
Rakha memarkirkan mobilnya di depan Cafe Indira, dia ragu untuk turun. Sebenarnya dia sangat malas untuk bertemu lagi dengan Indira.
"Semoga saja gadis itu tidak ada!"
Indira yang sedang berdiri di dekat jendela kamarnya di lantai dua, melihat mobil yang menurutnya sangat familiar. Dia mengerutkan keningnya, mencoba mengingat mobil siapa itu.
"Ah! apa iya itu mobil Rakha Leonard!" Indira menajamkan matanya dan berharap benar yang keluar dari mobil itu adalah Rakha.
Pintu mobil terbuka, jantung Indira berdetak lebih cepat. Seorang laki - laki keluar dari mobil dan berdiri tegak dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya.
"Apa aku bermimpi!" Indira mengucek matanya.
Indira menganga tak percaya begitu melihat dengan nyata itu adalah Rakha Leonard. Dia berlari ke meja riasnya. Menyisir rambutnya dan merapikan penampilannya. Dia berlari cepat menuruni tangga.
Tampak Rakha memasuki Cafe sambil melepas kaca matanya. Kemudian memesan nasi goreng 6 porsi di meja kasir. Indira masuk ke ruang manager yang tertutup dinding kaca hitam. Indira mengawasi Rakha dari sana, senyum manis mengembang di bibirnya.
Indira berjalan ke arah dapur, membisikan sesuatu pada orang dapur. Setelah itu dia berjalan keluar menghampiri Rakha yang sedang duduk di kursi pengunjung dengan memainkan ponselnya untuk menunggu pesanannya.
"Selamat siang, Tuan Rakha!" sapa Indira dengan senyum manisnya.
Rakha menghembuskan nafas kasarnya. Dia tidak menjawab begitu tau yang menyapanya adalah Indira. Orang yang tak di harapkan kemunculannya.
Merasa tidak di respon Indira langsung duduk di samping Rakha. Rakha tampak tak peduli dengan kehadiran Indira.
"Tuan, anda ini cuek sekali sih!"
"Apa urusannya dengan mu!" ketus Rakha.
"Saya ini kan temannya Jova, anda asistennya calon suami Jova. Brarti kita bisa kan berteman!"
"Tidak!"
"Sama perempuan jangan galak - galak kenapa!"
"Terserah aku lah!"
"Playboy kok sok sok an galak sih!"
"Kau bisa diam tidak!" ucap tegas Rakha.
"Tidak!" jawab Indira yakin dengan senyum yang tidak takut dengan seorang Rakha.
Rakha membuang nafasnya kasar. Merasa jengah dengan gadis di sampingnya. Di tambah pesanan yang tak kunjung datang.
Indira menyodorkan tangannya di depan Rakha yang sedang memainkan ponselnya di atas meja. Rakha melihat tangan Indira yang menghalangi matanya melihat ponselnya, lalu menoleh pada yang punya tangan. Indira tersenyum manis pada Rakha.
"Apa maksudmu?" tanya Rakha.
"Berteman!"
"Siapa yang mau berteman dengan mu!" ketus Rakha.
__ADS_1
"Jangan jual mahal Tuan"
"Siapa yang jual mahal!"
"Kau menolak gadis cantik sepertiku. Apa namanya kalau bukan jual mahal?"
"Banyak gadis yang dekat dengan ku dan jauh lebih cantik darimu!"
"Aku tau Tuan! tapi Tuan juga harus tau. Kalau Indira tidak ada duanya!"
"Aku tau kalau kau memang bukan anak kembar"
"Tuan, apa kau akan tetap menggantung tanganku?"
Rakha melirik tajam pada Indira yang justru tersenyum manis padanya. Rakha menyebikkan bibirnya malas. Dengan menahan kesal Rakha menyambut tangan Indira dan langsung melepaskan tangannya.
"Terima kasih, Tuan!" ucap Indira girang.
Indira memberi kode pada waiters untuk membawa pesanan Rakha.
"Oh! jadi kau sengaja memperlambat pesanan ku?" tanya Rakha sinis.
"Hehe! demi meraih mu, Tuan!"
Seketika mata Rakha menatap tajam Indira di sampingnya. Tapi Indira menggunakan cara yang di pakai Jova, yakni melawan badai. Jika Jova menggunakan cara itu untuk meraih Alexander, maka Indira akan melakukan itu untuk meraih Rakha Leonard. Itulah yang membuatnya sama sekali tidak takut pada seorang Rakha.
Rakha membuang nafas kasarnya, mengambil pesanannya. Lalu berlalu dengan kesal dari Cafe Indira. Indira menatap punggung Rakha dengan senyum manisnya.
# # # # # #
Ayah menatap anak dan calon menantunya bergantian, membuang nafasnya pelan.
"Apa kalian pernah melakukan hubungan yang tidak seharusnya kalian lakukan?" tanya Ayah dengan nada dingin, "ingat! kalian belum menikah!"
"Tidak Ayah! kami tidak pernah melakukan hal seperti itu!" bantah Jova, "lagi pula Alexander bukan laki - laki yang nakal!" bela Jova.
Alexander diam, baru kali ini dia mendapat omelan. Dia tidak tau harus berbuat apa. Seorang CEO yang terkenal dingin menunduk di hadapan calon mertuanya.
"Kau yakin!"
"Yakin Ayah!" jawab Jova cepat.
"Apa kau juga yakin Alexander? tidak sekalipun khilaf melakukan itu pada putriku?"
"Yakin, Om!" jawab Alexander cepat, "saya tidak pernah khilaf melakukan itu"
Seketika dia diam dan menunduk tak berani menatap mata calon mertuanya, seolah dia adalah tersangka. Untuk pertama kali jantung Alexander berdetak tidak normal. Dia takut jika harus di pingit dan sebagainya. Jova pun melirik Alexander sebentar lalu menunduk lagi.
Ayah menatap keduanya dengan tatapan yang sulit di artikan. Membuat keduanya menelan ludahnya dengan sangat susah.
Kalau aku di pingit tidak boleh bertemu Alexander, aku akan kabur! batin Jova
__ADS_1
Tiba - tiba Ayah tergelak dan cekikikan sendiri di kursinya.
"Hahahah!" tawa Ayah.
Jova dan Alexander kompak menoleh ke arah Ayah, lalu mereka saling pandang dan kembali menatap sang Ayah yang masih cekikikan.
"Kenapa wajah kalian seperti itu?" tanya Ayah di tengah tawanya.
"Kenapa Ayah tertawa?" tanya Jova bingung.
"Hahaha! Ayah tidak mempermasalahkan kau mau bermanja - manja dengan calon suamimu! karena Ayah dan Ibu dulu juga seperti itu! hahaha!"
"Apa!" Jova dan Alexander menatap tak percaya pada sang Ayah.
"Lalu pertanyaan Ayah tadi?"
"Ayah hanya bercanda!" Ayah masih tergelak, "Ayah percaya kalian tidak akan melakukan lebih dari sewajarnya!"
"Ayah!" kesal Jova.
"Kalau kau mau, kembalilah duduk di sana! Ayah sudah terbiasa waktu muda dulu!" Ayah menahan rasa ingin tertawa mengingat ekspresi mereka saat pertama kali terpergok.
"Oh! Jadi seperti itu?" tanya Jova menahan kesalnya, "baiklah, dengan senang hati Ayahku sayang!"
Jova berdiri dan menarik tangan kiri Alexander yang berada di atas meja, lalu kembali duduk di pangkuan Alexander, melingkarkan tangan kiri Alexander di perutnya. Dan mendekapnya dengan kedua tangannya
Jova tersenyum menatap sang Ayah dan melirik wajah Alexander di sampingnya. Berbeda dengan Alexander, dia menuruti semua yang di lakukan Jova. Tapi dirinya masih terlihat kikuk, dia memasang senyum yang dipaksakan. Setidaknya dia merasa tenang, dia tidak di pingit ataupun di pisahkan dengan Jova.
Ayah Jova menyadari perasaan mereka yang sama - sama sedang merasakan kasmaran untuk pertama kali. Dan Ayah merasa maklum dengan sikap manja Jova yang di tunjukkan pada Alexander. Karena ini kali pertama Jova mendapatkan perhatian dari lawan jenisnya.
Ayah tersenyum melihat putrinya yang kini tak lagi bermanja - manja padanya. Ayah berfikir, putrinya sudah menemukan tempat tebaik untuknya. Mengingat semua perempuan memang terlahir dari tulang rusuk seorang pria.
"Kenapa Ayah mencari Alexander?" tanya Jova.
"Ingin merebut Alexander darimu!" ucap Ayah menantang.
Tanpa banyak bicara, Jova menarik tangan kanan Alexander di atas meja dan melingkarkan di perutnya erat, dan menyadarkan punggungnya di dada Alexander. Alexander hanya menurut saja apapun yang di arahkan Jova.
"Enak saja!" gerutu Jova, "aku yang menemukan!" Jova mengerucutkan bibirnya lalu membuang mukanya ke arah jendela kaca.
Kali ini Alexander menahan senyumnya, menyembunyikan senyumnya di pundak kanan Jova dan mengeratkan pelukannya, menahan gemas pada Jova.
Melihat kelakuan keduanya Ayah tersenyum manis. Ingatannya kembali pada masa mudanya, yang tidak jauh berbeda dengan mereka. Ibu Jova juga orang yang manja saat mereka masih berpacaran dulu sampai pengantin baru. Dan berubah menjadi mandiri dan dewasa setelah menjadi seorang Ibu.
Ayah Jova seperti merasakan Dejavu, karena Ibu Jova dulu menjawab sama seperti yang Jova ucapkan. Saat mertuanya mengatakan itu pada istrinya, dengan posisi yang sama.
Setelah menormalkan dirinya, dan mulai merasa biasa saja Alexander memberanikan dirinya untuk bertanya pada sang calon mertuanya.
"Ada perlu apa ya Om?" tanya Alexander.
"Panggil Ayah! kau ini kan calon menantu kami"
__ADS_1
"Iya, Ayah" ucap Alexander, seketika Jova menoleh pada Alexander dan tersenyum lucu mendengar Alexander memanggil Ayahnya dengan sebutan Ayah.