
Hari - hari berlalu dengan cepat, Jova jarang sekali pergi ke kampus. Semakin hari dia semakin berat jika harus berpisah dengan suaminya. Hari - harinya selalu ingin menempel pada suaminya. Setiap hari kemanapun Alexander berada pasti ada Jova di sampingnya.
Pagi ini setelah sarapan, Jova menggandeng tangan suaminya menuju mobil untuk mengulangi kebiasaan yang kemarin - kemarin, yakni ikut ke kantor. Maya mengemudikan mobil, membawa Alex dan Jova menuju perusahaan Group G.
Sebelum sampai di perusahaan Jova tak pernah lupa untuk mampir di minimarket dan toko kue untuk membeli banyak camilan. Tentu saja supaya Jova tidak bosan.
Jova tak sedikitpun melepas genggaman tangannya. Bahkan sampai mereka turun dari mobil. Mereka berjalan bergandengan memasuki lobby. Semua karyawan yang berpapasan tentu akan menunduk hormat pada mereka berdua.
"Sayang? kamu tidak melupakan skripsi ku kan?" tanya Jova setelah sampai di ruang kerja Alexander.
"Tentu saja tidak!" jawab Alex sambil duduk di singgasananya. "Jangan memikirkan skripsi!" ucap Alex.
"Dengan senang hati!" jawab Jova dengan gembiranya, duduk di sofa ruang kerja Alexander.
Beberapa menit kemudian Maya mengetuk pintu untuk memberikan semua yang di beli Jova sebelum mereka tiba di kantor. Dan dengan tanpa peduli dengan barat badan lagi, Jova memakan apapun yang ingin dia makan.
Jova tam sedikitpun merasa bosan menemani suaminya bekerja. Meskipun saat di tinggal meeting. Jova akan bermanja pada suaminya tanpa malu, setiap dia merasa ingin dimanja, dia tidak akan segan untuk mengganggu suaminya, bahkan sedang banyak berkas sekalipun. Menempel pada suami seolah menjadi hobi Jova akhir - akhir ini, dan tak sedikitpun Alexander merasa keberatan.
Dan kegiatan intim mereka pun setiap hari mereka lakukan. Jova bahkan sering merasa kurang, walau setiap malam mereka bercinta. Hormon kehamilan benar - benar mempengaruhi kebiasaan Jova.
Begitulah hari - hari Jova dan Alexander selama beberapa bulan terakhir. Hingga saat ini usia kehamilan Jova sudah berusia 6 bulan. Dan Jova berada di fase sidang skripsi. Tak butuh waktu lama bagi seorang Nyonya Alexander Gibran agar skripsinya di terima.
Rencana hari ini adalah melakukan USG untuk melihat lebih jelas janin dalam rahim Jova. Alexander dan Jova memasuki Rumah sakit tempat mereka periksa periksa pertama kali. Rumah sakit milik Group G.
Dengan jalur VIP , Jova langsung masuk ke ruang Obgym, tanpa antri dan tanpa melalui pintu masuk pasien.
Jova segera berbaring setelah mendapat arahan dari Dokter Obgym yang bernama Rika Aprilia itu. Rika mengoleskan gel pada perut Jova dan segera mengarahkan alat USG ke perut Jova yang mulai terlihat lebih besar.
"Selamat Tuan, di dalam rahim Nona terdapat dua janin," ucap Rika.
"Alhamdulillah!" ucap Jova dan Alex bersamaan. Alex mengusap dan mencium kening Jova.
"Satu janin berjenis kelamin laki - laki, dan satunya kelaminnya tertutupi. Jadi saya belum bisa memastikan apa janin Nona kembar sepasang atau dua janin laki - laki" lanjut Rika.
"Tidak masalah Dokter, yang penting mereka sama - sama sehat!" ucap Jova dengan senyum bahagianya.
"Alhamdulillah keduanya sehat," ucap Rika yang ikut merasa senang, "apa Tuan atau Nona memiliki gen kembar?" tanya Rika yang membuat Jova langsung menatap mata suaminya.
"Eyang ku kembar sepasang!" sahut Alex tanpa melihat Rika.
"Jadi Tuan memiliki gen kembar sepasang?" celetuk Rika yang merasa tak percaya dengan gen sepasang yang mungkin saja akan menurun pada Alexander. Tanpa di ketahui Rika, bahwa Alex sendiri adalah anak kembar.
"Hemm!" jawab Alexander yang terkesan sangat cuek.
"Hasil USG Nona mau di cetak atau tidak?" tanya Rika dengan hati - hati.
"Tentu saja!" sahut Alexander, "kenapa masih bertanya!" lanjutnya ketus menatap tajam mata Rika.
"Maaf, Tuan!" jawab Rika dengan sedikit rasa takut yang tiba - tiba menyelimuti.
Jova yang menyadari sifat dingin suaminya menarik pelan kemeja yang di pakai Alexander. Alexander menoleh pada Jova, dengan pandangan yangs seketika berubah jauh lebih lembut.
__ADS_1
Beberapa menit di ruangan itu, mereka keluar melalui pintu khusus, dan menunggu resep vitamin di ruang tunggu yang ada di kantor Ramah sakit.
# # # # # #
"Eyang!" panggil Fellicya saat melihat Eyang duduk di sofa ruang tengah.
"Hemm!" jawab Eyang sedikit cuek.
"Eyang harus tau!" ucap Fellicya duduk di samping Eyang, "Jova hamil anak kembar! salah satunya laki - laki dan satu lagi belum terlihat, karena tertutup saudara kembarnya."
"Lalu apa hubungannya, kau bicarakan pada Eyang?" tanya Eyang yang cuek dengan cerita Fellicya.
"Sesuai janji Eyang! kalau ternyata Jova hamil anak kembar sepasang maka Eyang harus datang ke Indonesia untuk memberi restu pada mereka.
"Dari mana kamu tau gadis itu hamil anak kembar?"
"Baru saja Jova mengirim pesan pada Fellicya!" ucap Fellicya yang ikut bahagia dengan kabar itu.
"Baru kemungkinan kau sudah girang seperti ini!" ucap Eyang ketus.
"Tentu saja!" jawab Fellicya, "aku selalu berdo'a supaya Jova di beri anak kembar sepasang!" lanjut Fellicya.
"Bicara apa kau ini! kalau tidak penting sebaiknya kau jauh - jauh dari Eyang!" ucap Eyang, "Eyang bosan! yang kau bahas selalu gadis miskin itu!"
"Eyang selalu saja mengatai Jova gadis miskin!" ucap Fellicya menahan kesal.
"Diam kamu!"
"Hufff!" Fellicya membuang nafasnya panjang dengan malas, lalu berdiri dan meninggalkan Eyang tanpa permisi.
# # # # # #
"Sayang! apa benar Eyang itu kembar?" tanya Jova saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.
"Iya!" jawab Alexander, "tapi kembaran Eyang, meninggal saat masih berusia tujuh tahun, karena kecelakaan!" lanjut Alex.
"Ya Tuhan, aku tidak menyangka kalau Eyang itu kembar sepasang!" ucap Jova, "sangat jarang bukan kembar sepasang?"
"Iya!" jawab Alex.
"Semoga saja anak kita kembar sepasang!" ucap Jova mengusap perutnya yang di ikuti Alexander.
"Aamiin!" jawab Alex.
"Kamu tidak keberatan kan kalau anak kita kembar sepasang?"
"Tentu saja tidak, Sayang!" jawab Alex cepat.
"Semoga saja kedua anak kita memiliki otak yang cerdas seperti Daddy nya!" ucap Jova mengusap perutnya lalu melihat Alexander dengan senyum bahagia.
"Tentu saja!" jawab Alex, "mereka pasti akan jauh lebih cerdas dari ku!" lanjutnya.
__ADS_1
"Haha iya!" gelak Jova.
# # # # # #
"Sayang!" panggil Jova pada Alex yang tertidur pulas di sampingnya.
"Sayang!" panggilnya lagi karena Alex tidak merespon.
"Hemm!" jawab Alex tanpa membuka matanya.
"Aku lapar!" ucap Jova.
"Kamu mau makan apa?" tanya Alex yang masih memeluk erat tubuh Jova.
"Gado - gado!" jawab Jova tanpa rasa bersalahnya.
"Tengah malam begini?" tanya Alex yang langsung membuka matanya lebar.
"He'em!" jawab Jova manja.
"Beli dimana jam begini, Sayang!" tanya Alex.
"Pokoknya aku mau!" ucap Jova yang mulai ngambek.
"Aku akan mengerahkan anak buah untuk mencari penjual gado - gado!" ucap Alex meraih ponselnya.
"Aku mau kamu yang beli!"
"Iya! nanti aku yang berangkat! aku hanya memerintahkan mereka untuk mencari penjualnya.
"Aku mau kamu yang nyari!"
"Apa!" pekik Alex, "tapi akan sangat lama kalau aku mencarinya sendiri, Sayang!"
"Aku tidak mau tau!" jawab Jova, "dan aku mau ikut!"
"What!" pekik Alex lebih terkejut lagi. "No! ini tengah malam, tidak baik untuk kamu yang sedang hamil!" ucap Alex tegas.
"Aku maauu..." ucap Jova dengan manjanya.
"Tch!" Alex mulai pusing dengan keinginan istrinya, dia sangat sulit jika harus menolak keinginan istrinya.
Yang punya ide, nama buat anak kembar, boleh banget nih kasih saran. Author belum bikin nama buat anak - anak Jova dan Alex.
Terima kasih,
__ADS_1
Salam Lovallena.