I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Diluar Dugaan


__ADS_3

"Sudah, kau bawa semua laporan ini. Aku harus pulang!" ucap Jova setelah menandatangi laporan yang perlu dia tandatangani.


"Baik, nona," jawab Mira. "Emm, Nona jangan lupa besok ada meeting dengan tuan Hasan jam setengah 10 pagi!" lanjutnya.


"Emm, Ok!" jawab Jova setelah berfikir sebentar. Lalu mengambil tasnya, dan berjalan keluar bersama Mira.


# # # # # #


Jova sudah melajukan mobilnya meninggalkan gedung perkantoran nya.


"Sebenarnya jam setengah 11 besok kan ada mata kuliah dosen batu itu. Tapi aku sudah tidak perduli. Penghinaan nya benar - benar membuat ku sakit hati," gumam Jova.


Saat fokus mengemudi, matanya secara tidak sengaja menangkap wajah yang sangat dia kenali di samping pedagang kaki lima. Dia spontan memarkirkan mobilnya di tepi jalan.


"Sebenarnya apa yang dia lakukan dengan pedagang kaki lima? kenapa aku sering sekali bertemu dia di tempat - tempat pedagang kaki lima. Padahal dia terlihat seperti orang yang punya level tinggi!" gumamnya.


Dia mengambil masker, topi dan kaca mata hitam dari dasboard, serta memakai jaket putih. Lalu keluar dari mobilnya mendekati pedagang kaki lima dimana laki - laki itu sedang duduk di kursi plastik menunggu pesanan.


"Tuan, ini pesanan tuan sudah siap," ucap sang pedagang.


"Hemm, berapa semuanya?"


"125 ribu, tuan"


Laki - laki itu mengeluarkan uang beberapa lembar ratusan ribu dan menyerahkan uang itu ke pedagang kaki lima dan berlalu pergi. Sang pedagang mengejar Laki - laki itu.


"Tuan, ini uangnya kebanyakan"


"Ambil saja!"


"Apa saya tidak salah dengar tuan?"


"Tidak, berikan itu untuk keluargamu"


"Terima kasih banyak tuan, semoga tuan di mudahkan rezekinya," pedagang itu tampak sangat bahagia dan terlihat tak henti bersyukur.


"Aamiin," jawab laki - laki itu melanjutkan langkahnya.


Jova sedikit kaget, tapi dengan cepat dia menguasai dirinya. Lalu mengikuti langkah kaki laki - laki itu, karena laki - laki itu melewati mobil yang dikenal Jova secara pasti bahwa mobil itu milik laki - laki di depannya.


Laki - laki itu berhenti di sebuah gubuk kecil yang mana banyak sekali terlihat anak kecil dan para pengamen. Terlihat ada 4 anak kecil, 3 remaja dan 4 orang dewasa. Dia menyerahkan kresek berisi makanan yang dia beli kepada mereka. Spontan mereka semua yang ada di sana saling berebut.


Jova melihat dari jarak yang cukup aman, tapi masih bisa melihat jelas suasana di sana.


"Di balik sifat angkuhnya, ternyata pak Alex berhati mulia," gumamnya pelan. "Sepertinya aku salah menilai selama ini."


Terlihat Alex akan kembali. Jova segera balik badan dan berlari menuju mobilnya. Dan segera menaiki mobilnya, melepas jaket, topi, kaca mata dan maskernya. Segera melajukan mobilnya meninggalkan deretan pedagang kaki lima.


"Aahh, aku jadi bimbang, besok kuliah atau tidak ya. Aku masih benci dengan kata - katanya tadi siang," gumam Jova.


Alex sudah di dalam mobilnya. Dia melajukan mobilnya menuju suatu tempat.


# # # # # #


Seorang CEO tampan sedang duduk di kursi kebesarannya. Dia baru saja menanda tangani tumpukan laporan.


"Kerja mu sungguh bagus kha", pujinya pada asistennya.

__ADS_1


"Tentu saja tuan muda, saya tidak akan pernah mengecewakan tuan muda dan juga tuan besar Haidar"


"Baguslah"


"Apa tuan muda ingin pulang sekarang? atau ingin ke suatu tempat?"


"Aku pulang saja"


"Baik! Silahkan tuan," Rakha berdiri berjalan mendekati pintu dan membuka pintu untuk tuannya.


# # # # # #


Di rumah Jovanka setelah makan malam mereka pindah ke ruang keluarga. Jovanka berjalan paling akhir.


"Kakak ku yang cantik kenapa mukamu di tekuk?" tanya Tristan seolah - olah perhatian, padahal sedang meledek.


"Hemh!" Jova hanya membuang nafas kasar, karena dia tau Tristan meledeknya.


"Ayah, besok Jova mau bolos kuliah. Satu kali ini saja yah"


"Kenapa sayang?" tanya Ibu Jova.


"Jova sedang sebal dengan dosen gila itu!"


"Hah? memangnya kenapa?" tanya ayah


"Dia mengatai aku tidak niat kuliah, walaupun tidak secara langsung," ucap Jova cemberut.


"Jangan - jangan kau baper kak, kau kan bilang dia tampan. Apa kau mulai menyukainya. Sehingga kau mudah baper dengan kata - kata buruk yang keluar dari mulutnya," sahut Tritan.


"Heeeeyyy! kenapa kalimat mu selalu menyebalkan begitu!" kesal Jova.


"Terserah kau saja Jova, kau sudah 22 tahun. Kau pasti tau mana yang terbaik untukmu," ucap Ayah.


"Ayah benar," ibu menyahuti.


"Terima kasih, yah. Ayah Ibu, aku ke kamar ya? aku mau langsung tidur. Capek, dari siang tadi aku mengumpati dosen batu itu," ucap Jova.


"Iya," jawab Ayah dan Ibu bersamaan sambil menahan senyum.


Jova segera masuk ke kamarnya menuju kamar mandi. Setelah rutinitas sebelum tidur, dia mengambil baju tidurnya di lemari dan memilih warna putih bergambar bunga lavender. Jova segera naik ke tempat tidur dan memejamkan matanya.


# # # # # #


CEO tampan dan rupawan sedang berada di apartemen mewahnya. Dia baru saja selesai gym di ruangan atas saat jam menunjukkan pukul setengah 10 malam.


Kini dia sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower. Setelahnya dia mengikatkan handuk putih di pinggangnya. dan mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Dia berjalan menuju ruangan yang penuh dengan barang - barang mewahnya.


Dia membuka lemari dan mengambil baju tidur berwarna putih kotak - kotak. Lalu bergegas tidur di tempat tidurnya yang empuk dan nyaman.


# # # # # #


Keesokan harinya, saat jarum jam menunjukkan pukul setengah sebelas siang, Alex sudah berada di depan para mahasiswa yang mengikuti mata kuliahnya.


Dia memberi materi kuliah dengan sangat jelas. Tapi matanya sesekali melihat ke arah pintu, berharap Jova muncul di sana. Tapi sampai jam kuliah habis, Jova tidak muncul.


Setelah mata kuliahnya berakhir, Alex berjalan keluar kelas, menuju ruangannya. Saat melewati koridor, matanya menangkap seseorang di kantin kampus.

__ADS_1


Jovanka bersama seorang mahasiswa laki - laki yang tidak dia kenal sedang terlihat bercanda dan terlihat sangat akrab. Tampak dia mengepalkan tangannya, dengan raut wajah yang susah di tebak.


Alex melanjutkan jalannya menuju ruangan dosen yang khusus untuk dia tempati. Tanpa dia sadari satu tangannya mematahkan bolpoin di genggamannya.


Sebenarnya tadi Jova selesai meeting jam 11 siang. Dia langsung berjalan menuju kampus. Di lantai 2 tempat kelasnya berada dia berjalan menuju kelasnya. Sudah siap jika harus di hukum berat kali ini. Hanya tinggal melewati 1 kelas lainnya, dia berhenti.


"Ck! aku ke kantin saja lah. aku malas melihat wajahnya di kelas," Jova berbalik arah, turun menuju kantin kampus.


Di kantin dia memesan mie ayam dan es jeruk, lalu membawanya ke meja makan kantin. Selang beberapa menit Bayu datang.


"Makan apa, makan apa, makan apa sekarang?" Bayu bernyanyi di belakang Jova, dan langsung duduk di sampingnya. Jova langsung menjauhkan minumannya yang tinggal separuh dari jangkauan Bayu.


"Yaelah neng, takut amat minumannya di embat babang tampan," canda nya.


"Kau kan selalu ngepet minuman ku!" ucap Jova yang mulutnya masih berisi mie ayam.


Bayu tersenyum malu, tapi tidak ada rasa bersalah dalam dirinya.


"Aq suka meminum minuman bekas mu, hehe," Bayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


Jova meliriknya sebal.


"Kemarin aku bertemu Indira"


"Oh ya, apa hari ini dia masuk?"


"Aku tidak tau sayang, aku kan bukan asistennya," ucap Bayu dengan senyum penuh arti.


"Jangan memanggilku sembarangan. Aku tidak suka kau memanggil ku sayang. Walaupun aku tau itu bercanda."


"Padahal aku tidak bercanda," gumam Bayu pelan, tapi masih terdengar Jova.


"Bay, jangan berlebihan. We are best friend forever!" ucap Jova merangkul kan tangannya di pundak Bayu dengan senyum persahabatan.


Momen itulah yang di lihat Alex dari koridor sebrang.


# # # # # #


Jam setengah 4 sore Jova sudah selesai dengan tugasnya melihat laporan harian. Dia meninggalkan gedung perkantoran itu menggunakan mobilnya.


Saat melewati jalanan yang ada beberapa pedagang kaki lima dia melihat dengan teliti. Mungkin saja dia kembali menemukan Alex di sana. Ternyata nihil.


Dia melanjutkan mengemudikan mobilnya, sampai matanya menangkap sosok Alex yang tengah ngobrol dengan beberapa orang di pangkalan ojek. Jova segera memarkirkan mobilnya.


Jova melihat dengan jelas, kalau Alex sedang membagi - bagi kan amplop berwarna putih.


"Apa itu isinya uang?" gumamnya. "Apa benar dia suka berbagi setiap hari?"


Jova menatap tanpa berkedip ke arah pangkalan ojek itu. Dia tidak mau melewatkan momen yang menurutnya sisi lain dari dosen gila bin batu itu.


"Aku tidak menyangka dia sebaik itu. Dia semakin terlihat tampan dengan kegiatan seperti ini," Jova tersenyum kagum.


"Andai ... "


🪴🪴🪴


Othor : Andai apa, Jova? Hayo mengkhayal ya?

__ADS_1


Jova : Othor jangan ikut - ikut deh!


__ADS_2