
"Cantika" jawab Jova singkat.
"Aku Alexander!" ucap Alexander menatap lembut mata Jova.
"Cantika!" pekik Ayah saat sudah di depan Jova, "kau tidak apa - apa sayang!" tanya Ayah panik.
"Tidak apa - apa Ayah. Untung dia menolong ku" Jova menunjuk Alexander.
"Terima kasih, Nak!" ucap Ayah Jova pada Alexander.
"Iya!" jawab Alexander tanpa melihat Ayah Jova sedikitpun. Alexander hanya fokus menatap wajah Jova.
Ayah Jova segera menggendong tubuh Jova, berjalan ke arah villanya. Alexander menatap punggung Ayah Jova, Jova sempat melihat kebelakang menatap Alexander yang masih berdiri melihatnya di gendong sang Ayah. Lalu Jova melempar senyum pada Alexander. Yang di balas senyuman kecil ala Alexander.
Ayah Jova menurunkan Jova di depan villa, saat Ayah Jova di kaget kan dengan Ibu Jova yang pingsan. Ayah segera mengangkat tubuh Ibu dan membawanya ke kursi mobil bagian belakang. Tari mengemasi semua barang - barang yang mereka bawa. Tari di belakang memangku kepala Ibu Jova. Jova duduk di kursi penumpang bagian depan.
Ayah Jova mengemudikan mobilnya meninggalkan pantai. Dan tanpa di sadari mereka, Alexander melihat setiap pergerakan mereka dari depan villa mewahnya.
"Cantika" gumamnya pelan.
"Sudah bro, ayo ganti baju!"
Alexander mengambil kameranya di atas meja, lalu masuk mengganti bajunya yang basah oleh air laut.
Sejak saat itu Alexander hanya selalu berharap bisa bertemu dengan sosok Cantika.
Flashback Off . . .
"Apa kau lupa pada laki - laki yang menolong mu?" tanya Alexander menatap lembut mata Jova.
Jova menatap balik mata Alexander dengan penuh keterkejutan.
"Alexander?" tanya Jova tersenyum tak percaya, "kau Alexander?" Jova masih tak percaya dengan kejutan besar yang dia dapat.
"Hemm" Alexander mengangguk pelan dengan senyum manis di bibirnya.
"Kau masih mengingatku?"
"Aku tidak mengingat wajahmu, kau lihat bedanya kau saat berusia tujuh tahun dan sekarang! sangat jauh berbeda"
"Lalu foto ini, foto ini ada di album kamar apartemen ku, bagaimana bisa ada padamu?"
"Setelah aku mengantarmu pulang, aku kembali ke apartemen, tapi aku tidak ke apartemen ku, aku tidur di apartemen mu" diucap Alexander, "mata ku teralihkan saat melihat fotomu di meja kerja mu"
"Lalu aku duduk di kursi mu dan memandangi fotomu lekat. Entah kenapa aku ingin sekali membuka laci mu, sampai akhirnya aku menemukan sebuah album foto berwarna pink. Aku membuka satu persatu halaman, yang menunjukkan fotomu dari bayi sampai akhirnya aku tertegun dengan fotomu di tepi pantai. Baju mu dan pantainya sangat mirip dengan foto yang aku punya. Lalu aku mengambilnya dan membawanya ke apartemen ku. Setelah aku cocokkan dengan foto mu yang aku ambil diam - diam waktu itu, ternyata benar kau adalah Cantika. Gadis kecil yang aku tunggu kehadirannya di setiap hari ku" jelas Alexander dengan senyum manisnya.
Jova meneteskan air mata bahagianya. Menatap penuh cinta pada Alexander. Dia segera berhambur memeluk erat Alexander. Jova menangis bahagia dalam pelukan Alexander.
__ADS_1
Alexander kini merasakan tubuhnya utuh. Seolah sudah tidak ada lagi sakit yang dia rasakan. Pelukan hangat yang seolah mampu menyalurkan kerinduan, cinta dan kasih sayang yang tulus.
"I love you, Cantika!" bisik lembut Alexander.
Jova semakin menangis merasakan kebahagiaan yang seolah hanya mimpi. Bagaimana bisa takdir sedemikian indahnya, mengatur pertemuan dan perpisahan.
"Apa kau juga mencinta ku, Jova?"
Jova tersentak, akhirnya Alexander menanyakan hal itu.
"Sangat!" ucap Jova yakin, "aku sangat mencintaimu!" ucap Jova dengan setetes air mata bahagia, "I love you"
Alexander mengecup kedua mata Jova yang basah oleh air mata. Tentu saja berlanjut dengan ciuman hangat yang penuh kerinduan. Mereka saling memejamkan mata, menyalurkan cinta yang begitu dalam.
"Eghm!!"
Jova dan Alexander tersadar. Segera menoleh ke arah pintu. Yang menampakkan Papa, Mama dan Devan dengan senyum mengejek mereka.
Otomatis Jova dan Alexander salah tingkah. Dua anak manusia yang tidak pernah jatuh cinta, sedang tertangkap basah berciuman. Tentu saja malunya tidak dapat di ukur.
"Enak?" tanya Devan dengan senyum mengejek.
"Diam kau!" bentak Alexander yang salah tingkah.
Jova kikuk dengan keadaan itu, tertangkap basah oleh orang tua kekasihnya. Tapi Jova sedikit heran, karena orang tua Alexander seolah tidak marah atau apapun. Mereka seolah terbiasa dengan ciuman anak muda yang saling di mabuk cinta.
"Kapan kau akan meminta kami melamar Jova?" tanya Papa iseng.
"Wiih!!" pekik Devan, "yakin kau akan menikah?"
"Tentu saja! kenapa? kau tidak mau punya saudara ipar?"
"Tentu saja aku mau! hanya saja aku pikir menikah bukan hal yang terlalu penting"
"Heh! budayamu jangan kau perkenalkan pada saudara kembar mu!" ucap Jova kesal.
"Hahaha!" tawa Papa dan Mama membuat Jova menelan ludahnya. Lagi - lagi dia lupa memarahi anak orang di depan orang tuanya.
"Kau dengar itu Devander!" ucap Mama kemudian.
"Kau juga harus menikah! jangan main - main terus. Oma mu sudah bosan melihatmu yang gonta ganti pasangan, tapi tak kunjung memberinya cicit!" sahut Papa.
"Apa!" pekik Devan.
"Hihihihi" Jova dan Alexander cekikikan menertawai Devan.
"Kalian menertawai ku?" tanya Devan, "awas kalian! aku yang susah payah menyatukan kalian, beraninya kalian menertawai ku!" ucap Devan kesal.
"Maaf, Tuan Devan!" ucap Jova dengan nada di buat - buat.
__ADS_1
"Kapan kamu di ijinkan pulang Alexander?" tanya Mama.
"Aku tidak tau, Ma"
"Ya sudah, yang penting kamu sudah sadar"
"Papa dan Mama tidak jadi pulang?"
"Jadi, nanti malam kita akan kembali ke Indonesia. Papa ada meeting khusus yang tidak bisa di wakilkan pada Devan" jawab Papa.
"Oh!"
# # # # # #
Sabtu sore, Rakha mengemudikan mobilnya menuju Cafe Indira dengan sangat malas. Dia bahkan membatalkan acara kencannya dengan gebetannya.
Rakha sudah memarkirkan mobilnya di depan Cafe Indira. Indira yang sudah menunggu Rakha sejak 15 menit lalu pun tersenyum puas. Karena yang di tunggu akhirnya datang juga. Indira segera menghampiri mobil Rakha, berdiri di samping pintu kemudi dengan sedikit menunduk.
"Akhirnya, Tuan datang juga!" ucapnya, "kalau tuan tidak datang aku pasti menghubungi Jova!" ucap Indira dengan senyum manisnya.
"Cepat masuk!" ucap Rakha ketus.
"Siap, Tuan tampan!"
Indira memutari mobil, membuka pintu penumpang dan duduk manis dengan seat belt nya.
Rakha melajukan mobilnya menuju salah satu mall mewah di Jakarta. Memarkirkan mobilnya di parkiran VIP. Rakha turun dari mobil dengan gaya cool nya dan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
Tentu saja para penjaga mall tau siapa dia. Security menyambut Rakha dengan mengangguk sopan yang di balas anggukan kecil oleh Rakha.
Rakha berjalan beriringan dengan Indira. Berusaha menutupi kalau sebenarnya dia terpaksa berjalan dengan Indira.
Bagaimana kisah Rakha dan Indira selanjutnya?
Besok ya teman - teman. Author mau istirahat dulu.
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar teman - teman ya.
Terima kasih,
__ADS_1
Salam Lovallena.