I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Di Antar Ke Kampus


__ADS_3

"Sudah hampir jam 8 dia tidak turun juga!" gumam Jova kesal.


5 menit kemudian barulah terdengar Alexander membuka pintu kamarnya. Dia turun dengan tampang tak berdosanya, dengan memakai celana formal dan kemeja lengan panjangnya. Jova mendengus kesal melihat tampang Alexander.


Alexander duduk di sebelah Jova. Jova mengambilkan sarapan untuk Alexander. Mereka makan bersama. Jova makan dengan sangat lahap dan cepat.


"Kau ini kelaparan atau kesetanan?" tanya Alexander.


"Kelaparan Iya! Kesetanan juga iya!" jawab Jova ketus dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


Alexander mengangkat sudut bibirnya. Merasa lucu dengan ulah Jova.


"Kau itu yang membuat aku kesetanan!"


"Aku?" Alexander mengerutkan keningnya.


"Iya!"


"Kenapa aku?" tanyanya bingung.


"Aku sudah menunggumu dari pagi, dan kau turun dengan tampang tak berdosa mu itu! kau bayangkan saja betapa menyebalkan nya orang seperti itu" ucap Jova menahan kesal sambil terus mengunyah.


Alexander tergelak dengan penjelasan Jova. Dia mengunyah makanan dengan sedikit senyum di bibirnya.


"Nah, bercermin lah. Betapa menyebalkan nya dirimu saat ini. Minta maaf tidak malah senyam - senyum seperti itu" ucap Jova menyelesaikan makanannya.


"Sorry sorry" ucap Alexander santai.


"Shiit!! aku terlambat!" Jova berdiri tergesa - gesa. "Eh! kau cuti kan? jangan datang ke kampus hari ini. Kalau kau datang kau pasti akan menghukum ku. Meskipun kau juga pasti terlambat! Jadi jangan berubah pikiran, OK" ucap Jova berjalan cepat masuk ke kamarnya mengambil tas dan kunci mobil.


Alexander mengambil kunci mobil di saku celananya. Dan berjalan menuju pintu apartemen.


"Aku antar saja!" ucap Alexander saat melihat Jova keluar dari kamar.


"Kau berubah pikiran?" tanya Jova panik.


"Tidak!" jawab Alexander santai. "Cepat sebelum kau semakin terlambat!" penuh penekanan, "tinggalkan kunci mobilmu!"


Tanpa banyak bicara lagi, Jova meninggalkan kunci mobil di meja ruang tengah. Berjalan cepat mengikuti Alexander. Dia mengunci pintu dan berlari mengejar Alexander yang berjalan cepat.


Mereka masuk ke dalam mobil. Alexander mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah keramaian jalan raya. Jova merasakan jantungnya dag dig dug luar biasa. Antara takut dan senang, takut dengan cara Alexander mengemudikan mobil sportnya. Senang untuk pertama kalinya di antar ke kampus.


"Aku nanti pulangnya bagaimana?" tanya Jova saat di lampu merah dekat kampusnya.


"Aku akan menjemputmu di kantor mu jam 4 sore" jawab Alexander tanpa menoleh pada Jova.


"Okay!" ucap Jova senang.


Alexander memasuki gerbang kampus. Tentu tidak luput dari mata mahasiswa dan dosen yang berada di luar. Karena Alexander satu - satunya dosen yang membawa mobil sport ke kampus.

__ADS_1


"Akhirnya yang di tunggu datang juga" gumam Julie yang melihat mobil Alexander masuk ke halaman kampus.


Beberapa mahasiswi di sekitar halaman sudah mulai curi - curi pandang ke arah mobil Alexander yang tidak langsung masuk ke parkiran. Tumben sekali pikir mereka.


Cleckk


Pintu penumpang sedikit terbuka. Sontak semua mahasiswa dan dosen di sekitar halaman itu menatap ke arah mobil Alexander. Kenapa pintu penumpang yang terbuka?


Duaaarrr!!!


Bagai di sambar petir di siang bolong! Yang turun dari pintu itu adalah Jovanka. Jova memutari mobil ke arah pintu kemudi. Alexander membuka kaca mobilnya yang menampakkan jelas wajah tampannya dengan kaca mata hitam bertengger di hidungnya.


"Ingat! jam 4 kau harus sudah di bawah. Aku tidak akan menunggu mu" ucap Alexander tanpa senyum sedikitpun melihat ke arah Jova.


"Siap Pak Alex" ucap Jova tersenyum.


Alexander menutup kaca mobilnya, dan mengemudikan mobilnya meninggalkan halaman kampus.


"Kau lagi!" gumam Julie menahan kesal.


Jova berjalan menuju koridor. Saat dia akan naik ke kelasnya, sebuah tangan menariknya dengan menggenggam erat pergelangan tangan Jova.


"Aauuwhhh!!" Jova yang kaget reflek berteriak.


"TUTUP MULUTMU!" suara tegas seorang wanita.


Jova di tarik menjauh ke arah toilet. Tangan Jova di hempas kan dengan kuat. Jova yang sudah ahli bela diri, merasa tidak kaget saat di hempas kan ke dinding.


"Ada hubungan apa kau dengan Dosen Alex?" tanya Julie mengeratkan giginya dengan tatapan penuh kebencian pada Jovanka.


"Hubungan apa maksud Bu Julie?" tanya balik Jova.


"Tch!!" Julie terlihat sangat kesal, "kenapa kau bisa turun dari mobilnya?" Julie berapi - api melihat Jova yang tampak tidak takut sama sekali padanya.


"Beliau kan Dosen saya, Bu" jawab Jova santai.


"Aku tau! semua di kelas mu adalah mahasiswanya. Tapi tidak ada satu pun yang berani dekat dengannya. Dan kau!" Julie mengeratkan giginya. "Kenapa kau bisa keluar dari mobilnya, bahkan aku sering melihat kau menyapa Pak Alex seperti kau menyapa temanmu! Kau juga sering keluar masuk ruangannya!"


jova tampak jengah menghadapi orang di depannya. Ini kali pertama dia di labrak sesama perempuan urusan laki - laki.


"Saya sering keluar masuk ruangannya karena saya sering telat dan mendapatkan hukuman dari beliau. Dan sekarang, gara- gara anda menarik saya, saya jadi terlambat. Pasti pak Alex akan menghukum saya lagi" jawab Jova menyilangkan tangan di depan dada sembari menyandarkan punggungnya ke dinding.


"Lalu bagaimana kau tadi bisa di antar olehnya?"


"Tch!! pengen tau aja apa pengen tau banget?", tanya Jova dengan senyum jailnya tanpa rasa takut sama sekali.


PLAAKK!!


Julie mendaratkan tamparan di pipi mulus Jova sebelah kiri. Jova reflek memegang pipinya yang seketika terasa panas.

__ADS_1


"Apa Ibu pikir ini bukan penganiayaan?"


"Aku tidak perduli!" tegas Julie. "Ingat! jangan coba - coba kau mendekati ataupun merayu Pak Alex! Aku tidak akan segan - segan menganiaya mu lebih dari ini!" ancam Julie lalu pergi meninggalkan Jova.


Jova menatap punggung Julie dengan penuh kebencian.


"Semakin kau membenciku, aku akan semakin membuatmu panas dingin Ibu Julie yang terhormat!" gumam Jova pelan dengan mengeratkan giginya saat Julie sudah pergi. Jova menghembuskan nafas kasar bercampur kesal.


Lalu dia berjalan menuju kantin kampus. Dia memilih tidak masuk ke kelasnya. Moodnya hancur begitu saja.


Jova duduk di kursi kantin dengan es jeruk di meja depannya. Wajah kekesalan belum sirna dari mukanya. Dia memikirkan cara bagaimana bisa membuat Julie tidak mengganggunya lagi.


"Hai cantik ku, cinta ku, honey bunny darling!", sapa Bayu dengan penuh senyum percaya diri yang langsung duduk di samping Jova di ikuti Indira yang datang bersama Bayu.


"Kau kenapa Jova?" tanya Indira yang duduk di depan Jova.


Jova tampak bingung mau memulai cerita dari mana. Dia menatap Indira dan Bayu bergantian.


"Apa ada yang mengganggumu? atau laki - laki itu menyakitimu?" tebak Bayu.


"Tidak!" jawab Jova cepat. "Dia tidak pernah menyakitiku, meskipun kadang - kadang kelakuannya menyebalkan!" jawab Jova yakin.


"Lalu?" tanya Indira dan Bayu bersamaan.


Jova menatap kedua sahabatnya bergantian. Sedikit tersenyum melihat kekompakan mereka berdua.


"Cepat cerita Jov! jangan membuatku mati penasaran!" ucap Indira menatap tajam pada Jova.


Jova semakin tersenyum melihat raut muka serius Indira. Indira semakin kesal di buatkan.


"Ayolah Jov, jangan senyum - senyum seperti itu. Lama - lama jantungku loncat melihat senyum manis mu terus - terusan" dasar bayu, saat genting pun sempat - sempatnya tebar gombalan.


Sontak Jova dan Indira menoleh pada Bayu yang menaik turunkan kedua alisnya, di sertai senyum menggoda kedua gadis itu.


Sebuah toyoran mendarat di kepalanya.




Selamat membaca part ini.


Mohon dukungannya ya teman - teman.


Jangan lupa tinggalkan Like dan komentar kalian. Juga Favoritkan novel ini ya ..



Terima kasih,

__ADS_1



Salam Lovallena


__ADS_2