
"Ya ampun, maaf ya nggak sengaja" ucap si wanita pelan nyaris berbisik.
"Iya, tidak apa - apa tante" ucap Jova tersenyum.
"Kamu manis sekali" ucap wanita itu tersenyum tulus.
"Terima kasih" Jova dengan senyum manisnya.
"Sama - sama. Saya permisi dulu ya" ucap wanita itu pelan. Lalu berjalan cepat ke arah suaminya.
Jova mengikuti gerak gerik wanita itu yang menurutnya aneh. Sampai matanya menangkap laki - laki yang di gandeng wanita tadi.
"Loh! itu kan?" Jova menajamkan matanya, memastikan dia tidak salah lihat. "Brarti itu istrinya?" gumam Jova pelan. "Ah, ngapain juga aku penasaran"
Jova melanjutkan melihat pernak pernik. Dia mengambil gantungan kunci dan head band. Lalu berjalan ke arah tas, dia mencari tas yang harganya di bawah 50 juta. Merasa tidak enak kalau dia menghabiskan banyak uang Alexander pikirnya. Meskipun Alexander membebaskan Jova belanja apa saja. Tapi Jova bukanlah gadis materialistis.
"Pa, bisa tidak bergeser sedikit?" wanita yang menabrak Jova merasa sesak karena bersembunyi di balik almari tas, dengan jarak agak jauh dari Alexander berdempetan dengan suaminya.
"Ini sudah mentok ma! sepertinya mama yang harus menurunkan berat badan mama biar muat" ucap suaminya menyenggol beberapa kali lengan istrinya.
"Jadi maksud papa sekarang mama gendut?" ucap wanita itu membulatkan matanya melihat ke arah suaminya di samping.
"Bukan begitu ma" ucap suaminya merasa salah ngomong. Apes sekali mulutku hari ini, ucapnya dalam hati.
"Bilang saja sekarang mama makin gendut!" ucap wanita itu kesal.
"Tidak ma!" suaminya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mama itu selalu seksi dan cantik kok"
"Alasan!" ucap sang istri kesal sambil memukul keras lengan suaminya.
Apa semua wanita akan marah kalau di bilang gendut?
Batin laki - laki itu.
"Sudahlah ma, nanti Alexander curiga kalau mama ribut di sini" ucapnya beralasan.
"Hemh!!" sang istri menghembuskan nafasnya kesal.
Setelah itu mereka berdua fokus melihat ke arah Alexander.
"Ma! kaki mu bisa tidak jaga jarak. Sakit tau! terinjak" pria itu mengibaskan kaki istrinya.
"Papa sudah tidak waras ya! sakit tau!"
"Sama!"
Mereka masih saja ribut di balik persembunyian. Hingga menarik perhatian Jova dan beberapa orang di sekitar. Jova melihat heran pada mereka berdua.
Orang seperti mereka pun masih bisa berlaku konyol di tempat seperti ini.
Ucap Jova dalam hati sambil tersenyum lucu. Lalu kembali fokus memilih tas.
Keributan suami istri itu masih berlanjut hingga menarik perhatian orang - orang yang jaraknya agak jauh. Hanya saja sebagian besar pengunjung mengenal siapa mereka, jadi orang - orang tidak terlalu ikut campur.
Hingga mata Alexander tertuju ke tempat yang menjadi pusat perhatian. Matanya terbuka lebar manakala mengenali siapa yang sedang ribut di balik almari.
"Ya Tuhan! Kenapa mereka muncul di saat yang tidak tepat" gumam Alexander pelan.
Dia segera berjalan cepat menghampiri Jova yang sedang memilih tas.
"Jova, kau sudah selesai?" ucap Alexander menutupi kepanikannya.
__ADS_1
"Aku bingung pilih yang mana" ucap Jova santai sambil melihat - lihat.
"Yang ini saja, cocok untukmu" Alexander mengambil satu tas yang harganya 275 juta.
Jova membelalakkan mata, melihat tas yang di ambil Alexander untuknya.
"Tapi itu mahal sekali"
"Tapi ini cocok untukmu. Ayo!" Alexander menarik tangan Jova menuju kasir.
Sebenarnya Alexander tidak tau cocok atau tidak cocok. Dia hanya menutupi kepanikannya saja.
Alexander membayar tas dan pernak pernik yang di pilih Jova. Lalu menggenggam tangan Jova keluar dari toko branded itu.
Di tempat yang sama sepasang suami istri baru menyadari Alexander tidak ada di tempat duduknya.
"Aduh, ini semua gara - gara papa sih. Kemana si Alexander itu"
"Kok papa sih, kan mama yang nginjak kaki papa"
"Papa sih cerewet. Ayo kita cari!" ucap sang istri.
"Ayolah!" ucap suaminya pasrah.
Mereka berjalan cepat keluar toko mencari Alexander. Berkeliling, bahkan naik turun eskalator demi mencari Alexander.
Sampai Akhirnya mereka berhenti di lantai dua. Menepi di pinggir pagar melihat arah pintu keluar.
"Kita tunggu di sini saja. Dia pasti keluar lewat sana" ucap sang suami menunjuk pintu utama mall.
"Papa benar! untuk apa kita capek - capek mencarinya"
"Kalau dia sudah keluar, ya sudah kita jadi jamur saja di sini" ucap istrinya santai.
"Hah?" sang suami menatap tak percaya pada istrinya yang berkata dengan santainya.
Gerak - gerik mereka tidak luput dari orang sekitarnya. Karena hampir semua orang pasti mengenal sepasang suami istri itu. Hanya saja suami istri itu selalu di kawal beberapa pengawal dari jarak aman. Dan semua orang tau itu. Sehingga tak ada satu pun orang berani mendekat.
Sampai akhirnya mata sang istri menangkap gelagat seorang Alexander menuju pintu utama mall, dengan menggandeng tangan seorang gadis.
"Pa, itukan Alexander!" ucap sang istri.
"Iya ma! Tapi siapa gadis itu? Mereka tampak sangat dekat" tanya sang suami penasaran.
"Mama tadi tidak sengaja menabrak gadis itu"
"Di toko tadi?"
"Iya! dia gadis yang manis" ucap istrinya.
"Oh ya!" suaminya mengerutkan keningnya. "Mama suka?"
"Sepertinya" Sang istri tersenyum menunjukkan gigi putihnya.
"Bukankah mama menyukai gadis yang mengejar Alexander itu!"
"Sebenarnya mama tidak terlalu suka. Mama hanya akan setuju pada pilihan Alexander. Lagi pula baru kali ini mama melihat Alexander menggandeng seorang gadis, cantik pula. Juga tak terlihat materialistis. Mama yakin Alexander menyukai gadis itu"
"Papa sepertinya juga setuju!"
"Ikut - ikut saja"
__ADS_1
"Bukan ikut - ikut nyonya, itu artinya kita kompak" ucap sang suami dengan senyum mengembang.
"Sudahlah, ayo kita pulang" ucap istrinya.
"Ayo!"
# # # # # #
Alexander menggandeng tangan kanan Jova. Tangan kiri Alexander membawa belanjaan Jova. Mereka keluar dari mall menuju parkiran VIP. Alexander membukakan pintu untuk Jova.
"Kenapa kamu jadi manis begini?" saat mobil sudah di kemudikan Alexander.
"Kau bilang ingin aku hibur dengan romantis"
"Iya juga sih" Jova membuang tatapannya ke arah jendela.
"Kita makan di restauran saja ya"
"Iya" jawab Jova.
Setelah makan siang mereka langsung pulang ke rumah Jova. Lalu Alexander menuju suatu tempat.
# # # # # #
"Bagaimana tuan Hasan? apa semua persyaratan sudah anda penuhi?" tanya Rakha.
"Tentu tuan Rakha. Saya yakin kita akan saling menguntungkan" ucap Hasan dengan penuh keyakinan.
"Sepertinya anda sangat percaya diri tuan Hasan" ucap Rakha dengan senyum sinis.
"Kunci kesuksesan adalah kita harus yakin tuan"
"Anda benar" Rakha manggut - manggut dengan menyandarkan kedua sikunya di kursi kerjanya. "Semoga saja anda lolos"
"Tentu tuan. Saya yakin tuan Putra Gibran pasti tau mana yang berkompeten dan mana yang hanya main - main" ucap Hasan dengan senyum bangga.
Kau benar Hasan. Tuan muda memang selalu tau mana yang daging segar dan mana yang bangkai!. Ucap Rakha dalam hati.
Rakha hanya menunjukkan senyum sinisnya. Yang di salah artikan oleh Hasan sebagai senyum penghargaan.
Sebenarnya apa ya pengaruhnya si Hasan ini. Kenapa selalu di bahas?
Hehehe.. tunggu jawabannya yaa..
Tidak lama lagi Rahasia besar akan terbongkar.
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar kalian.
Author sangat berterima kasih atas semua dukungan teman - teman dalam bentuk apapun.
Salam Lovallena.
__ADS_1