I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Perasaan Apa Ini?


__ADS_3

"Iya!" jawab Jova memanyunkan bibirnya.


"Bagaimana kalau saat bertemu dengannya kau malah jatuh cinta padanya?" tanya Alexander melihat Jova di sampingnya.


"Do'a kan saja tidak! hehehe" ucap Jova melihat Alexander di samping kirinya.


"Aku tidak yakin kalau kau tidak akan jatuh cinta padanya saat bertemu dengannya nanti!" ucap alexander mengejek Jova.


"Hufft! aku saja tidak pernah jatuh cinta!"


"Kenapa kau tidak pernah jatuh cinta?"


"Aku tidak tau! Aku hanya takut kecewa seperti teman - teman ku"


Alexander tersenyum kecil mendengar penjelasan Jova.


"Kecewa seperti apa yang kau maksud?"


"Banyak teman - teman ku yang menjalin cinta. Padahal mereka terlihat mesra dan baik - baik saja. Ternyata pacarnya meninggalkannya saat dia lagi cinta - cintanya. Aku tidak mau mengalaminya. Aku akan langsung menikah jika ada yang benar - benar ingin memilikiku"


Alexander hanya diam mendengarkan kalimat Jovanka. Lalu kembali pada berita di TV yang masih membahas tentang Group G. Kali ini tentang Group G yang akan merayakan ulang tahun ke- 50 tahun.


"Kau pernah hadir ke ulang tahun Group G?" tanya Alexander.


"Setiap tahun mereka mengundang perusahaan ku. Karena perusahaan ku menyewa 4 lantai di salah satu gedung mereka. Kau tau kan dimana kantor?" Jova melirik Alexander. "Dulu ayah ku yang selalu datang, sekarang aku. Aku sudah dua kali datang menggantikan ayahku"


"Oh! lalu nanti kau akan datang"


Jova hanya mengangkat kedua pundaknya. Tanda tidak tau akan datang atau tidak.


"Datanglah!"


"Kenapa?"


"Siapa tau kau bertemu jodohmu di sana. Biar cerewet dan galak mu itu tersalurkan pada orang yang tepat!"


"Maksudmu?" Jova membulatkan matanya lebar melihat Alexander.


"Kalau kau punya pacar atau suami kau tidak akan segalak itu pada orang lain"


"Memangnya kapan aku galak?" tanya Jova yang masih belum mengalihkan pandangan kesalnya pada Alexander.


"Hey! bukannya di kampus kau terkenal galak dan cerewet?"


"Dasar kampret!" Jova menggeser duduknya mendekat pada Alexander, memukuli Alexander dengan bantal sofa. "Jadi maksudmu kalau aku sudah punya pacar aku akan jadi pacar galak? lalu kalau aku sudah menikah aku akan jadi bojo galak seperti lagu itu?" Jova terus memukuli Alexander dengan bantal. "Hemm?? Iya!! kau menghinaku!" kesal Jova

__ADS_1


Alexander tertawa, dia menjadikan tangannya sebagai tameng wajahnya agar tidak terkena pukulan bantal Jova.


"Memang seperi itulah dirimu! apa kau tidak menyadari nya? haha" Alexander tertawa. "Lihat dirimu sekarang, bar - bar!" Alexander merebut bantal yang di pakai Jova untuk memukulnya dan melemparnya ke sembarang arah.


Jova mengeratkan giginya, memukul lengan Alexander juga Menjambak rambut Alexander. Alexander menangkap kedua tangan Jovanka. Jovanka tidak menyerah begitu saja, dia berusaha menggigit pundak ataupun lengan Alexander. Kedua lutut Jovanka di atas sofa sebagai tumpuan dia berdiri menghadap Alexander.


Karena Alexander lebih kuat, Jova kesulitan menggigit Alexander. Tanpa sadar Jova terduduk di pangkuan Alexander. Dia masih berusaha untuk menggigit Alexander apapun caranya dan bagian manapun yang bisa dia raih. Alexander hanya terkekeh dengan tingkah Jovanka yang berusaha menggigit dan melepaskan tangannya, tapi sama sekali tidak dapat berkutik karena kalah kuat dengan Alexander.


Sruutt...


Dengan cepat tangan kiri Alexander menarik pinggang Jova yang hampir jatuh dari pangkuannya. Jova pun reflek merangkul leher Alexander dengan tangan kanannya yang di lepas Alexander. Pergelangan tangan kiri Jova masih di genggam Alexander.


Deg deg deg deg deg


Jantung Jova seakan ingin meloncat dari sarangnya. Entah karena kaget akan terjatuh, atau karena posisi mereka yang kini sangat dekat. Wajah mereka hanya berjarak 5 cm saja.


Jova sedikit menunduk, menatap tangannya yang merangkul leher Alexander. Dia seolah terhipnotis, mulutnya tidak sanggup bicara, tubuhnya sulit di gerakkan. Hanya matanya saja yang sesekali berkedip, dan jantungnya yang berdetak lebih kencang.


Perasaan apa ini?, batin Jovanka


Alexander pun diam menatap Jovanka di pangkuannya. Dia tidak mampu mengartikan diamnya itu. Dia hanya merasa nyaman berada di posisi sedekat itu.


Jova tersadar dari lamunannya. Dia mengangkat sedikit wajahnya menatap mata Alexander.


"Dasar gila!" umpat Jova, melepas paksa tangan kirinya lalu berdiri dan berjalan masuk ke kamarnya. Menutupi wajahnya yang merah merona karena malu.


"Apa yang baru saja aku lakukan?" Jova berfikir saat menutup pintu kamarnya. "Sial!" umpat Jovanka tersenyum malu dengan kelakuannya yang sebenarnya dia suka bisa sedekat itu dengan seorang dosen yang banyak di gilai mahasiswi di kampusnya.


Jova melompat ke atas tempat tidurnya girang. Dia terus tersenyum, membayangkan apa yang baru saja terjadi. Yang membuat dia bahagia adalah saat dia akan jatuh ternyata Alexander lebih dulu menarik pinggangnya. Jova terus tersenyum tanpa henti.


"Aaaahh! ingin rasanya waktu berhenti saat itu saja. Hihihi" Jova masih terus tersenyum bahagia. "Ahh, aku rasa sekarang akulah yang gila.'


Setelah puas dengan lamunannya, Jova masuk ke kamar mandi, untuk ritual sebelum tidur. Setelah itu dia mengganti bajunya dengan piyama warna Biru muda polos. Lalu merebahkan dirinya di ranjangnya yang empuk.


"Semoga mimpi indah Jovanka" gumamnya pelan untuk dirinya sendiri.


Alexander masih duduk di sofa saat Jova masuk ke kamarnya. Dia masih menonton berita malam dan sesekali memainkan ponselnya.


Hingga jam menunjukkan jam 10 malam barulah Alexander naik ke kamarnya. Dia membersihkan diri sebelum tidur, dan mengenakan piyama berwarna biru muda polos. Dan tidur dengan pulas nya setelah itu.


# # # # # #


Malam hari Jova terbangun dari tidurnya karena haus. Dia berjalan ke dapur untuk minum air. Jova menenggak setengah gelas air.


"Ambilkan aku air!"

__ADS_1


Uhhuuk uhukk uhukk


Jova tersedak kaget tiba - tiba terdengar suara bariton dari belakangnya.


"Tch! minum yang benar!" tegur Alexander.


"Kau ini mengagetkan saja!" ucap Jova kembali menuang air di gelas untuk Alexander.


Alexander meminum air dalam gelas hingga tandas, lalu memberikan gelas itu pada Jova kembali.


Alexander berdiri dari duduknya di kursi meja makan, berjalan kembali ke arah tangga.


"Kau tidak tidur lagi?" tanya Alexander pada Jova yang diam saja di dapur setelah mengembalikan gelas Alexander.


"Iyalah, ini kan masih jam 1 pagi!" Jova berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh pada Alexander.


Alexander menaiki tangga. Sesekali matanya melihat ke bawah arah Jova berjalan menuju kamarnya.


"Kenapa dia memakai piyama yang sama dengan ku?" gumam Alexander pelan.


"Bagaimana bisa, dia punya piyama yang sama dengan ku!" gumam Jovanka saat dia sudah di dalam kamarnya.


Jova naik ke ranjangnya dan merebahkan dirinya. Memikirkan bagaimana dia bisa punya piyama yang sama dan secara tidak sengaja mereka memakainya bersamaan.


"Aahh! kebetulan saja! pabriknya tidak membuat satu piyama kan" gumam Jova lalu memejamkan matanya.


Di kamar Alexander membuka lemari khusus piyamanya lebar - lebar.


"Ada banyak sekali warna, kenapa aku tadi mengambil warna ini?" gumam Alexander.


"Huhh!" Alexander menutup kembali lemarinya. Lalu keluar dari walk in closet dan naik ke ranjangnya untuk kembali tidur.




Hai Reader, tinggalkan Like, komen atau vote dong!



Terima kasih,



Salam Lovallena

__ADS_1


__ADS_2