
"Sebenarnya aku memang tidak tau kenapa!" ucap Jova, "tapi jika mengingat selera Eyang, dan kisah hidup Rakha sepertinya aku bisa mengambil kesimpulan" lanjutnya.
"Hemm.." Fellicya mengangguk, "meskipun Eyang mengakui Kak Rakha sebagai cucu angkatnya dan menyayangi Kak Rakha, tapi tetap saja Eyang memandang Kak Rakha hanya seorang Asisten!" jelas Fellicya.
Jova mengangguk mengerti dengan penjelasan Fellicya.
Rakha yang seorang Asisten genius dan berdedikasi tinggi saja tetap tidak masuk kriteria sebagai calon cucu menantu yang pantas untuk Eyang. Apalagi aku yang hanya anak pengusaha rendahan. Ucap Jova dalam hati.
Beberapa menit berlalu mereka sudah sampai di butik. Maya turun dan membukakan pintu secara otomatis di kedua sisi mobil. Jova dan Fellicya turun bersamaan. Mereka berjalan masuk ke butik dengan di ikuti Maya di belakang mereka.
Jova dan Fellicya di sambut hangat oleh pegawai butik. Mereka langsung di arahkan ruang fitting yang memang sudah di siapkan gaun untuk Jova dan satu set jas untuk Alexander.
"Wow!" pekik Jova melihat hasil gaun untuknya, "cantik sekali pilihan warna mu Fellicya!" ucap Jova.
"Hehe! sebenarnya ini bukan pilihan warna ku Jova!" ucap Fellicya.
"Hah! lalu siapa?"
"Kak Rakha!" jawab Fellicya dengan senyumnya.
"Rakha?" Jova mengerutkan keningnya, "kamu mengajak Rakha kesini?" tanya Jova penasaran.
"Iya!" jawab Fellicya cepat, "setelah mengukur badanmu, aku kembali datang bersama Kak Rakha untuk membicarakan desain dan warna dari gaun mu. Dan ternyata benar, Kak Rakha sangat pandai memilih warna yang pas untukmu!" ucap Fellicya bangga pada sosok Rakha.
Jova semakin di buat bingung, karena saat ini posisi dia tidak tau harus mendukung Fellicya atau Indira. Mengingat Indira sendiri sudah memilih meninggalkan Apartemen Rakha, bahkan saat belum genap satu bulan. Sementara Fellicya adalah sepupu suaminya, di tambah Rakha sudah mengenalnya sejak mereka kecil.
Apa aku pura - pura tidak tau saja! ah, tapi aku jadi terkesan jahat nantinya. Oh Tuhan, tolong aku! ucap Jova dalam hati.
"Mari, Nona Jovanka! silahkan di coba dulu!" ucap sang Desainer.
"Baik!" ucap Jova.
Desainer itu memberi kode pada pegawainya untuk membantu Jova mencoba gaunnya. Jova masuk ke sebuah bilik dengan di ikuti salah satu pegawai yang membawa gaunnya.
Jova keluar dengan gaun super cantik yang sangat pas di tubuh mungilnya. Dengan perutnya yang masih rata, karena kehamilannya barulah masuk minggu ke - 5.
"Haaa!" Fellicya menganga tak percaya dengan ide gaun yang dia usulkan ternyata sangat cocok untuk dipakai Jova. "Perfect!" ucap Fellicya dengan tegas mendekati Jova dan memutari nya.
"Perpaduan yang sangat cantik antara desain ala Fellicya Aderald, dengan warna yang cantik ala Rakha Leonard!" ucap Fellicya bangga.
Jova hanya tersenyum menanggapi ucapan Fellicya.
"Ada yang perlu di perbaiki, Nona Jovanka?" tanya sang Desainer.
"Tidak! ini sudah pas di badanku!" ucap Jova.
"Baiklah, mau di bawa sekarang sekalian atau kami antar?"
__ADS_1
"Sekalian saja!" sahut Fellicya, "aku harus melihat kalian berdua memakai baju ini!" ucap Fellicya yang begitu antusias dengan acara pesta, dimana dia ikut andil di hampir semua konsep.
"Baiklah, Nona! mohon di tunggu!"
"Ya!" jawab Fellicya dengan cepat. "Aku tidak sabar melihat Kakak ku yang tampan itu memakai baju hasil desain ku!" ucap Fellicya menghadap Jova. "Dia pasti semakin terlihat tampan dan gagah!" lanjutnya. "Iya kan?" tanyanya pada Jova.
"Tentu saja!" jawab Jova cepat dengan senyum pasti. Karena apapun yang di pakai Alexander pasti akan tetap terlihat tampan pikirnya.
# # # # # #
"Sayang?" panggil Jova yang duduk di tepi ranjang setelah ritual sebelum tidur di kamar mandi.
"Hemm?" jawab Alexander yang masih fokus pada laptop di pangkuannya. Dia bersandar pada sandaran tempat tidur.
"Apa kamu tau kalau Fellicya menyukai Rakha?" tanya Jova.
Alexander langsung menghentikan kegiatannya, beralih menatap mata Jova yang tiba - tiba bertanya tentang orang lain.
"Aku tidak tau," jawab Alex, "dia hanya pernah bertanya padaku, kalau seandainya dia menyukai seorang playboy seperti Rakha apa aku setuju?"
"Oh, ya?" tanya Jova yang di angguki Alex, "jadi kamu tidak tau kalau Fellicya menyukai Rakha?"
"Jika yang aku lihat dari cara pandang Fellicya terhadap Rakha, itu bukan cinta!" jawab Alex yang pandai membaca bahasa tubuh.
"Maksudnya?"
"Jadi maksud kamu, Fellicya hanya ingin memiliki apa yang di perebutkan gadis - gadis, istilah kasarnya teropsesi?"
"Hemm!" Alexander mengangguk.
"Kamu yakin?" tanya Jova yang tidak begitu saja percaya penjelasan suaminya.
"Iya!" jawab Alex yakin, "kalau dia cinta, aku yakin dia sudah berjuang! nyatanya dia masih takut kan dengan restu Eyang yang pasti sulit dia dapatkan?" jelas Alexander menutup laptopnya dan meletakkan di atas nakas.
"Kamu tau sampai sejauh itu!"
"Aku sudah hafal sifat Eyang! bahkan Rakha pun sudah menyadari, jika dirinya bukanlah cucu menantu idaman Eyang! karena itulah Rakha tidak pernah sekalipun berusaha menjatuhkan hati Fellicya. Meskipun aku tau dia pernah menyukai Fellicya!"
"Oh, ya!" Jova mengerutkan keningnya, "apa akan ada kemungkinan mereka bersama?" tanya Jova yang begitu penasaran.
"Mana aku tau, Sayang!"
"Aku jadi kasian dengan Indira, diakan sudah keluar dari apartemen Rakha, padahal waktu itu belum genap 30 hari!"
"Sudahlah, jangan memikirkan mereka!" pungkas Alex, "mereka sudah dewasa, biar mereka sendiri yang menentukan! Rakha pasti tau mana yang terbaik untuknya!" lanjut Alex.
"Hemm!" Jova mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Kemari lah!" ucap Alex merentangkan tangannya yang langsung di sambut Jova dan masuk ke pelukan Alexander.
"Jangan ajak baby kita memikirkan mereka!" ucap Rakha mengusap perut Jova.
"Hehe, ok Sayang!" jawab Jova.
Alex mematikan lampu kamar menggunakan remote di atas nakas.
"Selamat tidur, Sayang!" ucap Alex mencium kening Jova.
"Selamat tidur juga, Sayangku!" jawab Jova mencium leher Alex yang berada tepat di depan bibirnya.
Dengan usapan lembut Alex di kepala Jova, dengan cepat Jova terlelap. Setelah memastikan Jova benar - benar tidur, barulah Alexander memejamkan matanya.
# # # # # #
Malam pesta ulang tahun Jova ke 23 tahun telah tiba. Keluarga besar Alexander dan Jova sudah berkumpul di kursi VIP yang sudah di siapkan untuk mereka.
Jova berdiri anggun di atas podium dengan Alexander di sampingnya. Tatanan kue ulang tahun menjulang tinggi ada di sisi kiri podium. Berserta meja penuh dengan cupcake dan hiasan lainnya tertata apik di depan podium. Gaun dan jas berwarna senada perpaduan Desainer, Fellicya dan Rakha melekat sempurna di tubuh mereka.
Meskipun tidak banyak tamu undangan, ini adalah ulang tahun tahun pertama Jova yang di rayakan bersama Alexander. Tentu saja Alexander tidak akan membuat acara receh untuk istri kesayangannya.
Perhelatan pesta yang mewah di ciptakan di Ballroom hotel milik Group G. Acara kali ini memang tidak mengizinkan wartawan untuk masuk, karena ini di jadikan acara keluarga.
Rakha tampak datang bersama Fellicya yang meminta untuk di jemput di apartemennya. Rakha keluar dari mobilnya bersamaan dengan Fellicya yang juga keluar dari mobil Rakha. Fellicya dan Rakha berjalan beriringan memasuki hotel, dan menyerahkan kartu undangan mereka pada panitia di depan pintu masuk. Setelah lolos scan kode barcode pada kartu undangan, mereka meletakkan kado yang mereka bawa untuk Jova. Mereka masuk dengan senyum sumringah di bibir Fellicya, melihat kesuksesan yang mana 50% adalah campur tangan mereka. Berbeda dengan Rakha yang tampak biasa saja.
Fellicya dan Rakha berjalan bersama menaiki podium. Dan mengucapkan selamat pada Jova, dengan senang hati Jova menyambut mereka dan berfoto bersama di balik meja ulang tahun, yang sudah di hias semewah mungkin dengan tema Flower in My Heart yang di minta Alexander.
Setelah mengucapkan selamat Rakha dan Fellicya turun dari podium dan mengambil beberapa menu makanan yang di sudah siapkan. Mereka duduk bersebelahan di kursi yang melingkari meja berbentuk lingkaran cukup besar. Mereka tampak mengobrol dengan akrabnya. Sesekali Rakha mengedarkan pandangannya menyapu ruangan pesta yang tampak begitu mewah itu. Entah apa yang ingin dia lihat, karena nyatanya dia tak kunjung menemukan.
Di luar gedung hotel, Indira keluar dari mobil yang dia kemudikan sendiri. Indira berjalan ragu memasuki hotel. Sesekali mengedarkan matanya melihat sekeliling hotel yang tampak banyak orang berseliweran.
Semoga aku tidak bertemu Asisten Tuan Alexander. Ucapnya dalam hati. Harapanmu sudah pupus Indira! nyatanya kau tidak terlahir untuknya! lanjutnya.
Indira berjalan pelan ke arah pintu masuk Ballroom. Indira menyerahkan kartu undangan untuk di scan barcode nya. Setelah berhasil, Indira meletakkan kado yang dia bawa. Dan berjalan masuk memasuki ballroom dengan perasaan yang campur aduk.
Besok di lanjut lagi ya! ini Author udah lembur, hehe.
Terima kasih yang sudah meninggalkan Like dan Komentarnya.
__ADS_1
Salam Lovallena.