
"Kapan kalian pulang dari Bali?" tanya Ayah, saat Jova dan Alex sudah sampai di rumah Ayah pada Minggu menjelang siang.
"Semalam, Ayah!" jawab Alexander.
"Bagaimana, Jova? kamu sudah ada tanda - tanda hamil?" tanya Ibu yang duduk di samping Jova.
"Ibu.. mana aku tau, baru juga seminggu!" jawab Jova yang malu - malu menjawab pertanyaan Ibu.
Ibu tersenyum lucu melihat putrinya yang salah tingkah, begitu juga Alexander yang menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Kenapa kalian malu, itukan memang sudah di tunggu oleh kebanyakan pengantin baru," ucap Ibu.
"Iya, Ibu ku sayang, Jova tau! tapi jangan tanya - tanya terus" jawab Jova yang masih malu membahas hal seperti itu dengan ibunya.
"Kenapa?" tanya Ibu, "ingat! jangan di tunda!"
"Kami tidak menunda, Bu," jawab Jova, "tapi kan Jova masih bersiap mengerjakan skripsi juga, Bu!"
"Hemm.. alasan, Ibu sudah tidak sabar ingin menimang cucu!" ucap Ibu.
"Iya.. iya! kami akan berusaha," jawab Jova pasrah.
"Gitu dong!" ucap Ibu.
"Oh iya! ini oleh - oleh untuk Ayah, Ibu, Tristan dan Mbak Nur!" ucap Jova menyerahkan 4 paper bag kepada Ibu yang sudah ada nama masing - masing. "Dan ini, cemilan khas Bali," Jova menyerahkan satu paper bag lagi.
"Waah! oleh - oleh pengantin baru nih!" sahut Tristan yang berjalan menuruni tangga.
"Ini untukmu!" ucap Ibu menyerahkan paper bag bertuliskan Tristan, pada Tristan yang duduk di antara Ibu dan Jova.
"Terima kasih Kakak ku sayang!" ucap Tristan mengecup singkat pipi Jova. "Terima kasih juga Kakak Ipar!" ucap Tristan tersenyum pada Alexander, yang di angguki Alex.
"Belajar yang rajin!" ucap Jova.
"Siap, Komandan!" sahut Tristan membuka paper bag nya.
"Nur!" panggil Ibu pada ART nya.
"Iya, Nyonya?" jawab Nur yang sudah berdiri di samping sofa.
"Ini oleh - oleh dari Jova untukmu!"
"Wah, terima kasih Nona. Ingat sama saya ternyata," ucap Nur dengan senyum tulusnya.
"Iya, sama - sama!" jawab Jova.
"Nyonya, makan siang sudah siap!" ucap Nur.
"Baiklah, ayo kita makan siang!" ucap Ibu.
"Ayo, Nak! jangan sungkan - sungkan. Ini juga rumah mu!" ucap Ayah menepuk pelan pundak Alex.
"Iya, Ayah." jawab Alexander.
Semua berdiri dan berpindah ke ruang makan. Semua duduk di kursi masing - masing.
"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Jova pada Alex yang duduk di sampingnya.
"Sama seperti yang kamu makan," jawab Alex singkat.
"Memangnya menikah itu seperti itu ya?" tanya Tristan yang mendengar pembicaraan Jova dan Alex, "makannya harus sama?" lanjutnya.
"Tidak juga kali!" jawab Jova, "di bawah umur diam saja! jangan tanya aneh - aneh!"
"Hahaha!" tawa Tristan, "makin galak saja kau Nyonya Alexander!" ledek Tristan membuat Alexander sedikit menyunggingkan senyum.
"Sudah, cepat makan!" ucap Ibu.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Jova mengajak Alexander untuk tiduran di kamarnya. Ini kali pertama Alex masuk ke kamar Jova. Alex berjalan mendekati dinding yang terdapat beberapa foto Jova.
"Cantika?" ucap Alex menunjuk satu foto saat Jova ulang tahun yang ke tujuh.
"Haha!" Jova tertawa kecil, "ingatanmu sangat luar biasa Sayang!" ucap Jova memeluk tubuh kekar Alexander.
"Tentu saja!" jawab Alex melingkarkan tangannya di pinggang Jova yang ramping.
__ADS_1
"Sekarang ayo kita tidur dulu, nanti sore ke rumah Papa," ucap Jova.
"Yakin kita tidur saja?" tanya Alex dengan senyum misteriusnya.
"Maksudnya?" tanya Jova balik.
"Aku ingin mencoba ranjang mu!" ucap Alex mengangkat tubuh Jova dan membawanya ke ranjang Jova.
"Hemm! dasar Dosen mesum!" Jova memukul pelan pundak Alex dengan senyum malu - malu, membuat Alex tergelak.
# # # # # #
"Sayang, mau makan di luar atau makan malam di rumah Papa saja?" tanya Alexander sambil mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah sang mertua.
"Di rumah Papa saja," jawab Jova.
"Ok!"
Beberapa saat kemudian, Alexander memarkirkan mobilnya di jajaran pedagang kaki lima.
"Sayang, kamu tunggu di sini," ucap Alex membuka seat belt nya.
"Aku ikut!" ucap Jova ikut membuka seat belt nya.
"Ya sudah, Ayo!"
Alexander membuka pintu untuk Jova, Jova keluar dari mobilnya. Sontak beberapa orang di sekitar menoleh ke arah mereka. Orang - orang di sekitar merasa familiar dengan wajah Jova dan Alex, tapi tak satupun yang berani mendekat ataupun bertanya.
Jova berjalan dengan memegang lengan kiri Alex, mengikuti kemanapun langkah Alex. Setelah merasa cukup, dengan membeli beberapa jenis camilan dari beberapa PKL di sana, Alex membawa Jova kembali ke mobilnya.
Saat sampai di lampu merah dimana banyak sekali pengamen dan peminta - minta, Alex mengeluarkan semua yang dia beli dan menyerahkan pada perwakilan pengamen yang mendekat.
"Bagi dengan teman - temanmu semua!" ucap Alex pada pengamen yang bisa di bilang masih terlihat muda, hanya saja pakaiannya terlihat kumuh.
"Terima kasih, Tuan! Terima kasih!" ucap pengamen itu dengan senang hati, membawa lari beberapa kantong kresek camilan ke tempat mereka beristirahat. Jova mengamati para pengamen yang seketika berkerumun, dan saling berebut dan terlihat sangat senang mendapatkan makanan yang tak seberapa itu.
Kenapa aku tidak pernah terfikir untuk melakukan hal seperti itu sejak dulu! kalau bukan karena Dosen tampan ku, mungkin aku tidak akan pernah tau tentang pentingnya berbagi hal sederhana seperti itu. Ucap Jova dalam hati.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Alex melirik Jova yang dari tadi diam memandang trotoar di balik jendela mobil.
"Oh ya?" Alex memiringkan wajahnya melihat Jova.
"Iya, Sayang!"
"Hemm" Alex kembali fokus pada jalanan di depannya.
Sampai mobil berada di depan pintu gerbang rumah mewah. Security yang mengenali mobil Alexander segera membuka pintu pagar setinggi 3 meter itu.
Alexander memarkirkan mobilnya di garasi rumah yang muat untuk belasan mobil sekaligus. Di sana pun terlihat banyak mobil yang terparkir, dengan berbagai jenis mobil. Jova tidak lagi heran dengan semua itu.
"Ayo, Sayang!" ucap Alex setelah membuka pintu penumpang mobilnya.
Jova dan Alexander bergandengan memasuki rumah Papa dengan menenteng beberapa paper bag.
Seorang Tukang kebun yang melihat kedatangan Alex dan Jova, segera membuka pintu utama rumah Papa.
"Terima kasih," ucap Jova pada Tukang kebun itu.
"Sama - sama, Nona" jawab Tukang kebun itu seraya menunduk sopan.
"Waaahh! rumah Mama kedatangan tamu istimewa rupanya!" ucap Mama girang yang baru saja keluar dari kamar utama yang berada di lantai bawah.
Jova langsung menebarkan senyumnya menyambut pelukan Mama mertuanya. Papa yang mendengar ucapan Mama segera keluar dari kamarnya.
"Anak dan Menantu Papa rupanya!" ucap Papa merangkul pundak Alex dan Jova.
"Ayo duduk di sana!" Mama menunjuk sofa ruang tengah.
"Ini oleh - oleh untuk Mama dan Papa," ucap Jova menyerahkan dua paper bag.
"Wah, terima kasih Sayang!" ucap Mama.
"Dan ini camilan khas Bali untuk Mama, Papa dan para pekerja di sini." ucap Jova menyerahkan Paper bag dengan ukuran besar. Karena Jova menduga pekerja di rumah Alexander pasti banyak.
"Kamu ini, bulan madu masih sempat - sempatnya membeli beginian!" ucap Mama.
__ADS_1
"Ini wajib Ma," ucap Jova menerbitkan senyumnya.
"Bagaimana bulan madu kalian?" tanya Papa, "Lancar kan?"
"Tentu saja!" jawab Alex asal.
Papa dan Mama tergelak dengan ekspresi yang di tunjukkan Alex.
"Tidak ada insiden tiba - tiba datang bulan?" tanya Mama yang membuat Jova malu.
"Tidak ada!" jawab Alex.
"Beruntung sekali kamu!" ucap Papa.
"Memangnya kenapa?" tanya Alex yang membuat Mama tersenyum lucu.
"Papa dulu saat sudah panas - panasnya karena untuk pertama kali, eh pas sampai bawah ternyata Mamamu datang bulan!" cerita Papa tanpa rasa malu, "kau tau rasanya seperti apa? Hemmh!" Papa menggeleng - gelengkan kepalanya kesal mengingat masa itu.
"Hahahaha!" Alexander tertawa terbahak - bahak.
Mama dan Jova tertawa dengan menutup mulutnya. Jova merasa sangat malu membicarakan hal seperti dengan orang lain. Mama menyadari Jova yang masih terlihat malu - malu membahas hal seperti itu. Mengingat Jova adalah pengantin baru.
"Sudah, jangan membahas itu lagu! sebaiknya kita makan malam sekarang, bagaimana?" ucap Mama yang di angguk i semua yang duduk di ruangan itu.
"Oh ya! kalian menginap di sini saja!" ucap Papa sambil berjalan ke ruang makan.
"Iya, Pa" jawab Alexander.
Setelah makan malam selesai, Alex membawa Jova untuk masuk ke kamarnya di lantai dua. Jova membulatkan matanya melihat kamar Alexander yang jauh lebih mewah dari kamarnya di apartemen.
"Sayang, kamar mu di sini jauh lebih besar ternyata!"
"Iya! meskipun jarang aku tempati atau bahkan sudah lama kosong, Mama tetap merawat kamar ini sesuai keinginanku"
"Oh!" Jova berkeliling dan berhenti di beberapa foto yang di pajang di dinding. "Sayang, ini foto kamu dimana?"
"Itu apartemen yang kami tinggali untuk kuliah selama di England," jawab Alex, "saat kami awal - awal datang di sana." jawab Alex yang menghampiri Jova.
"Oh!" Jova mengangguk, "kamu kuliah dimana memangnya?"
"Oxford University!" jawab Alex menunjukkan foto dimana dia sedang berfoto yang menunjukkan gedung kampusnya.
"Wow! kalian memang sangat hebat!" ucap Jova menatap bangga pada Alexander.
"Kalau ini?" Jova menunjuk salah satu foto, "kamu masih terlihat sangat muda!"
"Aku lupa itu dimana," jawab Alex, "aku bahkan tidak tau kalau Mama memajang banyak foto di sini."
"Lah, gimana sih!"
"Hahaha!" Alex tergelak, "kan jarang aku tempati!" lanjut Alex sambil mengecup leher Jova, mencoba menggodanya.
"Hemm.. mulai!" ucap Jova.
Beberapa episode lagi, Author akan menamatkan Novel ini ya.. mohon jangan kecewa. Hehe..
Nanti bisa pindah ke Novel yang mengisahkan Rakha dan Indira yang sedang dalam proses.
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentarnya ya.
Terima kasih banyak, pada teman - teman yang sudah memberikan dukungan dan vote nya.
Salam Lovallena.
__ADS_1