I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Apa Dia Kabur?


__ADS_3

"Huuufff" Alexander membuang nafas panjang. "Di Jakarta! Puas??" jawab Alexander ketus lalu fokus kembali pada ponselnya.


"Oh ya?" Jova tersenyum puas. "Daerah mana? apa papa dan mama mu juga dosen?" Jova berusaha mencari jawaban dari rasa ingin taunya yang sudah menumpuk sejak lama.


"Bukan"


"Lalu apa pekerjaannya?"


"Mencintai anaknya, yaitu aku! puas kau?" ucap Alexander kesal. "Kau ini banyak sekali bertanya!" Menatap Jova kesal.


"Kepo sedikit boleh lah" ucap Jova tersenyum kikuk. "Kau juga boleh bertanya apa saja tentang ku. Tanyalah! aku akan menjawab dengan jujur"


"Aku tidak tertarik bertanya padamu" ucap Alexander cuek.


"Kenapa?" tanya Jova pelan. "Padahal di kampus banyak mahasiswa yang kepo tentang hidupku. Tapi tentu saja aku tidak semudah itu bercerita pada teman. Hanya sahabat terbaik ku saja yang tau tentangku"


Karena aku sudah tau semua tentang mu Jovanka Lovata Barraq. Mencari tau tentangmu untuk seorang Alexander adalah perkara kecil. Ucap Alexander dalam hati.


Ting!


Jova berdiri, berjalan ke arah pintu setelah mendengar bunyi bel. Jova membuka pintu, lalu menerima makanan yang di pesan Alexander dari restoran di lobby bawah. Jova kembali ke ruang tengah setelah mengunci pintu.


"Kau mau makan sekarang?" tanya Jova.


"Iya!" Alexander berdiri, berjalan di belakang Jova menuju meja makan yang ada di dapur.


Jova menata semua makanan di meja makan. Lalu mengambil piring untuk nya dan untuk Alexander. Mereka makan tanpa bersuara. Hingga makanan habis.


Alexander meninggalkan Jova yang masih membersihkan dapur. Kemudian masuk ke ruang kerjanya di lantai bawah.


Setelah selesai Jova berjalan ke ruang tengah. Dia mendengar ponsel berbunyi tapi bukan ponselnya. Dia mencari - cari sumber suara, sampai dia menemukan ponsel Alexander yang tergeletak di sofa.


"Itukan ponsel Alexander, kemana dia?" Jova melihat siapa yang menghubungi. "Itukan orang menyapa Alexander saat makan di resto Jepang," ucap Jova saat melihat foto profil penelepon, "namanya juga sama. Apa hubungan mereka sebenarnya?" Jova semakin penasaran.


Jova masih tertegun dengan pikirannya. Dia berdiri di belakang sofa tempat ponsel Alexander. Pikiran nya menjalar kemana - mana. Dia tersadar dari lamunannya saat ponsel itu berhenti berdering. Matanya masih menatap ponsel yang layarnya sudah mati itu.


"Hey!!"


Jova tersentak kaget saat pundaknya di tepuk Alexander. Sontak dia menoleh ke arah Alexander yang meraih ponselnya di sofa. Dia menatap ragu pada Alexander.


"Alexander?" panggil Jova pelan.


"Hemm?" jawab Alexander tanpa menoleh pada Jova. Dia membuka layar ponselnya.


"Boleh aku bertanya satu kali saja, tapi jawab dengan serius dan jujur?"

__ADS_1


"Apa?" tanya Alexander cuek.


"Sebenarnya apa hubungan mu dengan laki - laki yang menyapamu saat di resto Jepang waktu itu?" Jova memberanikan diri untuk bertanya.


"Siapa?"


"Yang memanggilmu bro?"


"Oh" jawab Alexander cuek. Apa dia tau ada panggilan masuk darinya?, batin Alexander.


"Jawablah! aku mohon"


"Kami berteman" jawab Alexander santai.


"Apa kalian akrab?"


"Kau tadi hanya minta untuk mengajukan satu pertanyaan dan aku sudah menjawab dengan jujur, kami berteman. Kenapa bertanya lagi?", Alexander mencoba untuk menghindar dari pertanyaan Jova.


"Satu lagi aku mohon!" Jova memelas. "Apa kau juga kenal dengan emm emm"


Alexander menutup rapat mulut Jova dengan telapak tangan kanannya sebelum Jova menyelesaikan kalimatnya.


"Aku tidak akan menjawab pertanyaan di luar kesepakatan. Kau hanya meminta aku menjawab satu pertanyaan. Jadi jangan tanya lagi, aku tidak akan menjawab" ucap Alexander pelan dan penuh penekanan. "Aku akan melepas tanganku kalau kau berjanji untuk tidak bertanya lagi"


Sepertinya aku harus mencari tau sendiri. Ucap Jova dalam hati.


Jova masuk ke kamarnya. Menuju kamar mandi. Setelah mencuci muka dan menggosok giginya dia keluar menuju Almari mengganti bajunya dengan baju tidur berwarna merah.


Alexander di kamarnya juga melakukan hal yang sama. Dia juga mengganti baju tidur dengan warna merah. Entah apa yang membuat mereka sering tidak sengaja memakai baju tidur yang warnanya sama.


(Jodoh di tangan Author ya hehehe)


# # # # # #


Pagi hari Alexander menggeliat dari tidur panjangnya. Dia terbangun saat matahari menerobos jendela yang tak tertutup gorden dengan sempurna. Dia membuka matanya menatap jendela. Lalu bangun menuju kamar mandi. Dia mandi dan mengganti bajunya di walk in closet.


Setelah selesai, dia menyisir rambutnya asal lalu menyemprotkan minyak wangi. Dia keluar dari walk in closet menuju pintu keluar kamarnya. Dia menuruni tangga. Tampak di bawah terlihat sangat sepi.


Sampai di tangga terakhir dia melirik meja makan yang ada beberapa menu sarapan.


"Tumben dia masak banyak"


Alexander berjalan ke ruang tengah, yang juga tampak sepi.


"Kemana dia?" gumam Alexander pelan.

__ADS_1


Dia melihat ruang depan juga kosong, balkon dekat ruang tengah juga kosong.


Tok Tok Tok


Alexander mengetuk pintu kamar Jova tidak ada jawaban. Dia mulai terlihat panik.


Tokk Tokk Tokk


Alexander mengetuk pintu lebih keras. Tetap tidak ada jawaban. Alexander berkacak pinggang, tampak wajahnya lebih panik dari sebelumnya. Dia ingin masuk, tapi ragu untuk masuk kamar seorang gadis.


Dia terlihat bingung di depan pintu kamar Jova. Akhirnya dia nekat membuka sedikit pintu kamar Jova yang tidak terkunci. Kamar Jova terlihat rapi dan kosong. Alexander masuk berjalan cepat menuju kamar mandi Jova.


Tok Tok Tok


Tidak ada jawaban. Alexander membuka pintu kamar mandi sedikit demi sedikit.


"Kosong! kemana dia! apa dia kabur?"


Kepanikan benar - benar merasuki pikirannya. Dia berjalan ke arah balkon kamar Jova, tapi pintu balkon masih terkunci dari dalam. Dia berjalan cepat menuju pintu. Matanya menangkap almari Jova. Dia berhenti di depan almari. Dia ragu untuk membuka.


"Kalau almari ini kosong, brarti benar dia pergi tanpa pamit. Apa dia marah karena semalam aku tidak mau menjawab pertanyaannya?" gumam Alexander di tengah kepanikannya.


Tangan Alexander memegang handle pintu almari Jova, tapi dia masih takut jika mendapati kenyataan yang tidak dia harapkan. Alexander menggeser sedikit pintu almari Jova.


Alexander bernafas sedikit lega karena barang - barang Jova masih tertata rapi di sana. Dia membuka almari lainnya, dan masih banyak barang - barang Jova.


"Untunglah, lalu kemana dia. Ini kan hari minggu" matanya berkeliling mencari tas kecil yang biasa di pakai Jova dan kunci mobil Jova. Terlihat kunci mobil Jova di atas nakas dekat tempat tidur.


"Brarti dia tidak keluar. Apa mungkin dia fitness sepagi ini?"


Alexander berjalan cepat keluar pintu kamar Jova menuju tangga. Saat menginjak anak tangga pertama telinganya mendengar suara dari ruang belakang dapur.




Terima kasih sudah membaca part ini.


Tinggalkan Like dan Komentarnya ya. Dan jangan lupa favorit kan ya teman - teman.


Author sangat mengharap dukungan dalam bentuk apapun.



Salam Lovallena.

__ADS_1


__ADS_2