I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Kesal!


__ADS_3

Jova melihat ke arah pintu yang tertutup. Seutas senyum kecil dan girang muncul di kedua sudut bibirnya.


Ya! sebenarnya Jova bangun saat mendengar pintu kamarnya di ketuk Alexander. Hanya saja dia berfikir untuk pura - pura tidak mendengar saja, mengingat ekspresi marah Alexander tadi dia memilih untuk menghindar.


Di luar dugaan, dia mendengar Alexander membuka pintu kamarnya. Jantungnya seolah berdetak lebih cepat, dan semakin cepat saat dia merasakan hembusan nafas Alexander di sertai sentuhan tangan Alexander di kepalanya. Dia ingin Alexander segera keluar agar dia bisa bernafas normal kembali.


Namun sayang, justru dia merasa ingin melayang saat Alexander mengangkat tubuhnya dan meletakkan kembali di posisi yang benar. Surga serasa sedang menghampirinya saat sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya.


Senyum itu semakin mengembang di bibir Jova. Dia memandang langit - langit kamar dengan hati berbunga - bunga.


Kalau kau benar ada sedikit saja ketertarikan padaku, aku tidak akan ragu mengejar mu. Kau satu - satu nya makhluk hidup di bumi yang seolah membuat taman bunga jatuh di hati ku. Ucap Jova dalam hati.


Jova kembali memejamkan matanya pelan, dan dengan cepat tertidur pulas.


Alexander berjalan naik ke kamarnya, membaringkan tubuhnya di ranjang empuknya. Mencoba meredam amarah yang masih bermain - main di hatinya. Baru kemudian memejamkan matanya hingga dengkuran halus mulai terdengar.


# # # # # #


Keesokannya Jova sudah duduk di meja makan dengan dua porsi sarapan yang dia pesan dari restauran di lantai dasar. Dia menunggu Alexander untuk turun.


Beberapa menit kemudian barulah, Alexander turun dengan pakaian rapi dan sebuah kunci mobil di tangannya.


"Selamat pagi!", sapa Jova ketika melihat Alexander berjalan ke arahnya.


"Hemm", jawab Alexander cuek.


"Ayo sarapan", Jova membuka menu sarapan Alexander, juga memberikan sendok dan garpu pada Alexander.


Jova melakukan hal yang sama untuk dirinya. Mereka makan tanpa bersuara. Hingga makanan di atas piring tandas.


"Oh ya, hari ini kan aku harus kembali ke apartemenku, barang - barang ku aku ambil nanti saat pulang kuliah ya? tidak apa - apa kan?", tanya Jova pada Alexander.


"Terserah kau saja", jawab Alexander cuek.


"Ok! aku berangkat dulu ya!", Jova berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.


Alexander menatap punggung Jova. Perasaannya saat ini campur aduk. Jova berhasil mengobrak - abrik isi hatinya menjelang berakhirnya perjanjian mereka.


Alexander masih diam di meja makan hingga Jova keluar dari kamarnya. Dan berjalan keluar dari apartemennya.


# # # # # #


Jova duduk di bangku kuliahnya menunggu sang dosen datang sambil memainkan ponselnya. Beberapa menit menunggu akhirnya Alexander masuk ke dalam kelas.


Jova yang hatinya sedang berbunga - bunga melihat Alexander seperti melihat berlian pagi ini. Hanya saja dia tidak mau terlalu menunjukkan kekagumannya.


Hingga jam mata kuliah selesai Jova mengikuti dengan antusias. Alexander mengakhiri materi dan berjalan keluar kelas di ikuti Jova yang tidak jauh darinya.


"Jova!", panggil seseorang tidak jauh dari pintu.


Sontak Jova menoleh dan melihat Bayu berdiri sendiri tidak jauh dari pintu.


"Hai Bay!, sudah lama?", tanya Jova.


Alexander terlihat hanya menarik nafas panjang dan membuangnya pelan. Dan berjalan tanpa melihat siapa yang memanggil Jova.

__ADS_1


"Tidak, baru saja. Aku juga baru selesai kuliah"


"Oh!, ya udah!", Jova berjalan beriringan di koridor menuju tangga.


"Eh, kita nonton saja yuk! aku traktir"


"Em, boleh deh. Indira ikut gak?"


"Kau lupa, kemarin dia bilang ada acara keluarga"


"Oh iya, yaudah ayo!. eh, sekalian traktir aku makan siang ya", ucap Jova tersenyum.


"Beres!", jawab Bayu cepat dan tegas.


Mereka berjalan menuju parkiran mobil Bayu. Bayu membuka pintu untuk Jova. Jova masuk dengan melempar senyum simpul pada Bayu di sampingnya. Bayu memutari mobil dan masuk ke pintu kemudi. Bayu melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kampus.


# # # # # #


Ikuti letak posisi nomor ponsel yang aku berikan padamu kemarin. Dan laporkan padaku kemana saja dia pergi.


Alexander meletakkan kasar ponselnya di atas meja kerjanya setelah mengirim pesan pada seseorang. Dari tadi dia mengawasi diam - diam gerak gerik Jova dan Bayu. Alexander bernafas dengan sangat kasar. Pikirannya kemana - mana.


Ting. . .


Setelah 20 menit Alexander menerima pesan dari suruhannya. Melaporkan hasil pelacakannya, yang menunjukkan Jova sedang berada di salah satu mall mewah di Jakarta. Tepatnya tempat Jova belanja bersamanya. Alexander menggebrak meja kerjanya marah.


Ting . .


Kembali sebuah pesan masuk ke ponselnya.


Dada Alexander kembang kempis membaca pesan di ponselnya. Pesan pemberitahuan tentang penarikan kartu debit yang di pegang Jova senilai 8 juta.


"Kau jalan dengan laki - laki sialan itu tapi menggunakan kartu ku untuk belanja!", gumam Alexander mengeratkan giginya geram. "Jangankan 8 juta, 1 juta pun ingin rasanya aku mematahkan leher bocah ingusan itu". Alexander berapi - api menggenggam erat ponselnya. "Berani membawamu tapi tidak mau mengeluarkan uang untukmu!".


Alexander marah bukan karena uangnya, tapi karena Jova jalan - jalan dengan laki - laki lain, tapi pakai uangnya.


# # # # # #


Sore hari seorang CEO tampan duduk bersandar di kursi kebesarannya. Sikunya bersandar di pegangan kursi, jarinya bermain - main di dagu manisnya.


"Masuk!", ucapnya setelah mendengar pintu ruangannya di ketuk.


"Selamat sore tuan muda. Saya ingin menyampaikan masalah permohonan Hasan"


"Kau urus saja baiknya bagaimana kha. Aku serahkan dia kepadamu"


"Baiklah tuan", Rakha manggut - manggut mengerti.


# # # # # #


Jam 6 sore Alexander masuk ke apartemennya, ruangan masih gelap pertanda tidak ada kehidupan. Alexander menyalakan lampu satu persatu. Alexander membuka pintu kamar yang di tempati Jova.


"Berarti dia belum pulang", gumam Alexander melihat koper Jova masih di kamarnya.


Ceklekk

__ADS_1


Terdengar suara pintu apartemen di buka. Alexander segera duduk di sofa ruang tengah melepas sepatunya.


"Hai, kau juga baru pulang?", sapa Jova saat sudah sampai di ruang tengah.


"Hemm", jawab Alexander malas.


"Ini makan malam untukmu", ucap Jova meletakkan kotak nasi di atas meja depan sofa lalu duduk di samping Alexander.


"Kenapa cuma satu? kau tidak makan?", tanya Alexander sinis.


"Aku sudah makan, tadi bayu mentraktir ku makan dua kali. Siang dan barusan. Ini juga di belikan Bayu", ucap Jova menunjuk kotak nasi.


"Ciihh!", pekik Alexander menahan kesal setengah jijay di bawakan makanan dari musuhnya pikirnya.


"Kenapa?, ini dari resto mewah loh"


"Hehm!", Alexander tersenyum sinis.


"Kalau kau tidak mau makan ya sudah terserah kamu saja. Aku cuma mau ambil barang - barang ku", Jova berdiri masuk ke kamarnya.


Jova keluar menggeret koper dan satu tangannya membawa papar bag. Jova berhenti di samping sofa Alexander.


"Em.. Alexander?"


"Hemm?", jawab Alexander tanpa menoleh.


"Ini kartu mu", menyerahkan kartu debit milik Alexander. "Aku tadi memakainya untuk beli sepatu. Pas lewat di depan salah satu toko sepatu, mataku menangkap sepatu yang lucu. Bayu menawari untuk membayarnya, tapi karena aku malu, jadi aku menolaknya. Karena kau bilang aku boleh membeli apapun pakai kartu itu, jadi aku pakai, heheh", ucap Jova santai seolah tak bersalah.


Alexander diam saja, dia malas mendengar apapun yang berhubungan dengan laki - laki itu. Karena Alexander tidak menerima kartu yang dia berikan, Jova menaruh kartu itu di atas meja.


"Aku pergi dulu ya Alexander, sampai jumpa besok. Tapi sebagai pak Alex. Huuff", Jova membuang nafas malas. "Oh ya, terima kasih untuk semua ini. Bye Alexander".


Jova berjalan keluar pintu tanpa menunggu jawaban Alexander. Dia pulang ke apartemennya di lantai 10.


Alexander membuang kotak nasi yang di bawa Jova ke tong sampah di dapur. Membuang dengan kesal.


"Sial!", umpatnya.


Dia naik ke apartemennya untuk mandi dan mengganti bajunya dengan baju tidur.


Malam yang sunyi sepi sendiri kembali di rasakan oleh Alexander. Dia duduk di balkon dekat ruang tengah. Lalu berdiri dan berjalan ke arah kamar Jova. Dia masuk ke kamar Jova dan duduk di ranjang Jova.




Happy Reading.


Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar kalian ya teman - teman.


Author sangat berterima kasih atas apapun bentuk dukungan kalian.



Salam Lovallena.

__ADS_1


__ADS_2