
"Sejak kapan mobilmu baru?", tanya Jova pada Alexander yang mengemudi di sampingnya.
"Apa itu penting!"
"Aku kan hanya mau tau! pasti gara - gara mobilmu aku tabrak dan kau tidak mau pakai mobil yang penyok, walau sedikit. Dasar orang kaya!" ucap Jova mengejek.
Alexander hanya menyebikkan bibirnya dan tetap fokus pada jalan di depannya. Tanpa menjawab ataupun menoleh pada Jova.
Jovanka melihat Alexander yang memang sangat tampan kalau sedang mengemudikan mobil, apalagi mobilnya mewah.
Mobil mewah akan membuat tampan siapapun yang mengendarainya, batin Jova.
"Kenapa kau seperti batu lagi! kemarin kau menyebalkan, sekarang kau dingin!" sebenarnya mengajak ngobrol Alexander hanyalah alasan bagi Jova, agar tidak terlalu terlihat kalau sebenarnya dia ingin memandangi Alexander.
"Cerewet mu itu tidak bisa habis apa?" tanya Alexander ketus melirik sekilas pada Jova.
Jova menelan ludahnya kesal. Lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Dia diam sampai Alexander memarkirkan mobilnya di salah satu parkiran VIP mall mewah di jakarta.
"Keluar!" ketus Alexander
"Ketus amat!" gumam Jova pelan, tapi masih bisa di dengar Alexander.
Jova keluar bersamaan dengan Alexander. Alexander berjalan menuju pintu masuk ke mall itu. Jovanka reflek saja mengikuti kemana langkah Alexander. Alexander berhenti di salah satu resto jepang.
"Wow! kita makan siang disini?" tanya Jova penuh semangat.
"Aku yang makan siang di sini, kau makan di mobil!"
"Yaa ampun! lalu kenapa kau mengajak ku turun!"
"Tentu saja kita makan di sini! kenapa kau masih bertanya!" ucap Alexander menggelengkan kepalanya.
"Oh! hehehehe sorry, tuan!" Jova tersenyum manis pada Alexander yang hanya melihatnya sekilas.
Apa dia ini tidak normal. Senyum manis ku sama sekali tidak ada nilai di matanya, batin Jova membuang nafas kasar.
Alexander duduk di salah satu kursi di ikuti Jova duduk di depannya. Waiters datang membawa buku menu makanan. Jova tampak kebingungan memilih menu di sana. Setelah beberapa saat mereka sudah menentukan menu masing - masing.
"Tumben sekali kau mengajakku makan siang di luar?" tanya Jovanka sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Karena ini hari ke empat perjanjian kita!"
"Apa hubungannya?" tanya Jova mengerutkan keningnya.
"Tidak ada!" jawab Alexander cuek yang membuat Jova mendelik dan menghentakkan kakinya di bawah meja.
"Apa papamu waktu masih muda juga menyebalkan sepertimu!"
"Mana aku tau! aku anaknya bukan temannya!" jawab Alexander sambil memainkan ponselnya.
"Aku juga bilang papamu bukan temanmu!" jawab Jova jutek menahan kesal.
Alexander tersenyum samar melirik sekilas ekspresi Jovanka.
Waiters datang membawa pesanan mereka dan menata di atas meja. Jova dan Alexander makan dengan lahap menu yang mereka pilih masing - masing.
Hingga semua makanan pindah ke perut mereka tidak ada yang berbicara. Hanya sesekali Alexander melirik Jovanka yang makan dengan lahap di depannya.
Kemudian mereka mengeluarkan ponsel masing - masing dan memainkannya.
__ADS_1
"Wow! sepertinya kau sangat menikmati makan siang mu bro! sampai tidak menyadari keberadaan ku!" sapa seseorang di meja sebelah mereka.
Jovanka dan Alexander menoleh ke sumber suara.
Hah! itu kan?, batin Jova mengingat - ingat sesuatu.
"Ganti lagi pacarmu?" tanya Alexander melirik pada seorang wanita di depan laki - laki yang menyapanya.
"Hehe" Laki - laki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Masih pendekatan" ucapnya tersenyum kikuk.
Sementara wanita di depannya terlihat malu. Alexander tampak cuek saja dengan laki - laki di meja sebelah. Jova masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Eh, aku harus kembali bekerja. Kami duluan ya!" pamit laki - laki itu salah tingkah.
"Hemm" jawab Alexander cuek.
Jova menatap kepergian mereka sampai tak terlihat olehnya.
"Alexander?" panggil Jova pada Alexander yang masih fokus pada ponselnya.
"Hemm?" jawab Alexander tanpa menoleh pada Jova.
"Alexander?" panggil Jova lagi karena Alexander tidak menoleh sedikit pun padanya.
"Apa!" jawab Alexander melihat Jova di depannya yang tampak penuh tanda tanya.
"Kau kenal dengan laki - laki itu?"
"Siapa?"
"Tch!!" Jova kesal sendiri. "Yang tadi menyapamu, yang duduk di situ" Jova menunjuk meja di sebelah mereka.
"Iya! aku juga tau siapa dia. Hanya saja apa kalian berteman? kalian terlihat akrab. Bahkan dia memanggilmu bro. Apa kalian bersahabat?" tanya Jova antusias menatap tajam pada Alexander.
"Apa itu penting?" jawab Alexander melirik sinis pada Jovanka.
"Tch!! kau ini kalau di tanya selalu saja menyebalkan!" kesal Jova melempar pandangan ke arah lain
Alexander tersenyum dengan tingkah Jovanka.
"Ayo!" ucap Alexander setelah membayar makanan mereka.
"Kemana?"
"Arab!"
"What?" Jova mengerutkan keningnya.
"Kau mau disitu saja, baiklah. Aku harus kembali ke kampus" Alexander melangkah keluar resto.
"Eeh.. tunggu!" Jova berlari kecil mengejar Alexander yang berjalan cepat.
Alexander mengemudikan mobilnya membelah kemacetan jalan raya Jakarta saat jam makan siang.
"Kau ada kelas lagi?"
"Tidak" ucap Jova menoleh pada Alexander.
"Kau ke kantor apa ke kampus?"
__ADS_1
"Kantor saja"
Alexander melajukan mobilnya menuju kantor Jovanka. Menurunkan Jova di depan Lobby. Jova turun dari mobil Alexander dengan perasaan senangnya.
"Terima kasih untuk makan siangnya!" ucap Jova pelan.
"Hemm" jawab Alexander menoleh pada Jova yang membuka pintu mobilnya.
Jovanka turun dan berdiri menunggu mobil Alexander pergi meninggalkan gedung perkantoran itu.
Kapan aku di antar jemput kekasih setampan Alexander? Ah.. khayalan apa ini, batin Jova dalam hati, lalu berjalan masuk ke lobby.
# # # # # #
Mobil Alexander memasuki gerbang kampusnya menuju parkiran khusus dosen. Dia keluar dari mobil sportnya berjalan cepat menuju ruangannya. Setiap gerak gerik Alexander di kampus adalah daya tarik tersendiri di kampus itu.
Kenapa dia kembali tanpa gadis itu? semoga saja gadis itu di buang, batin Julie yang melihat Alexander keluar sendirian dari mobilnya.
Alexander masuk ke ruangannya. Bersiap untuk memberi materi kuliah di kelas lain.
# # # # # #
Di kantornya, Jovanka duduk di kursi. Fikirannya tertuju pada hubungan yang terjalin antara Alexander dan laki - laki yang menyapanya siang tadi.
"Mereka terlihat sangat akrab. Bahkan laki - laki itu seperti ada rasa malu berbicara dengan Alexander. Apa hubungan mereka? teman kuliah? atau saudara? Kalau mereka kenal akrab, aku yakin Alexander paling tidak pernah atau bahkan mengenal ... Masuk!" gumaman Jova tergantung saat mendengar pintu ruangannya di ketuk Mira.
"Permisi nona, ini laporan hari ini" Mira meletakkan laporan harian perusahaan di atas meja Jova.
"Ya!"
"Apa nona perlu bantuan?"
"Tidak, pergilah!"
"Baik nona, permisi"
"Hemm"
Jova membuka satu persatu lembaran dari berkas - berkas yang ada di depannya. Berusaha untuk fokus pada pekerjaan kantornya yang menguras energi dan otaknya itu.
"Aku tidak sabar menunggu saat CEO sialan itu di munculkan secara resmi!", gumam Jova kesal melihat omset yang tidak ada perubahan.
Tunggu part selanjutnya yaa reader setia ku.
Terima kasih untuk like yang sudah kalian berikan.
Dan jangan lupa untuk selalu meninggalkan like atau komen yaa.
Jika berkenan, mohon di jadikan favorit untuk menambah semangat author up part selanjutnya.
Salam Lovallena
__ADS_1