I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Pembalasan


__ADS_3

Mobil yang di kemudikan Rakha, memasuki jalan menuju gudang belakang Rusun. Pengawal yang melihat kedatangan mobil Rakha, segera bersiap membukakan pintu untuk Tuannya.


Setelah mobil berhenti, dua orang Pengawal membuka pintu kanan dan kiri, bersamaan dengan Rakha dan Alexander yang membuka seat belt nya.


Alexander berjalan cepat diikuti Rakha di samping sedikit di belakang nya melewati para Pengawal yang menunduk hormat pada mereka. Dua pengawal yang menjaga pintu segera membuka pintu utama gudang itu.


Alexander menatap tajam pada Carissa dan Julie yang belum menyadari kehadiran mereka. Alexander berjalan lambat namun aura yang terpancar sangat dingin dan mencekam. Begitu juga aura yang muncul dari seorang Rakha Leonard.


Tap tap tap!


Suara langkah kaki pelan dan bergantian yang terdengar nyaring di gudang yang cukup luas itu, membuat Carissa dan Julie menoleh ke arah pintu.


Seketika sekujur tubuh Julie menegang, begitu juga Carissa yang semakin menciut manakala dirinyalah yang paling lama di tatap tajam oleh Alexander. Tatapan tajam Alexander seolah mampu membuat darah dalam tubuh Carissa membeku.


"Alexander! aku minta maaf!" ucap Carissa dengan meneteskan setitik air matanya, dengan keberanian yang entah dari mana datangnya.


Alexander tidak menggubris kalimat apapun yang muncul dari bibir Carissa. Alex masih berjalan pelan, hingga akhirnya dia berhenti dengan jarak dua meter dari Carissa.


Alexander belum bicara apapun, dia menatap tajam Carissa dan menarik nafas dengan berat. Seolah ada gumpalan amarah besar yang tersimpan di dalam hatinya.


Sepertinya nyawaku di ujung tanduk! batin Carissa dengan kaki yang mulai bergetar.


Rakha berdiri menghadap Julie yang perasaannya tak jauh berbeda dengan apa yang di rasakan Carissa. Dia lebih takut lagi karena baru kali ini dia berhadapan dengan kemarahan penguasa Group G itu.


Rakha menatap tajam mata Julie yang sama sekali tidak berani menatapnya. Kaki Julie bahkan jelas terlihat kalau sedang bergetar hebat.


Ya Tuhan, aku tidak menyangka kesalahan yang ku buat sefatal ini! sepertinya aku akan mati di tempat ini! ucap Julie dalam hati dengan air mata yang menetes.


"Kesalahan terbesar mu adalah mengabaikan peringatan ku!" ucap Alexander dengan nada dingin dan tegas, memecah keheningan gudang itu. "Kalau saja kau mendengar dan berhenti mengganggu ku dan istriku, mungkin hari ini kau masih bisa melakukan pemotretan sesuai impianmu!" ucap Alexander yang masih menatap tajam pada Carissa. "Sayangnya Agensi yang berhubungan dengan nama mu sudah memutus kerja sama denganmu, sejak kau menjadi tersangka penabrakan istriku!"


"Alexander! tolong jangan hancurkan karir yang sudah ku bangun sejak kecil!"


"Aku tidak bermaksud menghancurkan karir mu Carissa Birdella!" ucap Alexander santai. "Yang aku inginkan adalah menghancurkan mu! menghancurkan perempuan laknat sepertimu!" ucap Alexander dengan nada penuh penekanan.


Julie ikut merinding mendengar nada bicara dan apa yang di ucapkan Alexander.


"Seharusnya setelah menabrak mobil istriku, lebih baik kau melompat ke laut, atau meminta anak buah ku untuk menembak kepalamu sebelum aku datang!" ucap Alex tegas, "karena jika sudah berada di tanganku, maka kematian yang kau dapatkan adalah kematian perlahan, kematian yang penuh penyiksaan!" ucap Alex dengan senyum sinisnya.


Rakha ikut tersenyum sinis melihat nasib Carissa yang sudah bisa dia lihat seperti apa jadinya.


Tubuh Carissa semakin menegang, nafasnya mendadak sesak. Kakinya semakin bergetar.


"Alexander! apa yang akan kau katakan pada Papa mu, kalau dia tau kau membunuhku?" ucap Carissa berusaha mencari celah.


"HAHAHAHAHA!" tawa menggelegar Alexander dan Rakha bersamaan. Membuat Carissa dan Julie semakin ketakutan.

__ADS_1


"Memangnya kau pikir apa yang akan di lakukan Papa kalau dia tau kau sengaja menabrak menantu kesayangannya! hah?" ucap Alex tegas. "Apa kau pikir Papa ku lebih lembut di banding aku?" tanya Alexander berjalan mendekati Carissa yang sedikit menunduk. Alex mengangkat dagu Carissa dengan satu jari telunjuknya, membuat Carissa dengan jelas menatap tatapan membunuh Alexander. "Kau tidak mengenal sisi lain dari seorang Haidar Gibran!" ucap Alex sinis, "kau hanya mengenalnya sebagai Papa ku yang humoris dan suka bercanda! iya kan?" tanya Alex memiringkan sedikit wajahnya.


"Apa maksudmu Alexander?" tanya Carissa yang bingung.


"Bawa dia masuk!" perintah Alex pada anak buahnya untuk membawa Carissa masuk ke ruangan di sebelah gudang itu. Sebuah ruangan yang kedap suara.


Carissa kembali di ikat di kursi oleh dua Pengawal yang membawanya, sebelum Pengawal itu keluar. Di ruangan itu hanya ada Alex, Rakha dan Carissa.


"Kau ingin tau kelanjutan ceritaku?" tanya Alex sinis, "aku akan bercerita sebagai bonus perpisahan kita!" ucap Alex dengan senyum sinis.


"Hahaha!" Rakha tergelak keras.


"Kau pikir siapa yang membangun tempat ini!" tanya Alex sinis, "Disini lah Tuan besar Haidar Gibran menghakimi musuhnya! dan para pecundang seperti.. seperti.. " Alexander menggantung kalimatnya dengan senyum sinisnya.


"Seperti apa maksudmu?" tanya Carissa yang penasaran.


"Seperti Papamu!" ucap Alex tegas dan dingin.


"Papa?" Carissa menajamkan matanya mencari penjelasan dari kalimat Alex. "Apa maksudmu?"


"Sepertinya sudah saatnya dia tau, Tuan!" sahut Rakha dengan senyum tak kalah sinis.


"Jika kau pernah mendengar orang tau mu meninggal karena kecelakaan pesawat, maka itu adalah hoax!" ucap Alexander.


"Apa maksudmu?"


"Bohong!" sahut Carissa.


"Kau tau! bisa saja orang tua mu sekarang masih hidup! kalau mereka bisa bertahan hidup!"


"Apa maksudmu?" tanya Carissa.


"Tapi sayang! Pengawal yang di tugaskan membawa mereka menginformasikan Papa mu mati karena bisa ular kobra, dan Mama mu tewas bunuh diri"


"Bulshit!" teriak Carissa.


"Orang tua mu di buang ke hutan Amazon!" ucap Alexander sinis.


"Tidak mungkin!" bantah Carissa.


"Itu kenyataan!" sahut Rakha.


"Papa dan Mama mu sangat baik padaku!"


"Itu karena kasihan padamu, dan kau tidak tau menahu tentang permasalahan mereka!" jelas Alexander. "Sekarang kau tau kan, kenapa aku tidak pernah menyukaimu!" ucap Alexander dengan senyum sinisnya.

__ADS_1


"Semua pasti bohong!"


"Tidak ada yang membohongimu Carissa!" ucap Alex membelakangi Carissa. "Semua adalah kenyataan!" lanjutnya. "Dan kau akan mendapatkan hukuman yang sama!" ucap Alexander tegas dengan memutar tubuhnya menatap tajam mata Carissa yang basah oleh air mata.


"Tidak!"


"Kata - kata mu sudah tidak ada artinya Carissa!" ucap Alexander.


"Karirmu sudah hancur, kau tak punya keluarga, pacarmu juga sudah di penjara. Kalaupun kau hilang, tidak akan ada yang mencari mu!" ucap Rakha dengan senyum sinisnya.


"Tidak mungkin!" teriak Carissa dengan tangis ketakutannya.


Alexander keluar di ikuti Rakha di belakangnya. Rakha membuka pintu ruangan itu dan di sambut dua orang Pengawal yang menjaga pintu itu.


"Lakukan sesuai rencana!" bisik Rakha pada dua Pengawal itu.


"Baik, Tuan!" ucap dua Pengawal bersamaan.


Alexander terus berjalan ke pintu utama gudang, melewati Julie yang menatapnya dengan ketakutan luar biasa.


Rakha menghampiri Julie, dan mengeluarkan amplop dari dalam jas nya.


"Kau di pecat! nama dan gelar mu masuk dalam daftar black list! aku mengampuni mu selama kau bisa tutup mulut, dan tidak menceritakan kejadian ini juga tentang Carissa pada siapapun! Tapi jika ada media atau telingaku mendengar orang membicarakan tentang kejadian ini, aku pastikan nyawamu melayang di tanganku!" ucap Rakha tegas dan penuh penekanan.


"Ba..baik Tuan!" ucap Julie dengan tubuh yang bergetar.


"Bagus!" ucap Rakha dengan mengeratkan giginya.


Setidaknya aku tidak mati! batin Julie.




Jangan di bawa ke dunia nyata ya Kakak, ini hanya cerita fiktif karangan Author receh, Hehe.



Terima kasih yang sudah setia dan rela maraton baca novel Author satu ini.


Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentarnya.



Salam Lovallena.

__ADS_1


__ADS_2