
Tangan Jovanka meremas kemeja pria di genggamannya. Dia sudah ingat, kemeja itu milik siapa.
"Aku harus memastikan apa dia juga yang sudah membuka bajuku!" dia tau, hanya bajunya saja yang terlepas. Karena dia tidak merasakan sakit di bagian vitalnya.
Jovanka melempar kembali baju itu ke tempatnya semula. Dia mendekati meja rias yang hanya ada perlengkapan pria. Dia mengambil sisir, menyisir dan menguncir kembali rambutnya asal.
Dia berdiri, menatap dirinya di depan cermin dari atas hingga kaki. Kemeja putih itu hanya menutupi setengah pahanya. Dia memakai kaos dalam untuk sedikit menekan dadanya.
"Lagi pula aku yakin, laki - laki seperti dia tidak akan tertarik dengan badan mungil yang tidak berisi ini. Apalagi ternyata dia sangat kaya, pasti aku bukan levelnya," dia menyebikkan bibirnya.
Dia keluar dari walk in closet, sebelum keluar dia berjalan ke arah jendela kamar. Dia melihat keadaan luar yang sangat dia hafal.
"Brarti benar, dia tinggal di apartemen yang sama denganku. Hanya saja apartemen ku tidak ada apa - apanya di banding apartemennya," Jova mengerucutkan bibirnya.
Jovanka berjalan ke arah pintu keluar. Dia memegang handle pintu, dan membuka pintu dengan perlahan. Dia menyadari sedang berada di lantai dua apartemen.
Dia berjalan mendekati tangga yang di desain khusus untuk apartemen mewah di gedung apartemen itu.
Dia berjalan menuruni tangga, saat berada di tengah - tengah tangga matanya menangkap penampakan yang tidak biasa. Laki - laki tampan bersandar di dinding dekat jendela kaca. Sedang menikmati matahari pagi yang menerobos jendela kaca apartemennya.
Apa itu malaikat?? Kenapa semakin hari dia semakin tampan sih. Aku bisa pingsan kalau berlama - lama melihatnya seperti ini. Yaa Tuhan jantung ku seperti ingin melompat saja, batin Jovanka.
Menyadari ada seseorang di tangga, Alex menoleh ke arah tangga. Tatapan nya berubah saat melihat penampilan Jova dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapan itu membuat Jova salah tingkah. Dia menggigit bibir bawahnya dan menundukkan kepalanya.
Dia berjalan mendekati Alex. Alex kembali membuang muka ke jendela saat Jova berjalan mendekat. Dia takut tidak dapat menahan dirinya. Bagaimanapun dia laki - laki normal, melihat pemandangan di depannya seperti itu tentu saja menimbulkan sesuatu yang tidak biasa dalam dirinya. Apalagi hanya berdua di tempat itu.
"Apa pak Alex yang ..." ucapan Jova di potong oleh Alex.
"Bukan aku yang melepas bajumu. Aku menyuruh Office Girl apartemen ini. Bajumu sudah di cuci olehnya, hanya saja belum kering," ucap Alex tanpa melihat Jovanka.
"Hemm, aku percaya," ucap Jova pelan. Lagi pula aku yakin dia sebenarnya orang baik, batin Jova.
Dia tersenyum dan berjalan menuju sofa. Alex menoleh pada Jova, menatap punggung Jova. Dia sudah menahan diri untuk tidak melihat Jova. Tapi sepertinya dia tidak sanggup.
Jova duduk di sofa tanpa rasa curiga dan tanpa rasa bersalah. Tentu saja hal itu membuat kakinya yang mulus semakin terlihat. Dia mengambil buah apel di atas meja lalu memakannya dengan lahap, karena dia memang lapar dari kemaren belum makan.
Setelah memakan setengah bagian apel dia mengambil majalah dan mulai membolak balikan majalah di pangkuannya.
__ADS_1
Alex masih melihat gerak gerik Jovanka. Namun sepertinya dia mulai panas. Dia tidak tau lagi bagaimana cara menahannya.
"Apa seperti itu caramu merayu laki - laki?" ucap Alex dengan nada dingin tanpa melihat Jovanka. Dia membuang muka ke arah jendela.
Tentu saja Jovanka tersentak kaget dengan ucapan Alex yang terkesan menghinanya. Jova menatap Alex dengan tatapan tidak suka.
"Apa maksud anda?" tanya Jova menutup majalah di pangkuannya.
"Haahh!" Alex tersenyum sinis. "Kau merayu laki - laki dengan berpura - pura bodoh seperti ini? mungkin kau bisa merayu mereka di luar sana. Tapi kau tidak akan bisa merayu ku!" ucap Alex tersenyum mengejek melirik Jova.
Jova yang dilirik dengan senyum mengejek merasa tidak terima. Dia meletakkan majalah dan buah apel di meja. Dia berdiri berjalan mendekati Alex.
"Maksud anda saya ini pel*c*r yang menggoda pria hidung belang dengan berpura - pura pingsan?" berbicara di depan Alex.
Alex masih menatap Jova dengan senyum mengejek.
"Anda perlu tau, tidak pernah muncul di benak saya sedikitpun menggoda laki - laki seperti anda!. Saya bersikap biasa saja dan berani memakai baju anda seperti ini karena saya yakin di balik sikap dingin anda, anda adalah orang baik. Dan saya yakin orang seperti anda tidak akan tergiur dengan penampilan saya yang seperti ini. Tapi ternyata saya salah! Gelar tertinggi yang menempel pada nama anda ternyata tidak membuat mulut anda punya etika!" ucap Jova berapi - api dengan mengeratkan giginya.
Alex sudah merubah sedikit ekspresinya. Senyumnya sudah hilang, tapi tatapannya masih seperti mengejek Jova.
"Betapa bodohnya saya, karena sempat menganggap anda adalah orang yang baik. Saya benar - benar salah menilai anda tuan!" air mata Jova meluncur begitu saja.
"Terima kasih sudah menolong saya. Dan terima kasih sudah menunjukkan sifat asli anda. Saya tidak akan lupa atas penghinaan anda. Permisi!" ucap Jova menangis. Dia membalik badannya ke arah pintu. Baru satu langkah, telinganya mendengar suara Alex.
"Apa kau akan keluar dengan pakaian seperti itu?" Jova berhenti. "Pasti banyak mata laki - laki yang memandang lapar melihatmu berpakaian seperti itu. tidak ada lift khusus dari sini ke apartemen mu!" ucap Alex
"Hemmh" Jova tersenyum sinis tanpa menoleh pada Alex. Tapi air matanya masih menetes. "Kenapa? bukankah anda bilang saya perempuan penggoda? Lalu kenapa jika perempuan penggoda keluar dengan pakaian seperti ini?" ucapnya dengan menahan sakit hati.
Belum sempat melangkah tangan kanan Jova di tarik Alex. Alex menarik tubuh Jova dan mendekap Jova dalam pelukannya. Alex masih bersandar di dinding. Tangan kirinya berada di pinggang Jova. Tangan kanannya mendekap kepala Jova di dadanya.
Suasana apartemen hening, hanya terdengar isakan lirih Jova. Alex semakin mengeratkan pelukannya begitu menyadari Jova belum berhenti menangis. Rasa bersalah semakin merasuki hati Alex. Hasratnya berubah menjadi rasa penyesalan. Dia mencium rambut Jovanka. Entah kenapa Jovanka merasa nyaman dengan perlakuan itu.
"Maafkan aku," ucap Alex merubah intonasi bicaranya. "Aku tidak sengaja mengatakan itu. Aku hanya tidak tau lagi bagaimana caranya menahan diriku. Aku laki - laki normal. Aku juga punya hasrat saat melihat dirimu seperti ini," jelas Alex pelan. Kembali mencium rambut Jova dan mengelusnya pelan.
Jova merasa nyaman berada dalam pelukan Alex. Rasa marah dan benci yang sempat dia rasakan sirna seiring perlakuan lembut Alex.
"Tolong maafkan aku," ucap Alex lagi.
Jova yang masih terisak dalam pelukan Alex hanya mengangguk pelan. Kemudian membalas memeluk pinggang Alex.
__ADS_1
Sesaat kemudian tidak ada suara apapun di antara mereka. Jova mengangkat kepalanya, merenggangkan jarak antara mereka berdua. Dia mengusap kemeja yang di pakai Alex yang basah oleh air matanya.
"Maaf," ucapnya pelan.
Alex tidak menjawab. Dia menarik tangan Jova ke arah sofa. Dia mendudukkan Jova di sofa, tapi di tidak ikut duduk.
Alex berjalan ke dapur dan mengambil minum. Dia membawa gelas berisi air ke ruang tengah, tempat Jova duduk.
"Tunggulah sampai bajumu kering," ucap Alex memberikan gelas pada Jova. Lalu duduk di samping Jova.
"Tapi saya takut dengan tatapan bapak. Yang mungkin saja sewaktu - waktu berubah menjadi rasa ingin memakan saya. Anda juga kan serigala," ucap Jova setelah menghabiskan segelas air yang di beri Alex dan meletakkan gelas kosong itu di atas meja.
Alex tersenyum samar, dan ada rasa bersalah dalam dirinya.
"Kenapa kau bisa pingsan?" tanya Alex mengalihkan arah bicara Jova.
"Saya belum makan dari kemarin pagi, siang hari anda mengunci saya. Saat saya mau makan, sekretaris saya menghubungi ada meeting dadakan. Setelah meeting saya kembali ke mobil di parkiran kampus, ternyata tiba - tiba hujan saat saya masih nyebrang jalan. Saya berniat memesan makanan setelah saya sampai di apartemen. Tapi saat naik lift, tiba - tiba kepala saya pusing, pandangan saya gelap. Lalu saya tidak ingat apa - apa," jelas Jovanka.
Alex semakin merasa bersalah sudah mengunci Jova di ruangannya kemarin.
"Kalau begitu berapa nomor apartemen mu dan berapa sandinya?"
"Bapak mau apa?"
"Hemm, Jangan berfikir kotor!" Alex menyentil kening Jova. "Aku akan mengambilkan baju mu untuk kau pakai."
"Apa bapak yakin?"
"Kau masih meragukan aku?" tanya Alex sedikit menaikkan intonasinya. "Kau pikir apa yang akan aku lakukan di apartemen mu? mencuri apartemen mu? ada - ada saja kau ini."
"Hehe, apartemen saya no 97B sandinya 250707," ucap Jova dengan cepat.
Alex mengangkat sebelah alisnya. Alex yang sangat mudah mengingat sesuatu tidak perlu bertanya lagi. Dia bahkan tau kalau angka sandi itu pasti di ambil Jova dari tanggal lahir Ayah Ibu dan tanggal lahirnya sendiri. Alex mengingat jelas semua informasi yang dia dapat tentang seorang Jovanka Lovata Barraq.
Alex berdiri meninggalkan Jova yang masih duduk di kursi.
"Dia tidak bertanya lagi? memangnya dia bisa mengingat sandi ku?" gumam Jova menatap punggung Alex yang menghilang di balik pintu.
"Biarlah, kalau dia lupa pasti balik lagi. Hihihi," Jova tersenyum jahil.
__ADS_1