I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Bukan Jinny oh Jinny


__ADS_3

Alexander membuka pintu pelan - pelan. Terlihatlah Jova yang sedang menggunakan salah satu alat fitness. Alexander berjalan mendekati Jova yang tampak sangat fokus. Keringat mulai terlihat di leher Jova.


"Kenapa kau tidak mengajakku?" tanya Alexander.


Jova melirik Alexander yang sedang berbicara padanya. Lalu menghentikan kegiatannya.


"Aku malas denganmu. Kau menyebalkan!" ketus Jova.


Alexander hanya menyebikkan bibirnya. Alexander tersenyum tipis memperhatikan Jova yang berpindah alat fitness, tapi tampak bingung dengan alat yang dia dekati.


"Dari pada kau diam di situ, lebih baik ajari aku cara menggunakan ini" Jova menunjuk alat di depannya.


"Berani membayar ku berapa kau meminta ku mengajarimu? Kau bahkan sudah menggunakan alat fitness ku tanpa izin," ucap Alexander santai menyilangkan tangan di dadanya.


Jova mendengus kesal mendekati Alexander, dan berdiri menyilangkan tangan di dadanya.


"Dasar orang kaya pelit! Huh!!"


Jova melangkahkan kakinya meninggalkan Alexander. Baru satu langkah tangan kiri Alexander menarik tangan kanan Jova.


"Kenapa kau marah? aku hanya bercanda. Ayo!"


Jova tersenyum mengikuti langkah Alexander. Alexander mengajari beberapa cara menggunakan alat Gym. Setelah Jova paham dengan latihan yang dia berikan, akhirnya dia pun melepas kaos yang melekat di badannya dan mulai berolah raga sendiri.


Terpampang jelas tubuh atletis Alexander yang menggiurkan kaum hawa. Tak sedikit pun pandangan mata Jova lepas dari tubuh indah Alexander. Perutnya yang sixpack membuat Jova gemas sendiri.


Sial! aku bisa mati berdiri kalau harus melihat yang beginian terus - terusan. Ucap Jova dalam hati.


Jova tidak lagi fokus dengan kegiatannya. Dia turun dari alat olah raga yang sedang dia gunakan. Dia berdiri mendekati dinding. Dia seakan tidak sanggup melihat keringat yang mulai menetes di pelipis Alexander. Dan badan Alexander yang mulai basah oleh keringat.


"Apa yang kau lakukan di situ?" tanya Alexander ketus.


"Emm, tidak, aku.. hanya.. merasa cukup fitness nya," jawab Jova terbata - bata karena gugup. "Sepertinya aku mau mandi saja, lalu masak untuk makan malam" Jova salah tingkah, padahal tadi dia tidak berniat untuk masak karena malas.


"Aku sudah pesan makan malam, nanti di antar jam 7. Kau tidak perlu memasak!" ucap Alexander berdiri dari alat olah raganya.


"Oh, ya sudah kalau begitu, aku mau mandi saja" ucap Jova tersenyum pada Alexander.


"Lanjutkan saja fitness mu!" tambah Jova lalu berlalu dari ruangan fitness tanpa menunggu jawaban Alexander.


Aku bisa pingsan di sana kalau berlama - lama melihatnya seperti itu. Batin Jova saat menuruni tangga.


Alexander berjalan keluar meninggalkan tempat gym lalu masuk ke kamarnya. Mengeringkan keringatnya di balkon kamarnya dengan bermain ponsel.


Hari menjelang gelap, Alexander masuk ke kamar mandi untuk mandi lalu mengganti baju. Setelah itu dia berjalan keluar kamar, menuruni tangga dan duduk di ruang tengah sambil memainkan game di ponselnya.


Jova keluar dari kamarnya. Dia duduk di sofa yang sama dengan Alexander. Dia mengintip ponsel yang di pegang Alexander.

__ADS_1


"Kau sudah tua begini masih saja suka main game!"


"Memang game ada batasan usia?"


"Tidak juga sih," Jova menyebikkan bibirnya. "Game itu sama seperti yang di mainkan adik ku. Aku rasa pantas kalau seumuran dia main game. Sementara kau, sudah tua belum menikah pula" sindir Jova.


"Apa hubungannya? Papa ku saja masih suka main game!"


"Eh iya, dimana Papa mu?"


"Kenapa?"


"Aku hanya bertanya. Dimana Papa dan Mama mu?"


"Kau mau apa mencari mereka?"


"Tch!! Aku hanya ingin tau, apa keluargamu di Indonesia atau di luar negeri?"


"Apa urusanmu?" ketus Alexander


"Jawab saja apa susahnya sih!" kesal Jova mengepalkan kedua tangannya menghadap Alexander.


Benar - benar butuh kesabaran menghadapi manusia batu satu ini! batin Jova.


Alexander hanya tersenyum kecil melirik sekilas Jova yang kesal.


"Sama! aku juga tidak pernah melihatmu menghubungi orang tua mu" ucap Alexander tanpa melihat Jova.


"Tapi kan aku pulang beberapa hari yang lalu!" Jova menjulurkan lidahnya.


Alexander tak bergeming, dia hanya menaikkan sebelah sudut bibirnya malas.


"Ayolah Alexander yang tampan! kau kan meminta ku memanggilmu Alexander saat di luar kampus. Itu sama artinya kau meminta ku untuk menjadi temanmu"


Jova berusaha keras untuk mengorek jauh tentang sosok misterius Alexander yang terlihat hanya sebagai dosen. Tapi semua yang dia miliki adalah barang - barang mewah.


"Aku tidak meminta mu untuk jadi teman ku"


"Tapi kalau kau menganggap aku pembantu mu, kenapa kau malah meminta ku memanggilmu Alexander. Bahkan aku tidak pernah membersihkan apartemen ini tapi selalu terlihat bersih dan rapi. Aku yakin kau punya pembantu lain yang membersihkan tempat ini saat aku tidak ada kan? Kau membuat aku tinggal di sini dengan catatan menjadi pelayan. Tapi aku tidak merasa kau memperlakukan aku sebagai pelayan. Itu artinya kau menganggap aku teman. Iya kan?" Jelas Jova panjang lebar.


Tapi yang di ajak bicara hanya fokus pada game yang sedang dia mainkan. Jova memiringkan kepalanya menatap intens wajah Alexander yang tidak menunjukkan ekspresi apapun.


"Eghm!!" Jova memukul lengan Alexander kesal.


"Kau ini kenapa?" tanya Alexander melirik Jova sekilas.


"Aku bicara panjang kali lebar kali tinggi dan kali kali lainnya, tapi kau sama sekali tidak mendengar!" Jova menyilangkan tangan di dada dan menyandarkan punggungnya di sofa dengan kesal.

__ADS_1


"Aku tidak memintamu bicara pajang lebar, kau sendiri yang ingin," jawab Alexander cuek.


Oh Tuhan, aku ingin tertawa kesal saja tapi aku juga ingin memukul wajah tampan bin menyebalkan itu! ucap Jova dalam hati.


Dia menatap tajam pada Alexander di sisi kanannya dengan nafas naik turun. Tapi yang di tatap sama sekali tidak merasa berdosa.


"Dasar batu!" umpat Jova kesal.


"Kenapa kau selalu mengatai aku batu!" Alexander menoleh pada Jova. "Mama ku melahirkan ku susah payah agar aku selamat. Dan kau mengatai ku batu. Apa itu artinya kau mengatai Mama ku melahirkan batu?" menatap Jova seolah mengintimidasi, mencari jawaban yang pasti.


"Bukan begitu" Jova merasa bersalah. " Aku mengatai mu batu karena batu tidak bisa di ajak bicara. Sama seperti dirimu!" kesal Jova.


"Tch!" kesal Alexander. "Bertanyalah aku akan menjawab" Alexander kembali fokus pada ponselnya.


Saatnya mencari tau siapa dirimu sebenarnya. Ucap Jova dalam hati dengan senyum penuh arti.


"Aku hanya ingin tau dimana Papa dan Mama mu?" tanya Jova dengan mata berbinar menunggu jawaban Alexander.


"Di rumahnya lah! masak di kerang. Apa kau bodoh hal seperti itu di tanyakan" jawab Alexander merasa tak bersalah sedikitpun.


Jova yang menatap Alexander, menganga tak percaya dengan jawaban Alexander yang di luar dugaan. Jova menganga untuk beberapa saat.


"Eghm!" Jova kembali memukul lengan Alexander dengan kesal yang semakin bertambah.


"Kau ini kenapa lagi? Pertanyaan mu sudah aku jawab. Salah ku di mana?" ucap Alexander menatap Jova di sampingnya.


"Aku juga tau kalau orang tua mu di rumahnya. Aku juga tau orang tua mu manusia bukan Jinny oh Jinny. Maksud ku apa dia tinggal di Indonesia atau di luar negeri? begitu!" jelas Jova kesal tiada tara.


"Kenapa kau tidak bilang. Kau hanya bertanya dimana Papa dan Mama ku!"


"Sekarang jawablah. Jangan banyak cincong!" Jova sudah tidak sabar menghadapi Alexander yang seolah sengaja membuat obrolan mereka berputar - putar tidak karuan.




Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar ya teman - teman, kakak - kakak dan adik - adik..


Semoga semua di beri kesehatan di tengah pandemi ini. Aamiin.



Terima kasih,



Salam Lovallena.

__ADS_1


__ADS_2