
Alexander memarkirkan mobilnya di parkiran halaman rumah Orang tuanya yang luas setelah melewati pintu gerbang setinggi 4 meter lebih yang di jaga dua orang security. Alexander membukakan pintu mobil untuk Jova, lalu menggandeng tangannya berjalan menuju pintu utama rumah super mewah 3 tingkat yang begitu luas itu.
Ting tong!
Tidak lama dari bel itu, seorang wanita setengah baya berpakaian pelayan membuka pintu setinggi kisaran 3 meter itu.
"Selamat siang, Tuan muda dan Nona muda!" sapa pelayan.
"Siang" jawab Jova dengan senyumnya.
"Di mana Papa dan Mama?" tanya Alex tanpa menjawab sapaan pelayan.
"Tuan dan Nyonya di meja makan Tuan muda" jawabnya.
Alexander menggenggam tangan Jova dan berjalan ke arah meja makan.
"Loh, Alexander! tumben!" sapa Mama yang melihat lebih dulu kedatangan Alex di banding suaminya. Mama segera berdiri mendekati Jova.
"Selamat siang, Ma, Papa" sapa Jova.
"Siang, Sayang" jawab Mama, memegang lengan Jova.
"Siang, Jova" jawab Papa, yang masih duduk di kursi utama meja makan.
"Kalian sudah makan siang?" tanya Mama
"Belum, Ma" jawab Jova lembut.
"Kalau begitu, ayo ikut makan"
"Iya, Ma"
"Ayo, makan! jangan sungkan - sungkan" ucap Mama saat semua sudah duduk di kursi. Jova mengambilkan nasi dan lauk untuk Alex. Lalu mengambil untuknya sendiri. Mama tersenyum melihat Jova yang sepertinya terlihat sering melakukan itu untuk Alex.
Setelah mereka selesai makan mereka pindah ke ruang tengah. Ruang tengah rumah seorang Haidar Gibran tentu beda dengan ruang tengah rumah Jova. Ruang tengah rumah Papa begitu besar, dan terlihat sangat mewah.
Terlihat Mama dan Jova duduk bersebelahan dan berbincang ala wanita kalau sudah mengobrol. Yang di bahas Mama tak lebih dari fashion. Jova tampak menanggapi dengan sopan, meskipun dia tidak tau fashion papan atas. Dan sedikit bingung ketika Mama membahas barang branded keluaran terbaru.
"Pa, Ma?" ucap Alex membuka obrolan.
Spontan Papa dan Mama menoleh ke arah Alexander
"Pa, Ma, Alexander mau pernikahan kami di percepat!"
"Kenapa begitu, Sayang?" tanya Mama.
"Pokoknya percepat saja!" ucap Alexander dingin.
"Sayang, apa Alexander melakukan kesalahan terhadapmu?" tanya Mama melihat Jova.
"Tidak Ma" ucap Jova.
"Apa kalian sudah bertindak kelewat batas? apa kau hamil?" tanya Mama antusias.
"Tidak, Ma!" ucap Alex, "kami tidak pernah melakukan itu"
"Lalu apa yang membuat kalian ingin pernikahan kalian di percepat?" tanya Mama.
Pikiran cerdas Papa mulai menemukan benang merahnya. Dia sudah tau apa yang membuat mereka ingin segera cepat menikah.
"Kalian akan menikah sabtu ini!" ucap Papa yakin, "Mama siapkan acara untuk akad nikah sabtu siang dan pesta sabtu malam!"
"Apa!" pekik Mama, "cepat sekali! semua butuh waktu Pa, Mama baru menyiapkan 25% saja" ucap Mama.
"Lakukan saja, Ma!"
"Tapi Mama mau acara pernikahan Jova dan Alexander sempurna!"
"Maaa???"
"Paaa???"
__ADS_1
"Ma!"
"Pa!"
Suami istri itu saling melotot tajam.
"Begini saja! bagaimana kalau sabtu ini akad nikah saja, baru dua bulan lagi pesta?" ucap Mama
"Tidak!"
"Iya!"
"Mama, jangan melawan. Ini demi kebaikan mereka berdua!"
"Hemm.. baiklah!" Mama menyerah, Mama berjalan ke kamarnya mengambil ponselnya dan membawanya kembali ke ruang tengah. Mama memerintahkan asisten pribadinya untuk menghubungi EO kepercayaan mereka.
"Kalian pergilah ke butik langganan keluarga untuk memesan baju pernikahan"
"Iya, Ma" jawab Alex.
"Jova, Sayang! ingat! kamu harus memilih baju termewah yang membuatmu terlihat begitu cantik"
"Jova sudah punya konsep pernikahan sendiri Ma"
"Oh, Ya!"
"Iya, Ma" jawab Jova.
"Ya sudahlah, terserah kalian"
Menjelang sore Alexander dan Jova meninggalkan rumah Papa, menuju butik langganan Mama.
"Sayang, kamu sudah yakin kan?" tanya Alexander, memecah keheningan di dalam mobil.
"Yakin? maksudnya?"
"Kamu sudah siap menikah denganku?"
Alexander meraih tangan kanan Jova dan menciumnya lama, sambil fokus pada jalanan di depannya.
Tak terasa Alexander memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah butik ternama. Alex membukakan pintu untuk Jova. Mereka berjalan bergandengan memasuki butik itu, menemui sang desainer.
"Selamat siang, Tuan Alexander" sapa sang desainer.
"Hemm"
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"
"Kau bantu calon istriku, membuat baju pernikahan sesuai konsepnya"
"Baik, Tuan muda!"
"Ingat hari Jum'at semua semua harus siap!"
"Siap, Tuan!"
Jova mengikuti langkah desainer itu ke dalam ruangan, untuk menyampaikan konsep yang dia inginkan.
Dua jam kemudian barulah mereka keluar dari butik itu dan kembali ke perusahaan. Jova ikut masuk ke ruangan CEO.
"Sayang, besok pulang kuliah aku ajak Indira mencari souvenir boleh?" tanya Jova sambil menutup pintu ruangan CEO.
"Boleh dong!" Alex mengeluarkan black card dari dompetnya. "Pakai ini, Sayang!" menyerahkan kartu pada Jova.
"Buat apa?"
"Beli apa yang kau inginkan"
"Uangku masih cukup kalau hanya souvenir"
Alexander menarik tangan Jova ke arah sofa dan mendudukkan Jova di pangkuannya.
"Sayang, kau calon istri ku, mulai sekarang semua kebutuhan mu dan keinginanmu aku yang menanggung" ucap Alex, "Apapun itu!" lanjutnya tegas.
__ADS_1
"Tapi itu black card, apa tidak berlebihan untukku?" tanya Jova polos, "aku mau kartu ATM yang dulu pernah kau berikan padaku saja"
"Hey! kau calon istri CEO Group G, kartu itu terlalu murahan untukmu!"
"What!" pekik Jova, "padahal kartu itu bisa untuk aku beli barang branded!"
"Terima ini!" Alex meletakkan black card di tangan Jova, "kamu menghinaku kalau kamu menolak ini"
"Kenapa begitu?"
"Mulai sekarang, kau harus menurut apapun perintah ku" ucap Alex mencium tangan Jova.
"Baik, Tuan muda" ucap Jova sedikit meledek.
"Bagus, Nona muda!" balas Alex
Tok tok tok
"Masuk!" ucap Alexander.
Rakha membuka pintu ruangan CEO, mengedarkan pandangannya dan lagi - lagi menemukan mereka di posisi yang selalu saja seperti itu. Seolah enggan untuk berjauhan.
"Tuan, ini berkas yang harus Tuan tanda tangani sekarang juga"
"Hemm"
Jova berdiri dan duduk kembali di sofa. Alex berdiri berjalan ke arah kursi kebesarannya.
Jova memasukkan black card yang di beri Alex ke dalam dompetnya. Lalu mengambil ponselnya. Jova sibuk berselancar di dunia maya. Lalu mengirim pesan WA pada Indira agar besok meluangkan waktu untuk membeli souvenir dan undangan pernikahan. Tentu kabar bagus bagi sahabatnya itu, tapi entah untuk sahabatnya yang satu lagi, ya! Bayu. Mungkin akan menjadi kabar buruk untuknya
Sesekali Jova melirik dua laki - laki di meja kerja Alexander. Lalu fokus kembali pada ponselnya.
Apa yang harus aku lakukan, supaya buaya darat itu tobat di tangan Indira! batin Jova.
Jova melirik meja itu lagi, membuat dua laki - laki itu menoleh pada Jova. Seketika Jova membuang mukanya, karena salah tingkah.
Dua laki - laki itu memiliki insting yang kuat. Bukan perkara sulit untuk tau ada yang mengintainya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Alex.
"Ah, tidak!"
"Yakin?"
"Iya, Sayang!"
Alex kembali fokus pada berkasnya.
Awas kalau anda merencanakan sesuatu untuk saya, Nona! ucap Rakha dalam hati.
Aah! aku punya ide! batin Jova.
Up dikit aja, sesuai Like yang dikit. hehe
Author agak mogok 😆
Hehe Nggak kok! bercanda 😘
Jangan lupa Like dan Komen nya ya..
Terima kasih yang sudah memberi hadiah di episode sebelumnya.
Salam Lovallena.
__ADS_1