
"Berdasarkan pemeriksaan denyut nadi Nona Jovanka, sepertinya Nona Jovanka sedang hamil Tuan," jelas Dokter itu.
"Hamil?" tanya Alex meyakinkan apa yang dia dengar.
"Iya, Tuan!" jawab Dokter itu, "untuk lebih memastikan, sebaiknya Nona di bawa ke Dokter Obgym setelah Nona Jovanka sadar." lanjut Dokter.
"Kau tidak membohongi ku kan!" tanya Alex tegas.
"Saya hanya memeriksa berdasarkan denyut nadi Nona Jovanka, Tuan!" jelas Dokter. "Denyut nadi Nona Jovanka sama persis denyut nadi wanita hamil. Jadi kemungkinan Nona sedang hamil muda dan mungkin belum menunjukkan tanda - tanda." jelas Dokter lagi.
Alexander menatap wajah Jova dengan senyum yang mengembang mengusap lembut kepala Jova dan mencium keningnya lama, dan mengusap lembut perut Jova yang masih rata. Dokter yang memeriksa terlihat ikut senang melihat Alexander seperti itu.
Semoga saja prediksi ku benar! batin sang Dokter.
"Semoga kabar ini benar adanya, Sayang!" bisik Alexander dengan senyum bahagia yang tidak bisa dia tutupi.
"Saya permisi Tuan muda!" pamit Dokter.
"Hemm!" jawab Alexander cuek.
"Saya akan memberi tembusan pada Dokter Obgym, agar mempersiapkan diri dan alat mereka untuk Nona Jovanka."
"Iya!" jawab Alex, "dan Ingat! jangan beri tahu tahu pada siapapun tentang hal ini!"
"Baik, Tuan muda!"
"Hanya kau dan Dokter Obgym itu saja yang tau!" ucap Alex tegas, "dan tunjukkan aku jalan khusus untuk masuk ke ruang Dokter kandungan!"
"Baik, Tuan!"
Dokter itu keluar dari ruang rawat Jova, dengan harapan semoga Jova benar - benar sedang hamil. Meskipun dia tidak pernah salah mendiagnosa denyut nadi wanita yang sedang hamil muda. Tapi tetap saja, dia merasa takut, karena berhadapan langsung dengan sang pemilik Rumah Sakit.
# # # # # #
Di gudang Rusun, Rakha berdiri tegap dengan tatapan yang sangat tajam menghadap seseorang yang di ikat di kursi kayu. Para pengawal baik yang sedang bertugas atau pun bahkan yang seharusnya libur, kali ini berjajar melingkar mengeliling Rakha dan tersangka penabrakan. Melihat wajahnya saja, Rakha sudah tau kalau kecelakaan itu di sengaja.
Rusun yang di maksud adalah Rusun yang di bangun oleh pendiri Group G, alias Tuan besar Haidar Gibran sebagai fasilitas tempat tinggal khusus para Pengawal dan Security yang bertugas di kantor pusat Group G. Sebagai ucapan terima kasih atas kerja keras mereka memberi pengamanan pada perusahaan dan keluarga besar Haidar Gibran. Setiap Pengawal memiliki satu ruang, dan bisa di tempati bersama keluarga bagi yang sudah menikah. Mereka bisa menempati selama mereka masih bekerja.
Rusun itu mencapai 250 kamar, karena itulah jumlah Security dan Pengawal. Di belakang Rusun itu terdapat gudang atau lebih tepatnya seperti ruang luas yang kosong. Tapi semua menyebut ruangan itu sebagai gudang. Yang biasa di gunakan untuk menghakimi para pecundang sebelum akhirnya di serahkan pada hukum atau pun di asing kan ke pedalaman.
Jika dulu Tuan besar Haidar Gibran dan Asistennya yang menghakimi musuh mereka di sana. Maka sekarang Alexander dan Rakha yang berkuasa penuh untuk menghakimi musuh mereka di sana.
"Aku tidak tau, hukuman apa yang pantas untuk di jatuhkan padamu!" ucap Rakha dengan nada dingin sambil mengeratkan giginya menatap tajam ke arah depan. "Sebenarnya apa yang kau inginkan!" tanya Rakha tegas.
"Jika aku tidak bisa mendapatkan Alexander, maka tak satupun yang boleh memilikinya! termasuk Jovanka sialan itu! selama perempuan itu masih hidup aku akan terus mengganggunya!"
"Terlambat bodoh!" ucap Rakha menekan kata terlambat, "kau sudah berada di tanganku! itu artinya semua rencana gila mu itu sudah tidak ada artinya!" tegas Rakha berapi - api.
"Kau salah!" ucap Carissa, "aku masih punya pesuruh untuk mengganggu hidup Jovanka!" ucap Carissa tersenyum sinis.
"Maksudmu Julie si Dosen tidak tau malu itu!" tanya Rakha yakin.
Seketika raut wajah Carissa berubah. Dia tidak menyangka Rakha tau semua hal tentang dirinya. Bahkan tentang hubungannya dengan Julie sekalipun. Melihat raut wajah Carissa, Rakha tersenyum sinis.
"Kau pikir aku tidak tau apa hubunganmu dengan Julie?" tanya Rakha sinis, "bawa Julie Vamana kesini sekarang juga!" perintah Rakha pada dua Pengawal yang di tatapnya tajam.
"Siap, Tuan!" ucap mereka bersamaan, dan berlalu dari gudang itu.
"Hah! sial!" pekik Carissa pelan.
Rakha masih berdiri dengan tatapan sinis pada Carissa yang nyalinya mulai menciut.
"Katakan!" ucap Rakha, "apa masih ada pesuruh andalan mu di luar sana? hemm?" tanya Rakha sinis. "Kekasihmu?" tanyanya lagi. "Kekasihmu dalam perjalanan di jemput kepolisian karena kasus Narkotika. Apa kau belum tau kabar itu?" ucap Rakha.
"Apa!" pekik Carissa.
__ADS_1
"Hahahaha!" Tawa Rakha lantang, "Carissa..Carissa! sial sekali kau hari ini!"
"Rakha!" panggil Carissa lembut, "kau bisa meminta semua Pengawal mu keluar? aku ingin bicara padamu!"
"Tidak!" jawab Rakha cepat dan tegas. "Kau ingin mengeluarkan jurus terakhirmu kan?" tanya Rakha sinis, "aku tidak bodoh Carissa! aku tidak akan tergiur dengan tubuhmu yang menjijikan itu!" ucap Rakha penuh penekanan.
"Kau belum mencobanya! bagaimana kau bisa berkata seperti itu?" ucap Carissa memberanikan diri.
"Tubuh seorang wanita yang sudah berulang kali di nikmati laki - laki yang berbeda, apa itu tidak menjijikkan?" tanya Rakha dengan tatapan jijik. "Aku masih perjaka! kalau aku mau, di apartemen ku ada gadis perawan cantik yang mengejar - ngejar ku!" ucap Rakha. "Kalau darah perawan saja tidak bisa menghancurkan pertahanan ku! apalagi barang kotor mu itu!" lanjut Rakha, "mereka saja belum tentu mau dengan mu, apalagi aku! Cih!" Rakha menunjuk para Pengawalnya.
Carissa menelan ludahnya dengan sangat susah. Sepertinya dia benar - benar menemui jalan buntu. Tidak ada lagi celah baginya untuk bisa lolos dari hukuman yang akan dia terima dari Alexander. Carissa diam seribu bahasa, dia sudak kehabisan kata - kata untuk melawan Rakha.
"Kau tunggu saja keputusan Tuan muda Alexander!" ucap Rakha, kemudian berlalu dari gudang itu. "Awasi dia! dan satu lagi yang akan datang!" ucap Rakha pada Kepala Pengawal.
"Baik, Tuan!" ucap Kepala Pengawal.
# # # # # #
Di rumah sakit, Jova mengerjapkan matanya yang silau oleh cahaya ruangan.
"Sayang?" panggil Alex dengan sangat lembut.
Jova tidak menjawab, dia masih mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi. Jova mencoba mencari jawaban dengan melihat suaminya dan mengedarkan pandangan matanya ke seisi ruangan itu.
"Sayang? kamu mau minum?" tanya Alex yang di angguki Jova. "Sebentar" ucap Alex sambil mengubah posisi tempat tidur Jova menjadi sedikit duduk. Setelah itu mengambil air dan membantu Jova untuk meminumnya. "Pelan - pelan Sayang!"
"Sayang, aku ingat tadi mobil ku tertabrak dari arah belakang," ucap Jova.
"Iya, Sayang!" jawab Alex mengusap lembut puncak kepala Jova.
"Siapa yang membawa ku ke sini? dan siapa yang memberi tau kamu?"
"Pengawal yang aku tugaskan untuk mengikuti mu"
"Kamu tidak perlu menghawatirkan itu semua! Rakha audah mengurusnya! dan tidak ada yang tau kalau yang kecelakaan adalah istriku!"
"Oh!" Jova mengangguk.
"Sayang? kamu lapar?" tanya Alex yang di angguki Jova, "aku suapi, aku menyiapkan makan siang untuk kita! kita makan berdua ya?"
"He'em!" Jova mengangguk.
Alexander mulai menyuapi satu persatu ke mulut Jova dan mulutnya secara bergantian. Setelah semua makan siang mereka habis, Alex mengambilkan minum untuk Jova.
Setelah itu Alexander menekan tombol untuk memanggil dokter. Beberapa saat kemudian dokter datang, dan mulai memeriksa keadaan Jova.
"Sudah membaik!" ucap Dokter, "apa Tuan ingin memeriksakan sekarang?" tanya Dokter iya.
"Iya!" jawab Alex singkat.
"Baiklah, Tuan" jawab Dokter, "Suster tolong ambilkan kursi roda itu!"
"Baik, Dokter!"
Alexander mengangkat tubuh Jova dan memindahkannya ke kursi roda.
"Kita mau kemana, Sayang?" tanya Jova.
"Kamu akan tau nanti!" jawab Alex dengan senyum bahagianya.
Alex mendorong Jova untuk menuju ruang Kandungan melalui pintu dalam. Agar tak ada yang melihat kehadiran mereka dan menjadikan artikel.
"Sayang, kenapa kita ke sini?" tanya Jova setelah sampai.
Alex menunduk dan berbisik kecil di telinga Jova.
__ADS_1
"Aku ingin tau apa yang ada di dalam perutmu!" ucap Alex dengan senyum manisnya, membuat Jova mengerutkan keningnya karena bingung.
Alexander mengangkat tubuh Jova dan meletakkannya di atas tempat tidur pasien.
"Selamat siang, Tuan muda dan Nona muda!" sapa Dokter Obgym yang bertugas.
"Siang, Dokter!" jawab Jova yang sudah berbaring di atas tempat tidur.
"Saya akan memeriksa keadaan Nona, untuk memastikan ada kehidupan baru atau tidak di dalam rahim Nona Jovanka."
"Iya, Dok!"
Dokter mulai mengoleskan gel ke perut Jova yang masih rata. Alexander memperhatikan semua itu dengan hati yang bergetar. Tentu saja mengharapkan hasil yang baik. Dokter mulai mengusap perut Jova dengan alat USG.
"Benar, Tuan!" ucap Dokter, "Nona Jovanka sedang hamil, dan usianya baru dua minggu."
"Apa?" pekik Jova.
"Sayang, kamu hamil!" ucap Alex mencium kening Jova, dengan senyum bahagia nya.
"Tuan bisa lihat di sini, ini adalah janin yang belum terbentuk!"
"Hemm!" jawab Alex menggenggam tangan Jova.
"Janin Nona Jovanka sangat kuat rupanya!" ucap Dokter, "dengan guncangan seperti tadi, dia tetap bertahan. Selamat atas kehamilannya ya Nona Jovanka!" ucap Dokter itu.
"Terima kasih, Dokter!"
"Ingat! jangan beritahu siapapun tentang hal ini!" ucap Alex tegas pada Dokter Obgym.
"Iya, Tuan! saya mengerti!" ucap Dokter itu.
"Memangnya kenapa, Sayang?" tanya Jova.
"Terlalu dini untuk menjadi berita, Sayang! kehamilan mu bisa - bisa menjadi topik hangat oleh para pencari berita." jelas Alex.
"Oh, iya juga sih!"
"Baiklah, saya akan buatkan resep untuk menjaga keadaan Nona Jovanka" ucap Dokter.
"Iya, Dokter!" jawab Jova.
.
.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan Like setelah membaca ya Kakak. Like itu satu - satunya penyemangat Author buat Up. Karena bagi Author itu adalah penghargaan atas jerih payah Author ngetik kata - perkata, hehe.
Terima kasih,
Salam Lovallena.
__ADS_1