I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Sabtu yang di Tunggu


__ADS_3

"Siapa lagi yang berani masuk ke kamar ku tanpa mengetuk kalau bukan Princess Fellicya" ucap Devan melihat Fellicya yang berjalan ke arah dengan senyum manjanya.


"Kak, Kak Rakha tidur di sini?" tanya Fellicya duduk di samping Devan.


"Iya!" jawab Devan kembali pada ponselnya.


"Apa Kak Rakha itu punya pacar?" tanya Fellicya.


"Haha," Devan tergelak, "Kenapa? bukankah semua orang tau kalau seorang Rakha Leonard adalah Playboy?" tanya Devan menatap mata Fellicya dengan senyum mengejek.


"Tidak apa - apa, Fellicya hanya bertanya"


"Oh!" Devan mengangguk, "kau suka pada Rakha?"


"Ah! tidak! siapa bilang!" Fellicya mengelak.


"Yakin?"


"Iya!"


"Rakha juga tak kalah tampan dari ku! kalau suka padanya tidak masalah, Kak Devander mu ini pasti akan setuju"


"Apa hubungannya tingkat ketampanan kalian?" Fellicya mengerutkan keningnya, "memangnya ketampanan Kak Devander ini patokan untuk Fellicya mendapatkan kekasih gitu?" Fellicya mengangkat sudut bibirnya malas.


"Hahahaha" Devan tertawa merasa lucu dengan kepercayaan dirinya sendiri, "tentu saja! calon suamimu harus lebih tampan dari ku. Setidaknya harus setara lah!" ucap Devan dengan gelak tawanya.


"Cih! sok tampan!" Fellicya memukul pelan lengan Devan.


"Aku memang tampan!" ucap Devan, "siapa yang berani menyangkal ketampanan ku?" Devan menjulurkan lidahnya.


Fellicya melirik Devan dengan mengerucutkan bibirnya kesal. Lalu membuang pandangan ke arah lain.


"Jadi bagaimana? kau mau bantuan Kakak untuk mendekatkan mu dengan Rakha?"


"Tidak!" ucap Fellicya, "nanti Fellicya seperti Jova dan Kak Alexander!"


"Kenapa mereka?"


"Beda usia 7 tahun!"


"Memangnya kenapa?" tanya Devan bingung.


"Fellicya ingin menua bersama, jadi jangan jauh - jauh beda usianya. Setara atau paling jauh beda 3 tahun."


"Memangnya cinta memandang usia?" tanya Devan heran.


"Tidak juga sih!" Fellicya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kalau memang suka, kejarlah!" ucap Devan, "jangan pandang usia, yang penting bahagia!"


"Suka apa maksud Kak Devander?"


"Tch! jangan membohongi diri sendiri!" ucap Devan.


"Diam lah, Kak!" ucap Fellicya dengan nada sedikit tinggi. "Aku kesini mau minta bantuan Kakak, untuk memberi ku pencerahan menghadapi skripsi ku!"

__ADS_1


"Kau salah alamat!"


"Salah alamat?" Fellicya mengerutkan keningnya.


"Yang Dosen itu Alexander bukan Devander!"


"Tapi kan pendidikan kalian sama!"


"Tetap saja beda!" tegas Devan. "Alexander punya jiwa mengajar dan memimpin. Kalau aku hanya mau memimpin tanpa mau mengajar!" ucap Devan dengan sedikit tergelak. "Lagi pula kau ini calon Dokter bukan businessman!"


"Fellicya tau, kalau Fellicya calon Dokter, aku hanya minta di beri pencerahan. Persiapan yang harus Fellicya lakukan untuk menghadapi skripsi."


"Tunggu Alexander pulang saja," ucap Devan, "dulu saja aku selalu mengandalkan Alexander"


"Tch!" kesal Fellicya memukul pelan lengan Devan, "kelamaan, mana ketemu!" membuang muka ke arah lain.


"Haha!" Devan tergelak.


# # # # # #


Beberapa hari telah berlalu. Hari ini, adalah hari terakhir Jova dan Alexander di Pulau Bali. Mereka melewati bulan madu dengan seindah mungkin. Banyak tempat yang mereka kunjungi, tapi banyak juga waktu yang mereka habiskan untuk memadu kasih di Villa.


Pagi ini Jova sengaja bangun lebih awal, Jova mengecup singkat pipi Alexander. Kemudian turun dan memunguti bajunya yang berserakan akibat pertempuran di atas ranjang sebelum mereka tertidur.


Jova memakai bajunya kembali, dan berjalan ke arah balkon kamar yang menampakkan keindahan tepi pantai.



Jova berdiri menghadap laut yang luas, meletakkan tangannya di pagar pembatas. Menikmati segarnya udara pagi.


Tiba - tiba sepasang tangan kekar melingkar di pinggang ramping Jova. Tanpa membuka matanya Jova menyandarkan kepalanya pada dada bidang di belakangnya.


"Kamu masih ingin berlama - lama di sini?" tanya Alexander yang menyandarkan dagunya di kepala Jova.


"Tidak!" ucap Jova yakin, "aku sudah puas satu minggu di sini"


"Kamu yakin?"


"Iya!" jawab Jova, "kapan - kapan bawa aku liburan lagi ya?"


"Tentu saja Sayang" jawab Alex ikut memejamkan matanya, "kamu mau kemana?"


"Bawa aku London!" ucap Jova, "aku mau tau dimana kamu kuliah dan dimana kamu tinggal selama di London bersama Devan dan Rakha. Siapa tau ada mantanmu di sana" canda Jova.


"Haha," Alex tergelak dengan keinginan istrinya itu, "baiklah Nyonya, aku akan membawamu kemanapun kamu mau" Alex mengeratkan pelukannya di pinggang Jova.


"Benar?" Jova mendongak ke atas, melihat wajah Alexander.


"Hemm" jawab Alexander mengangguk pelan.


Jova memutar badannya dan memeluk erat tubuh Alexander. Alex membalas pelukan erat Jova.


"Sayang, hari ini kita belanja oleh - oleh yuk!" ucap Jova mendongakkan kepalanya.


"Boleh," jawab Alex, "apa kamu mau kembali ke Jakarta besok saja? aku mulai bekerja kan hari senin"

__ADS_1


"Tidak usah, Sayang!" jawab Jova, "besok hari Minggu, kita gunakan untuk istirahat"


"baiklah, Sayang!" ucap Alex kembali mengeratkan pelukannya. "Apapun untukmu."


# # # # # #


Sedangkan di tempat lain, di sebuah kamar yang berada di lantai dua Ruko. Indira menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya. Dia baru saja selesai memasukkan baju cukup banyak, beberapa tas juga sepatu dan sandal. Tak lupa perlengkapan untuk kuliahnya. Hingga dua koper besar terisi penuh.


"Jika di fikirkan, aku ini mengajukan syarat gila," gumam Jova, "meskipun Jova bilang Rakha tidak akan mudah mengambil yang bukan haknya, bagaimana kalau seandainya dia khilaf?" Indira duduk menyilangkan kaki, menatap dua kopernya.


"Ah! kau gila Ndi!" memukul tempat tidurnya. "Bagaimana kalau selama satu bulan Rakha belum juga jatuh cinta padaku?" gumamnya lagi, "aku harus pura - pura tidak mengenalnya! Aaah! berat sekali!" keluh Indira.


Pikiran Indira berjalan kemana - mana, antara ragu dan yakin menjadi satu. Belum lagi rasa takut jika ada khilaf di antara keduanya.


"Aku yakin seorang Rakha Leonard masih punya hati dan pikiran yang waras!" gumamnya meyakinkan dirinya. "Meskipun dia Playboy!" lanjutnya kecewa.


Indira turun dari tempat tidurnya, mengambil tas kecilnya, dan membawa dua kopernya turun ke lantai bawah di bantu seorang karyawannya.


"Mbak Indira mau liburan ke luar negeri?" tanya seorang Waiters melihat dua koper besar milik Indira.


"Tidak," jawab Indira, "selama satu bulan aku akan tinggal di apartemen temanku. Kalian bekerjalah dengan baik. Sesekali aku akan datang kesini untuk meminta pertanggung jawaban kinerja kalian selama aku tidak ada di sini, mengerti?"


"Mengerti, Mbak Indira!" jawab karyawannya serentak.


"Bagus! aku berangkat dulu!"


"Iya, Mbak!"


Indira memasukkan kopernya ke dalam mobil, kemudian melajukan mobilnya menuju apartemen Rakha. Sepanjang perjalanan Indira berusaha meyakinkan dirinya, bahwa dia pasti bisa menaklukkan sang pujaan hati.


Indira memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen, dia menurunkan kopernya dan membawanya menuju lobby. Indira masuk ke dalam lift. Indira keluar dari lift setelah pintu lift terbuka di lantai tempat apartemen Rakha berada.


Indira menekan bel apartemen Rakha, cukup lama Indira menekan bel tapi tidak kunjung ada jawaban.


"Kemana dia sepagi ini?" gumamnya sambil terus menekan bel.


Sampai akhirnya terdengar bunyi Cleekk! pintu terbuka yang memperlihatkan muka bantal Rakha dengan mata yang belum terbuka sempurna, di tambah hanya menggunakan celana boxer berwarna hitam. Indira menganga melihat tubuh atletis Rakha. Rakha melihat Indira dan dua koper di kanan kirinya dengan penuh tanda tanya. Rakha berusaha menyadarkan dirinya.


"Mau apa kau kemari?" tanya Rakha menyandarkan dirinya di daun pintu, "kau kabur dari rumahmu?" Indira masih belum fokus sepenuhnya, dia masih tertegun melihat perut sixpack Rakha. "Apartemen ku tidak menampung orang - orang yang kabur dari rumahnya, apalagi anak gadis sepertimu! pulang sana!" usir Rakha dengan mata yang masih menahan kantuk.


"Hey!" Indira mulai menyadarkan dirinya, "kau lupa dengan perjanjian kita?" tanya Indira dengan nada tinggi.


"Perjanjian?" Rakha mengerutkan keningnya.




Lah, gimana ya kelanjutannya. hehe



Terima kasih, sudah membaca sampai di sini dan sudah memberi dukungan untuk novel receh ini.


__ADS_1


Salam Lovallena.


__ADS_2