
Selesai makan siang, Jova dan Alexander kembali ke kamar hotel. Mereka sekarang masuk ke kamar Jova. Pengawal meletakkan paper bag milik Jova di dalam kamar Jova.
Jova mengemasi semua barang - barangnya di Almari kamar hotel di bantu Alexander. Karena barang - barang milik Alexander sudah dikemasi pengawalnya.
Mereka beristirahat sebelum meninggalkan hotel. Pesawat pribadi yang akan membawa mereka sudah di siapkan di Bandara.
"Besok aku akan menjemputmu jam 7 malam", ucap Alexander pada Jova yang bersandar di dadanya.
"Iya. Lalu apa kamu juga akan menjemput ku pulang?"
Alexander diam sejenak. Memikirkan jawaban yang tepat.
"Kalau kau mau pulang bersamaku, tentu saja aku akan mengantar mu dengan senang hati tuan putri", mencium puncak kepala Jova.
"Tentu saja aku mau", ucap Jova tanpa melihat Alexander.
Apa kamu yakin?, tanya Alexander dalam hati.
"I love you sayang", ucap Alexander penuh kelembutan.
Jova mendongak melihat manik mata Alexander. Dan dia menemukan ketulusan dari ucapan Alexander.
"Apa kamu masih melarang ku membalas ucapanmu?", tanya Jova.
Alexander tersenyum manis melihat dalam mata Jova. Mengusap lembut wajah Jova dengan jemari tangannya.
"Jangan membalasnya", ucapnya singkat.
"Kenapa?", tanya Jova kecewa. "Padahal aku ingin sekali mengatakan kalau aku ... "
Alexander membungkam mulut Jova dengan bibirnya. Alexander mencium lembut bibir manis Jova. Dia memejamkan matanya, memeluk erat tubuh mungil Jova. Ciuman yang lama dan dalam.
Selama hampir satu minggu sejak ciuman pertama mereka, sekarang mereka sudah pandai berciuman. Mereka bisa mengatur nafas masing - masing. Karena setiap hari mereka menyempatkan untuk bermesraan dan berciuman.
Lidah Alexander menyusuri semua yang ada di dalam mulut Jova. Nafas keduanya memburu. Jova bangun dari duduknya tanpa melepas ciuman mereka. Dia pindah duduk di pangkuan Alexander, menghadap Alexander, melingkarkan kedua tangannya di leher Alexander dengan erat. Kedua kakinya mengapit paha Alexander.
Kedua tangan Alexander berada di pinggang Jova, menyusup masuk ke dalam kaos oblong yang dipakai Jova. Kedua tangan Alexander meraba pinggang ramping Jova, lalu mengusap lembut punggung Jova dan mendekapnya erat saat Jova dengan agresif ******* bibirnya.
Alexander meregangkan pelukannya, tangan kanannya naik ke atas meraba pengait br* Jova, hasratnya benar - benar ingin melepas pengait br* itu. Tapi dia hanya masuk ke sela - sela kulit punggung dan pengait br*. Lalu dia menurunkan kedua tangannya mengusap perut ramping Jova.
Dengan sedikit keberanian, Alexander menaikkan kedua tangannya, meraba buah dada Jova yang masih tertutup rapat oleh br*. Alexander hanya meraba dan merem*s sedikit br* Jova. Membuat Jova mengeratkan tangannya yang melingkar di leher Alexander, menggigit lembut bibir Alexander. Hawa panas merasuki keduanya. Di tambah Jova merasa ada pergerakan di bawah sana yang saat ini sedang tertindih oleh nya.
Kewarasan menghampiri Alexander, dia segera menurunkan tangannya yang hampir saja berniat melepas pengait br*Jova.
Mereka melepas ciuman mereka bersamaan dengan suara khasnya. Jova menatap dalam mata Alexander. Alexander pun melakukan hal yang sama. Mereka menempelkan dahi dan hidung keduanya. Alexander mengusap lembut kedua paha mulus Jova yang hanya memakai hotpants.
"I love you sayang", bisik Alexander.
"Kalau kau melarang ku mengucapkan kalimat cinta ku, biarkan aku memberikan keperawanan ku untukmu sekarang", bisik Jova dengan nafas sedikit tersengal.
Alexander tersenyum sinis.
"Tidak sayang"
"Tapi aku mau"
"Suatu hari nanti kau akan merasakan di serang serigala yang selalu terkurung ini"
"Ayolah sayang"
__ADS_1
"Tidak!", ucap Alexander tegas.
"Agar kau tau, aku benar - benar masih perawan"
"Aku berjanji. Akulah yang akan mengambil keperawanan mu. Tapi di saat yang tepat. Setelah kita menikah"
Kali ini Jova tersenyum manis.
"Sebenarnya aku hanya ingin tau, kau serius dengan ucapan mu atau tidak", ucap Jova dengan gelak tawanya.
"Ucapan apa?", Alexander bingung.
"Kau pernah bilang, hanya minta apa yang ada di wajahku. Tapi saat kamu meraba dada ku, rasanya kamu akan meminta yang lain. Dan aku berniat menggoda mu. Tapi ternyata kau benar - benar tidak mudah tergoda. Padahal aku merasakan gerakan senjata mu"
"Hahahahaha Dasar kau!", Alexander menyentil jidat Jova.
Jova tergelak dengan kelakuannya sendiri.
"Kalau seandainya aku tadi benar - benar memakan mu bagaimana?", tanya Alexander mengangkat kedua alisnya.
"Aku akan menghubungi ayah, agar dia datang ke sini membawa penghulu, haha"
Alexander tergelak dengan tingkah lucu Jova.
"Hemmm ayo! saatnya kita pulang"
"Ok sayang!"
Jova bangun dari duduknya si pangkuan Alexander, mengambil tasnya. Lalu berjalan bersamaan keluar kamar. Diluar kamar sudah ada dua pengawal yang bersiap membawa semua barang - barang Jova yang mencapai 4 koper besar dan 4 tas yang ada di atas koper.
Sepanjang perjalanan menuju Bandara Changi, Jova bersandar di pundak Alexander. Tak luput pula saat pesawat mengudara pun, Jova duduk di pangkuan Alexander. Seolah enggan untuk berpisah.
"Hemm?"
"Kau janji tidak akan meninggalkan aku kan?"
"Tentu saja tidak sayang", Alexander menarik nafas. "Separuh hidup ku adalah dirimu"
"Tapi kenapa, aku merasa kau akan lari dari ku"
"Kalau kita berpisah, bukan aku yang lari"
"Lalu?"
"Takdir"
Jova meraih bibir Alexander dengan bibirnya, ********** dengan kasar. Bahkan Jova menggigit bibir Alexander.
"Kenapa kamu jadi liar begini?", tanya Alexander saat Jova melepas ciumannya.
"Jangan pernah katakan takdir akan memisahkan kita. Aku tidak mau berpisah denganmu!", ucap tegas Jova.
Alexander hanya tersenyum sinis. Meraih kepala Jova untuk bersandar di tekuk lehernya.
"Sayang, semua yang hidup pasti mati. Kita tidak mungkin selamanya hidup. Tidak mungkin pula selamanya kita bersama", ucap Alexander lembut sambil mengusap kepala Jova.
Tangan Jova meremas kuat baju Alexander yang di genggamnya. Alexander tau itu, dia hanya tersenyum kecil.
"Tapi percayalah, selama aku hidup hanya kaulah pemilik hatiku", ucap Alexander lalu mengecup lembut bibir Jova.
__ADS_1
Jova mengangguk malas dengan ucapan Alexander.
Menjelang malam, pesawat pribadi yang membawa mereka sampai di Bandara Soetta. Mereka turun dengan di sambut beberapa orang berpakaian hitam.
Mereka mengambil koper - koper Jova, lalu berjalan mengikuti Alexander dan Jova.
Alexander mengemudikan mobilnya sendiri menuju rumah Jova. Mereka sampai rumah Jova saat jam menunjukkan pukul 8 malam. Karena mereka memilih makan malam dahulu.
Alexander membuka pintu untuk Jova. Mendengar ada suara mobil berhenti, semua yang ada di dalam rumah keluar.
"Ayah, ibu Jova kangen"
"Iya sayang, ibu juga kange".
Mereka sangat bahagia saat melihat wajah dan kulit Jova kembali mulus. Tristan dan satu - satunya pembantu di rumah Jova menurunkan koper - koper Jova.
"Bagaimana bisa, kau berangkat dengan tas kecil, pulang membawa 4 koper besar? apa tas kexil mu itu beranak Pinak?", tanya ibu.
"Alexander membelikan banyak barang untukku bu"
"Kamu jangan memanfaatkan kebaikan orang Jova", ucap ibu.
"Tidak bu, Alexander sendiri yang memaksa. Bahkan dia membelikan ku tanpa menawariku terlebih dahulu. Kalau tidak percaya tanya saja sendiri", melirik Alexander yang berdiri di belakang.
"Apa iya nak Alexander?"
"Iya tante", jawab Alexander.
"Maaf ya, kalau Jova merepotkan"
"Sama sekali tidak tante", ucap Alexander tulus, membuat ayah dan ibu Jova tersenyum.
"ayo masuk dulu", ajak ayah Jova
"Maaf om, saya harus kembali ke apartemen. Saya ingin istirahat dulu"
"Oh begitu. Baiklah terima kasih ya nak?", ucap ibu Jova tulus.
"Sama - sama tante, permisi om", ucap Alexander.
"Iya, hati - hati", jawab ayah dan ibu Jova bersamaan.
Mereka semua masuk setelah mobil Alexander tak lagi terlihat.
Deg!
Jova merasa ada yang aneh saat hendak masuk ke rumahnya. Tapi dia berusaha menepisnya.
Terima kasih pada teman - teman yang sudi meninggalkan Like dan Komentarnya.
Dan terima kasih sebesar - besarnya pada teman yang sudah memberikan Vote dan dukungan pada novel ini.
Salam Lovallena.
__ADS_1