I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Pemanasan Season 2


__ADS_3

"Siapa namamu!" tanya Rakha ketus.


"Maya, Tuan!" jawab Maya menunduk.


"Kau menyayangi keluargamu?"


"Tentu, Tuan!"


"Kamu tentu tau kan? walaupun kau bekerja pada Nona Jovanka dan Tuan Alexander di apartemen nya, kau tetap di bawah pengawasanku!" ucap Rakha menatap dingin Maya yang merasa seperti tersangka.


"Tau, Tuan!" jawab Maya cepat.


"Aku ingin bercerita padamu!" ucap Rakha, "Aku paling tidak suka jika ada yang mengusik Tuan muda dan Nona muda. Karena itu akan sangat menambah pekerjaanku!" jelas Rakha, "jadi karena kau sekarang berstatus sebagai Asisten Nona Jovanka, yang artinya kau juga harus menjaga hidupnya!" ucap Rakha penuh penekanan, "kau harus melindungi Nona dari siapapun yang mengusik, atau pun yang merasa iri pada dirinya! atau bahkan sekedar julid sekalipun! kau mengerti!" ucap Rakha dengan nada dingin.


"Saya mengerti, Tuan!" ucap Maya yang merasa ruangan itu semakin mencekam.


"Kalau kau tau ada yang mengganggunya, ataupun mencoba merebut kebahagiaan Nona Jovanka, gantung saja di tiang listrik! atau kau cekik saja di tempat! aku akan melindungi mu dari jeratan hukum!" ucap Rakha tegas dengan raut wajah dibuat menakutkan.


"Apa!" pekik Maya membulatkan matanya menatap wajah Rakha yang dingin itu.


"Ya!" jawab Rakha cepat, "dan itu berlaku bagi siapapun! termasuk dirimu sendiri!" ucap Rakha dengan penuh tatapan mengintimidasi.


Maya menelan ludahnya dengan sangat susah. Bagaimana tidak, dia sering memimpikan menggantikan posisi Jova. Raut wajah Maya berubah jadi pucat pasi.


"Jika karyawan yang berani melakukan apa yang aku sebutkan tadi, hukumannya bukan hanya di gantung di tiang listrik," ucap Rakha, "tapi bisa - bisa di buang ke hutan Amazon, atau di buang ke laut Atlantik!"


Maya menganga tak percaya, pasalnya dia ingat betapa dia sering julid pada Jova.


"Kau tau! kemarin aku baru saja membuang seorang perempuan yang mengusik kebahagiaan Nona Jovanka ke pedalaman Afrika!" ucap Rakha dengan santainya. "Dan anak buah ku membakar paspor nya di depan matanya!"


"Haa!" Maya menganga tak percaya dengan apa yang di ucapkan Rakha. Matanya membulat lebar melihat Rakha yang manggut - manggut dengan rasa tak berdosa nya.


"Kenapa?" tanya Rakha, "kau kaget? jangan kaget! aku sudah biasa melakukan itu pada semua pengkhianat Group G!" ucap Rakha santai.


Maya kembali menunduk, jantungnya berdetak hebat karena rasa takut menyerangnya tanpa permisi.


"Kau tau yang ku buang kemarin siapa?" tanya Rakha, "seorang gadis yang bahkan sudah akrab dengan Group G!" lanjut Rakha. "Dan jika kau yang berkhianat maka hukuman mu akan lebih berat. Karena kau seorang Asisten, sama sepertiku! hukuman seorang Asisten bukan lagi di buang tapi.. siksaan!" jelas Rakha dengan menatap tajam Maya yang kakinya mulai bergetar.


Ya Tuhan, Apa yang pernah aku lakukan beberapa hari ini! aku janji, tidak akan lagi julid pada Nona Jovanka. Bagaimana kalau aku di buang ke Samudra Atlantik? tidak! tidak! tidak! bagaimana dengan keluargaku? mimpiku? Nona Jovanka maafkan aku! aku sempat bermimpi menggantikan posisimu suatu hari nanti! Dan aku sempat tidak menyukaimu saat awal - awal kemarin! ucap Maya dalam hati.


Melihat ekspresi Maya, Rakha sudah bisa menyimpulkan hasil kecurigaannya kemarin. Rakha menyunggingkan senyum sinisnya.


Ini pemanasan untuk telingamu! kalau sampai kau masih berulah, bukan lagi pemanasan yang aku berikan. Tapi kenyataan! ucap Rakha dalam hati.


"Kenapa kau diam saja?" tanya Rakha.


"Ti..tidak, Tuan!" jawab Maya gugup.


"Kau paham kan dengan apa yang aku katakan?"


"Tentu saja, Tuan!"


"Bagus!" ucap Rakha, "keluarlah!"

__ADS_1


"Baik, Tuan!" Maya berdiri menunduk, lalu melangkahkan kakinya ke arah pintu.


Rakha menyunggingkan senyum sinis menatap punggung Maya. Dengan jelas Rakha melihat raut wajah Maya yang di landa ketakutan.


Jangan macam - macam kamu Maya! batin Rakha.


Maya menutup pintu ruangan Rakha dan kembali duduk di sofa ruang tunggu. Maya menatap nanar kotak makan di depannya. Selera makannya hilang begitu saja.


Apa Tuan Rakha mencurigai ku? kenapa dia bicara seolah mengancam ku? Apa dari kemarin dia menatap ku dengan tatapan yang sulit aku artikan itu karena mencurigai aku? ucap Maya dalam hati.


Hingga jam makan siang tiba, Maya masih diam menatap kotak makan itu. Dia merasa bersalah sudah memiliki perasaan yang tidak seharusnya timbul di hatinya.


Lebih baik sekarang aku hanya fokus bekerja! aku harus memikirkan nasib adik dan ibuku. Jangan sampai mereka kecewa padaku! batin Maya.


"Maya! kenapa belum makan?" sapa Maya membubarkan lamunan Maya, "ini sudah jam makan siang" ucap Lisa yang menghampiri Maya di ruang tunggu.


"Eh, iya Mbak! ini saya juga mau makan!" jawab Maya dengan senyum kikuk.


"Ayo! makan di sana saja! jangan di sini!" ajak Lisa menunjuk ruang yang di sekat kecil, khusus karyawan lantai 30 untuk makan.


"Baik, Mbak!" jawab Maya mengikuti langkah kaki Lisa.


Di ruangan kecil itu sudah ada Security yang sedang memakan nasi kotak yang di beri Maya. Mereka makan bertiga dengan duduk melingkar sesuai kursi yang melingkari meja berbentuk lingkaran itu.


# # # # # #


Di ruangan CEO, Alex dan Jova makan satu kotak untuk bersama. Alexander dengan telaten menyuapi Jova yang asyik membaca novel di ponselnya. Alex juga menyuapi untuk dirinya sendiri dengan sendok dan nasi kotak yang sama. Hingga satu nasi kotak habis oleh mereka.


"Sudah kenyang belum?" tanya Alex pada Jova yang langsung mendapat gelengan dari Jova. "Aku juga!" jawab Alex sambil tergelak. Jova ikut tergelak menyadari perutnya yang entah kenapa tidak kunjung kenyang.


"Sudah kenyang?" tanya Alex setelah semua makanan habis.


"Sudah, Sayang!" jawab Jova dengan senyum puasnya.


"Hemm!" Alex mengambil kotak kosong itu dan membuangnya ke tempat sampah di depan pintu ruangannya.


Jova mengambil air minum yang sudah di sediakan di ruangan CEO. Jova meneguknya beberapa kali, Alex merebutnya saat Jova hendak menutup kembali botol minum itu, dan meneguk sisanya.


# # # # # #


Hari - hari berlalu dengan jauh lebih baik, semenjak Maya memutuskan untuk serius bekerja dan tidak lagi memikirkan hal yang bisa menimbulkan sesuatu yang buruk untuknya. Setiap hari Maya selalu menyiapkan apapun yang di butuhkan Jova.


Dan saat ini semua di sibukkan dengan persiapan pesta ulang tahun Jovanka yang tinggal dua hari lagi.


Beberapa keluarga sudah datang sejak beberapa hari yang lalu. Bahkan Felicya sudah datang sejak satu minggu yang lalu. Karena dia ingin menghabiskan waktu panjang di Jakarta. Dan dia tinggal di apartemen yang di sediakan untuk keluarga dari Singapura, yakni pintu apartemen nomor 25C.


Pagi ini Jova hendak fitting baju pesta di salah satu butik terkenal. Felicya yang sudah siap di apartemen Alexander sudah tidak sabar melihat Jova mencoba baju pesta yang mana Felicya lah yang memberi saran desain gaun pesta pada Desainernya.


"Ayolah Jova aku sudah tidak sabar! kamu pasti cantik memakai hasil desain ku!" ucap Felicya kegirangan.


"Eh, bukan kamu yang menggambar, kamu hanya memberi saran!" sahut Jova mengambil tasnya di sofa.


"Haha! iya juga sih!" jawab Felicya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Ayo berangkat!" ucap Jova pada Maya dan Felicya.


"Ayo!" sahut Felicya kegirangan.


Maya mengemudikan mobil menuju Butik. Felicya dan Jova duduk di kursi belakang sambil berbincang - bincang mengenai skripsi mereka. Meskipun mereka berdua beda prodi.


"Jova, menurutmu kalau aku dengan Kak Rakha, cocok tidak?" tanya Felicya di tengah obrolan.


"Apa?" pekik Jova yang tidak menyangka Felicya menyukai Rakha.


"Tch! menurutmu aku cocok tidak kalau dengan Kak Rakha!"


Jova membuka mulutnya dengan senyum yang di buat - buta.


Kenapa jadi begini? batin Jova.


"Rakha bukannya playboy?" tanya Jova yang bingung harus menjawab apa. Karena dia sudah mencoba menjodohkan Rakha dengan Indira. Meskipun kabar terakhir yang dia dengan kalau hubungan Rakha dan Indira sedang tidak baik - baik saja.


"Iya! tapi siapa tau aku bisa membuatnya menjadi laki - laki yang lebih baik!" ucap Felicya.


"Emm!" Jova hanya menahan kalimatnya sambil mengetukkan jarinya di sandaran tangan di kursi mobil. Dia bingung harus bagaimana.


"Sebenarnya aku tidak terlalu mengenal Rakha," ucap Jova, "aku tidak pernah mengobrol lebih jauh dengan Rakha. Jadi aku tidak tau seperti apa Rakha yang sebenarnya. Dan aku juga tidak bisa menilai dia cocok atau tidak untukmu" jelas Jova.


"Heemm.. begitu ya?" Felicya mengangguk mengerti.


"Iya!" jawab Jova kikuk.


"Baiklah," ucap "aku sebenarnya juga ragu untuk mendekati Kak Rakha, mengingat Eyang tidak pernah setuju kalau aku dekat dengan Kak Rakha"


"Hah! memangnya kenapa?" tanya Jova yang penasaran, mengingat dirinya yang tidak di sukai oleh Eyang Felicya.


"Jangan pura - pura tidak tau Jova!" ucap Felicya mengerucutkan bibirnya.




Hai, selamat membaca part ini. Semoga tidak bosan dengan jalan ceritanya.


Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentarnya ya, hehe



Jangan lupa kisah **RAKHA** dan **INDIRA** di novel yang berjudul, **30 HARI MENGEJAR BADAI**.



Terima kasih atas segala bentuk dukungan Kakak - Kakak para Reader setia.



Salam Lovallena.

__ADS_1



![](contribute/fiction/2652656/markdown/17773720/1630383215954.jpg)


__ADS_2