I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Indira!


__ADS_3

Sore hari Jova kembali ke apartemen. Dia menaiki lift menuju lantai 10 tempat apartemennya berada.


Saat lift terbuka, dia keluar dengan berjalan sedikit menunduk. Saat dia mengangkat kepalanya karena merasa ada seseorang di depannya, Jova menangkap sosok yang sedang tak ingin dia lihat.


"Ini bunga untuk mu"


"Buang saja!" ucap Jova tegas


Jova terus berjalan, tak sedikitpun menghiraukan laki - laki di sampingnya.


"Aku mohon sayang, dengarkan penjelasan ku"


"Pergi!"


"Terimalah bunga ini, aku mohon!"


"Tidak!" Jova menekan sandi apartemennya.


Jova masuk dan menutup pintu dengan sangat keras. Sampai laki - laki yang membawa bunga itu terlonjak kaget.


"Memang susah menaklukkan Serigala betina. Sepertinya cara sayang tidak akan pernah berhasil. Baiklah aku akan coba cara lain!" gumamnya pelan.


Dia berlalu dari lantai 10, menuju apartemennya di lantai 25.


# # # # # #


Malam hari Jova menyalakan ponselnya yang sudah 2 hari di matikan. Yang pertama kali muncul jelas tentu saja wajah tampan Alexander. Jova menghembuskan nafas beratnya.


"Aku harus bagaimana?" mengusap layar ponselnya. "Apa semua yang aku dengar itu benar adanya?"


Jova mematikan mode pesawat ponselnya. Sontak pesan wa bermunculan. Artikel - artikel berkaitan tentang pesta Group G bermunculan di ponsel Jova. Jova membaca satu persatu.


Jova kaget bukan kepalang, manakala mendapati foto dirinya pun muncul di beberapa artikel. Sebagai gadis yang di duga berinisial J.


"Bagaimana media tau secepat ini?" gumamnya pelan. "Apa ini artikel buatan teman - teman di kampus?" Jova terus membaca beberapa artikel lainnya.


"Tapi aku tidak boleh semudah itu percaya!"


Jova berpindah membuka pesan - pesan wa yang masuk ke ponselnya. Ada banyak panggilan tak terjawab. Alexander, Bayu dan Indira.


Sayang?


Sayang?


Beberapa pesan dari Alexander.


Aku akan berjuang untukmu sayang!. Pesan terkahir dari Alexander


"Terakhir online tadi pagi, padahal tadi sore di sini!"


Dan banyak lagi pesan dari orang - orang yang ingin tau kabarnya.


Jova meletakkan ponselnya di atas nakas, tanpa membalas satu pesan pun. Dia membaringkan tubuhnya menghadap langit - langit kamarnya.


"Pantas saja kau selalu melarang ku mengatakan cintaku padamu," gumam Jova. "Awas kau Alexander!"


Jova memutuskan untuk tidur saja. Mencoba untuk tidak larut dalam masalah yang memang berat menurutnya.


# # # # # #


Pagi hari Jova bangun dari tidurnya. Bergegas untuk mandi, karena dia sedikit terlambat bangun.

__ADS_1


Setelah mandi Jova segera menyiapkan dirinya untuk berangkat ke kampus. Jova keluar dari kamarnya. Menekan sandi apartemennya di pintu utama apartemennya.


Saat membuka pintu, dia dikejutkan dengan kehadiran laki - laki tampan yang masih enggan untuk dia lihat.


"Sayang?"


Jova tidak menghiraukan, Jova berjalan ke arah lift.


"Sayang?"


Jova berlari menyadari dia di ikuti.


"Stop! jangan ikuti aku!" teriak Jova yang membuat laki - laki itu berhenti mendadak.


Jova masuk ke dalam lift sendirian menuju lantai dasar.


Saat lift Jova tertutup, lift di sebelahnya terbuka. Memperlihatkan Bayu yang mendadak terlihat di penuhi amarah. Bayu yang merasa kebetulan bertemu dengan Alexander. Segera menghampiri orang yang di anggapnya sebagai pembuat Jova hancur dengan mendaratkan kepalan tangan di wajah tampan Alexander beberapa kali.



"Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak membuat Jova menangis atau bersedih! tapi apa yang kau lakukan!" ucap Bayu berapi - api.


"Sudah puas?" tanyanya santai.


"PENGKHIANAT!" teriak Bayu.


Seketika kepalan tangan mendarat di wajah Bayu. Tentu saja kepalan tangannya lebih besar dari tangan Bayu.


"Kalau kau tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, Jangan ikut campur!!" berlalu dari hadapan Bayu.


"Sial!" umpat Bayu.


# # # # # #


"Jova!!" teriakan dari belakang.


Jova menoleh sekilas, tapi tak menghentikan langkahnya.


"Jova!" saat sudah di dekat Jova.


"Jangan mengajak ku bicara Ndi," ucap Jova berjalan cepat, masuk ke kelasnya.


Indira hanya bisa melihat dengan menghembuskan nafas panjangnya. Indira kembali berjalan di koridor sendirian.


"Indira!" panggil seseorang dari belakang.


Indira menoleh, bersamaan dengan mahasiswa lain yang sedang berada di koridor itu. Semua mata membulat, saat laki - laki yang memanggil Indira melepas kaca mata hitamnya.


"WOW! itukan ..." Indira menganga tak percaya begitu melihat siapa yang memanggilnya.


Laki - laki itu berjalan mendekati Indira, membuat jantung Indira seakan ingin melompat dari sarangnya. Kakinya bergetar begitu saja. Indira berusaha membuat kakinya diam, dengan menginjak lantai sekuat tenaga. Tapi usahanya gagal, kakinya bergetar semakin hebat.


"Benar kau yang bernama Indira?"


Tanya laki - laki itu saat sudah di depan Indira. Indira menganga menatap wajah tampan di depannya. Dia bahkan tidak fokus dengan pertanyaan laki - laki itu.


Indira tersadar saat sebuah tangan melambai di depan matanya. Dia segera menyadarkan dirinya. Menutup mulutnya dan menelan ludah saat mata pria tampan itu menatap matanya.


"Sekali lagi aku bertanya, benar kau yang bernama Indira?"


"I.. i.. iya!" jawab Indira gugup.

__ADS_1


"Ikuti saya!"


"Kemana?"


"Ikut saja!"


"Baik!"


Laki - laki itu memakai kembali kaca mata hitamnya dan berjalan menuju parkiran mobilnya.


Kaki Indira yang bergetar berhenti seiring mengikuti langkah kaki laki - laki itu. Indira senyum - senyum tidak jelas di belakang.


Laki - laki itu membuka pintu, dan memberi kode pada Indira untuk masuk juga ke pintu penumpang. Indira dengan senang hati masuk ke mobil sport berwarna merah itu.


Indira duduk dengan manis, dan memakai seat belt nya sendiri. Laki - laki itu melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kampus.


Indira melirik laki - laki di sampingnya yang tampak sangat tampan saat sedang mengemudikan mobil. Dia menelan ludahnya dengan sangat susah, ingin tersenyum tapi takut di katai gila.


Dia bahkan tidak tau, kemana laki - laki itu akan membawanya. Sampai akhirnya mobil sport itu berhenti di sebuah Cafe, barulah Indira sadar dia ada di mana.


"Turun!"


"Iya, tuan!"


Indira turun dari mobilnya, mengikuti langkah laki - laki itu untuk duduk di kursi pojok yang agak jauh dari keramaian pengunjung lainnya.


Indira tampak sangat gugup, dan kesulitan menutupi raut bahagianya yang di anggap seperti sedang bermimpi itu.


"Kau itu kenapa? dari tadi seperti orang aneh!"


"Hehe, maaf, tuan!"


Waiters datang membawa buku menu. Laki - laki di depan Indira memilih menu untuknya dan menyuruh Indira memilih sendiri menu yang ingin dia pesan. Indira hanya memesan minuman, tanpa memesan makanan ringan.


"Ada apa ya tuan Rakha mengajak saya ke sini?"


"Saya ingin meminta bantuan mu!" ucap Rakha dingin.


"Apa yang bisa saya bantu?"


"Kau kan yang paling dekat dengan nona Jova. Jadi saya ingin kamu membantu saya, untuk meyakinkan nona Jova, kalau semua yang di lakukan tuan Alexander adalah demi dirinya. Tidak mungkin kau tidak tau kan kelanjutan acara setelah kalian keluar dari hotel?"


"Tentu saya tau tuan! tapi masalahnya, Jova tidak mau bicara sama saya," ucap Indira yang mulai bisa mengontrol dirinya.


"Aku tidak mau tau! yang jelas kau harus membantuku! Buat nona Jova mau mengikuti tuan Alexander! kalau kau tidak mau, aku akan menghancurkan Cafe kecilmu itu!" ancam Rakha.


"Dari mana tuan tau, kalau saya punya Cafe?"


"Mencari informasi lengkap tentang seseorang bukan permasalahan berat bagi Group G!"


"Emm, iya juga sih! saya akan berusaha. Tapi ada syaratnya!" Indira tersenyum licik.




Satu BAB lagi, rahasia besar part 2 akan terbuka.


Sabar ya readers.


Terima kasih pada teman - teman yang sudah dengan ikhlas meninggalkan Like dan Komentar juga Dukungan dalam bentuk lainnya.

__ADS_1



Salam Lovallena.


__ADS_2