
Jova dan Indira berjalan ke toko souvenir yang sudah di janjikan. Setelah memastikan pilihan Jova membayar seluruhnya menggunakan black card yang di berikan Alexander.
Setelah itu berpindah ke tempat lain untuk memesan undangan.
Karena pernikahan mereka tinggal sebentar lagi, Jova meminta semua serba cepat. Dengan kekuatan uang tak butuh waktu lama untuk apapun yang mendesak, selesai tepat waktu.
"Terima kasih, sudah menjatuhkan pesanan undangan kepada kami, Nona. Saya pikir perusahaan sebesar Group G akan menyerahkan hal sepele seperti ini di kepada EO kepercayaan Group G" ucap penjual setelah shock, karena tau yang memesan undangan adalah benar - benar Jovanka, calon istri Tuan Alexander Gibran.
"Saya ingin mencari sendiri sesuai selera saya mbk"
"Iya, Nona. Sesuai kesepakatan, besok siang akan kami antar ke Group G Nona"
"Baik, mbk. Saya permisi"
"Saya yang harusnya berterima kasih banyak pada Nona" ucap tulus sang penjual.
"Sama - sama" ucap Jova dengan senyum manisnya.
Jova keluar dari toko tempat memesan undangan dengan di antar sang penjual sampai depan pintu.
"Beruntung sekali gadis itu!" ucap sang penjual setelah Jova dan Indira tak terlihat.
"Ndi, kita makan siang di sana saja yuk!" menunjuk salah satu resto.
"Ayuk!" ucap Indira.
Jova dan Indira berjalan beriringan.
"Eghm!" terdengar suara deheman dari belakang.
Jova dan Indira tidak menoleh, karena mereka masih asyik berbincang.
"Anak baik - baik! dari keluarga baik - baik pula. Lalu apa yang membuat seorang gadis baik - baik menikah lebih cepat dari jadwal yang pernah di umumkan?" lanjutnya dengan suara lantang, hingga semua orang menoleh ke arahnya. Ditambah kebanyakan dari mereka tau siapa yang sedang bicara itu.
Jova dan Indira berhenti saat merasa Jova lah yang di sindir. Mereka menoleh kebelakang, Indira membulatkan matanya. Dia memprediksi sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Carissa?" gumam Indira pelan, "Jov, aku harap kamu tidak terpancing dengannya!" bisik Indira.
Jova hanya menatap santai pada Carissa yang menyilangkan tangan di dadanya. Dengan tatapan mengejek pada Jova.
"Kalian semua yang ada di sini, dengarkan aku!" ucap Carissa melihat orang - orang di sekitarnya, sontak semua orang mengerumuni Carissa, "apa kalian pernah bertanya - tanya, seperti apa gadis berinisial J yang menjadi inspirasi Tuan Alexander Gibran, CEO Group G untuk produk mewahnya?'
Semua orang di sekitar sontak berbisik dengan rekan mereka masing - masing yang jelas terdengar oleh telinga Jova dan Indira. Indira menarik nafas berat dan membuangnya berat pula. Dia sahabat paling dekat dengan Jova, dia hafal siapa Jova.
"Inilah dia gadis berinisial J! Jovanka!" menunjuk Jova dengan dagunya, membuat semua orang melihat ke arah Jova yang masih santai menatap Carissa. Hanya ada sedikit kesal yang di tahan Jova.
"Gadis yang sok polos! padahal aslinya sama saja!" lanjutnya, "dia melakukan segala cara untuk merebut Alexander Gibran dariku! Dia merayu Alexander dengan gaya sok polosnya itu!"
"Oh ya!"
"Apa!"
"Masak sih?"
Itu adalah sebagain ucapan pertama yang muncul dari orang - orang di sekitar Jova dan Carissa, yang membuat telinga Jova mulai panas. Indira pun mulai sedikit kesal.
"Kalian tau! pernikahan Alexander Gibran dan gadis malapetaka ini di percepat menjadi 4 hari lagi?"
Semua orang di situ tampak bertanya - tanya.
"Aku yakin gadis ini sudah menjebak Alexander! agar gadis murahan ini hamil dan Alexander segera menikahinya!"
Orang - orang di sekitar menutup mulutnya yang menganga antara percaya atau tidak. Jova mulai terbakar, Indira melihat situasi di kanan kirinya.
"Iya kan Nona Jovanka yang terhormat? anda sedang hamil hasil menjebak Tuan Alexander kan?" tanya Carissa sinis, "Akui saja, kalau gadis baik - baik yang bernama Jovanka sedang ha.."
PLAAKK!
"Auwh!" pekik Carissa.
Tamparan keras Jova mendarat di pipi kiri Carissa.
"Kalian lihat! apa pantas seorang Alexander Gibran bersanding dengan perempuan serigala seperti ini!" ucap Carissa, "Dasar Serigala liar!"
PLAAKK!
"Auwh!" pekik Carissa sembari memberi kode pada beberapa orang untuk mengambil gambar dan vidio.
PLAAKK!
Tamparan lengkap di kanan dan kiri pipi Carissa.
"Dasar perempuan murahan!" ucap Carissa.
Jova mencakar geram pipi kiri Carissa.
__ADS_1
"Aaaauuh!" pekik Carissa menahan perih. "Berani kau melukaiku!" bentak Carissa.
Carissa mengangkat tangannya untuk menjambak rambut Jova. Tapi tangan kiri Jova lebih dulu menangkapnya. Dengan keahlian bela dirinya, Jova memelintir tangan Carissa ke belakang. Hingga Carissa meringis kesakitan.
"Kalau kau tidak tau siapa aku, jangan coba - coba mencari masalah denganku, Nona Carissa!" bisik Jova di telinga Carissa dengan penuh penekanan. "Aku tidak akan pernah takut denganmu!" ucapnya lagi, "aku bisa saja membuat wajah dan tubuhmu ini hancur di tanganku! Hanya itu yang kau punya untuk mendapatkan uang bukan? jangan sampai aku melukainya dengan tanganku sendiri!"
"Lepaskan aku jal*ng!" ucap Carissa menahan sakit.
"Kau masih berani mengatai ku jal*ng!" Jova menambah kekuatannya untuk memelintir tangan Carissa.
"Aaaaaaauwwhh!" jerit Carissa.
Setelah puas memelintir lengan Carissa, Jova mendorong punggung Carissa hingga Carissa oleng dan hampir jatuh.
"Dasar bocah ingusan!" umpat Carissa dengan suara lantang, "sekarang kalian percaya kan, kalau dia hanya gadis sok polos!"
Jova menghampiri Carissa sambil mengeratkan giginya.
"Ingat Carissa! aku tidak akan tinggal diam dengan fitnah mu itu!"
Indira sudah biasa menyaksikan Jova melakukan itu pada orang yang menghinanya. Dia menggelengkan kepala pelan, tapi dia puas melihat orang yang menghina Jova kesakitan.
Jova pergi meninggalkan Carissa dan kerumunan di sana. Masih banyak di antara mereka yang saling berbisik sambil melirik Jova dan Indira yang berjalan menjauh.
"Lakukan pekerjaan kalian dengan baik!" ucap Carissa pada beberapa orang di sekitarnya, lalu berlalu dari tempat itu.
# # # # # #
"Bagaimana?" tanya Alexander pada Rakha.
"Sudah beres Tuan! orang - orang kita sudah melakukan tugasnya dengan baik.
"Baguslah!"
"Nona juga sudah pergi dari Mall itu"
"Hemm" Alexander menganggukkan kepalanya pelan.
Ya! dari tadi Rakha dan Jova melihat pertengkaran Jova dan Carissa melalui vidio call di ponsel Rakha dengan pengawal yang di terjunkan langsung cuntuk mengawasi Jova.
# # # # # #
"Jova, bagaimana kalau sebentar lagi akan beredar kabar yang tidak benar tentang pernikahan kalian?" tanya Indira yang sedang mengemudikan mobil Jova.
"Iya juga sih!" Indira merasa khawatir sendiri.
"Yang penting, do'a kan acara pernikahan kami lancar"
"Aamiin"
"Ndi, kau tidak lupa rencana kita kan?"
"Tidak dong Jova" ucap Indira mengubah wajah khawatir menjadi sumringah.
"Bagus!"
# # # # # #
Jova mengajak Indira masuk ke perusahaan Group G. Mereka berjalan beriringan, semua karyawan yang berpapasan dengan Jova menunduk hormat pada Jova.
"Wih! sepertinya semua karyawan di sini sudah mengenalmu Jov!" bisik Jova, saat berjalan menuju lift.
"Mungkin" jawab Jova.
Jova mengajak Indira untuk masuk ke lift khusus Presdir.
"Kau bahkan bisa menaiki lift ini dengan sidik jari mu Jov!" ucap Indira saat lift sudah berjalan naik.
"Sejak pertama kali aku datang kesini, Alexander sudah meminta Rakha untuk mengurusnya"
"Oh ya?"
"He'em!"
"Beruntung sekali kamu Jov! menjadi Nona Muda Group G!"
"Tapi aku tidak berambisi untuk itu! yang aku tau, aku hanya mencintai Alexander, si Dosen gilaku!" ucap Jova dengan bangga.
"Haha iya iya percaya!"
Lift terbuka di lantai 30. Jova dan Indira keluar dari lift bersama, mereka di sapa security yang berjaga di lantai 30. Jova berjalan ke arah pintu ruangan CEO, terlihat Lisa senyum menyapa Jova dan Indira. Jova membuka pintu ruangan CEO.
"Sayang?" sapa Jova.
Alex dan Rakha kompak melihat ke arah pintu. Terlihat Jova sendirian menyunggingkan senyum manisnya. Rakha kembali fokus pada berkasnya.
__ADS_1
"Cepat sekali kamu? kemari lah!" ucap Alex pada Jova.
Jova memberi kode pada Indira untuk ikut masuk. Alex sedikit kaget ada Indira di belakang Jova, Jova meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, agar Alex diam.
Jova mendekati kursi Alexander, dan duduk di pangkuan Alex. Indira berdiri di belakang Rakha, tapi Rakha tidak menyadari.
"Tuan Rakha?" sapa Indira sambil mendekatkan wajahnya ke samping Rakha.
Rakha yang spontan menoleh, membuatnya mencium pipi Indira.
"Cih!!" umpat Rakha mengusap bibirnya dengan cepat.
Indira menutupi tawanya, dengan tangan kirinya. Jova tergelak melihat kejahilan Indira. Alexander hanya melihat dengan senyum samar nya sambil menggelengkan sedikit kepalanya.
"Beraninya kau menjebak ku!" ucap Rakha kesal.
"Harusnya saya yang marah, karena Tuan sudah mencium pipi saya ini!" jawab Indira menahan senyumnya.
"Kau yang mencuri kesempatan!"
"Anda Tuan!" Indira mengeyel.
"Sudahlah Rakha," ucap Jova, "pipi Indira itu belum pernah di cium laki - laki, jadi kau yang pertama. Harusnya kau bangga!" ucap Jova sambil tergelak.
Rakha hanya melihat Indira dan Jova bergantian, menahan rasa kesalnya.
Pasti Nona yang merencanakan ini! untuk apa Nona membawa gadis sialan ini kesini kalau tidak ada tujuan! ucap Rakha dalam hati.
Indira tau Rakha menahan kesal. Tapi Jova tetap menebar senyum pada Rakha.
"Tuan Alexander, boleh saya duduk di sini?" tanya Indira menunjuk kursi di samping Rakha.
Rakha spontan menoleh pada Indira, dan menatap tajam mata Indira. Tapi Indira membalas dengan senyum manisnya.
"Hemm" jawab Alexander, setelah melihat ekspresi kesal Rakha.
"Terima kasih, Tuan" ucap Indira dan langsung duduk di kursi samping Rakha.
Rakha membuang wajahnya ke arah tumpukan berkas sambil mendengus kesal. Membuat Jova tergelak.
"Sayang, aku belum makan siang!" ucap Jova pada Alexander.
"Kenapa?"
"Tadinya mau makan, tapi gara - gara bertemu nenek lampir jadi hilang selera makan ku!"
"Nenek lampir?" tanya Alex pura - pura tidak tau.
"Carissa!"
"Oh! kalau begitu kita makan siang bersama, aku dan Rakha juga belum makan siang!" ucap Alexander santai.
"Saya tidak makan siang, Tuan!" Rakha tau nita licik Bos dan istrinya itu.
"Kha, kau menolak perintahku?" tanya Alex dengan nada dingin.
"Baiklah, Tuan! saya ikut!" ucap Rakha pasrah.
Mereka berempat menuruni lift bersama. Jova bergandengan tangan Alexander di depan. Rakha dan Indira di belakang.
Indira sesekali melirik Rakha di sampingnya. Tapi Rakha memberi tatapan tajam pad Indira setiap kali Indira meliriknya.
Jova tergelak tanpa suara melihat mereka dari pantulan dinding lift. Alexander pun tak luput mengawasi mereka. Hanya saja Alex tak merespon sedikitpun.
"Kha, kau bawa Indira bersama mobilmu! aku bawa mobil sendiri!" ucap Alex.
"Tuan ..."
"Jangan membantah!" potong Alex sebelum Rakha menyelesaikan kalimatnya.
"Hahaha!" Jova tak mampu menahan tawanya melihat ekspresi Rakha.
Maaf baru up. Author seharian sibuk, hehe
Terima kasih ya teman - teman yang ikhlas memberi Like dan meninggalkan Komentarnya. Juga hadiah dan dukungan lainnya.
Salam Lovallena.
__ADS_1