I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Mencoba Mobil Alexander


__ADS_3

Jovanka menggeser tubuhnya yang masih duduk di lantai mendekati wajah tampan Alexander.


Mau tidur, mau belum mandi kau tetap tampan, hehe. Apa yang dimakan mama mu saat dia mengandung mu, sampai kau terlahir sesempurna ini. Tampan, kaya, badan juga bagus. Uuhh rasanya aku ingin menggigit hidung mancung mu itu, ucap Jovanka dalam hati.


Matanya sibuk memandangi setiap sisi dari wajah seorang laki - laki tampan di depannya. Sinar matanya dan senyum nya jelas terlihat kalau dia sangat mengagumi ciptaan Tuhan satu ini.


Duuaaarrr!


Saat asyik menatap wajah Alexander dengan senyum - senyum sendiri, mata Alexander tiba - tiba terbuka lebar. Jova yang terlonjak kaget membuat punggungnya menatap meja di belakangnya.


Braakkk!!


Kenapa dia bangun tanpa aba - aba sih. Apa yang akan aku katakan. Oh meja! kenapa kau tidak menelan ku saja!, jantung Jova seolah ingin melompat melihat Alexander yang menatapnya dengan diam saja.


"Kenapa kau memandang ku seperti itu? Kau mengagumi ketampanan ku?" tanya Alexander mengubah posisi tidurnya menjadi duduk di sofa. Matanya menatap Jova yang masih duduk di lantai. Dia terbangun karena merasakan nafas seseorang yang jatuh di wajahnya.


"Huh! aku hanya heran kenapa kau tidur di sini?" ucap Jova mengelak sambil berdiri berjalan menuju kamarnya.


"Kalau kau suka pada ku bilang saja. Jangan malu - malu seperti itu!" ucap Alexander tersenyum menggoda Jova yang kemudian hilang di telan pintu kamarnya.


"Kenapa aku jadi bodoh begini sih!" gumam Jova setelah menutup pintu kamarnya.


Alexander berdiri, meraih ponselnya di sofa dan berjalan menuju kamarnya di atas. Untuk mandi dan mengganti bajunya. Karena ini hari sabtu jadi dia tidak ada kegiatan wajib yang membuatnya keluar apartemen.


Jova keluar kamarnya sudah mandi dan sudah mengganti bajunya. Dia berjalan ke arah meja makan. Mengoles roti tawar di atas meja dengan selai lalu memanggangnya. Dia membuat dua porsi. Alexander turun dari kamarnya karena merasa lapar.


"Alexander! aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita pagi ini" ucap Jova pada Alexander yang berdiri di tangga terakhir.


Baguslah! aku sangat lapar, batin Alexander.


Alexander berjalan ke arah meja makan. Melihat roti bakar di atas piringnya. Dia duduk di depan Jova, menatap nanar pada roti bakar di depannya.


"Aku memberimu kartu yang saldonya bahkan bisa untuk membeli mobil mu, tapi kau hanya menyiapkan ini untuk aku sarapan?" tanya Alexander menatap Jova dengan menahan kesal.


"Hehe bangun kesiangan membuatku malas untuk memasak tuan. Lagi pula aku juga tidak tau berapa saldo kartumu" Jova tersenyum menaik turunkan kedua alisnya.


"Alasan saja kau!" kesal Alexander menggigit rori bakar buatan Jova.


"Tinggal telan saja repot sekali kau ini!" Jova memanyunkan bibirnya di sela - sela mengunyah.


Mereka menghabiskan roti bakar masing - masing. Alexander makan dengan menahan kesal. Jova makan dengan menahan senyum melihat ekspresi Alexander yang menahan kesal.


Setelah mereka makan, Alexander berjalan menjauhi dapur. Jova mencuci piring dan membersihkan meja makan. Lalu berjalan mencari Alexander.


"Alexander?" panggil Jova setelah menemukan Alexander di balkon bawah dekat ruang tengah.


"Hemm?" jawab Alexander tanpa menoleh Jova yang berjalan ke arahnya.


"Ayo kita jalan - jalan? ini kan hari sabtu"


"Kemana?"

__ADS_1


"Eemmm ..." Jova tampak berfikir. "Ke Ragunan saja! bagaimana?"


"Kau mengajak laki - laki tampan seperti ku ke kebun binatang?" menatap Jova yang duduk di kursi sebelahnya.


"Yaa ampun kenapa kau percaya diri sekali sih"


"Kau sudah pernah tinggal dengan laki - laki paling tampan di muka bumi ini. Dan sekarang apa kau berencana untuk tinggal dengan binatang paling tampan di muka bumi ini!"


"Hiiiih!! kenapa kau ini selalu mengesalkan begini sih! Aku hanya ingin jalan - jalan dengan mu. Ini hari sabtu, aku bosan di apartemen yang hanya bisa melihatmu!"


"Hanya bisa melihatku? apa maksudmu? kau ingin kita melakukan apa agar kau tidak hanya melihatku?" goda Alexander menaikkan sebelah alisnya di tambah senyum menyebalkan ala Alexander.


"Dasar otak kotor!" Jova menendang kaki Alexander.


"Hahaa kalau kau mau kau tinggal bilang"


"Apa maksud mu?" Jova mengerutkan keningnya.


"Maksud ku ... ", Jova membungkam mulut Alexander dengan tangan kanannya.


"Diam! sekarang ajak aku jalan - jalan aku bosan. Kalau kau tidak mau, aku mengajak Bayu dan Indira saja! Bye!" Jova melepas tangannya dan berdiri berjalan masuk.


"Ayo!" Alexander mengalah.


"Serius?" Jova menoleh ke arah Alexander dengan tatapan berbinar.


"Iya! ayo!" Alexander berdiri.


Alexander naik ke kamarnya, Dia juga mengganti bajunya. Lalu mengambil ponsel dan dompetnya. Setelah itu turun ke bawah mendapati Jova yang sudah siap untuk berangkat dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.


Mereka turun menggunakan lift dan berjalan ke arah parkiran. Masuk ke mobil mewah Alexander. Alexander mengemudikan mobilnya membelah jalan raya yang tidak terlalu macet.


"Alexander?" panggil Jova memecah keheningan.


"Hemm?" jawab Alexander tanpa menoleh pada Jova.


"Bagaimana sih rasanya mengemudikan mobil mewah seperti ini?" mata Jova mengamati isi dalam mobil Alexander.


Alexander tidak menjawab pertanyaan Jovanka. Beberapa saat kemudian dia menepikan mobilnya.


"Turun" ucap Alexander.


"Kau mau membuang ku disini?" kesal Jova.


"Turun saja!" Alexander turun dari mobilnya. dan memutari mobilnya.


Oh dia juga turun, batin Jova lalu turun dari mobil Alexander.


"Kau yang mengemudikan!"


"Apa!!" Jova kaget bukan kepalang.

__ADS_1


"Cepat!" Alexander membuka pintu penumpang bagian depan.


"Apa kau tidak malu di supiri seorang gadis cantik seperti ku?"


"Kalau kau menolak, kau harus membayar 150 juta sekarang!" Alexander mengeluarkan senjata andalannya.


Jovanka menghentakkan kakinya ke trotoar tempat dia turun dari mobilnya. Lalu berjalan memutari mobil dan membuka pintu kemudi mobil.


"Apa cara mengemudikan mobil ini sama seperti mengemudikan mobilku?"


"Beda! mengemudikan mobil ini seperti pesawat. Tentu saja sama! kenapa kau masih bertanya", ucap Alexander memakai sabuk pengaman.


Jova tersenyum kikuk dengan ucapan Alexander. Dia memakai sabuk pengaman dan mulai menyalakan mesin mobil Alexander, dan perlahan mulai menginjak gas.


Aaahh aku adalah satu - satunya mahasiswi yang beruntung di kampus. Ah tidur bersamanya di sofa ternyata membuat mimpiku menjadi nyata. Kapan lagi aku bisa mengemudikan mobil mewah milik dosen tampan ini. Ternyata rasanya benar - benar berbeda dengan mobil ku, ucap Jova dalam hati dengan senyum mengembang.


"Apa kau tidak bisa menghentikan senyum jelek mu itu!" ucap Alexander melirik Jova, membuat lamunan Jovanka buyar.


"Hehe Aku hanya senang saja bisa mengemudikan mobil mewah" ucap Jova.


"Tapi kau jadi terlihat kampungan!"


"Iya juga ya" Jova memanyunkan bibirnya.


Sebenarnya juga bukan karena itu tuan, tapi masak iya aku harus ngomong jujur kalau aku senang karena aku satu - satunya mahasiswa beruntung di kampus. Akan jauh lebih memalukan bukan? ucap Jova dalam hati.


Dia menghentikan senyumnya lalu fokus pada jalan di depannya menuju ragunan.




Happy reading!



Semoga suka sama jalan ceritanya ya.


Author hanya berusaha untuk membuat alur yang natural tanpa di buat berlebihan.


Kalau ada masukan untuk next episode boleh tambah di komentar yaa.



Dan jangan lupa tinggalkan Like nya.. hehehe



Terima kasih,


__ADS_1


Salam Lovallena.


__ADS_2