I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Indira 2


__ADS_3

Jova meringis karena terjatuh dari tempat tidur Alexander. Jova terduduk di lantai, satu tangannya di jadikan tumpuan, satu tangannya mengusap ****** nya yang seketika terasa panas.


"Kau ini! mengagetkan saja!" umpat Jova tanpa melihat Devan, "awas kau Dev..." Jova tidak melanjutkan kalimatnya begitu melihat dua orang yang mendadak berdiri saat dia terjatuh.


Jova segera bersiap berdiri begitu mengenali dua orang lainnya yang menahan senyum. Wanita yang datang bersama Devan segera menghampiri Jova dan membantunya untuk berdiri.


"Terima kasih, Nyonya" ucap Jova menahan malu.


"Iya, sama - sama"


"Maaf, Tuan Haidar dan Nyonya. Saya tidak tau kalau ada Tuan dan Nyonya di sini," Jova tersenyum kikuk. Dia bingung harus berbuat apa.


"Tidak apa - apa, duduklah!" ucap Papa Alexander.


"Terima kasih, Tuan!" Jova duduk sambil menatap tajam pada Devan yang menahan senyum mengejeknya.


"Jangan panggil Tuan dan Nyonya. Kamu ini kan kekasihnya Alexander, panggil saja Papa dan Mama. Nanti juga kamu jadi menantu kami" ucap Mama Alexander tulus.


"Apa Nyonya?" Jova menajamkan pendengarannya, merasa tidak percaya dengan apa yang di dengar.


"Iya, panggil Papa dan Mama saja!" ucap Papa.


"Baik, Papa, Mama" ucap Jova yang merasa lidahnya kaku memanggil Papa dan Mama.


Devan tertawa melihat tingkah Jova. Mama memukul lengang Devan yang tawanya menggema di ruangan itu.


"Sudah berapa kali aku bilang! jangan berisik!" ucap Jova tegas pada Devan. "Aku bisa mengha..." begitu ingat ada orang tua Devan, Jova segera menutup mulut yang tadinya ingin mengomel pada Devan.


Devan semakin terkekeh melihat Jova yang salah tingkah.


"Devander!" Mama memukul lengan Devan.


"Hahaha sorry mom, dia sangat lucu!"


"Kau ini!" Jova kembali diam.


"Hahaha!"


Karena Devan tak kunjung diam, Jova menendang kaki Devan.


"Aduuh!" pekik Devan.


Papa dan Mama cekikikan melihat Devan yang kesakitan di tendang seorang gadis.


"Benar kata Alexander, selain cantik kau juga bar - bar!" ucap Devan memegangi betisnya.


"Apa?" Jova mengerutkan keningnya.


"Tidak tidak.. kata Alexander selain kau cantik kau juga pemberani" Devan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil senyum yang di paksakan.


"Hihihihi" Papa dan Mama semakin cekikikan.


Mereka asyik dengan obrolan yang penuh candaan, di tambah Papa dan Mama yang antusias menceritakan masa kecil Alexander dan Devander di masa kecil pada Jova. Walau terpisah Papa Mama selalu memantau pertumbuhan mereka. Sampai tidak ada yang menyadari ada pergerakan di jari Alexander.


# # # # # #


Saat ini, Indira berdiri di depan gedung menjulang tinggi bertuliskan Group G. Sudah beberapa hari dia mencari Rakha, tapi Rakha selalu menghindar.


"Kali ini aku tidak boleh gagal!" gumam Indira meninju udara.

__ADS_1


Indira berjalan menuju pintu utama lobby. Security memeriksa Indira dan mengajukan beberapa pertanyaan.


"Pak, katakan pada Tuan Rakha, kalau dia tidak keluar, saya akan meminta pada pak Alexander untuk memotong gajinya 80 persen!"


"Nona ini siapa berani mengancam seperti itu?"


Indira menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.


"Perkenalkan Bapak Security yang saya hormati!" Indira mengulurkan tangan, "nama saya Indira Omara Clovis! saya sahabat terbaiknya Nona Jovanka! Bapak tau kan siapa Nona Jovanka?" ucap Indira, "kekasih Tuan Alexander Gibran yang super tampan dan kaya raya itu!"


"Anda jangan mengaku - ngaku, sudah banyak yang mengaku sahabat Nona Jovanka atau bahkan mengaku sebagai Nona Jovanka sendiri"


"Hih!" Indira mengeluarkan ponselnya, "lihat foto ini! ini fotoku bersama Jova!" menunjukkan banyak sekali foto dirinya bersama Jova. "Anda masih tidak percaya? aku akan menelponnya!" Indira mendial nomor Jova dengan vidio call.


"Halo Ndi?"


"Jova! please bantu aku untuk bisa bertemu dengan Rakha Leonard!" Indira memasang wajah melas, "minta bantuan Tuan Alexander agar aku bisa masuk bertemu dengan Rakha Leonard. Dia berusaha menipuku!"


"Menipumu?" Jova mengerutkan keningnya.


Security masih tidak percaya kalau yang di hubungi Indira benar - benar Jovanka kekasih Tuannya. Karena seluruh karyawan di gedung itu memang belum tau seperti apa wajah Jovanka.


"Iya! Security melarang ku masuk dan Rakha tidak mau menemui ku!"


Jova bingung, tapi Devan paham maksud Indira. Devan segera merebut ponsel Jova.


"Berikan ponselmu pada Security!" ucap Devan pada Indira.


Security itu langsung tau siapa yang sedang berbicara. Jantung Security itu mendadak berdetak kencang. Kakinya gemetar tidak karuan.


"Tu.. tuan?" menghadap layar yang penuh dengan wajah Devan, tapi security itu mengira itu wajah Alexander.


"Ba.. baik, Tuan!" mengembalikan ponsel Indira.


Waduh aku selamat dari Tuan Alexander, tapi belum tentu aku selamat dari Tuan Rakha, apes sekali aku pagi ini! batin security.


"Terima kasih, pak Alex!" ucap Indira dengan senyum mengembang.


Devan tidak menjawab dan langsung mematikan panggilan Indira di ponsel Jova.


"Ditipu bagaimana sih maksud Indira?" tanya Jova pada Devan, sambil menarik ponselnya.


"Bukan apa - apa! biar jadi urusan Rakha!"


"Hemm" Jova menahan rasa penasarannya.


# # # # # #


"Bagaimana? sudah percaya kan anda?" Indira menebar senyum bangganya.


"Baik, mari saya antar!"


"Dari tadi kenapa!" ucap Indira kesal.


Di lantai 30, tepat ruangan asisten CEO, Rakha mondar - mandir bingung bercampur kesal. Sebenarnya dari tadi Rakha memantau Indira dari CCTV. Dan dia terlonjak kaget saat Indira nekat menghubungi Jova, bertepatan ada Devan di sana.


"Sial! sepertinya aku benar - benar harus berhadapan dengan gadis itu!" gumam Rakha, "aakhh!!! mimpi apa aku semalam!"


Tok Tok Tok

__ADS_1


Pintu ruangan Rakha di ketuk Security yang mengantar Indira. Rakha segera duduk di kursi singgasananya dengan memasang gaya cool nya.


"Masuk!"


Pintu terbuka dan menampilkan Indira dengan senyum sejuta watt di belakang Security.


"Maaf, Tuan. Tuan Alexander yang menyuruh saya untuk mengantar Nona ini menemui Tuan Rakha"


"Iya! keluarlah!"


"Permisi, Tuan!"


Security itu keluar dengan kembali menutup pintu ruangan Rakha. Indira masih menyunggingkan senyum super manis yang dia punya.


Ahh, akhirnya aku bisa melihat wajahnya jauh lebih dekat! batin Indira.


Rakha merasa geram sendiri. Kali ini dia tidak bisa menghindar. Rakha duduk dengan menampilkan wajah garangnya. Tapi tak sedikitpun Indira takut.


Indira duduk di kursi depan meja Rakha tanpa minta izin Rakha terlebih dahulu. Indira menatap mata Rakha dengan tatapan menagih hutang tapi dengan hati berbunga - bunga.


"Apa seorang Rakha Leonard akan mengingkari janjinya?" tanya Indira dengan senyum sinisnya dan menaik turunkan kedua alisnya beberapa kali.


Membuat Rakha mengepalkan kedua tangannya. Rakha menatap Indira dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Indira.


Aku tidak akan mundur dengan tatapan macam apapun yang kau munculkan untukku Tuan Rakha Leonard! karena kali ini sahabat ku Jova berada di belakang ku bersama dukungan Tuan Alexander yang tampan itu. Ucap Indira dalam hati.


"Aku akan menepati janji ku, tapi tidak sekarang!" jawab Rakha dingin.


"Kapan? apa jaminannya jika anda kabur lagi?" tanya Indira dengan senyum manisnya.


"Aku tidak akan kabur!" ucap Rakha, "kau tidak lihat pekerjaan ku sangat banyak!" menunjuk tumpukan berkas di atas meja dengan matanya, "Tuan Alexander sedang ke luar negeri!"


"Saya tau! lalu kapan Tuan Rakha Leonard akan menepati janjinya?"


"Aku akan datang ke Cafe mu kalau aku sempat!"


"Tuan tidak akan pernah sempat kalau tidak di kejar!" Indira menyilangkan tangan di dadanya sembari menyandarkan punggungnya. Dengan tatapan tak kalah tajam dari Rakha.


Rakha menarik nafas panjang, dan membuangnya penuh penghayatan.




Gimana tuh, membuang nafas penuh penghayatan? hehe



Sampai jumpa besok ya teman - teman.


Tangan Author udah keriting, sehari ini up 4 BAB.



Terima kasih untuk semua reader yang sudah memberi dukungan pada novel pertama Author ini. Like dan Komentarnya benar - benar menambah semangat Author.



Salam Lovallena.

__ADS_1


__ADS_2