I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Singapura 10


__ADS_3

Menjelang pagi Devan masuk ke ruang rawat Alexander bersama seorang pelayan wanita.


"Cih! apa seperti itu yang namanya jatuh cinta?" tanya Devan pada pelayan wanita di sampingnya.


"Saya tidak tau, Tuan" jawab pelayan itu dengan sedikit menunduk.


Devan melihat Jova yang melingkarkan tangannya di perut Alexander. Matanya masih tertutup rapat.


"Kau tidak pernah jatuh cinta?"


"Pernah, Tuan. Tapi hanya bertepuk sebelah tangan. Sejak saat itu saya tidak pernah jatuh cinta lagi"


"Oh, kasian sekali hidupmu!" ucap Devan dengan senyum mengejek, "harusnya kau belajar padaku!"


Pelayan itu seketika menatap Devan yang menatapnya dengan senyum sinisnya.


Yang ada saya tidak perawan sebelum waktunya! anda kan seorang Casanova! batin pelayan itu.


"Umur berapa kau?"


Seketika pelayan itu kembali menunduk.


"30 tahun, Tuan"


"What! 30 tahun masih jomblo dan perawan! wah! butuh guru khusus kau!"


"Tidak perlu, Tuan!" jawab pelayan itu cepat, "saya memutuskan mengabdi pada keluarga Nyonya besar dan tidak menikah"


Jova mengerjapkan matanya saat mendengar kebisingan. Jova menoleh ke belakang, terlihat Devan dan seorang perempuan berpakaian pelayan. Jova duduk di pinggir tempat tidur Alexander.


"Kau lupa apa yang dikatakan Dokter? jangan berisik di ruangan ini!" ucap Jova pada Devan, lirih tapi penuh penekanan.


"Sorry, Nona!" jawab Devan dengan senyum menyebalkan ala Devander Gibran sang Casanova.


"Apa yang kau lakukan di sini sepagi ini?" tanya Jova setelah melihat jam di dinding.


"Aku hanya mengantar itu, baju ganti untuk mu!" menunjuk tas yang di bawa pelayan.


"Dapat baju untuk ku dari mana?"


"Ini baju sepupu ku, dia seumuran dengan mu, dan badannya juga kecil sepertimu!"


"Oh! makasih. Letakkan saja di situ!" menunjuk lemari kecil di ruangan itu.


"Baik, Nona" ucap Pelayan, "dan ini sarapan untuk Nona." Meletakkan kotak makanan di atas meja.


"Terima kasih" Jova turun dari tempat tidur Alexander lalu duduk di sofa berbarengan dengan Devan yang ikut duduk.


"Sama - sama, Nona" Pelayan itu masih berdiri di samping sofa.


"Duduklah! kenapa berdiri?"


"Tidak apa - apa, Nona"


"Aku harus kembali ke Indonesia!" sahut Devan.


"Lalu?"


"Jaga Alexander dengan baik!"


"Tentu saja! kau tidak perlu mengingatkanku!"


"Ini!" menyerahkan kartu ATM pada Jova.


"Untuk apa?"


"Kau pasti butuh ini!"


"Baiklah!" Jova menerima kartu itu.


"Aku pergi dulu!"


"Iya!" ucap Jova, "eh Devan!?"


"Apa?" Devan berbalik menoleh Jova.

__ADS_1


"Dari kemarin aku ingin tanya, itu sudut bibirmu kenapa memar?" Jova menunjuk dengan pandangan matanya.


"Ini?" menyentuh sudut bibirnya, "tanyakan pada sahabat ingusan mu itu!"


"Sahabat ingusan?" tanya Jova, "siapa?"


"Aku tidak tau namanya! Alexander yang tau, katanya kau pernah dekat dengannya sebelum kalian kecelakaan!"


"Oh, Bayu! hihi," Jova cekikikan, "maaf ya?"


"Tidak perlu minta maaf, aku sudah biasa berkelahi. Lagi pula aku juga membalas pukulannya!"


"Apa!"


"Satu kali"


"Oh, ya sudah!"


Membayangkan kepalan tanganmu lebih besar, pasti sakit walau hanya sekali, batin Jova.


Devan keluar di ikuti pelayan tadi. Pelayan tadi juga kembali ke rumah Eyang Alexander dan Devan.


Jova membuka tas yang di bawa Pelayan tadi. Dia mengambil satu set baju dan pakaian dalam yang tampak masih berlebel.


"Di belikan baru? pantas saja bawa Pelayan wanita!" Jova tersenyum lucu.


Jova mengambil handuk dan segera masuk ke kamar mandi. Setelah mandi Jova menyisir rambut basahnya. Setelah itu dia duduk di sofa dan membuka kotak makan yang cukup besar.


"Wow! untuk sarapan satu orang saja sebanyak ini menunya!"


Jova makan dengan lahap, karena dia memang belum makan dari kemarin sore. Setelah menyelesaikan makanannya Jova duduk di kursi samping tempat tidur Alexander.


"Sayang? kau tidak ingin melihat ku lagi?" ucap Jova, "apa kau tidak rindu jalan - jalan dengan ku? aku ingin jalan - jalan ke taman, ke semua tempat wisata di seluruh dunia! Aku bahkan belum pernah ke London. Negeri tempatmu menempuh perguruan tinggi." Jova mencium lama tangan Alexander.


Setelah berpuas - puas berbincang dan mencium tangan Alexander, Jova mengambil ponselnya di tasnya, mendial satu nomor.


"Halo Jova? ada apa?"


"Hai Ndi! aku cuma mau bilang makasih. Saran mu benar - benar membuka mataku lebar. Sekarang aku sudah di Singapura bersama Alexander!"


"Oh ya?"


"Memangnya kenapa Jov?"


"Tidak apa - apa. Aku tidak tau kapan aku pulang ke Indonesia"


"Tidak apa - apa Jova! yang penting kau sudah berdamai dengan Tuan Alexander!"


"Iya!"


"Ini benar - benar kabar bagus Jova!"


"Maksudnya?"


"Rahasia! kalau kau sudah pulang, aku akan bercerita panjang lebar"


"Okelah, terserah kau saja!"


"Hehe makasih ya Jova!" Indira masih tersenyum misterius.


"Iya! Bye Ndi!"


"Bye Jova!"


Jova mematikan panggilannya pada Indira, berganti mendial nomor Ayahnya.


"Halo, Jova?"


"Hai, Ayah! Ayah, Jova minta maaf, Jova tidak pulang. Jova sekarang di Singapura bersama Alexander"


"Ayah tau!"


"Hah? bagaiman Ayah bisa tau?"


"Saat kau berangkat bersama Devander, Rakha Leonard datang ke kantor Ayah dan menceritakan semuanya"

__ADS_1


"Oh ya?"


"Iya!"


"Ayah bahkan tau tentang Devander?"


"Iya, Jova. Ayah sudah tau semuanya"


"Ayah tidak marah?"


"Tidak, Jova. Justru Ayah akan menyesal kalau Ayah marah dengan semua keadaan yang pernah terjadi"


"Terima kasih, Ayah!"


"Sama - sama Jova!"


"Terima kasih juga, Ayah tidak mengeluh tentang kebangkrutan perusahaan setelah Hasan mencabut semua sahamnya" ucap Jova sedih.


"Jova, sebenarnya saat Hasan menarik semua sahamnya saat itu, entah dari mana datangnya ada seorang investor yang katanya baru terjun di dunia bisnis, dan menanam modal cukup besar di perusahaan kita"


"Lalu?" tanya Jova penasaran.


"Ternyata orang itu adalah bagian dari rencana besar Alexander dan Devander!"


"Oh ya?


"Iya, Jova. Dan perusahaan kita sekarang mulai berkembang. Ayah sangat bahagia. Ayah akan menyesal kalau seandainya kau tidak kembali pada Alexander. Di balik keangkuhannya padamu dulu, dia adalah laki - laki yang baik"


"Iya, Ayah! Jova tau"


"Ya sudah, Jova. Kamu jaga Alexander dengan baik. Ayah harus berangkat bekerja"


"Iya, Ayah! Jova sayang Ayah!"


"Iya, Ayah juga sayang Jova!"


Jova mengakhiri panggilannya dengan senyum manis di bibirnya. Lalu menghampiri Alexander.


"Terima kasih sayang atas semua rencana besar mu. Aku minta maaf sempat membencimu" Jova mencium kening Alexander.


Setelah itu Jova mengambil air untuk mengusap tubuh Alexander. Dan mengganti baju pasien Alexander.


# # # # # #


Sampai beberapa hari kemudian aktivitas Jova hanyalah membasuh tubuh Alexander, mengganti baju pasiennya. Lalu mengajak bicara Alexander, walau tidak ada respon dari Alexander.


Setiap hari Jova selalu tidur di samping Alexander, baik siang maupun malam. Jova begitu berharap Alexander segera bangun setiap harinya.


Jova tak sedikitpun meninggalkan Alexander. Jova selalu minta bantuan Pengawal untuk membeli makan siang dan malam. Setiap pagi seorang Pelayan datang untuk membawakan Jova baju dan sarapan. Lalu mengambil baju kotor Jova dan Alexander.


Pagi ini, saat Matahari mulai memunculkan sinarnya, Jova masih terlelap di samping Alexander yang belum juga sadarkan diri.


Tiga pasang mata menatap sendu dan haru pada Jova yang tidur miring memeluk tubuh Alexander. Mereka seolah terhipnotis pemandangan romantis di depan mata mereka.


Mereka tak sedikitpun mengganggu tidur lelap Jova. Mereka bertiga duduk di sofa tanpa bersuara. Hanya saling kode dengan mata mereka saja.


Sampai beberapa menit kemudian, Jova mengerjap kan matanya. Pemandangan pertama yang selalu ingin dia lihat adalah mata Alexander.


"Kenapa kau belum bangun juga?" ucap Jova menatap mata Alexander.


Dia belum sadar ada tiga orang di sofa belakangnya. Jova mengangkat sedikit kepalanya, mencium kedua mata Alexander yang tertutup.


Eeghhm!!!!


Deheman keras mengagetkan Jova yang fokus pada wajah Alexander.


Bruukk!!!




Terima kasih untuk teman - teman yang sudah memberi dukungan pada novel pertama Author ini.


__ADS_1


Salam Lovallena.


__ADS_2