I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Bagai di Sambar Petir


__ADS_3

"Kau mengenal Rakha Leonard?", tanya Indira antusias.


"Tidak! Alexander yang mengenalnya", jawab Jova santai.


"Bagaimana bisa pak Alex mengenalnya?"


"Apa kau tidak lihat? kalau Alexander itu orang kaya. Pasti keluarganya ada hubungannya dengan Group G. Dan kau tau Alexander dan Rakha terlihat sangat akrab. Rakha saja manggilnya bro bro gitu"


"Oh ya?", Indira merasa ada yang aneh.


"Iya! eh ayo kita cari nomor kursi ku", ajak Jova.



"Iya!", Indira melupakan pikiran anehnya.


Jova dan Indira duduk di kursi yang sesuai nomor undangan untuk Group B, perusahaan Jova. Mereka berbincang sambil menunggu acara di mulai. Lama - lama meja melingkar yang di duduki Jova penuh, sesuai dengan undangan. Itulah kesempatan Jova untuk memperkenalkan perusahaan keluarganya untuk lebih di kenal.


Meja Jova berada di baris kedua dari belakang, sebagai tamu undangan penyewa gedung. Di depannya barisan untuk investor dan para kolega Group G. Dan barisan paling depan adalah tamu VIP, dan paling depan adalah meja VVIP untuk keluarga besar tuan Haidar Gibran dan istrinya. Juga para petinggi Group G.


"Jova, itu Carissa Birdella kan?"


"Iya! dia kan Brand Ambassador produk mewahnya Group G!"


"Oh ya? kok aku tidak tau"


"Hemm. Kau tidak perlu tau! dia kan calon tunangannya CEO itu!"


"Oh ya?"


"Iyaa!"


"Sayang sekali!"


"Aku lebih setuju CEO itu dengan mu atau aku, dari pada dengan Carissa, walaupun lebih cantik Carissa daripada kita. Haha"


"Kenapa begitu?"


"Aku pernah melihat Carissa masuk ke Cafe ku dengan om om tua, kelihatan mesra gitulah"


"Apa!", pekik Jova


"Iya!"

__ADS_1


Jova melihat ke arah Carissa di meja VIP, tak di sangka nya tatapan mereka bertemu. Jova langsung mengalihkan pandangannya.


Jam 8 malam, dua orang MC yang merupakan MC terkenal Ibukota, mulai naik ke podium. Mereka membuka acara dengan sangat meriah. Mereka mempersilahkan penyanyi - penyanyi papan atas naik ke podium bergantian sebagai opening. Kilatan cahaya menandakan meriahnya pesta yang di persembahkan Group G.


Para pelayan wira - wiri menghidangkan menu makan malam yang sudah di siapkan EO. Mereka makan dengan sopan dan menikmati hidangan lezat ala pesta mewah.


Setelah seluruh tamu di rasa selesai menyantap makan malam yang di hidangkan, MC kembali naik ke podium. Beberapa kali MC mengingatkan bahwa acara yang meriah itu untuk menyambut kepulangan pewaris tunggal Group G.


Jova gemetar - gemetar kesal menunggu munculnya sang pewaris yang sangat dia benci.


"Lama sekali! kebanyakan cincong nih MC!", kesal Jova.


Indira tersenyum lucu, melihat tingkah Jova yang tidak sabaran.


"Sabar dong non!", ucap Indira.


"Setampan apa sih, sampai di sembunyikan!"


"Hihihi", Indira menahan tawanya.


Salah seorang MC memanggil sang punya hajat, tuan Haidar Gibran untuk memberi sambutan. Haidar Gibran dengan bangga naik ke atas podium, berdiri di depan ribuan tamu undangan.


"Assalammualaikum Wr. Wb.", salam dari Haidar Gibran.


"Selamat malam, salam sejahtera untuk seluruh tamu undangan. Pertama - tama saya sampaikan terima kasih, pada seluruh kolega Group G, dan para tamu undangan yang menyempatkan waktunya untuk menghadiri acara sederhana yang kami selenggarakan setiap tahunnya.


Group G berdiri tepatnya 35 tahun yang lalu, itu artinya saya selaku pendiri Group G sudah 35 tahun membesarkan Group G. Tentu tidak mudah mengembangkan perusahaan yang semula hanya berada di gedung sewaan, sampai akhirnya sebesar ini. Kesuksesan Group G tentu tidak luput dari para kolega yang berkenan bekerja sama dengan Group G. Tanpa orang - orang hebat di belakang saya, Group G bukanlah apa - apa. Saya sampaikan terima kasih sebesar - besarnya pada mereka yang tetap setia pada Group G dalam jatuh dan bangun Group G.


Dan yang membuat malam ini semakin spesial adalah, untuk pertama kalinya, saya ingin memperkenalkan pewaris tunggal saya. Satu - satu nya yang akan meneruskan perjuangan Group G di kancah persaingan industri yang ketat. Putra yang teramat saya banggakan dalam bidang apapun.


Terima kasih anakku, kau sudah menjadi Putra Gibran yang berkompeten dalam beberapa bulan percobaan menjadi CEO di perusahaan keluarga kita, Group G. Dan maafkan papa yang sempat menyembunyikan identitas aslimu.


Juga tak lupa kepada asisten muda saya, yang kini menjadi asisten pribadi anak saya, Rakha Leonard. Terima kasih atas kerja kerasmu Rakha, terima kasih sudah menjadi kepercayaan saya dan keluarga", ucap Haidar Gibran menatap Rakha.


Terlihat Rakha Leonard berdiri dari duduknya di kursi VVIP, lalu menunduk ke arah Haidar Gibran di podium. Lalu mengangguk kecil ke kanan dan kirinya yang menatap dengan senyum kebanggaan.


"Ya ampun, dia tampan sekali", ucap Indira.


"Tampanan juga Alexander", jawab Jova cuek.


"Haha iya iya bucin!"


"Dan malam hari ini secara resmi, saya akan memanggil putra kebanggaan saya. Penerus tahta kerajaan bisnis yang saya dirikan sejak saya masih muda", lanjut Haidar Gibran.

__ADS_1


Dag dig dug


Detak jantung para tamu undangan dan para penonton di rumah, termasuk ayah dan ibu Jova. Yang punya anak perempuan berharap bisa menjadi mertuanya. Dan pengusaha muda perempuan yang belum menikah, berharap di pinang sang Putra Gibran. Meskipun sebagian dari mereka tau tentang berita yang beredar kalau Carissa Birdella adalah calon tunangannya. Tapi berita itu pun simpang siur, karena tidak mendapat kebenaran dari sang asisten Rakha Leonard.


"Cepet dong tuan Haidar! lama sekali!", dengus Jova pelan, tapi masih bisa di dengar Indira.


"Hihihi", Indira cekikikan mendengar ucapan Jova.


Tak kalah pula, orang yang duduk di samping Jova pun ikut menoleh pada Jova dengan menahan senyum. Menyadari orang di sampingnya juga melihatnya dengan tatapan aneh, Jova menunduk dengan senyum kikuknya. Lalu menyandarkan lagi punggungnya di sandaran kursi.


Deg deg deg


Jantung Jova berdetak kencang menunggu tuan Haidar yang masih tersenyum ke arah tamu undangan. Seolah tak berdosa sudah membuat jantung satu Ballroom berpacu.


"Kemarilah putra ku, putra kebanggaan kami. ALEXANDER GIBRAN", ucap Haidar Gibran menekan nama yang di sebutnya.


DUAAARRRR!!!!!


Bagai petir menyambar di siang bolong, jantung Jova yang sedang berdegup kencang mendadak ingin berhenti. Jova mengangkat punggungnya yang bersandar, menatap tajam ke podium yang belum ada tanda - tanda ada orang yang akan naik ke podium.


Jantung Jova berdetak tak menentu. Indira yang mengerti gerak gerik Jova, segera memegangi pundak Jova. Kali ini jantungnya pun iku berdetak kencang. Dia ingat dengan ucapan Jova sebelumnya, bahwa Alexander memiliki inisial G di belakang namanya.


Ayah dan ibu Jova di rumah pun saling tatap. Tersentak kaget saat mendengar nama Alexander di sebut.


Semua kamera mengarah ke arah pintu dekat tangga untuk naik podium. Namun yang di tunggu tak kunjung muncul. Bahkan orang - orang yang duduk di kursi VVIP pun menatap ke arah pintu dekat tangga podium. Jova tak sedikitpun berkedip, menatap arah yang sama.


Dunia seakan runtuh di atas kepala Jova, tatkala melihat sosok yang muncul dan berdiri sejenak di tengah - tengah pintu.




Aduh! apa yang akan terjadi?


Di next episode ya dear.



Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar teman - teman.


Terima kasih bagi yang sudah memberi dukungan dalam bentuk apapun.


__ADS_1


Salam Lovallena.


__ADS_2