
Sepanjang jalan menuju bioskop Indira selalu tersenyum, melirik wajah tampan Rakha. Berbeda dengan Rakha yang pasang wajah cool nya dan seolah tidak perduli dengan Indira.
"Tuan, kau tidak ingin menggandeng tangan ku? biar seperti mereka!" Indira menunjuk sepasang muda mudi yang sedang bergandengan tangan.
"Tidak!" jawab cepat Rakha.
"Galak bener!" gumam Indira, "kan biar romantis, Tuan. Lagi pula ini malam minggu!"
"Romantis hanya milik mereka yang saling mencintai!"
"Bagaimana kalau kita berpura saling mencintai?" tawar Indira.
"Jangan gila!" ketus Rakha.
"Kenapa? itu ide bagus, agar Tuan tidak terlihat seperti kanebo kering!"
"Itu ide bagus untukmu! tapi ide buruk untukku!" ketus Rakha lagi.
"Jangan galak - galak, Tuan. Galak kalau jadi cinta tumbuhnya bucin!"
"Ngomong apa kau ini!"
"Hehehe, itu hanya penjelasan ilmiah Tuan"
Rakha menggeleng - gelengkan kepalanya, merasa jengah dengan Indira yang menurutnya banyak omong.
Beberapa orang yang mengenali Rakha, tentu saja curi - curi pandang pada Rakha. Tapi tak satupun yang berani menyapa atau berbuat nekat lainnya.
Mereka memasuki area bioskop. Rakha memesan dua tiket sambil melirik Indira yang sedang memesan pop corn, dengan senyum misterius.
Kau pasti ketakutan! setelah itu kau akan kapok, dan tidak akan mengajukan syarat nonton - nonton lagi jika aku butuh bantuan mu lagi! batin Rakha.
"Ayo masuk!" ucap Rakha, setelah Indira menghampirinya.
"Tuan, pesan tiket nonton apa?"
"Rahasia! kau pasti suka!" Rakha dengan senyum misteriusnya.
Indira mengikuti langkah Rakha untuk masuk ke gedung bioskop. Mereka duduk bersebelahan menunggu pemutaran filmnya.
Indira sibuk memakan popcorn. Rakha sibuk memainkan ponselnya. Sampai akhirnya film siap untuk di putar. Rakha menyunggingkan senyum sinisnya.
"Wow! Saya tidak menyangka Tuan akan memesan tiket film ini" ucap Indira berbinar.
"Apa?" senyum di wajah Rakha hilang seketika.
"Aku suka film berbau kekejaman seperti ini!" ucap Indira tersenyum bahagia, "Bagaimana Tuan bisa tau selera nonton saya?"
"Hah! kau tidak salah!"
"Tentu saja tidak, Tuan!" jawabnya, "terima kasih ya, Tuan memang paling pengertian, hehe"
"Apa!" pekik Rakha.
Bagaimana bisa? padahal biodatanya aku baca dia benci film berbau kekejaman dan horor. Lah ini, seperti nonton film favorit! ucap Rakha dalam hati.
__ADS_1
Rakha melirik Indira yang sangat antusias menonton film bergenre mafia psikopat. Sambil sesekali merasa gemas dengan memegangi tangan Rakha dan mengibaskan tangan Rakha seenaknya.
Sial! aku berniat mengerjai mu, kenapa malah aku yang kau kerjai! batin Rakha kesal.
Dua jam berlalu, film yang mereka tonton hampir habis, Indira melirik Rakha yang sedang menonton film sambil memakan popcorn nya dengan menahan kesal.
Haha, kau berniat mengerjai ku kan Tuan, aku sudah berancang - ancang untuk mengerjai mu balik. Andai kau tau, betapa ngerinya nonton film beginian bagiku! aku rasanya ingin muntah! batin Indira.
Mereka keluar dari gedung bioskop setelah film selesai di putar. Beberapa pasang mata masih sesekali melirik Rakha yang berjalan bersama seorang gadis cantik.
"Tuan, kau juga berjanji untuk mentraktirku belanja kan?" tanya Indira dengan senyum jahilnya.
"Hemm"
"Kalau begitu, Ayo!" ucap indira dengan antusias.
Indira menarik tangan Rakha, menuju toko tas biasa, bukan toko branded.
"Tuan, ini bagus tidak?" tanya Indira.
"Tidak!"
"Ini?"
"Tidak!" jawab Rakha malas.
"Kalau ini?" Indira menunjuk tas lainnya.
"Jelek semua!" ketus Rakha.
"Pasrah banget bang!" gumam Indira, "Aku ambil ini aja deh!" Indira mengambil sebuah tas, "Tuan, bayar" ucap Indira pada Rakha yang sibuk dengan ponselnya.
Rakha menuju kasir di ikuti Indira. Setelah membayar tas seharga kisaran 2 juta, Indira menarik tangan kiri Rakha menuju toko sepatu. Rakha mengikutinya dengan malas bercampur kesal. Indira sibuk mencari sepatu.
"Kau ambil kartu ini! terserah kau mau beli apa saja yang kau mau! aku menunggumu di mobil!"
"What! no no no!" ucap Indira tegas. "Tuan harus ikut!"
"Aku capek!"
"Tidak!"
"Capek!"
"Tidak!" Indira menghentakkan kakinya, "aku hanya mau sepatu lalu sudah!"
"Ya sudah, cepat!" Rakha pasrah.
Indira bukan gadis materialistis, dia hanya berusaha mengulur waktunya bersama Rakha.
Setelah mendapatkan pilihan sepatu yang dia inginkan dan Rakha sudah membayar sepatu seharga 4 juta itu, Indira menarik Rakha menuju restoran Jepang.
Untuk pertama kalinya mereka makan malam bersama. Kali ini hati Indira berbunga - bunga, seolah ingin meminta pada waktu agar berhenti sekarang juga.
"Kau itu kenapa, dari tadi senyam - senyum tidak jelas!" ketus Rakha pada Indira di depannya.
__ADS_1
"Aku merasa sedang bermimpi, Tuan. Jalan - jalan dengan seorang Rakha Leonard!" ucap Indira bangga.
"Cih! kau pikir aku bangga jalan dengan mu!"
"Iya! aku juga tau Tuan tidak suka. Aku juga tau, kalau kita bagai langit dan bumi. Tapi, apa Tuan tidak pernah menyadari kalau langit dan bumi saling membutuhkan?" ucap Indira dengan senyum mengembang.
"Aku tau!"
"Jadi, kemungkinan kita ini saling membutuhkan"
"Apa maksudmu?"
"Tch! Tuan ini sok polos! padahal playboy!" Indira menyebikkan bibirnya.
"Berani kau bicara tidak sopan padaku!"
"Hehe maaf, Tuan"
Sepertinya aku suka padamu, Tuan. Kau itu galak tapi menggemaskan. Batin Indira.
Setelah selesai makan malam, Rakha mengantar Indira kembali ke Cafenya. Sepanjang perjalan Indira tak bertanya apapun, tapi kepalanya sibuk berandai - andai.
"Terima kasih, Tuan!" ucap Indira sebelum turun dari mobil sport Rakha.
"Hemm!" jawab Rakha ketus.
Indira turun, dan menunggu sampai mobil Rakha meninggalkan halaman Cafenya.
"Malam yang indah!" gumam Indira yang kini sudah membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang ada di lantai dua. Indira lebih sering tinggal di sana dari pada di rumah orang tuanya.
"Sepertinya aku butuh bantuan Jova dan Pak Alex untuk mendekatkan aku dengan Rakha. Leonard. Hihi"
"Jova! persahabatan kita memang seharusnya abadi!" ucap Indira, "kalau kau berhasil mendapatkan Tuannya, maka aku harus berhasil mendapatkan asistennya!"
Indira tersenyum bahagia membayangkan wajah tampan Rakha Leonard.
# # # # # #
Di Singapura, setelah kepulangan Papa, Mama dan Devan malam itu, hari - hari Jova dan Alexander selama di Rumah Sakit berjalan sangat romantis, sesuai harapan Author dan Reader (hehe, Author jahil banget).
Setiap pagi Jova mendorong kursi roda Alexander mengelilingi taman Rumah Sakit untuk menghirup udara segar. Begitu juga saat sore hari. Jova begitu sabar dan telaten merawat sekaligus menemani Alexander selama masa pemulihan.
Sampai akhirnya Alexander dinyatakan sembuh total dan bisa pulang ke Indonesia jika berkenan.
Jova mengemasi barang - barangnya di bantu seorang pelayan di rumah Eyang yang di panggil Alexander.
Dua pengawal yang berjaga di depan juga membantu membawa barang - barang Alexander dan Jova.
Mereka berjalan menuju parkiran. Jova tak sedikitpun melepas lengan Alexander.
Alexander dan Jova duduk di belakang, dengan di kemudikan seorang pengawal. Pengawal satunya dan Pelayan yang membantu berada di mobil lain.
"Tuan, pulang ke rumah Nyonya besar atau ke mana?"
"Kita ke rumah Eyang sebentar. Aku mau tinggal di hotel saja!"
__ADS_1
"Baik, Tuan"
Pengawal itu mengemudikan mobilnya menuju rumah Eyang Alexander.