I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Dosen Tidak Ada Akhlak!


__ADS_3

Jova datang menghampiri Alex yang sedang menonton TV dengan segelas kopi di atas nampan. Dia meletakkan gelas di atas meja lalu duduk tidak jauh dari Alex.


"Hey!" Alex memanggil Jova. "Mana ada pembantu duduk dengan majikannya seperti ini" ucap Alex melirik Jovanka.


"What?" pekik Jova tidak percaya.


"Apa kau tidak pernah menonton film atau minimal membaca novel? Tidak ada pembantu yang duduk sejajar dengan majikannya. Mereka pasti duduk di bawah," ucap Alex dengan santainya.


"Jadi tuan menyuruh saya duduk di bawah?" tanya Jova membuka matanya lebar melihat Alex yang tampak tak merasa bersalah sama sekali.


"Aku tidak bilang seperti itu," Alex mengangkat kedua pundaknya.


"Tapi yang tuan katakan tadi maksudnya seperti itu!" ucap Jova berapi - api.


"Oh ya?" Alex melirik ke atas seolah berfikir. Padahal hatinya tertawa terbahak - bahak melihat ekspresi Jova. "Tapi aku tidak bermaksud menyuruhmu duduk di bawah," ucap Alex kembali melihat ke arah TV.


"Hehm!" Jova membuang nafasnya dengan kasar. "Lebih baik aku baca novel di kamar!" ucap Jova kesal. Dia berdiri, belum juga melangkah terdengar suara Alex lagi.


"Hey! mana ada pembantu enak - enakan baca novel di kamar?" ucap Alex melihat Jova dengan tampang menyebalkan. "Kau bahkan belum melakukan pekerjaan sama sekali. Hanya membuat secangkir kopi ini, yang bahkan aku belum tau seperti apa rasanya!" Alex menunjuk kopi di depannya dengan tampang mengejek.


"Hiiiihhh!" Jova mengepalkan tangannya di depan kepalanya, dengan rasa ingin meremas kepala laki - laki di depannya.


Alex melirik Jova dengan memanyunkan bibir bawahnya.


Kenapa tampangnya berubah menyebalkan seperti itu sih, batin Jova gemas dan kesal yang di tahan.


"Dasar batu!" umpat Jova jengkel.


"Hey! pembantu di larang mengumpati majikannya!" Alex melempar bantal sofa di kaki Jova. Sebenarnya Alex tidak marah di sebut batu, dia hanya menggoda Jova saja.


"Yaa ampun, ingin rasanya aku mencakar wajah tak berdosa mu itu tuan!" Jova mengeratkan giginya kesal. Mengambil bantal dan melemparnya ke sofa dengan kesal.


"Kau ingin mencakar wajah tampan ku ini?" Alex menunjuk wajahnya. "Lakukan saja!" Alex tersenyum tak berdosa melihat Jova yang semakin kesal padanya.


"Aku tidak akan masuk jebakan mu lagi tuan. Aku yakin setelah aku mencakar mu kau akan menghukum ku kan?" ucap Jova sedikit berteriak. Melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya di penuhi kekesalan pada Alex.


"Aku akan bersih - bersih tuan! permisi!" bicara dengan nada ketus.

__ADS_1


"Baguslah! kerjakan! ingat! harus bersih. Tuan Alexander tidak suka berantakan!" ucap Alex melirik Jova.


Jova pergi tanpa sepatah katapun. Dia kesal menahan marah yang tidak bisa dia lampiaskan.


Alex menatap punggung Jova dengan tawa penuh kemenangan. Hanya saja dia tertawa tanpa bersuara.


Jova pergi ke dapur, dia duduk di kursi meja makan yang ada di dapur. Dia memukul - mukul meja dapur.


"Bagaimana bisa dosen batu itu jadi menyebalkan seperti itu!" Jova bersungut - sungut di meja makan. "Dia seperti sengaja mengerjai ku. Aaahh! dasar dosen batu!".


Jova mengambil peralatan sapu dan pembersih debu. Dia berjalan ingin ke ruang tamu, namun matanya melotot tajam melihat kondisi ruang tengah berubah seperti tempat pembuangan sampah.


Alex memakan kacang dan membuangnya sembarangan. Kedua kaki nya di atas meja. Di pangkuannya satu bungkus kacang berukuran satu kilo gram. Yang sedari tadi dia makan dengan sangat cepat. Dan melempar kulitnya di mana - mana. Matanya asyik melihat acara berita di TV.


Alex menyadari kehadiran Jova, dia melirik Jova dengan ekor matanya. Lalu fokus kembali pada TV seolah tak melakukan kesalahan sama sekali.


Coba Lihat! dia semakin menyebalkan saja! Tampangnya benar - benar tidak ada rasa bersalah, ucap Jova dalam hati. Giginya mengerat rapat.


"Hey! kau tau kan aku tidak suka berantakan. Cepat bersihkan!" ucap Alex dengan tampang menyebalkan yang dia tunjukkan pada Jova.


Jova merasa gemas sendiri. Dia menatap tajam mata Alex. Alex semakin senyum menyebalkan.


Mulutnya terus mengunyah. Jika merasakan Jova melihatnya dengan tatapan tajam, dia akan memiringkan satu sudut bibirnya seolah mengejek Jova. Jova semakin kesal di buatnya.


Sampai akhirnya Alex meletakkan bungkusan kacang di meja. Dan dia berbaring di sofa memainkan ponselnya. Jova terlihat lega melihat Alex meletakkan bungkus kacang. Jova membersihkan semua kulit kacang hingga bersih.


Setelah membersihkan ruang tengah dia pindah ke ruang tamu. Dan membersihkan ruang tamu yang bahkan sebenarnya tidak kotor.


"Tega sekali dia menyuruh ku malam - malam membersihkan semua ini. Aku bahkan belum makan malam," gumam Jova pelan.


Setelah selesai membersihkan ruang tamu dia ingin kembali ke dapur untuk membuang sampah.


Matanya melotot saat melewati ruang tengah. Bagaimana tidak kaget ruangan yang baru saja di bersihkan kembali berantakan oleh kulit kacang. Dan pelakunya dengan santainya duduk bersila menghadap TV dan sesekali meminum kopi di depannya. Tak perduli ekspresi seperti apa yang sedang di tunjukkan Jova melihatnya.


Jova berjalan cepat ke arah Alex, mengangkat kemoceng di tangannya dan memukul kaki Alex tanpa takut lagi. Alex reflek berdiri dan melompat - lompat di atas sofa membawa sebungkus kacang.


"Beraninya kau mengerjai aku!" sambil terus memukul Alex. "Kau bahkan belum memberiku makan malam!" ucap Jova mengomel tidak karuan. "Cepat buang yang kau pegang itu!"

__ADS_1


"Iya! Iya! hentikan pukulan mu ini!" ucap Alex. Jova menghentikan pukulannya.


Alex melempar bungkusan kacang di depan TV, kacang di dalam bungkusan berlarian kemana - mana. Jova menatap nanar kacang yang berantakan di mana - mana.


Jova menoleh pada Alex dengan tatapan serigala yang seolah siap menerkam mangsanya. Alex tersenyum kaku tapi dia sadar dia terkunci oleh tatapan tajam Jovanka. Dia meraih ponselnya dan melompati sandaran sofa, berlari ke arah tangga.


Saat dia menoleh ke belakang dia tertawa terbahak - bahak melihat ekspresi Jova. Dia terus berlari menaiki tangga dengan tawa menyebalkan, dan menunjukkan dua jarinya tanda perdamaian ke arah Jova. Membuat Jova yang melihat kelakuan Alex ingin membombardir kepala Alex.


Cukup lama Jova terlihat bernafas cepat penuh kekesalan. Kemudian dia kembali membersihkan ruang tengah. Dan membuang kacang - kacang yang berserakan.


"Sepertinya aku harus waspada supaya dia tidak pulang membawa kacang!" gumam Jova kesal.


Setelah selesai, Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Jova masuk ke kamarnya. Membaringkan tubuhnya di ranjang.


Kruukk kruukk krukk


perut Jova berbunyi saat dia berniat untuk tidur saja. Dia duduk dari posisi berbaring nya.


"Sialan! kenapa lapar ini datang di saat aku kesal pada si dosen sialan itu!"


Jova keluar dari kamarnya, berjalan ke dapur. Mencari makanan, tapi tidak ada karena dia tidak memasak dan tidak menyiapkan makanan cepat saji.


"Masak butuh waktu yang lama!, aku minta saja pada dosen simil itu. Dia kan yang membuat aku kelaparan!" gumam Jova setelah berfikir beberapa menit.




Selamat membaca para reader setia ku.


Tunggu up lagi besok ya..



Terima kasih,


__ADS_1


Salam Lovallena


__ADS_2