I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Pulau Bali 2


__ADS_3

Deg!


Jantung Rakha berdetak tak beraturan, manakala tatapan mereka bertemu. Jantung nya semakin tidak terkontrol saat gadis di depannya tersenyum manis padanya.


"Hai Kak Rakha!" sapa gadis itu dengan senyum menawannya, membuat Rakha tertegun.


"Ha..hai!" Rakha mendadak gaguk, "Hemm.. iya, Hai Fellicya!" mencoba mengulangnya, menutupi kegugupannya.


"Kak Rakha mau kemana?"


"Em.. menemui Devander" Rakha menunjuk koridor arah ke kamar Devan.


"Kalian mau jalan - jalan?"


"Ti..tidak!" jawab Rakha salah tingkah, "hanya membahas bisnis"


"Bisnis?" Fellicya mengerutkan keningnya, "inikan hari minggu kak?" tanya Fellicya, "Masih saja membahas bisnis" lanjutnya.


Rakha mengangguk dengan senyum kikuk, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mumpung masih ada Devander," jawab Rakha, "katanya, besok dia sudah harus kembali ke London"


"Oh, iya juga sih!" Fellicya tersenyum manis pada Rakha.


"Kamu.. mau kemana?" tanya Rakha ragu.


"Ke kamar Eyang!" menunjuk pintu kamar Eyang.


"Oh, yasudah, pergilah. Aku ke kamar Devander dulu" ucap Rakha yang bingung harus ngomong apa lagi.


"Iya Kak! bye" Fellicya tersenyum dan berlalu dari hadapan Rakha.


"Bye!" jawab Rakha, "Huuuffftt" Rakha membuang nafas panjang setelah melihat Fellicya masuk ke pintu kamar Eyang dan melanjutkan langkahnya ke kamar Devan.


"Kenapa mukamu kusut seperti itu?" tanya Devan setelah Rakha masuk dan duduk di sofa kamarnya.


"Hah!" Rakha tidak menjawab, hanya membuang nafasnya kasar dan melempar berkas di atas meja.


"Putus cinta kau?" tanya Devan duduk di samping Rakha.


Rakha menoleh pada Devan di sampingnya, menatap mata Devan seolah ragu untuk bercerita.


"Di tanya bos itu di jawab Kha! bukan di pelototi seperti itu!" menoyor pelan dahi Rakha.


"Ish!" Rakha menepis tangan Devan.


"Kapan Uncle mu kembali ke Singapura?"


"Mana ku tau!" jawab Devan santai, "memangnya kenapa? kau mau ikut dengannya?"


"Jangan bercanda!" ucap Rakha dengan nada sedikit tinggi.


"Haha! kau ini masuk - masuk wajah masam, di ledek sedikit naik darah. Apa kau sakit?" tanya Devan menempelkan punggung tangannya di dahi Rakha.


"Tidak!" menyingkirkan tangan Devan kasar.


"Oh! aku tau!" Devan tersenyum jahil melirik Rakha di sampingnya, yang di balas Rakha dengan tatapan tajam.


"Tau apa!" tanya Rakha sinis.


"Kau pasti baru saja bertemu Fellicya!" tebak Devan.


"Tch!" Rakha membuang muka, "Sok Tau!"


"Haha! apalagi yang membuat seorang Rakha Leonard si Playboy manis berubah menjadi playboy masam? kalau bukan karena seorang Fellicya! iya kan?" Devan menaik turunkan kedua alisnya beberapa kali dengan senyum meledek Rakha.


"Diam!"


"Hah! jangan berkilah!" ucap Devan, "kalau kau memang suka, kejarlah!"


"Tch!" Rakha berdecih kesal.


"Sudahlah, aku merestui Fellicya denganmu, walaupun kau playboy!"


Rakha menyebikkan bibirnya malas meladeni tebakan Devan.


"Aku mau membahas ini denganmu! bukan masalah Fellicya!" menunjuk berkas di meja dengan dagunya.


"Ah sudahlah! ini bisa di bahas nanti!" ucap Devan, "sekarang katakan padaku, apa rencana mu untuk mendekati adik sepupu ku yang cantik itu!"


"Nothing!"


"Haha! ayolah Rakha! jujur dengan perasaanmu! bukankah kau dulu bilang kalau kau menyukai Fellicya yang menurutmu kriteria idaman?"


"Aku hanya pernah bilang menyukai, menyukai belum tentu mencintai kan?"

__ADS_1


"Ah sudahlah! percuma membahas itu denganmu!" pungkas Devan, "katakan saja padaku, apa yang membuatmu enggan mendekati Fellicya?"


"Kau jelas tau! dia itu langit dan aku hanya daun kering yang berserakan di bumi!"


"Kha, jangan merendahkan dirimu! Uncle tidak pernah memandang orang dari hartanya"


"Iya! tapi Eyang mu?" tanya Rakha, "kau lihat! dia bahkan tidak pernah muncul di hari besar bagi Alexander dan Jova"


"Hemm! terserah kau sajalah!" ucap Devan pasrah.


"Lebih baik bantu aku menyelesaikan ini, dari pada membahas sepupumu yang hanya akan jadi mimpi untukku!" ucap Rakha dengan raut wajah sedih uang di buat - buat.


"Hahahahaha!" Devan terbahak - bahak melihat Rakha yang pasrah dengan keadaan.


# # # # # #


Menjelang senja, Alexander memaksa Jova untuk kembali ke Villa. Karena Jova tidak ada bosannya kalau sedang bermain di pantai.


"Ayo kita mandi!" ucap Alexander saat menaiki tangga.


"Iya! tapi nanti malam ke pantai lagi ya Sayang? please!" memeluk lengan Alexander.


"Hemm" Alexander membuang nafas kasar, "Iya! tapi hanya sebentar dan tidak main ombak?"


"Kenapa?" tanya Jova yang kecewa.


"Menurut saja sama suami mu!" ucap Alex dengan senyumnya.


"Huftt!"


Mereka mandi bersama di dalam bathub. Bergantian menggosok badan pasangannya sambil memainkan busa. Setelah puas mandi bersama mereka keluar dari kamar mandi bersamaan.


"Sayang, kamu mau makan di sini atau di luar?" tanya Alexander yang sudah selesai memakai baju santainya.


"Kalau di luar bagaimana?" tanya Jova, "sambil jalan - jalan!" Jova setelah menyisir rambutnya.



"Hemm.. boleh!" jawab Alex santai.


Setelah siap, mereka langsung turun menuju mobil yang sudah di siapkan supirnya di depan Villa.


Jam 10 malam barulah mereka kembali dari makan malam sekaligus jalan - jalan. Alexander sengaja mengajak pulang malam agar Jova tidan memaksa bermain di pantai saat malam. Alexander menerima vidio call di kamarnya dari Rakha yang masih berada di kamar Devan.


"Kalian ini mengganggu saja!" ucap Alex kesal.


"Sudah berapa kali bro!" tanya Devan meledek.


"Bukan urusanmu!"


"Hahaha!" tawa dua orang yang duduk bersandingan.


"Sensitif amat!" ucap Devan.


"Anak perjaka Mama Adelia sudah habis rupanya!" ledek Rakha.


"Kau juga cepat menikah sana!" ucap Devan pada Rakha di sampingnya. "Hampir kepala tiga, belum juga di pakai!" ledek Devan.


"****! sialan kau!" memukulkan bantal sofa ke wajah Devan.


"Hahaha! Devander benar, kau itu playboy! tapi masih perjaka!"


"Bagus kan! almarhumah Mama ku pasti bangga, anaknya tidak asal tancap!" melirik Devan dengan nada meledek dan menekan kata tancap.


"Kau menyindirku!" tanya Devan kesal.


"Kau merasa?" tanya Rakha dengan senyum menantang.


"Tentu saja!" jawab Devan kesal, "mulutmu bicara pada Alexander, tapi matamu melirik ku!" memukul lengan Rakha.


"Bukankah kau mengakui kalau kau itu seorang Casanova!" ucap Rakha dengan nada menantang.


Devan menatap tajam mata Rakha di sampingnya.


"Hahaha!" Alexander terkekeh melihat layar ponselnya yang menampilkan saudara dan sahabatnya tengah berdebat.


"Diam!" ucap Devan dan Rakha bersamaan melihat layar ponselnya yang menunjukkan Alexander duduk di sofa.


Bukannya diam Alexander justru terpingkal - pingkal melihat dua orang itu.


"Bukankah lebih untung jadi Casanova dari pada sekedar jadi Playboy!" ucap Devan membela diri.


"Lebih untung?" Rakha mengerutkan keningnya, "apa maksudmu?" lanjutnya.


"Tch!" Devan berdecih sambil menyandarkan punggungnya di sofa, "sekedar playboy doang paling kau cuma dapat bibirnya, dan sesekali dapat ininya" mengarahkan kedua tangannya ke dadanya dengan membentuk bulatan.

__ADS_1


Rakha melongo melihat gerak gerik tangan Devan dan ekspresi Devan secara bergantian.


"Kalau Casanova kau akan dapat semuanya!" tangan Devan sudah meliuk - liuk membentuk apa saja.


Rakha semakin melongo di buatnya.


"Kau gila!" pekik Rakha kembali memukul Devan dengan bantal sofa.


"Hahahaha" Alexander semakin tertawa melihat si Playboy dan si Casanova berdebat.


"Aku tidak gila bodoh! itu kenyataan!" ucap Devan kesal menyilangkan tangan di dadanya.


"Kau tinggal di luar negeri, mungkin itu biasa! sementara di sini? kalau Mama ku masih ada bisa - bisa aku di potong - potong kalau kelakuanku sama sepertimu!"


"Buktinya Mama biasa saja padaku!" ucap Devan membela diri.


"Itu karena Oma dan Opa mu yang membebaskan mu mengikuti pergaulan di sana!" ucap Rakha dengan nada tinggi, "kau lihat Alexander, jangankan anunya terpakai, 29 tahun hidup, hanya 2 kali jatuh cinta, itu pun ternyata gadis yang sama!" ucap Rakha dengan senyum mengejek.


"Kau sudah bosan hidup, Kha!" ucap Alexander menatap tajam pada Rakha.


"Hahaha" Devan tertawa, "saudara kembar ku itu memang bodoh. Tidak tau indahnya warna - warni percintaan"


"Heh! siapa yang yang berani mengatai suami ku bodoh!" teriak Jova yang duduk di sofa sebrang Alexander.


"Busett!" pekik Devan dan Rakha yang terlonjak kaget.


"Tau rasa kalian!" ucap Alexander dengan tawa mengejek.


"Aku lupa kalau istrinya bisa galak!" bisik Devan pada Rakha.


"Sepertinya sebentar lagi kau akan dapat pencerahan!" balas Rakha berbisik pada Devan.


"Bukan aku, tapi kita!" sahut Devan.


Jova berpindah duduk di pangkuan Alexander dengan menyilangkan tangan di dadanya. Menghadap ponsel Alexander yang di letakkan di atas meja. Sehingga Devan dan Rakha dengan jelas bisa melihat Jova yang menatap mereka tajam. Dengan kompak mereka menelan ludahnya dengan sangat susah. Alexander menyeringai di balik pundak Jova begitu melihat perubahan ekspresi mereka.


"Kau yang mulai" ucap Devan pelan menyenggol lengan Rakha.


"Kau yang mengatai!" balas Rakha pelan, menyenggol balik lengan Devan.


"Hey! jangan bisik - bisik!" ucap Jova dengan nada tinggi, "apa yang kalian bahas, dari tadi ini, itu anu!" ucap Jova membuat Alex terkekeh "kalian berdua itu tidak sadar, kalau kalian itu sama saja!. Menikah sana jangan main sana main sini!"


"Tunggulah, Nyonya Alexander, kami masih mencari!" jawab Devan.


"Mencari apa!" tanya Jova, "mencari yang bisa di mainkan lagi?"


Rakha dan Devan saling tatap dan menelan ludahnya dengan lebih susah lagi, begitu menyadari kalau mereka masih suka main - main dengan perasaan. Kemudian bersamaan menatap layar ponsel yang memperlihatkan Jova dan Alexander.


"Em.. begini Nona muda, kami ini masih menentukan mana yang pantas untuk kami nikahi" ucap Rakha, yang di ikuti Devan dengan mengangguk setuju.


"Aku tantang kalian dalam setahun ini harus sudah menikah, kalau masih main - main aku anggap kalian pasangan homo!"


"WHAT!" pekik Devan dan Rakha yang seketika membuang muka, memberi jarak pada duduk mereka di sofa.


Alexander tertawa lucu dan geli melihat mereka berdua.


"Aku akan segera menikah!" ucap Rakha menghadap Devan.


"Aku juga!" sahut Devan menghadap Rakha.


"Gitu dong!" ucap Jova.


"Buktikan kalau kalian tidak takut dengan tantangan istriku. Jangan main - main terus!" ucap Alexander.


"Iya iya!" jawab Devan menyenggol lengan Rakha.


"Ya sudah Bos dan Bu Bos, silahkan melanjutkan waktu indah kalian, hehe" ucap Rakha, "kami harus kembali berdiskusi masalah pekerjaan" ucap Rakha dengan senyum kikuk.


"Hemm!" jawab Alexander sambil mematikan ponselnya.


"Aku bisa di kutuk kalau lama - lama mengobrol dengan istri Alexander" ucap Devan pada Rakha setelah mematikan vidio call di ponselnya.


"Sama!" sahut Rakha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.




Selamat membaca part ini.


Maaf ya, beberapa hari ini Author cuma up satu episode per hari. hehe



Terima kasih untuk semua dukungan teman - teman.

__ADS_1



Salam Lovallena.


__ADS_2