I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Singapura 9


__ADS_3

"Kau tidak lihat!" Devan menunjuk Alexander dengan mengangkat sedikit dagunya. "Sudah lama Papa meminta Alexander untuk pulang. Tapi Alexander masih enggan. Akhirnya Rakha lebih dulu pulang dan menjadi Asisten kedua Papa, dan mempelajari semua seluk beluk perusahaan Papa, tanpa di perkenalkan ke publik. Karena dia adalah calon Asisten Alexander. Satu tahun kemudian, barulah Alexander berniat pulang. Tapi dokter di England menyatakan, dalam otak Alexander tumbuh tumor jinak. Akhirnya Alexander memutuskan untuk menjalani pengobatan di Singapura yang dekat dengan Indonesia. Sebelum masuk ke perusahaan, Alexander ingin mewujudkan mimpinya menjadi Dosen di Indonesia. Sehingga dengan senang hati aku membantunya. Kita sepakat untuk datang bergantian ke kantor, dengan memakai kaca mata hitam dan masker. Setiap weekend dia akan menyempatkan dirinya ke Singapura untuk untuk terapi, lalu pulang lagi ke Indonesia.


Saat kau tinggal di apartemennya satu minggu, dia pergi ke Singapura tanpa menginap. Berangkat pagi pulang sore. Kau ingat saat dia mengantarmu ke kampus?" Devan melirik Jova yang mengangguk.


"Itu dia ke Singapura dan aku ke kantor. Lebih sering aku yang ke kantor dari pada dia. Apa lagi saat kau koma, dia sangat jarang ke kantor!"


"Lalu apa Carissa tau kalau kalian itu kembar?"


"Hihi tentu saja tidak! dia sama sekali tidak penting bagi kami!" tawa Devan lirih.


"Kenapa? padahal dia cantik!"


"Kami benci dengan tingkahnya. Kau tau? Aku seorang Casanova, tapi aku tidak sedikitpun tertarik pada wanita itu!"


"Apa? kau seorang Casanova?"


"Iya!" jawab Devan melirik Jova yang menggeser duduknya. "Kenapa?"


"Hah?" pekik Jova, "aku jadi takut padamu!"


"Hihihi lagi pula aku tidak segila itu! aku tau kalian saling mencintai, aku tidak seserakah itu merebut mu darinya!"


"Tetap saja kau seorang Casanova!"


"Aku dibesarkan di luar negeri, di sana bebas. Jadi itu hal yang wajar!"


"Alexander juga lama di England"


"Itulah bedanya aku dengan Alexander! kau tau kenapa aku mengajak Alexander memakai masker saat ke kantor?"


"Kenapa?"


"Alexander itu orang yang dingin kalau di luar. Sementara aku, kalau lihat perempuan cantik, bibir ku selalu ingin tersenyum. Dan hal yang paling sulit ku lakukan adalah meniru gaya Alexander. Apalagi mulai kemarin aku ke kantor tanpa masker, benar - benar sulit. Padahal saat di rumah Alexander sangat humble dan kadang menyebalkan juga!"


"Hihihihi kau benar" Jova cekikikan mengingat saat tinggal di apartemen Alexander.


"Dengar! aku ingin bercerita sedikit!"


"Apa?" Jova menatap serius Devan.


"Entah karena kami kembar atau bagaimana, sampai - sampai menyukai gadis yang sama saat pandangan pertama"


"Siapa?" tanya Jova, "Alexander pernah bilang, kalau dia pernah jatuh cinta pada seseorang di masa lalu, tapi hanya sekali. Lalu dia bilang dia mencintai ku? jadi siapa yang kau sukai? apa masa lalu Alexander itu?"


"Kau!"


"Aku?" Jova tampak bingung dengan jawaban santai Devan. "Bukankah pertama kali kita bertemu saat kau menjemput ku?"


Devan tersenyum melihat ekspresi Jova. Lalu menggeleng.


"Aku pernah melihatmu saat kau keluar daru bioskop bersama adikmu!"


"Oh ya?"


"Iya! waktu itu malah aku mengikuti mu sampai kau masuk ke toko sepatu. Saat itu aku merasa kau gadis yang penuh semangat, lucu dan ceria. Lalu sejak saat itu aku terbayang wajahmu. Kemudian, aku melihat mu lagi saat kau mengumpat Putra Gibran di lampu merah. Mobil ku ada di samping mobilmu. Dan kau mengumpat tepat di samping telingaku. Apa kau ingat?"

__ADS_1


Jova tersenyum kikuk dengan cerita Devan. Dia ingat betul saat itu.


"Hehe, maaf!"


"Saat itu aku ingin mencari tau tentang dirimu. Tapi tidak sengaja, Rakha bercerita kalau Alexander menyuruh orang kepercayaan Group G untuk mencari infomasi lengkap tentangmu. Rakha menunjukkan fotomu yang dikirim Alexander. Dan aku baru tau, mahasiswi yang selama ini dia ceritakan adalah dirimu. Saat itu juga aku menumpas habis perasaan ku yang pernah muncul untukmu!"


"Oh ya?"


"Perbedaan ku dengan Alexander bukan di fisik! tapi di sifat dan watak. Jika Alexander memiliki 75 persen kriteria cowok idaman. Maka aku hanya punya 25 persen," Devan menarik nafas panjang. "Alexander tampan, kaya, cerdas, setia dan lembut pada orang - orang yang dia sayangi. Berbeda dengan ku, aku hanya tampan dan kaya. Aku belum pernah merasakan jatuh cinta yang tulus. Semua yang pernah menjalin cinta dengan ku hanya aku anggap cinta monyet!"


"Kau gila! untung bukan kau yang pertama kali aku kenal!"


"Hihi, dasar perawan! kau belum tau saja indahnya surga dunia"


"Heeh! mulutmu!" kesal Jova, karena dia tidak terbiasa berkata vulgar si depan orang yang tak seharusnya.


"Kenapa?" tanya Devan santai.


"Aku tau, aku juga mau. Tapi bisa tidak kau tidak bicara hal seperti itu padaku. Aku malu membahas begituan dengan orang lain!" jujur Jova.


"Kau sama saja dengan Alexander! tidak bisa di ajak bicara soal kenikm*tan tiada dua!" Devan tersenyum menyandarkan kepalanya di sofa. Entah kemana pikirannya pergi.


Jova membulatkan matanya, melempar bantal sofa ke arah Devan. Yang berhasil di tangkap Devan sambil menyunggingkan senyum misteriusnya.


"Kau ini kenapa? sudah biasa hal seperti itu!"


"Itu menurutmu!" kesal Jova, "oh ya, bahasa Indonesia mu lancar juga!"


"Oma ku asli Indonesia, setiap hari dia mengajak ku bicara menggunakan bahasa Indonesia. Dan Opa ku selalu menggunakan bahasa Inggris"


"Oh"


"Iya, aku tau!" ucap Jova, "lalu apa kau akan kembali ke Inggris?"


"Tentu saja! setelah Alexander benar - benar pulih, aku akan kembali. Kekasih ku sudah menunggu di sana!"


"Kekasih?" Jova mengerutkan keningnya. "Barisan kekasihmu kali!"


"Haha iya! tidurlah! ini sudah malam"


"Kau?"


"Aku akan pulang ke rumah Eyang! aku merindukannya!"


"Eyang?" tanya Jova.


"Apa Alexander tidak memberi tau mu kalau ibuku campuran Indonesia - Singapura?"


"Oh iya! mereka masih ada?"


"Hanya Eyang cantik saja yang masih hidup"


"Eyang cantik?"


"Nenek!"

__ADS_1


"Oh" Jova tersenyum. "Beliau tinggal sendiri?"


"Sama Paman dan istrinya"


"Brarti kalian punya paman di sini?"


"Tentu, Rumah Sakit ini juga peninggalan Eyang Tampanku!"


"What!"


"Kalian punya Rumah Sakit di mana - mana?"


"Mendirikan Rumah Sakit itu penting! Selain untuk kita, juga untuk menolong orang lain"


"Iya juga sih! ya sudah, pulanglah! Aku ingin menemani pangeran tampanku tidur!" Jova berdiri dari duduknya.


"Cih! sekarang pangeran tampan, kemarin kau buang - buang!"


"Hehehe" Jova tersenyum kikuk menunjukkan gigi putihnya.


"Kalau kau butuh apa - apa bilang pada Pengawal di depan. Kau belum makan malam kan? aku akan memesan makan malam untukmu!"


"Tidak usah, Tuan. Aku tidak lapar!" ucap Jova sambil duduk di tepi ranjang Alexander.


"Kau mau apa duduk di situ?"


"Kenapa? tubuh ku kecil, tempat tidur ini pasti muat untuk aku tempati bersama Alexander!" Jova menjulurkan lidahnya.


"Cih! Kalian berdua sama saja!"


"Cepat keluar sana!"


Devan keluar sambil menyebikkan bibirnya, lalu tersenyum kecil, melihat tingkah Jova yang memang menggemaskan.


Pantas saja Alexander tergila - gila padamu, batin Devan lalu keluar dari ruang rawat Alexander.


Jova berbaring di sisi kanan Alexander. Karena sisi kiri masih ada infus yang terpasang di tangan Alexander.


Jova meletakkan kepalanya di pinggiran bantal Alexander. Tangannya merangkul perut Alexander.


"Seperti dirimu yang menjaga ku saat aku koma, Aku juga akan menjagamu saat kau koma," Jova mencium kening dan hidung mancung Alexander. "Selamat malam, sayang!"




Sabar ya teman - teman.


Mengetik nya butuh waktu berjam - jam, padahal cuma buat di baca 3-5 menit. Hehe



Terima kasih yang sudah memberi dukungan pada novel ini.


__ADS_1


Salam Lovallena.


__ADS_2