tapi aku tidur"
"Itu namanya bukan menemani. Tapi numpang tidur!"
"Hehe ayolah tuan Alexander yang tampan. Mataku tidak sanggup untuk di buka" Jova mencoba merayu Alexander.
"Bukalah matamu! besok kan libur. Kau bisa tidur sepuasnya!"
"Tapi aku tidak terbiasa tidak tidur di malam hariiiiiii" Jova kesal bukan kepalang.
Jova bergeser dan membaringkan tubuhnya di sofa. Kepalanya berada di dekat paha Alexander.
"Huuh!! dasar *****!" kesal Alexander karena Jova sudah tertidur pulas.
Alexander bermain sendiri hingga ia tertidur juga di sofa itu. Kepalanya dekat dengan kepala Jovanka.
Hingga jam dinding menunjukkan pukul 8 pagi mereka berdua masih tertidur pulas di sofa ruang tengah.
Brruukkk!
Jova terjatuh dari sofa saat mencoba mengubah posisi tidurnya.
"Astaga! aku lupa tidur di sofa!" umpat Jova kesal. "Dia tidur di sini juga! untung dia tidak tau aku jatuh."
Bela - belain begadang tengah malam nih, biar bisa up 3 episode. heheh
Selamat membaca para reader setia ku.
Jangan lupa tinggalkan Like, Komentar dan Mohon vote nya dong.
Terima kasih,
__ADS_1
Salam Lovallena